
Setelah membeli obat di apotik depan gang rumah Nisa segera pulang dirinya masih sangat syok sekali, sekarang Nisa sibuk mneyiapkan skripsinya, Nisa gadis yang pintar dirinya mendapatkan beasiswa, Semenjak meninggal ayahnya Nisa dan ibu nya pindah ke kota J saat dia lulus sekolah SMK.
Nisa emang gadis yang mandiri Nisa anak Yanto dan Rina, saat Nisa lulus sekolah mereka sudah tidak ada kontek lagi pada Devan meski Devan dan Maya mencari dirinya Rina terus menghindar karena tidak ingin lagi membebanin Devan dan Maya... Nisa yang bekerja setiap pulang kuliah untuk membantu ibunya.
"Nis... Kamu sudah makan.?" tanya bu Rani.
"Sudah bu... Ibu istirahat saja..." ucap Nisa.
"Kamu jangna begadang nak." ucap Rani.
"Iya bu..." ucap Nisa.
Sekarang hanya tinggal Nisa, ibu Rani dan nenek Tati, semenjak meninggalnya pak Wandi mereka pindah dan menjual rumah miliknya untuk membeli rumah di kota J serta kebun di kota B.... Rani setiap pagi hanya jual Nasi uduk di depan rumah nya... Lalu siang hanya jualan gado gado... Seperti ini lah kehidupan mereka sekarang.
Eric yang pulang melihat mami nya masih tertidur, Devan mengajaknya bicara di ruang kerja nya itu... Devan duduk berhadapan dengan Eric putranya.
"Kamu lihat diri mu... Seperti orang bodoh." ucap Devan.
__ADS_1
"Kalau kamu mau papi akan mengirimin mu ke kantor cabang yang ada di luar negri setelah kamu lulus." ucap Devan... Eric langsung menatap wajah papi nya tidak ada di pikirannya meninggal kan mami dan papi nya.
"Pi Eric janji akan fokus bekerja dengar apa ucapan papi sama mami." ucap Eric.
"Ini kmu yang bilang bukan Papi... Kamu harus tepati janji kamu." ucap Devan...
Tiba tiba ponselnya berbunyi melihat siapa yang memanggil Devan segera mengangkat panggilan itu, karena Devan sangat menunggu panggilan. dari seorang bernama Yudi yang bekerja dengannya...
"Hallo... Apa kamu sudah dapat kabar.,?" ucap Devan...
"Baiklah, aku akan kesana besok." ucap Devan mengakhirkan panggilan.
"Sudah malam kamu tidur lah." ucap Devan pada Eric putranya itu...
Eric merasa heran pada papi nya yang berubah begitu saja sehabis menerima telepon entah dari siapa paa yang mereka bicarakan sampai membuat papi nya menjadi diam dan tak memarahinya lagi.
"Baiklah pi, selamat malam." ucap Eric...
__ADS_1
"Malam." ucap Devan...
...#####...
Pagi yang begitu ceria Nisa sudah siap pergi ke kampus membawa beberapa bungkus nasi uduk pesanan para temennya... Ya seperti inilah Nisa yang tidak pernah malu pada ke adaan dirinya dari semenjak diri nya duduk di bangku SD kelas 5 Nisa sudah biasa membawa barang dagangan untuk di jual.
"Bu, Nisa berangkat ya... Nenek Nisa pamit ya." ucap Nisa pamit ke pada ke dua wanita yang di sayanginya...
Bagi Nisa hanya mereka yang membuat Nisa semangat melanjutkan hidupnya Nisa pergi dengan sepeda motor meticnya menelusuri ibu kota yang padat itu di jalan Nisa emang sangat sederhana sekali, beberapa pria mendekatinya dia tolak karena Nisa tahu akan keadaanya dia tidak ingin mengecewakan ibu dan neneknya itu..
"Nisa.... " Teriak seorang wanita bernama Ririn.
"Hai... Kamu sudah datang.?" ucap Nisa...
"Iya, kamu bawa pesanan ku tidak.?" ucap Ririn.
"Jelas dong." kata Nisa mengeluarkan sebuah kotak dari kantong plastik yang di bawanya tadi di rumah.
__ADS_1