
Sudah 20 menit kami diam di mobil. Aku masih gugup masuk ke dalam sana untuk menemui Mama. Sedangkan Melati terus menenangkanku.
"Mas, kalau belum siap kita pulang saja, ya!" Melati menggengam tanganku.
Aku masih diam, menyandarkan kening pada setir dan terus memupuk keberanian untuk bisa menemui Mama. Aku rindu, tapi di satu sisi kekecewaan masih ada di hatiku atas sikap Mama.
"Mas lagi berusaha, Sayang. Rasanya sulit melupakan masa dimana terjadi kecelakaan dan aku harus kehilangan Papa."
"Mas, jodoh, maut dan rejeki itu sudah di atur sama yang Kuasa. Kita tidak bisa menyalahkan Mama. Percayalah ada alasan kuat mengapa Mama melakukan semua itu."
Aku menoleh ke arahnya, ia tersenyum. Dan senyum untuk sangat menentramkan hatiku.
"Kita masuk, ya!" ajak Melati.
Aku mengangguk, Melati turun dari mobil dan terlihat berbicara dengan seorang satpam. Kemudian tidak berapa lama pintu pagar terbuka. Sungguh aku tidak bisa menyembunyikan kegugupanku.
"Yuk, Mas!" ajak Melati sambil kembali duduk di sisiku. Kembali ia menggenggam jemariku.
"Bismillah .... " ucapku lirih mencoba meredam rasa yang tak karuan di dalam sini.
Perlahan mobil masuk ke pekarangan rumah yang cukup asri. Kemudian kuparkir di dekat rumah minimalis tiga lantai ini. Melati turun lebih dulu, sementara aku? Masih mencoba menenangkan hati.
Tok ... tok ... tok ....
Melati mengetuk kaca mobil dan aku membukanya.
"Mas, Mama sudah menunggu di dalam sana. Ini pertemuan yang bertahun-tahun ia impikan, Mas."
Sedikit membungkuk ia menatap wajahku. Kemudian merangkum wajah ini dengan kedua tangan dan memberi semangat kalau aku pasti bisa melakukan ini. Terakhir ia mencium kening ku.
"Kamu bisa, Mas. Mama sudah menunggu di dalam." ucapnya sekali lagi menatap wajahku dengan seksama.
Kutarik napas panjang dan mengembusaknnya perlahan. Kemudian balas menatap wanitaku yang begitu bersemangat mempertemukan kami berdua.
"Terima kasih ... " Aku mengambil jemarinya di kedua pipiku dan menciumnya.
Perlahan aku membuka pintu mobil dan turun dari sana. Melati dengan hangat langsung kembali menggenggam jemariku setelah aku berdiri di luar. Ia mengamit tanganku untuk masuk ke dalam.
Bel di tekan beberapa kali. Degupan jantungku semakin kuat bertabuh. Melati mengetahui kegelisahan hatiku, ia meremas jemari ini lembut sambil menoleh dan tersenyum.
"Kamu bisa, Mas." ucapnya sambil mengangguk perlahan.
Aku hanya tersenyum samar. Mencoba mempersiapkan diri bertemu Mama. Wanita yang selama ini sangat kurindukan, tapi begitu banyak kekecewaan tercurah padanya.
Kreakk!
__ADS_1
"Eh, Mbak Melati. Masuk Mbak! " kata perempuan paruh baya yang membuka pintunya.
Perempuan ini bertubuh gempal dan menyanggul rambutnya, ia berbahasa Indonesia, tapi masih medok logat jawanya.
"Mbok, Mama ada?"
tanya Melati sembari melangkahkan kaki, tapi terhenti karena aku mematung ditempatku berdiri.
Ia menoleh, menatapku dengan seksama dan kembali meyakinkanku dengan semua nasehatnya.
"Mas, kuanggap ini permohonan maaf, Mas. Karena kemarin sudah menuduhku yang bukan-bukan. Jadi tolong temui Mama."
Aku hanya diam.
"Mas, please ... " Ia memohon, mengatupkan kedua tangan di depan dada. Aku mengangguk. "Makasih, Mas." Ia memelukku, kemudian kembali mengamit tanganku mengajak masuk.
Kami duduk di ruang tamu. Banyak foto-foto menghiasi dinding rumah ini. Kuamati satu persatu foto-foto itu sampai aku berdiri memandanginya. Ada foto kami sekeluarga, ada fotoku saat masih anak-anak bersama Rega, ada foto ketika Mama mengajariku naik sepeda, masak berdua dan banyak foto lainnya yang mengingatkanku pada masa itu.
"Nak Melati, lama tidak ke sini. Mama kangen loh!"
Deg!
Suara itu, apakah suara Mama?
^^^
"Anak Mama emang juara, kamu kalah atau menang, bagi Mama tetap super star!"
"Wahhh, udah mateng aja. Anak Mama nih calon chef terkenal, nurun dari darah Papanya."
"Nggak ada yang lebih baik dari diri kamu sendiri, Nak. Percaya, percaya dan percaya, kamu pasti bisa... "
^^^
Air mataku menetes, tubuhku serasa kaku. Sakit di tenggorakanku semakin menyiksa, kupejamkan mata dan air mata semakin deras menetes dari ujung mata.
"Nak Melati datang ke sini sama siapa?"
Aku semakin memejamkan mata. Tidak ada keberanian untuk menoleh ke belakang. Perlahan aku menoleh ke belakang dan melihat seorang wanita yang begitu kurindukan duduk lemah di kursi roda.
Aku menatapnya lama, ia pun demikian. Hanya mata kami yang saling bicara. Hatiku remuk redam melihat keadaan Mama. Mata Mama mulai memerah, terlihat air sudah memenuhi semua mata bening itu. Kemudian tetes demi tetes air mata bersusulan merosot ke pipinya.
"Arjuna ... " ucapnya lirih nyaris tak terdengar.
"Iya, Ma. Ini, ini." Aku menarik napas sebelum melanjutkan kata. "Ini, Arjuna." Aku mengulum bibirku sendiri, kesedihan teramat hebat merasuki hati.
__ADS_1
Perlahan aku berjalan mendekat, sedangkan mata kami terus bersitatap. Setelah dekat Mama mengangkat kedua tangannya. Aku sedikit menunduk karena ia ingin menyentuh wajahku.
"Arjuna, ini benar Arjunaku." Air mata itu semakin deras mengalir membasahi pipinya. Aku mengangguk setuju dengan perkataanya.
"Ya, ini Arjuna, Ma... Anak Mama." Kuambil kedua tangannya dan mencium telapak tangan itu secara bergantian.
"Huhuhuhu Arjuna, Alhamdulillah ya Allah." Langsung saja kami berpelukan. Tersedu-sedu Mama menangis memelukku, sementara aku merasa ada bongkahan es yang mencair di dalam sini. Aku duduk berlutut di kakinya dan bersimpuh memohon maaf.
Melati mendekat menepuk-nepuk bahuku sambil ikut menangis.
"Maafkan Arjuna, Ma. Maaf ...." Mama memintaku duduk dan kembali memelukku erat.
"Jangan meminta maaf, Nak. Kamu tidak salah, jangan meminta maaf. Huhuhuhu."
Hari itu, Melati menjadi saksi pertemuan kami. Wanita itu juga yang menjadi jembatan pertemuan ini. Wanitaku, Melati Kusuma, mungkin ini alasan Allah mengirimnya padaku.
***
"Mama tinggal sama Arjuna, ya?" ajakku setelah kami sudah sama-sama tenang.
Kami duduk di taman belakang. Dengan lembut Melati memijat bahu Mama. Wanitaku memang luar biasa.
"Iya, Ma. Katanya pengen menghabiskan waktu sama Anak kesayangan."
Mama tersenyum, sedikit mendongak melihat wanitaku dan menggenggam jemarinya yang sedang memijat punggungnya.
"Nantilah, Mama bicara dulu sama Rega." sahut Mama dengan senyum mengembang. "Nak Melati Terima kasih, ya! Karena kamu Arjunanya Mama mau datang ke sini untuk menemui Mama."
Aku terus menatap wajahnya, sampai ia merasa tidak nyaman.
"Melati hanya perantara, Ma. Semuanya atas izin Allah di atas sana." Ia menjawab perkataan Mama.
Kemudian sedikit sewot saat menyadari aku terus melihatnya. Bibirnya maju lima centi melihatku, tapi saat Mama mengajaknya bicara dan mendongak menatapnya ia kembali tersenyum semanis mungkin. Aku menggeleng tertawa melihat tingkahnya, sedangkan ia menjulurkan lidah ke arahku yang membuat aku semakin gemas.
"Nanti Arjuna yang bicara sama Rega kalau ia sudah pulang, Ma." pintaku.
"Biar Mama saja, Nak. Dia suka pulang malam."
"Kata siapa? Rega sudah pulang kok!" sahut sebuah suara yang membuat kami semua menoleh ke belakang.
Rega pulang masih memakai pakaian lengkap, ia menghampiri kami semua. Aku berdiri dan tersenyum melihatnya. Langsung saja kami berpelukan.
"Akhirnya datang juga! Mbak Melati musti di kasih royalti nih, berhasil membujuk pria sekeras ini." ucapnya meninju bahuku, pelan.
"Royaltinya biarkan aku mengurus Mama. Aku tidak mau royalti lainnya." sambung Melati.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum dan kembali duduk, Rega duduk di sampingku. Hari itu, jujur semua kebaikan sepertinya sedang berpihak padaku. Kami berbicara banyak hal. Sesekali aku menatap wanitaku, begitu besar pengaruhnya dalam hidupku. Terima kasih wanitaku, Terima kasih istriku. Dialah salah satu Wanita terhebatku, Melati Kusuma.