
"Tasya, sudah yuk kita pulang mami sepertinya capek." ucap Devan melihat jam tangannya... Karena sudah satu jam Tasya dan Jimmy bermain sementara Maya lagi hamil.
"Mmm... Mas apa kamu tidak balik ke kantor.?" ucap Maya.
"Tidak, hari ini khusus untuk kalian." ucap Devan tersenyum... Dia senang Maya mau menyapanya duluan.
Napsu makan Maya sangatlah tinggi... Saat lagi berjalan menuju parkiran Maya mengajak Devan untuk membeli sebuah cemilan... Devan tidak bisa menolak.
Mereka sudah sampai di mobil... Di dalam mobil Tasya dan Jimmi tertidur mereka sangat capek sekali... Devan meminta pak eko supir mama nya yang memang standbay disana untuk menggendong Jimmy sementara dirinya menggendong Tasya.
"Aku akan buat Makan dulu Mas." ucap Maya mau ke dapur...
"May, tidak usah kamu pasti capek biar bibi saja." kata Devan.
"Baiklah..." ucap Maya yang memang sangat capek akhirnya Maya mengekor di belakangan Devan.
Menaruh Tasya di kamarnya... Maya yang sudah ada di kamar siap siap untuk mandi... Devan masuk dan duduk di sofa..
"Kamu mau mandi dulu.?" ucap Maya.
"Aku ingin mengecek kerjaan dulu, oh iya ponselku mana.?" ucap Devan.
Ya dari tadi ponsel dan dompet Devan ada di dalam tas Maya... Karena Devan menyuruh Maya pegang untuk membayar.
"Di tas ku, kamu ambilah." ucap Maya.
"Baiklah." Kata Devan.
__ADS_1
Devan melihat tas milik Maya yang biasa saja tidak seperti Tania isinya juga hanya dompet, kunciran rambut dan payung lipat... Devan tersenyum istrinya sangat sederhana.
"Ada Mas.?" tanya Maya yang keluar dari kamar mandi.
"Ada ini... oh ya kamu pegang ini." ucao Devan menyerahkan 2 kartu.
"Apa ini.?" tanya ku bingung.
"Itu kartu kredit dan debit... Siapa tahu kamu butuh sesuatu." ucap Devan.
"Ooh... Baiklah makasih ya Mas." ucap Maya memasukkan 2 kartu tersebut.
"Nanti setiap bulan kamu kirim juga buat nenek dan bibi ya... Karena kamu sudah tidak kerja lagi." ucap Devan.
Maya hanya diam dirinya tidak menyangka suaminya sangat baik... Terlihat dingin dan cuek ternyata perhatian sekali dan dapat bonus tampan sekali...
"Itu sepertinya Tasya mas... Aku liat Tasya dulu ya mas." ucap Maya.
"Sayang kenapa.?" ucap Maya menghampiri Tasya.
"Mami... Tasya mau sama mami." ucap tasya Maya pun mnegambilnya dan mengendong Tasya.
"Cup... Cup... Anak mami pintar jangan nangis ya." kata Maya menenangkan Tasya.
"Kenapa kamu gendong Tasya.?" Devan yang baru datang.
"Tidak apa apa mas, Tasya nangis masalahnya." ucap Maya.
__ADS_1
"Sini berikan Tasya pada ku." ucap Devan.
"Tidak mau, Tasya mau sama mama." ucap Tasya peluk Maya.
"Tasya di perut Mami lagi ada adik, Tasya mau adik kan?." ucap Devan.
"Iya papi..." akhirnya Tasya mau di gendong sama Devan.
"Kalau gitu Tasya mandi dulu, biar Mami siapkan." ucap Maya.
Devan melihat Maya yang begitu peduli pada anaknya membuatnya tidak salah pilih menikahi Maya... Mungkin ini jalan tuhan dan Devan yakin Maya memang jodohnya... Walau usia mereka beda 10 tahun kayaknya itu bukan masalah...
"Tasya sudah siap ayok mami mandikan Tasya baru kita makan sayang." ucap Maya mengambil Tasya.
Devan keluar kamar Tasya, saat dirinya menuruni anak tangga bertemu Mama Maria...
"Van, tadi Tasya nangis kenapa.?" ucap mama Maria.
"Tasya pikir Maya pergi ma." ucap Devan.
"Anakmu memang sangat menyayangi Maminya sampai tidak mau jauh untung uda buat adik dulu." ucap mama Maria.
"Mama..." ucap Devan.
"Benar kak, kalau gk Tasya bisa lama punya adiknya..." ucap Devina.
Devan hanya menggelengkan kepala karena apa yang di ucapkan kedua wanita yang di sayangi Devan emang benar... Tapi atas perbuatannya itu Maya malah jadi takut padanya, jadi ini PR buat Devan agar Maya dapat menerima dirinya dan percaya padanya.
__ADS_1