
Aku menangis saat tetes tetes hujan jatuh ke bumi. Mawar terus menenangkan, memintaku jangan lelah berharap dan berdo'a. Hujan tidak terlalu deras, tapi jalanan menjadi basah, ban mobil yang tadinya mantap, kini mulai tak stabil karena jalanan yang licin.
"InshaAllah kita bisa sampai ke kota, meski pun dengan banyak drama, biasanya ban mobil suka tergelincir atau masuk lubang, karena lubang jalannya nggak keliatan. Merah semua." Jelas Pak Sopir di depan sana.
"Sampe jam berapa kita, Pak?" tanya Dokter Rega.
"Besok pagi InshaAllah nyampe, karena kita jalannya harus hati-hati dan pelan. Di bagian depan sana banyak jurang, Mas. Udah jalan sempit, licin, banyak jurang juga."
Aku menutup muka dengan kedua tangan.
"Nggak ada alternatif jalan lain kah, Pak?" tanya Mawar.
"Kalau untuk ke kota pake mobil memang cuma jalan ini, Dek," sahut Vivi. "Ada jalanan yang melewati hutan, ribuan pohon karet dan sawah, tapi tidak bisa di lalui mobil. Kalau Jalan kaki bisa seharian penuh untuk sampai di bibir jalan raya."
Mawar, menoleh ke arahku. Dia memeluk dan menyandarkan kepada di pundak.
"Bismillah, Mbak. Kita pasti bisa sampai ke kota."
Gluduk! Gluduk! Tiba-tiba mobil berhenti.
Nguunggg! Ngungggg!!
Ban mobil hanya berputar-putar tak mau berjalan.
"Kenapa, Pak?" tanya dokter Rega.
"Keplater, Mas! Ban-nya masuk lubang."
"Jadi gimana, Pak?"
"Musti di dorong mobilnya, supaya ban yang masuk lubang bisa keluar dari sana."
"Ya udah saya turun buat dorong ya, Pak!" kata Dokter Rega.
"Saya juga bantu, Dok!" sahut Vivi.
__ADS_1
"Pasti kurang tenaga, saya juga bantu." tambah Mawar.
"Apa saya boleh membantu?" tanyaku dan di jawab gelengan kepala oleh mereka bertiga.
"Mbak perut gede, ngapain mau bantu-bantu! Udah duduk di sini aja." Akhirnya aku menuruti.
Mereka bertiga turun dari angkot ini, dan kulihat dari dalam semua jalanan berwarna kuning bercampur merah karena tanah yang kami lewati adalah tanah liat. Mawar berpegangan pada mobil, takut jatuh karena melihatnya sekilas saja sangat licin. Sedangkan Vivi berjalan pelan, menuju belakang mobil. Sesekali Rega menghentikan langkah karena tubuhnya limbung hampir terjatuh, licin. Disekitar kami hutan dan semak belukar.
"Awww!" teriak Mawar dengan tubuh yang sudah miring ke belakang hampir jatuh dan seketika Rega memegang tubuhnya dan... "Brukk!!" Mereka jatuh berdua.
Vivi tertawa kecil melihat mereka berdua, tubuh bagian belakang mereka penuh tanah liat yang basah.
"Bantuin, Vi. Kok malah diketawain?" kata dokter Rega dengan wajah kesal.
"Maaf, Dok. hehehe." Vivi mendekat dan membantu mereka berdiri.
"Maaf ya, Mas, Mbak, ngerepotin!" teriak Bapak melongok, mengeluarkan kepala dari jendela depan.
"Santai aja, Pak!" sahut dokter Rega ikut berteriak.
Bersusah payah mereka mendorong mobil sampai akhirnya ban mobil itu bisa keluar dari sana. Kemudian setelah berhasil mereka kembali masuk ke mobil. Mawar duduk di sampingku dengan baju yang sudah kotor semua, sedangkan Dokter Rega, duduk di hadapan kami, di sisi Vivi. Sesekali mereka saling mencuri pandang yang membuat kesedihan ku sedikit teralihkan. Dalam hati aku berdoa semoga mereka berjodoh.
***Sylviana***
Di perjalanan sangat melelahkan, Mawar sering manawarkanku makanan ringan dan minuman yang kami bawa dari rumah Vivi. Ternyata saat masuk ke dalam rumah anak itu membawa bekal yang di masukkan ke dalam ranselnya. Hingga tepat pukul 07.30 pagi kami sampai di kota. Hiruk pikuk kota yang sangat kurindukan. Aku masih terjaga, mataku tak sempat terpejam di saat semua orang tidur di dalam mobil.
Hatiku was-was tak sabar ingin sampai di sini. Aku melihat LCD berukuran besar di pinggiran jalan. Di sana ada foto suamiku. Dengan senyum khasnya membawa sajian lezat.
"Mas ...." Aku menyentuh kaca jendela saat memegang foto itu yang seolah menempel di dinding kaca mobil ini. Air mataku berkejar-kejaran menuruni pipi.
Semua orang terbangun saat Pak Sopir membangunkan. Baik Vivi, Mawar dan Dokter Rega langsung beringsut duduk. Aku tahu mereka pasti lelah setelah seharian ada di dalam mobil ini terlebih kemaren tenaga mereka terkuras karena harus berulang kali mendorong mobil ini.
"Alhamdulillah kita sudah sampai kota, Mbak?" tanya Dokter Rega sambil merentangkan kedua tangan.
"Iya, Dok. Alhamdulillah ...." lirih aku berucap.
__ADS_1
Pria itu menatapku lama, kemudian tersenyum dan mengangguk pelan. Aku tahu dia juga bahagia bisa kembali ke kota dan bertemu Ibu serta Mas Arjuna.
"Mbak, bentar lagi kita ketemu, Kak Juna, ya!" Mawar menggenggam jemariku, wajah itu berbinar. Aku mengangguk dengan senyum mengembang.
"Aku siapin semua bukti kejahatan Juwita," sahut Vivi sembari sibuk membuka ranselnya.
"Tolong beri kami waktu beberapa jam berdua sebelum kita buka semuanya." pintaku pada Vivi dan ia tersenyum seraya mengangguk setuju.
Akhirnya kami sampai di depan rumah. Rumah seribu ceritaku bersama Mas Arjuna. Mereka ngobrol sebentar dengan Pak Sopir sementara aku langsung masuk ke dalam. Hatiku sudah penuh dengan kerinduan. Aku masuk ke dalam, pandangan kaget semua orang tak kuhiraukan. Mulut mereka semua terbuka sempurna, tapi tak kutemukan Mas Arjuna. Sedikit berlari aku menaiki anak tangga menuju kamar. Sampai di depan pintu aku mematung, mengucap bismillah sebelum membuka pintu.
Kreakkkk...
Pintu terbuka, kulihat Mas Arjuna sedang berdiri di depan cermin menyisir rambutnya. Ia melihatku dari pantulan cermin kaca, aku terpaku, begitu pun dia. Tetes demi tetes air mata terus saja mengalir tiada henti. Mas Arjuna mengucek matanya, aku mendengkus tertawa. Lalu perlahan jalan mendekatinya.
"Mas .... " panggilku lirih.
Ia membalikkan badan dan menatap tidak percaya.
"Sayang, ini beneran kamu?" tanyanya tidak yakin. Ia mendekat dan menyentuh wajahku hangat, kupejamkan mata merasakan sentuhannya.
"Sayang aku nggak mimpi, kan?" tanyanya masih kurang yakin.
"Mas, aku Melatimu, aku istrimu, Mas... " lirih kuucapkan dengan alis yang saling bertaut.
Suamiku tertawa di selingi air mata, direngkuhnya tubuh ini dan mendekapnya sangat erat.
"Terima kasih sudah kembali sayang. Mas hampir gila," katanya sembari melerai pelukan dan menghujani wajahku dengan ciuman.
Ia kembali menatap dan wajah itu terlihat bahagia. Dibingkainya wajahku dengan telapak tangannya yang lebar dan mengecup bibir ini lama. Mataku terpejam merasakan kerinduan ini. Mas Juna mencumbuku dengan lembut, kami sama-sama menumpahkan rasa yang selama ini tertahan. Tapi tiba-tiba...
Kreakkkk!
"Mas! Ini sarapan .... nya."
Mas Juna melepas ciuman dan menatap ke depan. Ia tersenyum samar, kemudian meminta orang itu meletakkan sesuatu ke meja. Karena aku penasaran, akhirnya aku segera membalikkan badan dan terlihatlah Mbak Juwita sedang berdiri di sana, membawa makanan dalam nampan. Ia mematung, hanya diam tanpa berkata apa-apa.
__ADS_1