Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek

Terpaksa Menikah Dengan Chef Jutek
Perasaan Rega


__ADS_3

"Gilsa sudah kamu persiapkan semuanya?"


Tanya Arjuna pada Gilsa saat perjalanan pulang dari lokasi syuting. Mereka sudah merencanakan pertemuan keluarga Melati dan mamanya.


"Sudah, Tuan."


"Kamu sudah memastikan semuanya?"


"InshaAllah, Tuan. Sesuai rencana awal."


Mobil melaju kekediaman sang mama. Sesekali Arjuna mengecek CCTV di rumah, hanya untuk memastikan kalau keadaan Melati baik-baik saja.


***


Mobil menepi di halaman rumah. Arjuna turun bersama Gilsa sementara Regi menunggu di mobil. Mereka berjalan beriringan. Setelah menekan bel, pintu terbuka. Mbok menyambut mereka dengan senyum mengembang.


"Eh, Tuan. Silakan masuk!" Arjuna tersenyum, kemudian masuk bersama Gilsa.


Mamanya sedang asik memberi makan ikan di kolam belakang. Arjuna langsung merangkulnya dari belakang dan mencium puncak kepala sang Ibu. Meski pun awalnya kaget, karena Arjuna datang secara tiba-tiba, namun mata itu berbinar saat tahu Arjuna yang datang.


"Assalamu'alaikum, Ma," kata Arjuna sambil berjalan kehadapan mamanya dan duduk berjongkok mensejajarkan diri, tidak lupa ia mencium punggung tangan sang Mama dengan takzim.


"Waalaikumsalam, Nak. Kamu ngagetin aja. Lama banget nggak ke sini. Gimana syuting luar kotanya kemarin? Sukses kan, ya? Mama udah kangen banget sama kamu dan Melati. Menantu kesayangan Mama ikut kan?" tanyanya sambil menoleh ke kiri dan kanan, mencari sosok Melati.


Arjuna tersenyum. Digenggamnya tangan sang Ibu dan menjelaskan kalau ia tak bersama Melati.


"Aku tuh pulang kerja, jadi belum sempet mampir ke rumah, Ma. Takutnya nanti kemaleman kalau pulang dulu."


"Coba Mama tinggal sama kamu. Kan Mama nggak perlu menahan rindu ini pada menantu kesayangan Mama. Kamu sama Rega sih, pake acara nggak setuju."


Lagi-lagi Arjuna hanya bisa tersenyum, melihat ibunya cemberut, kesal.


"Bukan nggak setuju, Ma. Kasihan Rega, dia masih sendiri. Kalau ada Mama kan dia ada temennya. Juna janji bakal ajak Melati ke sini dalam waktu dekat beserta keluarganya."


Mamanya terpaku, tidak menyangka dengan kalimat yang keluar dari mulut sang anak.


"Apa? Keluarga Melati di Jakarta? Maksud kamu Mama akan bertemu besan?" tanya Mama tidak percaya dengan raut senang. "Ohh, Alhamdulillah." Bu Hertini langsung memeluk Juna. Mamanya tampak sangat bahagia. Sementara Arjuna menatap Gilsa saat mamanya memeluk. Seolah belum yakin 100℅ dengan keputusannya.


"Makasih ya, Nak. Alhamdulillah akhirnya ketemu juga. Eh Mama harus pake baju apa, ya?"

__ADS_1


"Mama pake baju apa aja cocok kok!"


"Aih kamu, kayaknya Mama harus beli baju baru deh." Arjuna hanya duduk berjongkok di depan mamanya sambil mendengarkan mamanya mengatakan banyak hal. Sesekali pria itu tersenyum, juga tertawa. Kadang hanya mengangguk mengiyakan. Kemudian diam mendengarkan, meski pun hatinya di landa kekhawatiran yang teramat hebat, tapi ia berusaha terlihat baik-baik saja.


***


Di tempat lain, Melati dan Revi sedang menjenguk Juwita di rumah sakit. Keadaan Juwita sudah lebih baik dari sebelumnya. Ia tidak pernah mengamuk lagi. Wanita itu hanya duduk diam memandangi foto di tangannya. Masih foto yang sama, foto pernikahan Melati dan Arjuna. Kadang ia terisak-isak, lalu tersenyum dan tertawa.


"Juna, kamu bahagia ya sama wanita ini? Kalau kamu bahagia, aku bahagia juga kok! Sumpah!! Suerr!! Kalau aku bohong kamu boleh cubit hidung aku seperti dulu," ucapnya dengan mata berkaca-kaca. "Tapi kamu tau nggak? Aku, akan selalu suka sama kamu. Karena aku nggak pernah cinta sama siapa siapa siapa pun! Kamu itu selalu ada di hati aku." Lagi bibirnya berucap.


Melati mengalihkan pandangan, ia tak tega.


"Mama Melati menangis?" tanya Revi, saat melihat wanita itu menghapus air di ujung mata.


Melati hanya tersenyum.


"Mama sudah mau sembuh ya, Ma? Itu Mama nggak marah-marah lagi," polos bocah itu berucap.


"InshaAllah, sebentar lagi mama sembuh ya, Sayang. Jangan lupa terus berdo'a." Melati mengusap kepala Revi penuh rasa sayang.


"Mama Melati!" panggil Revi sambil menggoyangkan tangan wanita di sampingnya. Ia berdiri di atas kursi, di samping tubuh Melati. Wanita itu menoleh


"Nanti kalau Mama sudah sembuh, Revi balik lagi sama Mama, ya?" Melati semakin menahan air matanya. Dagunya berkerut menahan kesedihan.


"Iy ... iya Sayang," sahut Melati sedikit terbata. Langsung saja anak itu memeluk tubuh Melati.


"Revi pasti bakal kangen sama Mama Melati."


Wanita itu diam saja, ia tak tahu harus berkata apa. Ia hanya bisa membalas pelukan anak itu sambil memejamkan mata, meresapi dekapan hangat anak itu yang mungkin suatu saat tak dirasakannya lagi.


***


Malamnya Bu Hertini sedang sibuk melihat-lihat baju, semua baju dikeluarkan olehnya dengan meminta bantuan Mbok di rumah. Ia bingung harus memakai baju apa nanti kalau ketemu dengan besan. Tidak sengaja Rega melintas, ia melihat pintu kamar mamanya terbuka dan melihat pemandangan itu. Karena penasaran Rega mendekati mamanya.


"Mama lagi ngapain?"


"Aduh, mama sampe belum bilang sama kamu, Nak. Tadi kakakmu ke sini, dia bilang keluarga Melati sudah ada di Jakarta."


"Oh, begitu, Ma. Rega belum tahu soalnya." Dahi pria itu mengerut. Kekhawatiran menghantui hatinya.

__ADS_1


"Mungkin kakakmu lupa mau cerita sama kamu. Eh Mama bingung mau pake baju yang mana, apa Mama beli baju lagi aja, ya!" tanya Mamanya sambil menyentuh beberapa pakaian di atas kasur.


"Beli aja kalau butuh, Ma. Lagi pula Rega perhatiin Mama udah jarang belanja. Jaman sekarang kan udah canggih, nggak harus ke mall buat beli kebutuhan di rumah. Bisa orang Online."


"Mama itu males, udah tua mau belanja ini itu, ribet Sayang," sahut Bu Hertini sambil tersenyum.


"Ya udah Rega ke kamar dulu ya, Ma," pamit Rega.


"Iya, Nak," sahut mamanya, kemudian kembali fokus melihat-lihat pakaian.


Perasaan Rega tidak enak, setelah lama berpikir ia memutuskan keluar untuk menemui Arjuna. Sebelum keluar ia sempat ke kamar mamanya, ternyata mamanya sudah terlelap. Rega berpesan pada Mbok untuk menjaga mamanya karena ia akan keluar.


Diperjalanan Rega kembali gelisah, tanpa disadari kehadiran Melati di hatinya cukup menjadi beban. Karena secara tidak langsung, dan tanpa disadarinya ia selalu memikirkan kebahagiaan wanita itu meskipun ia tau, Melati tidak akan pernah bisa bersamanya.


Sampailah pada tujuan, setelah memarkir mobilnya Rega pergi ke atas. Ia menekan bel apartemen itu beberapa kali. Karena lama, Rega memutuskan duduk di teras kursi dengan meja bulat di tengah-tengahnya. Pintu terbuka, wajah Melati langsung tersenyum semringah melihat siapa yang datang.


"Pak Dokter!" serunya sambil tersenyum.


Melihat senyum itu membuat Rega terpaku, ada desiran halus di hatinya dan membuat degupan jantung semakin cepat berdetak. Rega berdiri, membalas senyum kakak iparnya. Baru saja ia akan mendekat, Arjuna muncul dan tiba-tiba memeluk Melati dari belakang.


"Siapa Yank?" Katanya sembari menyandarkan dagu di bahu wanita itu, yang seketika membuat Rega memalingkan muka.


"Mas! Apaan sih, lepasin. Ada Dokter Rega," ucap wanita itu sambil melepas pelukan.


Arjuna melepas pelukannya perlahan, dan tersenyum pada Rega.


"Romantis-romantisannya ditunda dulu lah, ada tamu nih!" Goda Rega mengusir kecanggungan yang terjadi di antara mereka.


Arjuna dan Melati hanya tersenyum, lalu mempersilakan Rega masuk. Jam sudah menunjukkan pukul 21.30 malam, Rega nekat datang ke apartemen mereka karena tidak bisa menyimpan perasaan gundah dengan kabar yang baru saja didengar dari sang Mama.


Arjuna dan Rega mengobrol di sofa, sementara Melati membuatkan minum di dapur yang tak jauh dari mereka, karena ruangan itu tanpa sekat dinding jadi Rega bisa sesekali melihat kakak iparnya. Melati mamakai baju tidur berwarna biru muda, dengan hijab instan berwarna hitam. Di mata pria itu Melati selalu terlihat menakjubkan.


Rega bertanya banyak hal perihal kabar yang sudah disampaikan oleh mamanya. Arjuna berterus terang menceritakan apa adanya dan berjanji memberi tahu hal yang sesungguhnya pada sang Mama suatu hari nanti.


"Kak, kita sudah sama-sama tahu sifat Mama. Mungkin, bisa saja Mama mengubah prinsipnya, tapi kita tahu, hanya kemungkinan kecil, dan jika saat itu tiba, lalu kenyataanya di luar dugaan." Rega diam, menatap wajah kakaknya lamat-lamat.


"Apakah kakak siap, kehilangan salah satu di antara mereka? Mama, atau .... " Rega tak melanjutkan kata-katanya, Ia hanya menoleh ke arah Melati.


Arjuna terdiam, tatapannya tertuju pada Melati yang masih sibuk mengaduk kopi di atas meja makan.

__ADS_1


__ADS_2