
...Happy Reading...
Sudah beberapa hari ini kondisi Aisyah sudah mulai stabil. Di saat Aisyah sakit Devan selalu ada di sampingnya walau ia tidak sadar tapi perhatian kecilnya itu berhasil membuat wanita itu semakin jatuh cinta kepadanya, Devan memberikan sebuah pil vitamin untuk Aisyah dan dengan senang hati Aisyah meminumnya.
Aisyah menatap wajah suaminya lama membuat sang empu mengerutkan dahinya. " Apa?" ucapnya dingin
" Makasih," ucap Aisyah berhasil membuat sang empu mengerutkan dahinya lagi
" Makasih untuk semuanya, selama aku sakit kamu selalu merawat ku. Aku..."
" Jangan berpikir yang tidak-tidak. Kamu tau? Kalau bukan karna bunda saya juga tidak mau ngerawat orang sakit, buang-buang waktu saja!" Celetuk Devan berhasil membuat Aisyah tersentak kaget. Sesaat setelah mengatakan hal itu Devan tersadar, Devan melirik Aisyah yang kini ekspresi wajahnya sudah berubah menjadi muram.
Melihat wajah Aisyah membuat Devan merasa bersalah tapi sekarang egonya lebih besar. Aisyah bangkit dari ranjang dan berjalan ke dalam kamar mandi, setelah kepergian Aisyah Devan memukul kepalanya pelan meratapi kebodohannya.
" Kenapa kamu mengatakan hal itu Devan?" gumamnya merasa bersalah
***
Aisyah membantu Linda di dapur, sejak bangun tidur Aisyah sudah tidak menemukan keberadaan Devan di kamarnya, ntah kemana dia. Aisyah membantu Linda mencuci piring, dari arah samping tiba-tiba Dylon datang dan mendekati Aisyah. Aisyah yang tidak menyukai Dylon mencoba menjauhinya tapi semakin menjauh pria itu semakin liar mendekati Aisyah membuat sang empu merasa risih dan kesal.
" Dylon jaga sikapmu. Sebenarnya apa maumu?" ucap Aisyah kesal.
" Aisyah aku hanya ingin bicara sama kamu. Aku ingin lebih dekat dengan mu, apa aku salah?"
" Dylon apa kamu sadar dengan ucapanmu? Aku sudah bersuami. Aku tidak ingin dekat dengan pria manapun selain suami ku," tandas Aisyah penuh penekanan. Di sisi lain Devan yang mendengar hal itu tersenyum tipis.
" Aisyah apa pikiranmu sekarang? Apa kamu pikir aku ingin merebut mu dari Kak Devan begitu?"
__ADS_1
" Tidak Aisyah, aku memang menyukaimu tapi aku sadar kau istri Kak Devan. Aku tidak bisa memilikimu apa aku juga tidak bisa menjadi temanmu?" lanjut Dylon menatap Aisyah serius
" Aku tidak mudah berteman dengan orang asing. Maaf aku permisi!" Aisyah pergi melewati Dylon, terlihat dengan jelas kedua tangan yang mengepal sempurna dan rahang yang mengeras menahan amarah dan emosi.
Di dalam kamar Aisyah mengatur deru nafasnya, ia benar-benar kesal dengan sikap Dylon yang benar-benar sudah keterlaluan. Ini bukan untuk pertama kalinya Dylon bersikap seperti itu, tapi Aisyah hanya diam saja karna tidak ingin hal itu menjadi sebuah perdebatan dan pertengkaran dua keluarga.
Ceklek....
Pintu kamar terbuka menampilkan sosok pria tampan yang tak lain adalah Devan. Devan masuk ke dalam kamar dan berjalan ke arah nakas untuk menyimpan arlojinya, sejak kejadian kemarin Aisyah dan Devan tidak berbicara sedikitpun. Jujur saja Aisyah merasa kecewa karna apa yang ia pikirkan dan harapkan tidak sesuai kenyataan, pria itu tidak benar-benar tulus merawatnya melainkan karna keterpaksaan.
[Aku harus apa sekarang? Apa aku harus menyerah begitu saja? Tapi janjiku. Aku tidak bisa pergi meninggalkanmu tanpa menepati janjiku, aku mencintaimu tapi rasa sakit ku ini mengalahkan cintaku kepadamu Devan. Aku tidak ingin melihatmu menderita hanya karna pernikahan ini] Gumam Aisyah dalam hati dengan tatapan fokus menatap Devan.
Tiba-tiba suara ketukan pintu berhasil mengalihkan perhatian dua insan itu, Aisyah membukakan pintu dan menampilkan Linda di sana. Linda masuk ke dalam kamar dan mendekati Devan.
" Ada apa Bun? Kenapa wajah bunda terlihat cemas. Bunda nggak papa kan?" Tanya Devan saat melihat wajah Linda yang cemas.
" Tapi dengan kondisi Devan seperti ini apa Devan bisa? Devan tidak yakin tentang hal itu. Bisnis ini harus di atasi oleh orang-orang yang profesional sedangkan Devan? Lihatlah kakiku. Aku hanya bisa mengandalkan tangan dan kursi roda ini untuk berjalan," Lina menunduk mendengar ucapan Devan. Aisyah yang mendengar keluhan Devan mencoba mendekati Devan dan menyemangati nya.
" Mas keyakinan hanya ada di dalam diri kamu. Kamu harus yakin kalau kamu pasti bisa, orang itu ingin kamu yang melakukannya sekalipun mereka tau tentang kondisi kamu sekarang tetapi mereka tetap ingin kamu yang melakukannya, itu berarti mereka mempercayakan kamu,"
" Percayalah kamu pasti bisa melakukan ini. Setidaknya mencoba lah baru menyerah," lanjut Aisyah berhasil membuat Devan terdiam. Melihat wajah dan keyakinan Aisyah lagi dan lagi Devan merasa mendapat semangat untuk bangkit, Devan mengiyakan keinginan Linda dan mau kembali ke kantor untuk membantu Farhan.
Keesokan harinya Devan kembali ke Perusahaan Douse. Semua orang menyambut kedatangan Devan dengan meriah dan antusias, Devan sedikit tersentuh karna sudah beberapa tahun ia tidak pernah lagi menginjakkan kakinya ke dalam kantor setelah kecelakaan itu terjadi.
Terlihat salah-satu karyawan wanita sedang berjalan kearah Devan dengan sebuah buket bunga besar di tangannya. Wanita cantik itu memberikan buket bunga itu kepada Devan, dengan senang hati Devan menerima bunga itu. Farhan, Devan dan Andreas pergi ke sebuah ruangan besar yang tak lain adalah ruangan Farhan. Disisi lain Dylon sedikit terkejut saat melihat kedatangan Devan di kantor, Dylon memang sudah lama bekerja di Perusahaan Douse sejak Devan keluar dari perusahaan karna kecelakaan.
Dylon menguping pembicaraan mereka dari luar ruangan. Sedangkan Farhan dan Devan sedang menikmati makanan dan minuman kecil di sana, Dylon tidak bisa mendengar ucapan dari dalam karna ruangan itu kedap suara. Andreas yang melihat bayangan seseorang dari balik pintu langsung keluar sontak hal itu membuat Dylon terkejut.
__ADS_1
" Kau...! Apa kau bisa berhenti mengangetkan saya huh?"
" Ada keperluan apa bapak disini? Tuan Devan dan pak Farhan saat ini sedang tidak bisa di ganggu. Dan setau saya kantor bapak bukan di lantai sini," Ucap Andreas membuat Dylon diam membeku bingung harus menjawab apa.
Dylon pergi meninggalkan ruangan itu, sebenarnya ia masih penasaran tapi ia benar-benar muak melihat Andreas disana.
***
" Makasih Devan karna kamu mereka masih mau melanjutkan kerja sama ini. Papah benar-benar nggak tau lagi harus ngapain kalau nggak ada kamu," Tutur Farhan sembari memegang pundak Devan
" Papah tidak perlu berterima kasih ke Devan. Devan seneng kalau Devan bisa membantu papah," ucap Devan
" Oh Iyah bagaimana hubungan kamu dengan Aisyah? Papah sudah tau apa yang terjadi di dalam kamar kalian," Devan sedikit tersentak mendengar ucapan Farhan saat mengenai kamarnya.
" Devan papah tau ini berat bagimu dan juga Aisyah. Tapi, kamu tidak perlu melakukan hal itu, Aisyah dia wanita cantik dan menantu yang baik. Kenapa kamu tidak mencoba membuka pikiran dan hati kamu untuk Aisyah?"
" Jika saja ibumu yang melihat apa yang terjadi di dalam kamar. Mungkin ibumu akan menangis,"
Devan menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. " Kenapa papah tiba-tiba membicarakan tentang hal itu? Devan melakukan itu karna Devan menghargai Aisyah. Kita menikah karna terpaksa, Devan yakin kalau di dalam hati Aisyah dia juga tidak mau tidur satu ranjang dengan Devan."
Farhan membuang nafas berat. " Devan kamu salah. Aisyah bukan wanita seperti itu, dia menghargai dan menghormati kamu sebagai suaminya. Kalian memang menikah karna terpaksa tapi Aisyah dia tidak melakukan hal ini seakan-akan karna terpaksa. Dia tulus melakukan ini Devan, dengan seiringnya waktu paaph yakin kamu akan sadar dan menyesal karna sudah melakukan ini."
Devan terdiam mendengar ucapan Farhan. Apa yang diucapkan nya itu memang benar, tapi Devan benar-benar tidak ingin menjerat wanita itu kedalam hidupnya. Devan ingin melepaskan wanita itu agar Aisyah bisa mendapatkan pria yang lebih baik dan sempurna darinya.
...**Lanjut?...
Jangan Lupa Untuk Tinggalkan Jejak Kalian disini**!!!
__ADS_1