
Melati merasa tubuhnya sedikit ringan setelah meminum obat dari Rega. Ia melihat jam sudah menunjukkan hampir jam 10 pagi. Sebentar lagi acara suaminya dimulai. Melati keluar kamar dan memeriksa sekeliling, terlihat Mbok sedang sibuk memasak dan Bu Hertini sedang duduk di taman belakang. Melati berjalan mendekati mama mertua, padahal kepala belum pulih sepenuhnya.
"Ma, ada acara Mas Juna pagi ini. Kita nonton sama-sama, yuk!" ajaknya.
"Mbok! Mbok!" teriak Bu Hertini mengabaikan menantunya.
Melati hanya diam berdiri disamping kursi roda mama mertua. Tidak berapa lama Mbok datang dan langsung membawa Bu Hertini masuk rumah.
Lunglai kaki mungil Melati melangkah masuk, menyusul mamanya. Wajahnya dipenuhi gurat kekecewaan. Melati memasuki kamar dan menghidupkan TV. Ia duduk menatap sang suami yang sedang sibuk memasak sambil diwawancarai seseorang. Hingga beberapa pertanyaan dilontarkan oleh si pembawa acara.
"Tuan bagaimana perasaan Anda?"
"Baik." sahutnya masih sibuk memasak.
"Anda berada di sini selama satu bulan, apakah Anda tidak merindukan istri di rumah."
"Kalau masalah itu jangan ditanya, satu jam saja jauh darinya saya merasa tersiksa. Apalagi satu bulan."
"Kenapa Anda tidak membawa serta istri tercinta ke sini?"
"Karena di dalam rahim istri saya, ada calon Arjuna junior."
"Wahh, jadi maksud Tuan, istrinya sedang mengandung?" Arjuna tersenyum. "Kami doakan semua berjalan lancar, dan ibu serta anaknya sehat. "
"Amin, Terima kasih," jawab Arjuna.
Tangan Melati tergerak mengelus perut melihat wajah suaminya. Kerinduan menyeruak di setiap sudut hati. Melati berjalan dan membuka koper, diambilnya salah satu kemeja Arjuna yang ia bawa dari rumah. Sambil berbaring melati memeluk erat kemeja itu.
"Mas, aku rindu .... " Bibir tipisnya berucap lirih.
***
Malamnya setelah shalat isya Arjuna duduk di dekat jendela. Ia membuka jendela itu lebar-lebar dan merasakan sejuknya angin malam. Pemandangan yang sangat indah terbentang di depan mata. Ramainya kerlap-kerlip lampu perkotaan di ujung sana membuat hatinya rindu pada seseorang.
Siapa lagi kalau bukan istrinya. Arjuna memotret suasana kota dari apartemen tempatnya tinggal. Terlihat jelas indahnya pemandangan kota di malam seperti ini. Kemudian dikirimnya foto itu pada Melati.
[Kerinduanku makin bertambah saat melihat pemandangan seperti ini. Semua mengingatkanku padamu, apakah kamu merindu seperti rasa yang menyiksa batin ini? Kuharap bulan ini segera berlalu supaya aku bisa segera bertemu denganmu. Hidupku tanpamu laksana bulan separuh, meski pun tetap memiliki cahaya, tapi redup tak sempurna.]
Melati tersenyum membaca pesan dari suaminya. Baru kali ini Arjuna mengirim kalimat yang manis. Melati mulai mengetik balasan.
__ADS_1
[Mas, makasih ya. Aku bahagia baca pesan dari kamu.] send.
[Kamu suka?]
[Suka banget.] send.
[Gimana mama?]
[Alhamdulillah sehat, Mas.] send.
[Hubungan kalian?]
Melati terdiam, ia pura-pura bahagia.
[Belum sepenuhnya berhasil, tapi tidak masalah Mas. Mama pasti akan menerimaku kembali.] send.
[Apa mama pernah memarahimu?]
[Tidak sama sekali.] send.
[Syukurlah, besok Mas VC ya, sekarang Mas lagi rapat sama Gilsa, soal penandatanganan kontrak. Kamu jangan tidur malam-malam, jangan banyak pikiran.]
[Emot tertawa dan love.]
Melati menyimpan gawainya. Ia kembali memeluk kemeja suaminya.
***
Seberapa besar usaha Melati mendekati Mama mertua, sampai sekarang belum ada perubahan apa-apa. Bu Hertini selalu memiliki alasan untuk menghindarinya. Setiap kali Melati mendekat ia akan memanggil Mbok dan mengajak masuk ke kamar.
Malam itu ia sedang duduk melamun di dekat jendela. Sepertinya semua orang sudah terlelap. Melati beranjak dan berjalan keluar kamar. Perutnya terasa sangatlah lapar. Ia menuju dapur untuk mencari sesuatu. Tapi, semua persediaan kosong. Melati duduk di kursi meja sambil memegang perut, merasakan lapar yang kian menjadi.
Tiba-tiba ada seseorang yang menyodorkan roti tawar satu pak beserta susu coklat. Karena merasa lapar, Melati langsung mendekatkan roti itu, membuka kemudian memakannya dengan susu coklat. Melihat itu Rega tertawa. Mendengar suara orang tertawa wanita itu menghentikan kegiatan mulutnya yang sedang sibuk mengunyah.
Ia menoleh ke samping dan Rega tersenyum semringah.
"Laper banget, Mbak?"
"Ehh, iya. Pak Dokter," katanya merasa tidak enak.
__ADS_1
"Wanita hamil memang seperti itu, mereka harus siap camilan untuk mengganjal perut. Karena bukan cuma si Ibu yang makan, tapi si Bayi juga. Kebetulan tadi aku mampir ke toko roti dan ingat mbak sedang hamil. Besok aku beliin camilan yang lebih banyak, ya!"
"Tidak usah Pak Dokter, tidak usah repot-repot."
"Nggak repot kok, kebetulan jalan ke rumah sakit melewati toko yang menjual berbagai macam makanan."
"Kalau seperti itu terima kasih." ucapnya lirih, kemudian Melati melanjutkan makan, tapi kali ini lebih pelan. Karena ada Rega di dekatnya.
Rega hanya duduk melipat tangan di atas meja memperhatikan kakak iparnya. Setelah habis memakan beberapa lembar roti, Melati menghabiskan segelas susu coklat. Ia merasa lebih baik karena perutnya sudah kenyang. Karena agak terburu-buru sisa roti dan susu masih menempel di bibirnya.
Melihat itu Rega kembali tersenyum, ia mencabut selembar tisu dari kotak tisu, lalu tangannya terulur ke arah mulut kakak iparnya. Secara perlahan ia membersihkan sisa makanan di sana. Reflek itu membuat Melati tertegun. Ia tak sempat menolak.
"Lain kali, makannya hati-hati ya, Mbak. Bukan apa-apa, takut mbak kesedakan. Pelan-pelan aja." Rega mengingatkan.
"Iya, Pak Dokter. Terima kasih sekali lagi. Kalau begitu saya permisi masuk ke kamar. Sudah malam."
Melati beranjak dari kursi dan melangkah ke arah kamar meninggalkan Rega yang masih dengan seksama memperhatikannya. Rega hanya tersenyum tipis sembari menggelengkan kepala. Setelahnya ia juga kembali ke mamanya.
Sesampainya di kamar Rega merebahkan tubuh di ranjang. Ia ingat peringatan mamanya.Tidak dipungkiri perhatiannya pada Melati memang melebihi perhatian seorang adik ipar.
Rega menarik napas panjang, kemudian beringsut duduk dan berjalan ke arah jendela kamar. Dibukanya jendela, ia memejam untuk merasakan sejuknya angin malam. Setelah beberapa saat membuka mata.
Pria itu berdiri sambil mencubit-cubit kecil dagunya yang lancip, sedangkan sebelah tangan melipat di dada. Begitu banyak yang ia pikirkan semenjak Melati tinggal di sini. Ia selalu khawatir kalau ibunya akan menyakiti hati wanita itu.
***
"Mawar, kamu tau dari siapa kalau Melati tinggal di rumah mamanya Arjuna?" tanya Bu Jamila pada anaknya yang tiba-tiba merengek ingin menyusul Melati di sana.
"Aku bertemu Tante Dinda di mall, aku tanya kabar Mbak Melati, dia bilang baik-baik saja di rumah Dokter Rega."
"Apa kamu yakin mau menyusul dia di sana?"
"Yakin, Bu! Aku harus dekat dengan dokter itu supaya dia bisa menyukaiku."
"Mawar, tidak usah macam-macam kamu, biarkan Mbakmu bahagia, jangan diusik ketenangannya."
"Aku nggak akan gangguin dia, aku cuma mau tinggal di sana. Titik!!" kata Mawar bersikeras.
Ia masuk ke kamar dan membanting pintunya dengan keras.
__ADS_1