TerPaksa Menikahi Duda...

TerPaksa Menikahi Duda...
episode delapan puluh sembilan...


__ADS_3

Di sepanjang jalan menuju tempat kerjanya Nisa memikirkan ucapan sang ibu... Dirinya duduk dan termenung memikirkan ucapan ibunya tadi pagi...


"Nisa kenapa kamu.?" Ucap Ririn yang memnag satu pekerjaan sama Nisa.


"Ibu Rin." Ucap Nisa.


"Ibu, kenapa sama ibu.?" Ucap Ririn bingung.


"Ibu menyuruh aku berhenti kerja." Ucap Nisa.


"Loh kok ibu sih bukan suami kamu." Ucap Ririn bingung.


"Iya suami aku kan sudah bilang dia kasih aku Ke bebasan dia tidak mau aku sedih dan tertekan... Ini ibu bilang kalau aku bekerja kapan aku bisa hamil." Ucap Nisa.


"Maksudnya ibu suruh aku fokus sama rumah tangga aku Rin..." Ucap Nisa.


"Ibu sih ada benarnya, buat apa kamu kerja dih suami Kamu juga da kaya tujuh ke turunan hartanya gak akan habis... Tajir melintir gitu suami kamu... Siapa yang tidak kenal Om Devan Hermawan dari seluruh dunia kenal sama om Devan." Ucap Ririn...


"Kamu ni, aku serius jangan becanda." Ucap Nisa pada sahabatnya.


"Aku serius Nis." Ucap Ririn.


"Serius Rin, jangan di lebih lebihin ah kamu ini." ucap Nisa...


"Astaga anak ini kalau di kasih tau ngak percayaan.." Ucap Ririn.

__ADS_1


Nisa hanya memanyunkan bibirnya itu. Dirinya emang tahu kalau keluarga suaminya kaya raya tapi tidak di sangka kekayaan melimoah sampai seluruh dunia tahu bisnis keluarga mereka.


Jam istirahat habis kini mereka sudah harus ngajar lagi hingga akhirnya pukul 14.30 Nisa dam Ririn pulang bersama mereka naik angkat di halte bus Ririn dan Nisa bersama menunggu angkot yang berbeda.


"Hai Nis... Kamu pulang kerumah ibu mu apa suami kamu?" ucap Ririn.


"Kerumah suami ku, sekarang ibu sudah di temanin oleh bi Wilda." Ucap Nisa.


"Syukurlah klo ibu sudah ada yang temenin..." Ucap Ririn.


"Iya aku juga lega, kamu pulang di jemput sama kak Bram apa sendiri?" Ucap Nisa.


"Sendiri... Motor suami ku masuk bengkel jadi dia bawa motor aku deh." Ucap Nisa.


"Suami kamu tu." ucap Ririn.


"Iya bukannya dia lagi meeting." Ucap Nisa.


"Sayang... Mari kita pulang sama sama." Ucap Eric.


"Aku kan sudah bilang jangan di jemput." ucap Nisa.


"Aku tidak jemput hanya kebetulan lewat saja... Bukan begitu Rian.?" Ucap Eric.


"Iya." ucap Rian. ( Lewat apa kita muter jauh sekali.) batin Rian.

__ADS_1


"Rin kamu mau Ikot sekalian.?" Ucap Nisa.


"Tidak Nis kita berlawanan... Rian salam ya buat Jihan." Ucap Ririn.


"Iya nanti saya sampaikan." Ucap Rian.


"Oke.." Ucap Ririn...


Nisa, Rian dan Eric suaminya sudah naik mobil, kini mobil hitam itu melaju melusuri padatnya jalan raya kota... Nisa tidak di antar ke rumah melainkan ke kantor.


"Aku ingin pulang kenapa kamu ajak aku ke kantor kamu.?" ucap Nisa.


"Aku ada kerjaan sebentar nanti kita pulang bersama." Ucap Eric.


"Aku akan berhenti kerja." Ucap Nisa membuat Eric berhenti membuka selembar kertas lalu menatap sang istri dan duduk mendekat istrinya.


"Kamu yakin sayang.?" ucap Eric.


"Iya saya yakin..." Ucap Nisa.


"Bukan paksaan dari aku kan.? bukan karena aku atau ibu kan sayang?" ucap Eric.


"Bukan, karena aku ingin mengurus anak anak mu dengan baik." Ucap Nisa.


"Makasih banyak ya sayang I Love You." Ucap Eric mencium sang istri.

__ADS_1


__ADS_2