Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Perjuangan di mulai


__ADS_3

Ting tung ....


Ting tung ....


Bu Hertini yang sedang asik menelepon salah seorang temannya di ruang keluarga, menoleh ke arah pintu depan.


"Nanti kita sambung lagi ya, Jeng. Assalamu'alaikum." Ponsel di matikan. "Mbok! Mbok! Tolong dilihat siapa yang datang!"


Mbok yang lagi sibuk di dapur langsung berjalan cepat untuk membukakan pintu. Bu Hertini perlahan menjalankan kursi rodanya menuju ke depan.


Kreakkkk!


Pintu terbuka, terlihat Arjuna berdiri di sana.


"Eh, ada Tuan." kata si Mbok.


"Mama, ada Mbok?"


"Apa yang membawamu datang kemari, Juna?" tanya bu Hertini dari belakang tubuh Mbok.


Asisten rumah tangga itu langsung undur diri ke belakang. Tinggal Ibu dan Anak itu saling berhadapan. Cukup lama mereka saling pandang, hingga Arjuna melangkahkan kaki ke samping, dan terlihatlah melati yang sejak tadi bersembunyi di belakang tubuh suaminya. Bu Hertini kaget bukan kepalang, kenapa wanita itu begitu berani menampakkan diri di depan mukanya.


"Aku datang bersama Melati, Ma." Kata Arjuna.


Bu Hertini semakin bingung saat melihat ada koper di samping tubuh menantunya itu. Apa mereka akan pergi ke suatu tempat lalu ingin berpamitan? entah!


"Assalamu'alaikum, Ma. Apa kabar?" tanya Melati masih dengan wajah tertunduk.


Ia tidak berani menatap mertuanya, karena tatapan ibu mertuanya tidak seteduh dulu yang penuh kasih sayang. Sekarang sinar mata itu mengisyaratkan kebencian. Bu Hertini berdecak, kesal. Ia memalingkan muka setelah cukup lama menatap gadis itu dengan sorot mata tajam.


"Ma, boleh kami masuk?" tanya Arjuna.

__ADS_1


Ia merekatkan tangannya pada telapak tangan sang istri, yang membuat bu Hertini semakin muak melihatnya. Tanpa menunggu persetujuan Arjuna mengamit tangan istrinya untuk masuk ke dalam, setelahnya membawa koper itu masuk. Arjuna dan Melati duduk di sofa ruang tamu, sementara Bu Hertini masih mengahadap ke arah pintu utama.


"Tidak usah bertele-tele. Katakan saja maksud dan tujuan kalian datang ke sini apa?" tanya Bu Hertini tanpa menoleh ke arah mereka berdua.


"Ma, besok Arjuna ada syuting luar kota selama satu bulan."


"Maksudmu mau mengajak istrimu dan berpamitan ke sini denganku? Tidak usah kau lakukan itu Arjuna, tidak perlu. Pergi saja sesuka hatimu, toh aku hanya status sebagai ibumu, tapi kau tidak patuh terhadapku!" Bu Hertini bicara dengan suara lantang.


Arjuna menoleh ke arah sang istri, muka itu semakin tertunduk, dalam. Tangan Arjuna terulur untuk menggenggam tangan istrinya, kemudian mengecup hangat punggung tangan itu. Melati menoleh dan tersenyum samar. Berusaha memberi tahu suaminya bahwa ia baik-baik saja. Arjuna tersenyum tipis melihat senyum sang istri, kemudian kembali menatap ibunya.


"Bukan itu, Ma."


"Lantas?"


"Arjuna akan pergi tanpa Melati. Istriku tidak mau kutinggalkan bersama orang lain. Ia hanya ingin tinggal di sini bersama Mama."


Reflek sang Mama langsung menoleh dan menatap Arjuna dengan tajam.


"Apa kau tidak waras? Aku harus tinggal bersama wanita itu? Untuk apa?"


Semua menoleh ke arah Rega, ia melangkahkan kaki santai mendekati wanita yang melahirkannya. Lalu memijat lembut pundak mamanya.


"Jangan berteriak, Ma. Itu tidak baik untuk kesehatan Mama." katanya sambil sedikit menunduk dan mencium puncak kepala itu.


"Mama tau, Mbak Melati ngidam pengen deket sama Mama. Bukan dia yang mau, tapi cucu dalam perutnya." Lembut Rega berbicara.


Mamanya diam saja, tapi raut amarah masih tergambar jelas di wajahnya. Melati berdiri, ia menatap suami sekilas, Arjuna mengangguk setuju dengan apa yang akan dilakukan istrinya.


Pelan kaki itu melangkah mendekati Bu Hertini, lalu berjongkok di depannya untuk mensejajarkan diri. Melati menggenggam tangan Mama mertuanya, lalu menciumnya dengan takzim. Ingin Bu Hertini menepis tangan Melati, tapi ada Rega di belakangnya.


"Ma, jika boleh memilih, saya tidak akan mau dilahirkan oleh wanita yang statusnya sebagai istri ke dua. Meskipun saya yakin, ibu kandung saya tidak bersalah dalam hal ini. Bapak saya, berbohong bahwa ia seoarang duda, dan menikahi ibu saya tanpa sepengetahuan istri pertama. Bahkan sampai ibu saya meninggal dia tidak tau kebenarannya. Jika memang menurut mama Ibu saya salah, dan saya sebagai anaknya juga salah, saya minta maaf."

__ADS_1


"Mbak, tidak perlu seperti itu." Rega menatap Melati dalam.


Arjuna beranjak, ia mendekati sang istri dan membantunya berdiri. Sedangkan bu Hertini tak bergeming, ia tetap diam seribu bahasa. Arjuna mengajak Melati duduk di tempat semula.


"Sayang, kamu tahu? Mas beruntung memiliki kamu. Masih jelas diingatan Mas ketika kamu memaksa untuk berpisah, demi Mama. Pengorbanan kamu itu luar biasa Sayang." Arjuna menghapus air mata istrinya yang mulai berjatuhan. "Kamu ingat? Saat kamu bilang kebahagiaan tersendiri bisa bertemu Mama, karena darinya kamu bisa merasakan ketulusan dari seorang ibu. Sikap Mama yang hangat, tutur kata Mama yang lembut dan perhatian Mama sungguh membuat kamu merasakan kasih sayang seorang ibu yang sesungguhnya."


Bu Hertini semakin salah tingkah, ia memalingkan


Muka berulang kali, enggan menatap anak serta menantunya. Rega menatap mamanya sambil terus mengusap bahu.


"Kamu bersikeras mengajak Mas datang ke sini untuk bertemu Mama, memberikan nasehat yang mampu meluluhkan kekerasan hati ini. Kamu tidak mau mas kehilangan kasih sayang, seperti kamu dulu. Kamu nggak mau Mas merasakan pahitnya jauh dari ibu. Kamu .... "


"Mas ..... " Melati menggelengkan kepalanya, sebelah tangannya menepuk dadanya perlahan. "Cukup," pintanya lirih. Kesedihannya semakin menjadi mengingat alm. Sang Ibu. "Cukup."


Arjuna mengangguk sambil membelai lembut kepala sang istri. Wanita paruh baya itu menarik napas panjang, kemudian menghembuskannya perlahan.


"Hanya satu bulan, lebih dari itu. Mama akan meminta Rega mengantarnya pulang." Bu Hertini berlalu.


Melati terdiam, ia tidak percaya Mama mertuanya mengijinkannya tinggal di sini.


"Pak Dokter, apakah ini artinya?"


Rega tersenyum. "Welcome Mbak Melati." katanya semringah.


Melati langsung memeluk suaminya, kebahagiaan s memenuhi rongga dada. Ia berjanji akan memanfaatkan waktu itu sebaik mungkin untuk membuat Mama mertua kembali melihat ke arahnya, kembali seperti itu. Melati yakin ia pasti bisa.


"Kamu baik-baik di sini, ya! Mas akan sering telpon kamu. Kalau ada apa-apa minta tolong sama Rega." Arjuna menatap adiknya. "Ga titip istriku, ya. Jangan di rayu, dia nggak bakal tergoda."


Rega mendengkus, tertawa sambil memalingkan muka. Sementara Melati hanya tersenyum, wanita itu sedang mengatur strategi bagaimana caranya kembali merebut hati sang Mama mertuanya.


Sementara bu Hertini termenung di sudut kamar. Pandangannya jauh menatap keluar jendela, ia tidak tahu keputusannya benar atau tidak membiarkan menantu yang sangat di tentangnya tinggal satu atap dengannya.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu sempat menatap perut sang menantu yang belum terlalu besar.


"Apa benar, aku akan menjadi seorang nenek?" tanyanya pada angin, lirih.


__ADS_2