
...Happy Reading...
Setelah perjalanan cukup jauh Aisyah, Devan dan Diana sampai di bandara. Andreas yang mengetahui kepulangan tuannya langsung bergegas menancapkan gasnya kebandara.
Andreas membantu membawakan koper dan barang milik Devan dan juga Aisyah. " Aisyah sekarang mamah dan papah di Singapura, itu berarti aku akan tinggal di rumah sendiri. Apa kamu tidak berniat pulang?" tanya Diana yang berhasil membuat Aisyah dan yang lainnya sedikit terkejut.
" Apa aku tidak salah dengar? Kenapa sikapmu dan ibumu berubah drastis. Bukannya kamu tidak mau sudi tinggal dengan ku? Lalu kenapa sekarang kamu mengatakan seakan kamu memintaku pulang," ucap Aisyah sedikit meremehkan
[ Sialan kamu Aisyah, jika bukan karna permintaan ibu. Aku juga nggak mau memohon seperti ini] batin Diana kesal
" Aisyah aku sudah minta maaf apa kamu masih belum memafkan ku?"
" Diana sudah cukup kamu membuat istri saya terluka. Saya tidak akan membiarkan kamu menyakitinya lagi dan sebaiknya kamu pulang, karna sampai kapanpun saya tidak akan mengizinkan Aisyah balik ke rumah itu," Tandas Devan dan bergegas pergi bersama Aisyah.
Diana yang mendapat tolakan itu merasa kesal, kedua tangannya sudah mengepal sempurna. " Awas saja kamu Aisyah, aku benar-benar akan merebut semua yang seharusnya milikku."
~Kediaman Kenzo
Linda dan Nabila membuat surprise penyambutan menantu kesayangannya. Aisyah yang mendapat sambutan itu merasa terharu dan beruntung karna mendapat ibu mertua dan adik ipar yang sangat menyayangi nya.
" Selamat datang kembali ke rumah keluarga Kenzo sayang. Kami sangat merindukan mu," ucap Linda mencium kedua pipi Aisyah
" Yeay akhirnya Aisyah pulang juga," teriak Nabila kegirangan sampai lupa kalau ia menyebut kaka iparnya dengan namanya bukan dengan kata kak, hal itu mendapat tatapan tajam dari Linda dan juga Devan.
" Heheh maksud nya kak Aisyah," cicit Nabila sembari mengaruk kepalanya tak gatal.
Bukan hanya keluarga besar saja yang bahagia melainkan semua pembantu dan juga supir/satpam juga ikut senang karna menantu keluarga Kenzo kembali ke rumah itu. Dapat kita lihat Aisyah keluar itu sangat menyayangi Aisyah seperti keluarga mereka sendiri.
" Kalian pasti lelah, sebaiknya kalian istirahat setelah itu turun untuk makan," ujar Linda yang di angguki oleh dua insan itu.
Aisyah dan Devan pergi ke dalam kamar, namun saat masuk mereka terkejut saat melihat dekorasi kamar yang begitu indah dan romantis, banyak bunga mawar merah dan juga lilin-lilin yang tertata rapih di sana. Devan yang melihat itu tersenyum kecil karna ia tau kalau yang melakukan ini pasti ibunya dan juga adik resenya, namun kali ini Nabila benar-benar membuat Devan bangga karna tanpa ia minta Nabila sudah melakukan apa yang ingin ia lakukan.
" Ini sangat indah apa mereka yang melakukan semua ini?" gumam Aisyah yang masih tak percaya
" Sepertinya karna di keluarga ini siapa lagi yang bersikeras menginginkan seorang cucu," sahut Devan yang mendapat tatapan intens dari sang empu.
" Apa cucu?"
" Iya cucu.... Tunggu jangan bilang kamu tidak mau memberikan papah dan bunda cucu, apalagi Nabila keponakan?"
" B_bukannya gitu, aku cuman belum siap..." cicit Aisyah.
__ADS_1
Devan yang melihat itu sedikit tertawa dan meraih bahu Aisyah. " Sayang aku nggak maksa kamu untuk melakukan nya sekarang, kapan pun kamu siap aku juga siap." ucap Devan menatap mata drak itu lekat
" Yasudah sekarang kamu mandi setelah itu baru aku," titah Devan
" Aku masih harus merapihkan pakaian kamu duluan saja,"
" Baiklah kalau gitu," Devan bergegas pergi ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya.
Beberapa menit kemudian Devan keluar kamar mandi dengan balutan handuk di pinggangnya dan hal itu membuat bagian dada Devan telanj*ng. Aisyah yang baru melihat itu sontak terkejut dan menutupi wajahnya menggunakan tangan.
" Hey kenapa kamu berteriak?"
" Pakai baju kamu,"
" Memangnya kenapa? Nanti juga kamu akan melihatnya," goda Devan
" Mas cepat pakai baju," titah Aisyah dengan tatapan nya masih melihat ke arah lain. Devan yang melihat Aisyah seperti itu membuat ide jahil terlintas di pikiran nya, Devan melangkah mendekati Aisyah dan memeluknya sontak hal itu membuat Aisyah memberontak.
" Apa yang kamu lakukan?"
" Jangan bilang kamu baru melihatnya, " goda Devan menjadi-jadi membuat wajah itu memerah sempurna.
" A_aku memang belum pernah melihatnya. Lalu kenapa?"
" Nggak aku harus mandi, lepas mas!"
" No! Aku ingin kamu memanggilku sayang setelah itu aku akan melepaskanmu,"
" Apa? Jangan aneh-aneh deh,"
" Astaga sayang dalam sebuah hubungan itu pasti ada panggilan istimewa. Massa kamu mau terus panggil aku mas sih,"
" Tapi dulu kamu tidak pernah menolaknya saat aku panggil kamu mas,"
" Itu dulu sayang. Kamu mau mandi kan? Yaudah cepat bilang," titahnya geram dengan Aisyah yang sulit menyebutkan kata Sayang. Namun, siapa yang peduli akan perasa Aisyah saat ini, ketika ia di paksa menyebut nama panggilan manis itu kepada sang suami yang sebelumnya ia belum pernah memanggil Devan dengan sebutan sayang.
" Hey..."
" Iya yaudah bentar," Aisyah menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya pelan. " S_sayang lepasin tangan kamu. "
Aisyah mengigit bibir bawahnya saat meratapi kekonyolan nya itu sedangkan Devan hanya nengerutkan dahi seakan ada yang aneh dengan ucapan Aisyah.
__ADS_1
" Sayang yang ikhlas dong,"
" Ini udah ikhlas malah,"
" Yaudah ulang," Aisyah membuang nafas berat. " Sayang lepas yah aku mau mandi, badan aku sekarang udah lengket. Kamu nggak mau kan punya istri bau keringat seperti ini?" ucap Aisyah dengan senyuman terikhlasnya. Devan yang melihat itu tersenyum puas dan melepaskan pelukannya.
Aisyah berlari ke kamar mandi karna sudah tidak tahan berlama-lama di luar sana.
****
Sudah 1 jam lamanya Aisyah belum keluar juga dari kamar mandi dan hal itu membuat Devan khawatir. Bahkan ia tidak mendengar suara percikan air di dalam sana.
" Sayang kamu nggak papa kan di dalam?" Teriak Devan di luar sana
" I_iya aku nggak papa kok," sahut Aisyah dari dalam
" Yasudah keluar, mau sampai kapan kamu di dalam? Nanti kamu sakit,"
" Bunda juga suruh kita ke bawah untuk makan malam," lanjutnya
" Iya kamu duluan saja ke bawah nanti setelah selesai aku langsung ke bawah,"
" Apa kamu yakin tidak butuh bantuan?"
" I_iya, "
Aisyah yang mendengar langkah kaki Devan keluar sudah merasa lega karna sejujurnya Aisyah lupa membawa handuk dan juga pakaian ganti membuatnya terpaksa menunggu Devan untuk keluar agar saat ia keluar ke ruangan ganti Devan tidak melihatnya. Semua tampak aman Aisyah sudah mulai melangkahkan kakinya keluar, Aisyah bergegas memakai handuk kecil untuk menutupi tubuhnya namun saat hendak melangkah ke ruang ganti tiba-tiba pintu itu terbuka sontak hal itu membuat Aisyah berlari tapi sialnya lantai sedikit licin membuat tubuhnya tidak seimbang dan....
Bugh!
Aisyah mengerjap-ngerjapkan matanya saat tidak merasakan sakit di tubuhnya. Kedua matanya membola sempurna saat kala melihat wajah Devan di atasnya, cepat-cepat Aisyah bangkit dan pergi namun langkahnya terhenti saat kala tangannya di tarik Devan.
Aisyah terduduk di paha Devan dengan tatapan mereka saling bertemu. Aisyah yang sadar dengan keadaan tubuhnya langsung menyilangkan tangannya di depan dadanya. " Tutup mata kamu." titah Aisyah pada Devan
Namun mata sang empu sangat nakal ia enggan menutup mata walau sang empu memintanya. " Sayang aku bilang tutup mata."
Sepertinya aisyah udah mulai terbiasa bilang sayang yah xixi..
" Kalau aku tutup mata aku tidak bisa melihatmu," ucapnya dengan tatapan yang tidak bisa Aisyah mengerti.
Perlahan wajah Devan mendekat, benda kenyal itu mendarat tepat di bibir Aisyah. Aisyah membelalakan matanya terkejut dengan aksi Devan yang tiba-tiba, namun ia juga tidak bisa membohongi dirinya sendiri kalau Aisyah menikmatinya. Perlahan kedua tangan Aisyah melingkar dengan sempurna di leher itu dengan pangutan mereka yang semakin panas. Tangan Devan tidak tinggal diam, tangan itu yang awalnya berada di tengkuk leher Aisyah kini beralih ke punggung mulus Aisyah yang tanpa Aisyah sadari handuk yang ia kenakan sudahmelorot hal itu membuat tangan Devan liar meraba punggung mulus Aisyah tanpa jeda. Aisyah yang tersadar langsung membuka matanya dan bangkit berlari ke ruang ganti.
__ADS_1
Sedangkan Devan hanya tersenyum penuh kemenangan, tangannya tak henti-henti memegang bibinya sendiri mengingat ciuman panas mereka beberapa detik yang lalu.
...Lanjut kah? ...