
"Jun, nggak kerasa syuting kita dah kelar, ya!" kata Dino saat kami baru saja selesai syuting.
Ya, hari ini kontes memasak sudah usai, pemenang sudah terpilih dan Arjuna bisa agak santai sekarang. Tinggal mengisi acara masak setiap hari di salah satu stasiun TV swasta. Itu pun jam 2 siang. Sesekali keluar kota untuk memenuhi undangan sebagai bintang tamu.
"Iya, Alhamdulillah. Bahagia gue, terhindar dari mahluk astral kayak loe!"
"Wahh ... tega loe, Jun. Awas aja nanti kalau butuh ama gue, nggak bakal gue tolongin!"
Arjuna tersenyum, ia menggeser duduknya ke arah Dino.
"Becanda, jahat banget."
"Apaan sih?" Tiba-tiba Mariska nimbrung membawa secangkir coklat panas di tangan.
"Dia bahagia acara kita telah usai. Katanya terhindar dari mahluk astral kayak kita."
"Beneran, Jun?"
"Becanda, dia aja yang lebay!"
Mariskan duduk di samping Juna.
"Udah-udah, kalian apaan sih." Mariska menengahi mereka berdua. "Eh, chat aku waktu itu bener nggak sih? Itu bener foto Melati?"
Derai tawa Arjuna berhenti seketika. Ia masih mencoba tersenyum meski pun terpaksa.
"Ia, dia Melati. Itu sama Rega, adik gue."
"Beneran itu adik loe? Wahhh cakepp banget, sumpah!!"
Arjuna memutar bola matanya, malas.
"Abangnya aja kayak begini, jelas lah adeknya begitu." sahutnya santai sambil menyilangkan kaki.
"Eh serius, cakepan dia dari loe!" Goda Mariska.
"Masak sih?" sambung Dino.
Arjuna mengabaikannya. Ia berdiri dan begitu saja berlalu, tak di hiraukannya panggilan dua sahabatnya yang terus saja meneriaki namanya.
***
Arjuna langsung menuju rumah. Ia pulang lebih cepat. Sampai di rumah ia menekan bel beberapa kali, tapi rumah sepertinya kosong. Langsung saja Ia mengeluarkan gawai dan mengirim chat ke istrinya.
[Assalamu'alaikum, sayang kamu di mana?]
Setelah menunggu sekitar 10 menit Melati membalas.
[Waalaikumsalam, Mas. Aku di rumah Mama.]
Langsung saja Arjuna berjalan cepat menuju parkiran. Ia akan menyusul Melati ke sana.
***
Di rumah Rega Melati sedang duduk di taman belakang bersama Bu Hertini. Ia berjongkok di bawah memijat kaki ibu Mertuanya.
"Nak, kamu belum pengen punya anak?"
"Pengennya sih, Ma."
__ADS_1
"Ayolah, mumpung Mama masih ada."
Melati tersenyum. Ia melihat Revi yang sedang asik bermain bersama si Mbok.
"Kamu tau, si Jelita itu dulu calon menantu kesayangan Mama. Meski pun orang tuanya tinggal di LN, tapi ia bisa hidup mandiri. Kerja, berkarier dan mapan."
Melati menundukkan kepala. Ia sadar, ia bukan siapa-siapa, hanya seorang istri yang setia menunggu suami pulang ke rumah. Sekolah pun SMA tidak tamat.
"Sayang sekali dia sakit seperti ini. Eh Kamu dulu kuliah di mana, Sayang?" tanya Mama mertuanya sambil membelai kepala menantunya.
"Ma, kemana aja sih? Aku cari ke mana-mana loh!" tegur Rega tiba-tiba.
Mereka berdua langsung menoleh. Rega melirik sekilas ke arah melati dan mendekati mamanya.
"Kamu, Sayaang? Nggak kerja?"
"Jam makan siang, Ma."
"Tumben pulang, biasanya makan di luar."
Rega hanya tersenyum dan berdiri di belakang kursi roda mamanya.
"Eh iya, Nak. Bagaimana rencana kami waktu itu. Kita sudah pernah bicara, kamu nggak apa-apa, kan? Kalau Mama tinggal di rumah Arjuna."
Melati tersenyum mendengarnya, tidak dengan Rega. Jika ia membiarkan Mama tinggal di sana makin besar kemungkinan Mama mengetahui semua tentang melati. Dan Rega tidak yakin kalau mamanya siap menerima semua itu.
"Ma, tinggallah denganku lebih lama lagi."
"Kamu juga bisa tinggal di sana, Nak. Biar keluarga kita berkumpul."
Rega diam saja, ia memperhatikan ekspresi Melati yang bahagia. Arjuna datang, ia segera bergabung bersama semua orang.
Arjuna segera mengambil punggung tangan mamanya.
"Waalaikumsalam, Nak. Kebetulan kamu datang. Ini lagi bahas mau pindah ke rumah kamu."
Rega dan Arjuna saling pandang.
"Aku lagi mempersiapkan sebuah rumah baru untuk kita tinggali, Ma. Jangan sekarang, ya!"
"Mas, nggak apa-apa untuk sementara Mama tinggal di apartemen kita." Kata Melati.
"Kamu lupa, kamar kita cuma dua sayang." Arjuna memandang istrinya. Sementara Melati bengong tidak mengerti.
"Mama nggak keberatan kok tidur sama Revi." Sahut mamanya.
"Ma, nanti badan Mama pegel semua kalau tidur di ranjang yang sempit." tambah Rega.
Sekali lagi Arjuna dan Rega saling pandang.
"Kalian berdua, ada ada saja. Kalian itu terlalu khawatir sama mama. Ya sudah mama nunggu rumah baru Arjuna jadi aja deh!" Mama tertawa.
Setelah mengobrol Arjuna mengajak semua orang masuk ke rumah. Di rumah mereka kembali berbincang hangat, hanya soal pekerjaan Arjuna dan Rega. Melati masih setia memijat punggung mama mertuanya. Sesekali ia tersenyum sambil mendengarkan. Rega memutuskan kembali ke rumah sakit saat tau kakaknya sudah ada di rumah. Ia yakin Melati akan baik-baik saja selama ada Arjuna di sisinya.
"Ga!" panggil Arjuna saat Rega baru sampai di teras rumah. Arjuna mengajak adiknya duduk di kursi teras.
"Kenapa, Kak?"
"Makasih sudah bantuin di dalam tadi."
__ADS_1
"Iya, sama-sama. Kak sepertinya ada yang perlu kakak tau."
"Soal apa?"
Rega terdiam, setelah lama berpikir akhirnya ia menceritakan masa lalu papanya. Di mana keretakan rumah tangga orang tua mereka di sebabkan oleh orang ketiga, Rega juga menceritakan tulisan tangan yang pernah di temukannya kala itu. Tulisan yang menjelaskan kalau mama mereka sangat membenci wanita yang pernah merebut suami orang, siapapun orang itu dan apa pun alasannya.
Bahkan dalam tulisan itu, mamanya berjanji tidak ingin mengenal tipe orang seperti itu, sampai anak dan cucunya. Arjuna cukup syok mendengarnya. Harapannya agar sang mama menerima istrinya semakin jauh melayang. Terlebih mendengar kebenaran soal papanya.
"Kak, sebisa mungkin lindungi Mbak Melati dari Mama."
Arjuna mengangkat kepala, memandang ke arah adiknya.
"Aku tau semua soal Mbak Melati dan percayalah, ini akan sulit."
Kemudian Rega berdiri dan menjauh dari sana. Arjuna hanya melihat kepergian adiknya dengan suasana hati yang tak menentu.
***
"Mas, mas kenapa sih dari tadi kayak gini terus?"
Tanya Melati saat mereka sudah berada di apartemen. Arjuna terus saja memeluknya malam itu. Hatinya sedang gelisah, ia takut suatu saat kehilangan wanita yang sangat di sayanginya.
"Mas pernah bilang, mas suka peluk kamu."
"Tapi aku nggak bisa gerak!"
"Biarin aja. Yank... "
"Emmm."
"Mau janji satu hal sama aku?"
"Apa?"
"Apa pun yang terjadi jangan pernah tinggal kan aku, serumit apa pun masalah kita nanti."
"Emang tau dari mana kalau kita akan ada masalah?"
"Setiap orang yang sudah menikah pasti akan melewati badai dalam rumah tangganya."
"Badai itu akan semakin menguatkan hubungan kita, Mas."
"Iya, kalau kita sama-sama bertahan."
"Aku akan selalu bertahan, Mas!"
"Janji!" Arjuna menyodorkan jari kelingking nya. Melati tersenyum manis, menerima jemari suaminya.
"Janji!!" Katanya mengaitkan jari kelingkingnya pada jemari Arjuna.
Arjuna kembali memeluk wanitanya.
"Tidurlah, besok kita akan ke Bandung."
"Bandung?"
"Iya."
"Ngapain, Mas?"
__ADS_1
"Ikut aja!" balasnya sambil membenamkan kepala istrinya dalam dada.