Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Revi Anak yang Manis


__ADS_3

Di sebuah restoran Arjuna sedang duduk berhadapan dengan Rega. Pria itu tak mau memulai pembicaraan, membiarkan keheningan di antara mereka, sementara adiknya terlalu takut untuk memulainya.


"Kak!" sapa Rega. Arjuna melirik sekilas saja, kemudian kembali sibuk dengan gawainya. "Kak, apa kabar?" tanya Rega lembut dengan senyum tulus di wajahnya.


"Seperti yang kau lihat sekarang. Aku baik, dan tidak kurang suatu apa pun."


"Kak, temuilah Mama, dia Ibu kita. Ibu yang melahirkan kita." Arjuna terdiam. Menghentikan permainan pada gawainya dan memasukkan benda pipih itu ke dalam saku celana.


"Aku tidak bisa. Namun, aku selalu berdoa supaya beliau sehat selalu."


"Kak, selain mendoakan Kakak juga perlu bertemu dengannya."


Tiba-tiba Arjuna terbayang masa di mana ia melihat pertengkaran kedua orang tuanya.


^^^


"Aku mau cerai, pa. Titik!"


Saat itu Mama Arjuna menarik koper bersiap akan pergi dari rumah. Baik papanya dan Arjuna sudah melarang keras kepergian Mamanya.


"Ma, tolonglah ... jangan seperti ini." Papa Arjuna mengiba, ia bahkan berlutut memegang kaki mamanya. Tapi mamanya tak mau bergeming, tetap dengan pendiriannya.


"Mama, mau ke mana sih? Sebenernya kalian berdua kenapa? Coba beri tahu aku alasanya, Ma!" Arjuna menuntut penjelasan.


"Pokoknya Mama mau cerai dari papamu!" ucap sang Mama sambil mengusap air mata. Wanita itu terus saja menggeret kopernya ke mobil. Arjuna dan papanya mengejar. Tapi terlambat mobil itu sudah berjalan meninggalkan pekarangan rumah.


"Juna, Papa kejar Mama dulu, ya! Kamu tunggu di rumah saja."


"Tapi, Pa?"


"Sudahlah, Papa tidak apa-apa."


Akhirnya Papanya mengejar dengan mobil miliknya yang berwarna hitam. Sedangkan Arjuna di rumah gelisah. Ia tak bisa diam saja, tapi Papanya melarangnya untuk ikut serta.


Drettt ... drettt ... dreett ....


Ponsel bergetar, Arjuna segera mengangkat telponnya.


"Halo, benar sama Arjuna?"


"Iya, saya sendiri."


"Ini terjadi kecelakaan di jalan, mobil warna hitam, dengan plat mobil xxxx, kami sudah menelepon nomor terakhir yang di hubungi si korban yang bernama Nyonya Hertini, tapi tak diangkat sehingga kami menghubungi nomor Anda."


Arjuna lemas, tulangnya serasa patah semua. Ia terduduk di kursi sofa, ponselnya jatuh ke lantai. Dan sejak saat itu, ia begitu membenci Mamanya.


^^^


Arjuna menelan salivanya. Kesedihan kembali menghampirinya. Ia mengalihkan wajah beberapa kali supaya adiknya tidak melihat raut kecewa itu.


"Kak."


Tatap Rega penuh harap.


"Aku ... tak bisa." Ia segera berdiri dan menjauh dari sana.


"Kak, tolong, sekali saja temui Mama."

__ADS_1


"Akan kupikirkan nanti." Arjuna berlalu, sedangkan Rega hanya diam berdiri memperhatikan kakaknya pergi.


Setelah pertemuannya dan Rega Arjuna langsung menuju rumah sakit untuk melihat keadaan Juwita. Sejak pagi Gilsa terus memberikan laporan perkembangan kesehatannya dengan meneleponnya.


"Tuan!" Gilsa menunduk saat Arjuna hendak masuk ke kamar di mana Juwita di rawat. Ia menghentikan langkah saat berada tepat di hadapan asistennya itu. "Ini rekam medisnya." Gilsa memberikannya pada Arjuna.


Pria itu memberikan isyarat penolakan.


"Gilsa, kami bukan seperti yang dulu. Aku tidak perduli apa pun yang terjadi padanya. Bagaimana keadaanya semalam?"


"Bibirnya sudah membiru saat kami datang. Ia kehabisan banyak darah, Tuan."


"Wanita ini benar-benar gila!" lirih bibir Arjuna berucap.


"Itulah, saya meminta Anda melihat rekam medisnya, Tuan. Di sana dijelaskan kalau Nyonya Juwita itu juga mengalami gangguan kejiwaan."


"Apa itu?"


"Sepertinya depresi, Tuan. Setiap kali dia terbangun ia selalu berniat mengakhiri hidupnya. Karena itu Dokter memberikan obat penenang padanya."


Arjuna diam saja, ia segera masuk ke dalam. Di sana terlihat sang anak sedang duduk di samping ibunya. Ia tersenyum saat melihat kedatangan Arjuna.


"Om!" teriaknya dengan mata berbinar dan melompat dari kursi. Ia segera berlari memeluk Arjuna.


"Hay manis!" sapa Arjuna tersenyum samar, ia menggendong tubuh kecil anak itu dan dibawanya ke sofa.


"Om, Mama Revi kenapa? Kok tidur terus?"


"Mama lagi sakit, nggak boleh di ganggu."


"Kepala Mama Revi lagi pusing. Karena itu tak mau bicara sama siapa pun." Anak itu tampak murung.


Krukk krukk!!


Suara perut anak itu berbunyi.


"Kamu lapar?" Ia mengangguk lemah. "Belum makan?" Ia menggeleng.


Arjuna merasa kasihan pada anak itu kemudian ia memanggil Gilsa. Arjuna mengatakan pada Gilsa bahwa ia akan membawa Revi pulang ke rumahnya untuk menemani Melati di rumah. Karena dia pikir kasihan, anak itu tidak ada yang menjaga, ia bahkan belum mandi dan masih mengenakan piyama malam. Bersyukur anak itu menurut, ia bahkan sangat antusias saat mendengar nama Melati disebut.


"Aku pulang dulu, terus pantau Juwita di sini. Bagi info secepat mungkin tentang kondisinya."


Pinta Arjuna, Gilsa mengangguk patuh.


"Kakak, aku ikut om ganteng ini, ya! Kalau Mama bangun tolong bilang Revi lagi sama Om Ganteng dan Bu Guru Melati," ucap Revi sangat lincah, tangannya menggandeng erat tangan Arjuna.


Pria itu hanya tersenyum tipis melihat tingkah anak yang sedang digandengnya. Dalam hati ia merasa iba dengan anak kecil ini, Revi. Mungkin suatu saat ia akan mencari keberadaan ayahnya jika keadaan Juwita terus memprihatinkan.


"Baik, anak cantik! Awas naksir loh sama Om Gantengnya." Revi tersipu, membuat Gilsa gemas dan berjongkok menciumnya.


"Ya udah, aku pulang dulu!" pamit Arjuna.


"Baik, Tuan." Gilsa segera berdiri dan menunduk hormat, baru saja akan melangkah Arjuna mengurungkan niatnya. Ia melihat Regi, sopir pribadinya sedang duduk di lorong yang berbeda dari mereka. Meski pun ia mengenakan topi dan menunduk dalam, tapi Arjuna bisa mengenalinya.


Arjuna mendengkus tertawa, sementara Gilsa tampak gelisah.


"Mau kerja, apa pacaran?" tanya Arjuan menoleh ke arah Gilsa.

__ADS_1


"AEhhh, anu Tuan, tadi tidak sengaja harus lewat disekitar sini. Jadi sekalian mampir." Gilsa mencari alasan.


"Masak?" Arjuna tidak percaya. Ia terus menatap Gilsa yang salah tingkah dengan alis terangkat satu, meragukan. "Bercanda, tidak masalah selagi masih bisa bersikap profesional. Cepat di halalkan, biar nggak keburu di hasut setan."


Gilsa diam saja, hanya menunduk dalam.


"I .... iya, Tuan."


"Nanti kalau kalian mau menikah, infoin aku. Nanti aku buat pesta yang meriah buat kalian." Gilsa terkejut mendengar kalimat majikannya. Reflek ia menoleh ke depan menatap Tuan Arjuna, sedangkan lelaki itu, hanya menaikkan kedua alisnya.


"Terima kasih, banyak Tuan." Gilsa mengatupkan kedua tangan di depan dahinya dengan kepala menunduk.


"Iya, kalian itu karyawan terbaikku. Jadi pestanya harus meriah." Sekali lagi Gilsa mengucapkan Terima kasih dan Arjuan pergi.


Regi, adalah satu-satunya orang yang mengingatkan Arjuna pada Rega adiknya. Saat pertama kali pria itu mengajukan lamaran pekerjaan, Arjuna hendak menolak, tapi karena membaca namnya ia jadi mempertimbangkannya. Arjuna menganggap Regi adalah Rega, adik kandungnya sendiri, hingga ia pernah menghadiahkan sebuah jam tangan mewah pada sopir pribadi itu.


***


"Assalamu'alaikum." teriak Revi saat mereka sudah berada di depan pintu apartemen.


Pintu terbuka, Melati kaget bukan kepalang melihat siapa yang datang. Langsung saja anak itu memeluk Melati.


"Bu Guru, Revi kangen deh... "


Melati duduk berjongkok, mensejajarkan diri dengan anak itu.


"Ibu juga kangen, Revi. Kamu sama siapa ke sini sayang?" tanya Melati karena ia hanya melihat anak itu berdiri seorang diri di depan pintu.


"Sama om Ganteng."


"Om ganteng?" Revi mengangguk dan Arjuna tiba-tiba datang dari balik kursi, ternyata laki-laki itu duduk berjongkok untuk bersembunyi di sana.


"Sayang, Bu Guru Melati tak kenal sama Om Ganteng. Ia taunya sama Tuan Ganteng." Wajah Melati merona.


"Tuan, ngagetin saya saja." Melati menyelipkan rambut ke belakang telinga sembari tersenyum. "Yuk, sayang masuk!" Ajak gadis itu sambil menggandeng tangan Revi.


Sampai di dalam, Melati langsung memandikan anak itu, mengganti bajunya yang baru saja di belikan oleh Arjuna dan menyuapinya makan.


Setelah itu Melati menemaninya tidur. Anak itu sudah terlelap, saatnya ia menyiapkan makan malam untuk Arjuna, dan ternyata suaminya sudah menunggu di luar.


"Tuan, makan malam dulu!" ajak Melati. Arjuna diam saja, mata itu terus mengawasi gerik gerik gadis di depannya. "Setelah makan malam saya akan bertanya banyak hal soal Revi." katanya yang masih tak di respon oleh suaminya, pria itu terus saja menatap dan menatap dengan bibir menyunggingkan senyum penuh kebahagiaan. Bahkan saat makan mata Arjuna tak lepas memandangi wajah Melati hingga membuat gadis itu tersedak berkali-kali.


"Ini cepat di minum!" Arjuna menyodorkan segelas air putih. "Kamu dari tadi banyak nanya, sekarang gantian aku yang mau tanya."


"Apa, Tuan?" tanya Melati sembari meletakkan gelas di meja.


"Setelah kamu menjawab pertanyaanku. Baru aku akan menjawab semua pertanyaanmu."


"Baik, Tuan."


"Emmmm, kamu selesai dapet tanggal berapa sih? Aku mau siap-siap!"


Sontak Melati semakin terbatuk-batuk karena kaget tak menyangka.


"Uhukk uhuk uhukk!! Uhukk uhuk!!"


Arjuna kembali menyodorkan air minum dengan segera. Wajahnya tampak cemas, menurutnya pertanyaanya biasa saja, ia hanya ingin bersiap untuk shalat berjamaah, tapi sepertinya Melati berpikir ke hal yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2