
[Mbak, kebetulan aku lewat sana, sekalian aku jemput, ya kalau mau ke rumah.]
Sebuah chat dari Dokter Rega. Kalau terus merasa tidak enak aku takut suatu saat Tuan Arjuna bisa berpikir yang bukan-bukan soal kami berdua. Sepertinya aku harus menghindarinya. Akhirnya kukirim pesan balasan.
[Maaf, Dok. Saya sedang tidak ada di rumah. Hari ini saya tidak bisa menemui Mama. Mungkin minggu depan saya baru bisa main ke sana, karena Revi sedang banyak PR nya.] send.
Aku terpaksa berbohong. Baru-baru ini sikap suamiku berbeda. Entah ada apa dengannya? Apa aku pernah lupa mengangkat telponnya, atau aku lupa membalas pesannya. Aku sudah coba memeriksa berulang, tapi hasilnya sama. Aku tidak melakukan kesalahan itu. Ponsel bergetar aku segera merogoh saku celana dan melihatnya.
[Oke, Mbak. Kalau seperti itu nanti saya saja yang jemput Revi, kebetulan kan sekolahnya searah sama gedung rumah sakit. Kebetulan juga itu pas jam makan siang.]
[Dok, maaf. Tidak perlu.]
Aku meletakkan ponsel ke nakas. Apa sikapku selama ini terlalu berlebihan pada Dokter Rega. Kenapa aku merasa ia seperti mencari kesempatan untuk bertemu denganku?
Astaghfirullah, kenapa aku berpikir buruk seperti ini. Cepat aku mengusap wajah dan berusaha berpikir positif. Aku sudah meminta tolong Pak Gus menjemput Revi hari ini. Anak itu ingin bermain bersama Bunga, katanya bunga pernah berjanji mengajarinya membuat kue.
Suara bel berbunyi nyaring, aku segera bangkit dan memeriksa tamu siapa yang datang. Jantungku berdegup kencang saat pintu kubuka. Tuan Arjuna benar-benar berdiri di hadapanku. Aku bahkan mengucek mata untuk memastikan. Aku tersenyum bahagia, kuambil punggung tangannya dan menciumnya. Setelah itu berjongkok untuk melepas sepatunya. Tuan diam saja, wajah itu datar tak berekspresi.
"Mas, mau aku buatkan kopi?" tanyaku memberanikan diri. Ia diam saja, duduk di sofa dan menghidupkan TV. "Mas."
"Nama saya Arjuna. Panggil saja seperti itu."
Seperti ada diri yang menusuk di hati. Aku memalingkan wajah, berusaha tersenyum meski pun ingin menangis.
"Baik, Tuan. Maafkan saya." sahutku dengan suara bergetar. Aku langsung menuju ke dapur. Menutup mulutku dengan sebelah tangan, menangis.
Aku teringat saat aku salah memanggilnya dengan sebutan Tuan. Ia akan menghukumku.
^^^
"Tadi pagi, panggil Mas apa pas baru bangun tidur?"
"Tuan!"
Cup! Satu kecupan mendarat manis di bibirku.
"Ulangi!" pintanya.
__ADS_1
"Tuan!"
Cup! Satu kecupan berhasil mendarat di bibir ini.
Aku sedikit menunduk sambil tersenyum, menyusun rencana, jika ia akan melakukannya lagi aku akan menjauh segera, supaya Tuan terjatuh dan aku bisa tertawa.
"Ulangi!" Pintanya terus menatap wajahku dengan seksama.
"Tu ... " belum selesai aku bicara Tuan sudah mau mencium untuk ke 3 kalinya. Langsung saja aku berdiri dan menjauh darinya sehingga ia tersungkur ke depan. Dan itu berhasil membuatku tertawa terpingkal.
^^^
Aku memejam, kuremas dada ini dan memukulnya pelan. Perih, di mana keteduhan itu?
Aku berjalan ke arah meja makan dan duduk disana. Dadaku sesak terhimpit rasa yang menyiksa hati. Tak ada lagi tatapan penuh cinta, tak ada lagi kalimat yang menangkan jiwa. Di mana semua itu, di mana?
Argghh, aku menangis tak tau harus bagaimana. Kenapa suamiku bisa berubah seperti ini.
"Melati!" teriaknya.
Aku terkesiap, secepat kilat menghapus air mata dan menemuinya yang sedang duduk di sofa.
"Mana? Katanya mau buatin kopi?"
"Maaf, Tuan. Saya lupa."
"Cepat, sebelum selera minum kopi saya menghilang."
"I ... iya." Aku terbata, segera aku kembali kedapur dan membuatkanya secangkir kopi hitam.
Selesai membuat kopi langsung Kuantar ke depan dan meletakkannya di meja. Tuan kembali seperti dulu, menjadi pribadi yang pedas berbicara dan berhati batu. Kenapa lelakiku bisa berubah seperti ini? Aku hanya berdiri terpaku memperhatikan dia minum kopi sambil menonton TV. Ingin sekali aku bertanya, duduk di sampingnya, bersandar dibahunya.
'Mas, mengapa kamu pulang lebih cepat? Baru 20 hari kamu pergi bekerja, apa ada masalah dengan pekerjaanmu? Apa kamu baik-baik saja? Apa terjadi sesuatu?'
Tapi itu hanya sebatas keinginan, tak satu pun berhasil terucap. Aku berbalik, hendak masuk ke kamar. Hati masih berharap ia memanggilku, menepuk bagian kosong di sisinya untuk kududuki dan bersikap penuh kasih seperti biasa. Berat kulangkahkan kaki meninggalkan ia sendiri di sana.
'Mas panggil aku, Mas. Kumohon .... ' Kupejamkan mata dan melangkah perlahan. 'Sekali saja, panggil aku, Mas!'
__ADS_1
"Melati!"
Langakhku terhenti.
'Alhamdulillah, ya Allah, ia benar-benar memanggilku.'
Kubuka mata dan menoleh kebelakang, memperhatikan kalau saja tangannya mengayun, menepuk bagian kosong disisnya meminta aku duduk di sana. Terus dan terus berharap, tapi mengapa ia hanya diam, menatapku lama lalu kembali fokus ke layar TV di depannya.
"Kemasi pakaianmu di kamarku, tidurlah bersama Revi mulai saat ini!" Aku tertunduk menggigit bibir yang sedikit bergetar dan menjawab dengan suara serak.
"Baik,Tuan."
Aku berjalan ke arah kamarnya. Sampai di sana mengemasi semua pakaian dari dalam lemarinya dengan suara tangis yang tertahan. Sesekali aku menutup mulut dengan sebelah tangan, supaya Tuan tidak mendengar isakanku. Lalu kembali mengemasi semua pakaianku di sana.
'Kenapa denganmu, Mas? Salah aku apa?'
Setelah semua pakaian selesai kumasukkan dalam tas, aku hendak berdiri dan kembali masuk ke kamar. Tapi terhenti, aku melihat pakaian milik Tuan Arjuna, kaus panjang berwarna abu-abu yang pernah kupakai dan ia sangat menyukainya.
"Ambil saja baju itu kalau kau suka, lagi pula aku tidak akan lagi memakainya."
Tuan sudah berdiri di bibir pintu. Aku mengangguk cepat dengan tetesan air mata yang semakin deras, kuhapus kasar dan segera mengambil baju miliknya.
"Terima kasih, Tuan. Sudah merelakan baju ini untuk saya."
"Ya. Cepat keluar, saya mau beristirahat!" Ia menatap dengan tatapan dingin dan meninggalkanku sendiri.
Sedikit berlari aku keluar dari kamar ini, bahkan aku sempat menabrak lengannya dari belakang. Tidak sabar ingin menangis di kamar.
Brak!
kututup pintu dan bersandar di sana. Tubuh luruh kelantai. Aku berjongkok menyembunyikan wajah diantara lengan, menangis lagi.
Asa, apa kau masih bersembunyi di dalam sini?
Kumohon jangan pergi, mungkin lelakiku terlalu lelah hingga ia berbuat seperti itu. Kita kuat! kita bisa melewati semuanya. Kumohon jangan menyerah. Bukankah cinta itu hanya memberi, tidak berharap balasan, tidak berharap imbalan? maka dari itu bersabarlah ....
Hati, bertahanlah, aku tau kau sakit, aku pun merasakan perih. Tapi, tetaplah bertahan dengan Asa yang kau miliki. Aku yakin Tuan memiliki alasan mengapa ia bisa menyakitimu, aku tau lelakiku tidak seperti itu. Sejak awal bertemu, aku meyakini ia orang yang baik.
__ADS_1
Aku mendongak, mengelus dada sendiri. berusaha berpikir positif.
'Melati kamu kuat! kamu kuat!'