Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Ketakutan Melati (Pov Arjuna)


__ADS_3

Pagi itu, tidak seperti biasanya. Aku bangun ada seorang istri disisiku, aku tersenyum melihatnya masih terlelap, ia pasti lelah karena semalam. Akhirnya kami melewati malam yang panjang, tanpa sengaja. Ya, tanpa sengaja, jika Melati tidak salah faham, mungkin kami belum tidur bersama. Ini namanya salah faham yang membawa keberuntungan. Aku menggelengkan kepala dan tertawa, merasa lucu dengan kisah ini.


Kini aku mendekat ke arahnya, memperhatikan wajahnya ketika terlelap, tetap cantik meskipun wajah itu sedikit berminyak. Kurapikan rambutnya yang berantakan dan menariknya untuk kembali kudekap. Ia masih terlelap, hanya saja kini memeluk tubuh ini. Berkali-kali aku tersenyum, masih tak habis pikir dan tak menyangka. Akhirnya kami berdua sama-sama menjadi suami istri yang sempurna.


Alarm berbunyi, cepat aku meraihnya dan kembali mematikannya, aku takut putri maluku terbangun. Ia masih sangat nyenyak meski pun jam sudah menunjukkan pukul 05.00 pagi, aku akan membangunkannya sepuluh menit lagi untuk menjalankan shalat subuh berjamaah.


Dengan perlahan aku melepas pelukan dan memindahkan kepalanya ke bantal. Aku harus membersihkan diri dulu sebelum menjalankan shalat. Karena semalam, aku langsung terlelap, aku bahkan tak sadar Melati datang. Selesai mandi aku langsung membangunkan Melati.


"Tuan? Anda sudah bangun lebih dulu?" tanyanya sambil mengucek mata.


"Apa? Coba katakan sekali lagi?" pintaku.


"Tuan, Anda sudah bangun lebih dulu?"


"Tuan? Siapa dia?" Aku menoleh ke kanan dan kiri, mencari seseorang. sedangakan tangan berkacak di pinggang.


"Hehehhe, Lupa. Maaf." Ia mengulum senyum. "Mas, kamu sudah bangun lebih dulu?" tanyanya malu-malu dan aku ikut tersenyum.


"Gitu dong. Tuan, Tuan, siapa dia?" Aku protes. lalu duduk disisi ranjang di dekatnya "Iya, Sayang, Buruan mandi dan kita shalat berjamaah, ya! Eh, jangan sampe salah panggil lagi. Panggil Mas Arjuna."


"Iya, maaf Mas Arjunaku." Ia beringsut duduk, Kemudian menyibakkan selimut dan turun dari ranjang, setelahnya berjalan keluar kamar.


Aku hanya menggelengkan kepala melihat tingkahnya. setelah semalam, ia tidak kaku lagi bicara denganku, alhamdulillah ada kemajuan di hubungan ini.


Selesai shalat kami bersalaman, ia mencium punggung tanganku dan aku mencium keningnya.


"Mas aku buat sarapan, dulu!" pamitnya seraya hendak berdiri. Tapi aku menahannya, membuatnya kembali duduk di hadapan. Aku memberikan isyarat supaya ia lebih mendekat.


Melati mendekat, jaraknya dua kilan dariku, aku memintanya lebih mendekat, meski pun ragu-ragu gadisku tetap menurutinya.


"Kenapa, Mas?" tanyanya keheranan menatap wajah ini.


"Tadi pagi, panggil Mas apa pas baru bangun tidur?"


"Tuan!"


Cup! Satu kecupan mendarat manis di bibirnya, ia tersenyum.


"Ulangi!" pintaku.


"Tuan!"


Cup! Satu kecupan lagi di bibirnya.

__ADS_1


Melati sedikit menunduk sambil tersenyum.


"Ulangi!" Pintaku terus menatap wajahnya penuh cinta. Aku hanya ingin selalu menatapnya, selalu dan selalu.


Gadisku menarik napas dalam, ia melirik sekilas kemudian tersenyum menawan.


"Tu ... " baru saja aku akan mendaratkan ciuman sekali lagi, Melati langsung berdiri dan menjauh dariku sehingga aku tersungkur ke depan. Melihat ini ia mengulum senyum menahan tawa.


"Ngerjain, ya?"


"Hahahahah, abisnya Tuan, Ehhh Mas cium terus!" Akhirnya tawanya tersembur juga, ia tertawa sembari menutup mulutnya dengan sebelah tangan.


"Mulai sekarang itu hukuman kalau kamu masih memanggilku dengan sebutan 'Tuan'."


"Ih, jahat!" katanya dengan bibir mengerucut sebal. Aku kembali duduk, menyangga tubuh dengan kedua tangan agak menjorok ke belakang.


"Jadi maunya dihukum yang lebih berat nih!" Aku menggoda.


"Au ah! Aku mau masak, Mas. Nanti aja becandanya, bentar lagi Revi bangun loh!" Ia melepas mukena, melipat dan meletakkannya di ujung ranjang, kemudian keluar. Sementara aku hanya bisa memendanginya berjalan keluar kamar.


Melati membangunkan Revi, setelahnya membuat sarapan. Kini aku dan Revi duduk di meja makan menunggu makanan dari Melati.


"Makan! Makan! Makan!" teriak kami berdua serentak sambil menggebrak-gebrak meja dengan kedua tangan. Sudah ada piring kosong di hadapan kami berdua.


"Iya, sabar, sabar ..., " ucapnya sembari mengangkat makanan dari minyak panas.


"Wahhh, ayo kita makan!" ajakku pada Revi.


"Ayo Om Ganteng," sahutnya tak kalah bersemangat.


Melati berdiri di belakangku. Kemudian sedikit berjongkok melingkarkan kedua tangannya di leherku.


"Enak, Mas?" tanyanya.


"Semua masakan kamu itu enak!" sahutku sambil mengunyah makanan dalam mulut. "Kamu nggak makan?"


"Nanti aja, yang penting Mas sama Revi dulu. Aku mau mandi lagi setelah masak, gerah!" katanya sembari bersandar di bahuku. "Sayang, makan yang banyak, ya!" pintanya menoleh ke arah Revi.


"Baik Bu Guru!" sahut anak itu tersenyum.


***


Setelah mengantarkan Revi sekolah, entah mengapa tiba-tiba aku ingin pulang ke rumah. Persis seperti pengantin baru, aku ingin ber lama-lama menghabiskan waktu bersama istriku tercinta. Kutelepon Gilsa dan memintanya mengurus izinku untuk satu pekan. Setelahnya kembali ke rumah. Sampai di rumah, kutekan bel berulang, Melati pasti heran kenapa aku tidak bekerja.

__ADS_1


Krekkkk!


Pintu terbuka, aku tersenyum melihatnya. Ternyata ia baru selesai mandi, kepalanya masih terlilit handuk berwarna putih.


"Mas, mana Revi? Masih pagi kok udah pulang?" tanyanya.


"Revi sekolah, Mas masih kangen!" ucapku lirih.


Melati mendengkus, tertawa.


"Ih Mas ada-ada saja."


Aku mendekat dan berbisik dengan napas sedikit memburu, gairah.


"Nggak percaya?" Lalu menatapnya tajam. Ia tersenyum.


"Percaya."


"Kenapa, lagi nggak mood, ya?"


"Wah, kata siapa? Ayo!" katanya bersemangat.


Aku tertawa, langsung saja aku masuk dan menyerangnya.


"Mas! Sabar dulu, kunci pintu." pintanya sambil melepas ciuman. Aku nyengir kuda dan cepat mengunci pintu. Setelahnya lanjut berperang.


***


"Mas, aku takut!" ucap Melati setelah kami telah selesai. Kami berbaring di sofa berdua dengan tubuh ditutup selimut. Aku memainkan rambutnya sedangkan ia bersandar di dadaku.


"Takut kenapa, Sayang?"


"Aku sudah terlanjur sayang sama Revi. Bagaimana nanti kalau suatu saat ia pergi. Diambil Kak Juwita saat ia sembuh nanti, atau tiba-tiba ayah maupun neneknya datang untuk membawanya pergi."


Aku mencium puncak kepalanya, kemudian mencoba memberi pengertian sebisaku.


"Sayang. Biar bagaimana pun yang lebih berhak atas Revi adalah mereka, karena mereka yang memiliki hubungan darah sama anak itu. Sedangkan kita? Kita hanya orang asing. InshaAllah Revi juga bahagia tinggal bersama keluarga kandungnya."


"Dia tidak bahagia, Mas. Buktinya ia sering cerita kalau ia sering di pukul dan dicaci maki mamanya. Aku kasihan."


"Mungkin, Juwita seperti itu karena gangguan kejiwaan yang dialaminya. Jadi kadang-kadang ia baik, Kadang-kadang ia jahat. Jiwanya nggak stabil Sayang."


Melati diam saja, ia memeluk lebih erat. Lama-lama terisak.

__ADS_1


"Sayang, nggak boleh nangis." ucapku sembari berusaha melihat wajahnya, tapi gadisku menyembunyikannya. "Ya udah, nanti kita cari jalan keluarnya deh." Ia masih terisak. "Heyy, jangan nangis lagi, berhenti dong nangisnya .... " pintaku lembut.


Aku memegang dagunya, menatap kedalam bola matanya yang tergenang banyak air mata, kemudian mencium hangat keningnya. Wanita itu kembali memeluk dan menyembunyikan wajah. Selanjutnya aku hanya bisa mengusap-ngusap bahunya untuk menenangkan.


__ADS_2