
"Mama melihat kamu waktu acara resepsi pernikahan kalian diliput TV. Saat itu kalian lagi diwawancara. Wah, kamu cantik sekali hari itu, persis seperti seorang putri," ucap Mama, aku hanya tersenyum.
Kini aku sedang duduk dibawah memijat kakinya. Hari ini setelah mengantar Revi sekolah aku mampir ke rumah Mama. Ia bercerita banyak tentang suamiku, Arjuna. Sifatnya yang keras kepala persis seperti batu, meski pun aslinya sangat lembut. Ya, aku juga merasa seperti itu. Kini, Tuan sangat baik padaku. Bahkan aku merasa sangat nyaman jika berada didekatnya.
"Bagaimana hubungan kalian? Setiap kali Mama nonton infotaiment, Mama berharap tidak ada berita buruk mengenai kalian berdua."
"Baik-baik saja, Ma. Alhamdulillah jauh dari gosip.... "
"Sebenarnya mama sangat merindukannya." Raut wajah mama berubah sendu. Ia menunduk dengan alis bertaut, sedih. "Dulu, puncak pertengkaran mama dan papanya itu karena orang ketiga."
Jujur, aku agak syok mendengarnya. Kenapa mama menceritakan hal ini denganku?
"Mama tidak memberitahu siapa pun, Nak. Cuma sama kamu. Mama tidak kuasa memberitahu Arjuna dan Rega, mama takut rasa hormat mereka kepada almarhum Papanya saat itu akan menghilang berganti rasa benci." Mama terisak.
"Ya Allah .... " Aku menghentikan tangan memijat kakinya. Kini aku menggenggam tangannya.
"Mama ... " Aku berdiri dan memeluk mama dari belakang.
"Mama menyimpan semuanya selama ini sendirian. Rasanya tidak sanggup mendapatkan kebencian begitu besar dari anak sulung mama, Arjuna. Tapi, mama tidak ingin membuatnya membenci almarhum papanya, karena itu mama tetap diam."
"Ya ampun, sungguh mulia hati Mama."
"Karena suami itu ibarat pakaian kita, Nak. Jika pakaian kita kotor tentu kita akan berusaha membersihkannya, begitu juga nama suami kita. Karena itu mama terus berusaha menjaga nama baik almarhum papa sampai sekarang."
Aku duduk mengubah posisi duduk di sofa, tepat di samping kursi roda mama.
"Memang dalam agama, tidak melarang berpoligami, tapi sungguh Mama tidak sanggup, nak jika harus diduakan, karena itu mama memilih mundur. Kebetulan saat itu, Arjuna sudah cukup dewasa, begitu juga Rega, anak itu sudah mau selesai sekolah di SMA."
Sesekali mama menghapus air matanya, terlihat jelas kesedihan di sorot matanya.
"Jujur, sebelum mama tutup usia, mama ingin dekat dengan Arjuna, tapi mama bingung harus mulai dari mana. Menerima telepon mama saja ia tak mau, Nak."
Aku mempererat genggaman pada jemarinya.
"Mama yang sabar, jangan banyak pikiran. Melati berjanji akan membawa Mas Arjuna datang sendiri ke sini. Untuk menjemput mama."
"Sepertinya itu hanya mimpi, Nak. Arjuna terlalu membenci mama." Aku berdiri dan kembali memeluknya, berharap bisa sedikit mengurangi beban di hatinya.
"Melati pasti bisa membuat Mas Arjuna datang ke sini, Ma. Ini janjiku ..., " ucapku lirih.
***
Ini malam pertama aku tidur tanpa Tuan. Kini aku masih berada di kamar Revi, mengajarinya mewarnai.
"Ma, kalau dinding rumah warnanya apa?" tanyanya bersiap memilih pewarna.
__ADS_1
"Boleh warna apa saja, Sayang. Tapi menurut Mama lebih bagus warna yang terang, seperti kuning, hijau, atau putih dan biru muda, itu lebih bagus."
Anak itu mengangguk ia memilih warna biru muda kemudian mengecatkannya pada gambar dinding rumah di buku gambarnya.
Ponsel bergetar, segera aku memeriksanya.
[Sayang, Mas sudah sampai. Pengen VC kamu, lagi sibuk nggak?]
Aku tersenyum, kemudian mengetik balasan.
[Alhamdulillah, Mas. Istirahat dulu aja, pasti Mas capek banget. Aku lagi ngajarin Revi menggambar.] send.
[Pokoknya mau lihat kamu dulu baru bisa tidur. Nanti kalau Revi udah tidur kasih tau, ya! Love you (emot cium)] Aku tersenyum, bahagia sekali mendapatkan chat seperti ini.
[Love you more.] Kemudian aku kembali fokus mengajari Revi.
Setelah Revi terlelap, aku kembali ke kamar. Aku mencari pakaian bagus yang akan kukenakan saat vidio call dengan Mas Arjuna nanti. Semua baju sudah kucoba, tapi mengapa semua tak ada yang kusuka. Akhirnya aku membuka lemari Tuan Arjuna.
Kupilih kaus berlengan panjang berwarna abu-abu miliknya dan memeluknya. Ia terlihat sangat tampan dan gagah saat mengenakan pakaian ini. Kemudian aku segera memakainya tanpa bawahan. Baju ini cukup panjang jika aku yang memakai, panjangnya sampai di pertengahan paha, tangannya sampai di pertengahan telapak tangan. Setelah sedikit berias, dan menyanggul rambut aku mengirimkan chat padanya.
[Assalamulaikum. Mas, Revi sudah tidur.] send.
Tidak menunggu lama ponsel bergetar, aku segera mengangkatnya. Aku duduk bersandar di kepala ranjang.
"Hay Putri maluku." Aku mengulum senyum.
"Assalamu'alaikum, Mas." ucapku mengingatkan, ia bahkan lupa mengucap salam.
"Maaf, Waalaikumsalam, Putri maluku." Ia tersenyum, tampan sekali. "Wahh, kamu cantik banget, itu pake baju siapa? Kayak pernah lihat." Aku mengulum senyum, tanpa menjawab. Aku menegakkan ponsel diatas nakas dan berdiri agak menjauh dari sana supaya Tuan Arjuna bisa melihat keseluruhan penampilanku.
Prok! Prok! Prok!!
Ia bertepuk tangan. Sementara aku berputar-putar menunjukkan bajunya yang kukenakan. Setelah puas aku kembali ke posisi semula, Tuan tak berhenti memandang dengan pandangan yang, entahlah.
"Coba kalau Mas di sana, udah Mas abisin kamu."
"Yee ... kayak makanan diabisin." Protesku.
"Kamu sengaja, ya bikin Mas panas dingin dengan berpenampilan seperti itu, supaya Mas nggak betah lama-lama jauh dari kamu kan!"
"Bodo'." sahutku sekenanya, sok jutek sengaja menggodanya.
"Tapi jujur, kamu lebih sexy pake baju seperti itu dibanding lingerie. Bagus juga sih, tapi lebih elegant aja kalau sexynya pake baju yang ini."
"Hahahahahaa." Aku tertawa.
__ADS_1
"Lain kali kalau mau ngegodain pake baju ini aja, nggak usah lingerie lagi." Aku semakin tertawa.
Malam itu kami membicarakan hal-hal yang tidak penting, hanya untuk mengusir kesepian kami berdua. Saat malam semakin larut merangkak. Kutegakkan ponsel di atas nakas menghadap kearahku sedangkan aku berbaring. Begitu pun Tuan. Ia tak mau mematikan ponselnya, dengan begini kami menganggapnya tidur bersama.
.
"Tidur, ya! Besok kamu harus bangun pagi untuk shalat subuh." Aku mengangguk.
Lama-lama mataku berat dan tanpa sadar aku terpejam. Samar-samar dalam lelap, aku masih mendengar ia membisikkan kata sayang padaku.
***
"Ma, Revi sekolah dulu, ya! Assalamu'alaikum." pamitnya sambil mencium punggung tanganku.
"Waalaikumsalam, Nak." sahutku. Kemudian anak itu berlari masuk ke kelasnya.
Selesai mengantar Revi bersekolah, aku langsung menuju rumah Tuan Arjuna yang lama. Aku dan Tante Dinda hari ini berjanji akan bertemu Mama.
Kemarin tante Dinda ada urusan sehingga aku mengunjungi Mama sendirian.
***
"Assalamu'alaikum." Kami mengucap salam setelah sampai di depan rumah Mama.
Tidak berapa lama seorang wanita paruh baya membukakan pintunya.
"Waalaikumsalam." Ia tersenyum saat melihatku yang datang. Kemarin saat aku datang juga mbok ini yang membukakan pintunya.
"Wah, Mbak Melati. Ayo masuk!" ajaknya. Kami tersenyum dan masuk, ia mempersilakan kami duduk di ruang tamu.
Dari atas turunlah dokter Rega sudah memakai pakaian lengkap, ia tersenyum dan sedikit menunduk saat melihat kedatangan kami.
"Tante." Ia menyalami Tante Dinda. dan seperti biasa aku hanya menunduk dan mengatupkan kedua tangan.
Setelahnya kami duduk dan berbicara banyak hal. bukan kami, khususnya Dokter Rega dan Tante Dinda karena aku lebih banyak diam.
"Mbak, Melati. Bisa ikut saya nanti saat pergi bekerja?" Aku bengong. Kenapa harus mengajakku?
"Bukankah Dokter akan pergi bekerja? Kenapa harus pergi dengan saya?"
"Ada yang ingin saya tunjukkan, saya janji tidak akan lama."
Aku menoleh ke arah tante Dinda, dan ia mengangguk setuju.
"Baiklah, tapi cuma sebentar ya, Dok!"
__ADS_1
"Janji!" sahutnya tersenyum.