
Di sebuah Ruangan terlihat Devan yang sedang sibuk dengan berkas di depannya. Tak lama Andreas datang dan memberikan sebuah berkas untuk Devan tanda tangani.
" Tuan setelah ini tidak ada lagi yang harus tuan kerjakan. Apa saya boleh keluar sebentar?" ucap Andreas meminta izin pada bosnya.
Devan yang terlihat fokus ke berkas di tangannya kini teralihkan dan beralih menatap pria di depannya. " Mau kemana kamu?" tanya Devan dingin.
" Ada hal yang harus saya kerjakan. Jadi apa boleh?" tanya Andreas semakin geram dengan sikap bosnya yang sangat kepo.
" Hm ingat Andreas setelah sekarang kalian berpacaran bukan berarti tugas kamu di kantor menjadi nomor dua. Tugas kantor harus di nomor satukan ingat itu!" tandas Devan penuh penekanan membuat sang empu membuang nafas jenggah.
" Hey Devan saya pergi baru kali ini dan saya pergi setelah pekerjaan kantor selesai. Dan yak! Kenapa kamu bersikap seakan kamu tidak pernah berpacaran?" tangkis Andreas tidak mau kalah.
" Berani sekali kamu berbicara seperti itu pada saya? Ingat Andreas kau hanya seorang Bodyguard! Dan tugasmu mensegani saya. Jadi jangan membantah ucapan saya mengerti?!"
Sorot mata elang itu tajam mengarah pada Devan. Tak lama pintu terbuka menampilkan Aisyah yang baru datang dengan membawa kotak makanan di tangannya.
Keempat pasang mata itu sontak beralih pada Aisyah. Aisyah menyimpan makanan itu di atas meja dengan Devan yang langsung membantunya.
" Aisyah kamu sendirian?" tanya Andreas saat tidak menemukan siapapun selain Aisyah.
" Iya, kenapa memangnya?" tanya balik Aisyah
" Engga saya hanya..."
" Dia sedang merindukan Jeslyn," seloroh Devan berhasil membuat dua insan itu menatapnya terkejut.
" Apa kaka merindukan Jeslyn?"
" Wah itu bagus dong, Jeslyn kalau tau dia pasti seneng. Secarakan dia sangat menyukai kaka," seru Aisyah antusias
" Sayang kamu belum tau?" tanya Devan menatap manik mata itu serius. " Tau apa?" tanya balik Aisyah.
" Astaga jadi kamu benar-benar tidak tau? Aku kira dia sudah memberitahu mu kalau sekarang mereka sudah berpacaran,"
" Apa P_pacaran?" Aisyah benar-benar terkejut saat mendengar ucapan Devan. Bukan karna tidak senang hanya saja kenapa Jeslyn tidak mengatakan apapun padanya? Kenapa dia menyembunyikan hal itu darinya?
" Aisyah kami memang belum lama meresmikan hubungan kami. Saya harap kamu tidak marah pada Jeslyn," ucap Andreas sedikit lirih
" N_nggak kok aku bahagia melihat kalian akhirnya bersama. Hanya saja aku merasa sedikit cemas,"
" Cemas karna apa?"
" Kak Andreas bukannya kamu mentah-mentah menolak Jeslyn? Lalu sekarang kalian sudah berpacaran? Maksudku apa kamu yakin dengan keputusan mu? aku tidak tega melihat Jeslyn terluka karna pria untuk kedua kalinya," tutur Aisyah merasa sedikit cemas. Andreas membuang nafas berat ia tau kalau wanita di hadapannya pasti meragukannya, tapi bagaimana pun itu bukan kesalahannya. Aisyah pantas meragukannya karna sikap nya dulu yang memperlakukan Jeslyn acuh tak acuh.
" Aisyah saya memang belum sepenuhnya mencintai Jeslyn, tapi setelah apa yang terjadi kini saya sadar kalau saya benar-benar tidak bisa berhenti memikirkan nya. Dia selalu muncul dalam pikiran saya dan saya yakin saya bisa mencintai nya seperti dia mencintai saya," ungkap Andreas mantap membuat sudut bibir itu terangkat sedikit.
" Baguslah kalau gitu aku jadi lebih tenang. Aku hanya berharap kamu bisa menjaga Jeslyn dengan baik dan jangan pernah menyakitinya,"
" Dan ya! Jeslyn sekarang ada di Resto," lanjutnya. Andreas kini beralih menatap bosnya sedangkan yang di tatap enggan membalas tatapan itu.
" Tuan..."
" Pergilah lagi pula sekarang saya tidak akan kesepian," Ucap Devan dengan senyuman manis di bibirnya. Andreas yang melihat tatapan Devan yang tertuju pada Aisyah sekilas memutar bola matanya malas dan segera pergi meninggalkan perusahaan itu.
Setelah kepergian Andreas, Aisyah langsung menghidangkan semua makanan di atas meja. Devan membereskan semua berkas kantornya dan bergegas mendekati Aisyah.
" Hm dari aromanya sepertinya enak," gumam Devan tak sabar ingin menyantap makanan di depannya
" Sayang kali ini kamu harus benar-benar jujur yah karna hari ini Resto Aislyn sedang membuat resep baru. Dan aku ingin kamu yang pertama kali mencicipinya,"
__ADS_1
" Oh benarkah? Hm baiklah aku akan mencicipi resep baru kamu," Aisyah menghidangkan makanan itu ke piring Devan dengan senang hati Devan menyantap makanan itu.
" Eumm," (reaksi Devan saat setelah memakan makanan itu)
" Gimana?" tanya Aisyah penasaran
" Enak banget sayang sumpah nggak bohong," tuturnya dan kembali melanjutkan suapannya.
" Alhamdulillah syukur deh kalau kamu suka,"
" Sayang aku memiliki rekan bisnis dalam kuliner makanan. Siapa tau setelah aku mempromosikan makanan kamu ini mereka menyukainya," ucap Devan di sela-sela suapan.
" Kamu serius?"
" Iya sayang nanti setelah pulang kantor aku langsung hubungi dia. Aku yakin dia pasti menyukainya secarakan masakan kamu paling enak," puji Devan berhasil membuat Aisyah tersanjung.
" Kalau suka habiskan setelah selesai aku izin pergi ke tempat perbelanjaan. Aku ingin beli keperluan Resto, "
" Yaudah aku antar, lagi pula pekerjaan hari ini tidak terlalu banyak. Aku antar kamu belanja setelah itu kita ke Resto ok?" Aisyah tidak bisa menolak tawaran sang suami.
Bagaimana pun ia tidak bisa berbohong kalau ia juga ingin pergi bersama suaminya. Sesampainya di tempat pembelanjaan Aisyah dan Devan bergegas membeli keperluan Resto dan rumah, saat sedang memilih belanjaan banyak pasang mata yang mengarah pada mereka mungkin dalam pikiran mereka kedua pasangan itu sangat serasi karna yang satu cantik dan yang satu tampan. Sungguh sangat beruntungnya pasangan muda itu.
Tak butuh waktu lama Devan dan Aisyah selesai dengan belanjaannya. Mereka langsung menancapkan gas ke Resto, namun saat di perjalanan tiba-tiba jalan yang tidak pernah macet itu kini macet dan banyak orang dan kendaraan yang tidak beraturan berhenti di tengah jalan.
Aisyah dan Devan yang penasaran langsung turun dari mobil.
" Maaf Pak ada apa yah?" tanya Devan pada salah-satu pengemudi di sana.
" Itu pak ada kecelakaan di depan sana," Jawab pria paruh baya itu dengan wajahnya yang serius.
Aisyah yang mendengar hal itu refleks menoleh ke arah depan sana. Dapat ia lihat banyak sekali orang-orang berkerumunan di depan mobil kecelakaan itu, namun tiba-tiba deru nafasnya berdrak sangat cepat saat sekilas melihat wajah pria di depan sana.
Devan yang mendengar lirihan Aisyah sontak menoleh pada sang empu. " Ada apa Aisyah?"
Tanpa menjawab pertanyaan Devan, Aisyah bergegas pergi menghampiri kerumunan itu. Aisyah menerobos kerumunan itu dan terkejut saat melihat Dafri yang ada di dalam kecelakaan itu dengan kepalanya yang sudah kehilangan banyak darah.
" Dafri..?"
Aisyah mendekati Dafri dengan wajahnya yang penuh kekhawatiran. Begitu juga dengan Devan tanpa pikir panjang ia langsung membantu orang-orang itu mengangkat tubuh Dafri namun langkahnya terhenti saat kala tangan Dafri memegang erat tangan Aisyah.
" Dafri bertahanlah kami akan membawamu kerumah sakit," ucap Aisyah menyemangati Dafri. Devan dan orang-orang di sana mengangkat tubuh Dafri ke dalam ambulans namun dapat Devan lihat tangan kekar itu enggan melepas tangan Aisyah.
Devan yang merasa terusik langsung melepas pegangan itu sontak hal itu membuat Aisyah sedikit tersentak dan menatap mata drak itu. Pegangan tangan itu kini berubah menjadi sebuah genggaman. " Kita ikuti mereka dari belakang!" ucap Devan dan menarik Aisyah menuju mobilnya.
Sesampainya di rumah sakit kondisi Dafri masih dalam keadaan kritis karna kehilangan banyak darah akibat kecelakaan itu. Aisyah tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan Dafri namun kekhawatiran Aisyah itu terlihat sangat berlebihan bagi Devan.
" Sayang tenanglah semua akan baik-baik saja. Sahabat mu Dafri dia akan baik-baik saja, " ucap Devan menenangkan kekhawatiran istrinya.
Tak lama dari arah kejauhan seseorang datang, Fellysha dan bodyguard nya berjalan setengah berlari menuju pintu ICU dengan wajahnya yang cemas karna khawatir. Netranya kini tertuju pada Aisyah, tiba-tiba saja rasa marah itu kembali muncul.
" Apa yang sudah kamu lakukan padanya hah?" dapat ia dengar suara berat itu menandakan kalau saat ini Fellysha sedang dalam keadaan marah.
" Aku tidak tau apa yang terjadi pada Dafri,"
" Bohong!" Bentak Fellysha berhasil membuat semua orang terkejut
" Aku tau ini karna ulahmu kan? Karna kamu tidak mau pernikahan ini terjadi kamu melakukan berbagai cara agar kami tidak menikah dan kamu bisa kembali bersamanya begitu?"
" Fellysha Cukup!" Bentak Devan berhasil membuat Fellysha diam.
__ADS_1
" Apa kau tidak tau malu berteriak seperti itu di rumah sakit? Seharusnya kau berterimakasih pada istri saya karna istri saya mau menolong kekasihmu itu,"
" Maaf Pak Devan kamu tidak tau apapun tentang aku dan istrimu. Jadi diamlah!" Aisyah dan Devan sedikit tersentak mendengar ucapan Fellysha.
" Fellysha kenapa sedikit pun kamu tidak pernah mau percaya sama aku? aku tidak pernah berniat mencelakai Dafri sedikitpun. Kalian adalah sahabat ku, aku tidak mungkin menyakiti kalian,"
" Cih! Omong kosong. Sampai kapanpun aku tidak aka pernah terpengaruh dengan omong kosong sialan mju itu Aisyah, semua yang kamu katakan semuanya adalah tipu muslihat. Dan adanya Dafri di sini itu karna ulahmu,"
" Terserah apa yang ada di pikiran mu Felly. aku pikir kamu akan berubah tapi aku salah, semakin hari kamu semakin menunjukkan sifat burukmu," Decis Aisyah dan bergegas pergi menarik Devan dari sana. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti saat kala sebuah suara menghentikan nya.
" Sifat burukku tergantung pada siapa ia memperlihatkan nya. Kau yang sudah membuatku seperti ini, jika saja kamu tidak pernah hadir dan berhubungan dengan Dafri mungkin aku tidak akan sebenci ini,"
Degh
Devan tersentak kaget mendengar ucapan Fellysha. Hubungan? Hubungan apa yang di maksud nya? Itulah yang saat ini ada di dalam pikiran Devan.
Aisyah yang sudah tidak tahan lagu langsung menarik Devan pergi menjauh dari Fellysha. Sesampainya di parkiran Aisyah bergegas pergi membuka pintu namun ia memicingkan matanya saat melihat Devan yang masih diam di tempat.
" Sayang ada apa? Kamu tidak mau masuk?" tanya Aisyah menatap wajah tampan itu
" Kamu masih tidak mau menjelaskan apa maksud ucapannya tadi Aisyah?" tanya Devan membuat sang empu diam.
"U_ucapan apa sayang? Tidak ada yang harus aku jelaskan. Sekarang Jeslyn pasti sudah menunggu ayok kita pulang,"
" Apa kalian pernah ada hubungan?" pertanyaan Devan berhasil membuat sang empu diam.
" Kenapa kamu diam Aisyah? Jawab aku apa kalian punya hubungan selain dari sahabat?"
tanyanya lagi namun kali ini berbeda, nada itu sedikit tinggi membuat siapapun yang mendengarnya merinding.
" Aku bisa jelasin nanti di rumah,"
" Aku tidak suka menunggu. Jadi sekarang jelaskan!"
" Tapi sayang disini parkiran aku mana mung..."
" SeKaRang!" Seloroh Devan penuh penekanan. Aisyah membuang nafas panjang rasanya sangat berat dan sesak saat menjelaskan nya apalagi dalam kondisi dan keadaan yang tidak mendukung. Devan yang tidak mendapat penjelasan apapun dari sang empu langsung menaiki mobil yang di susul Aisyah.
Di sepanjang perjalanan Devan tidak membuka bicara bahkan menatap Aisyah pun tidak hal itu berhasil membuat sang empu sedikit kecewa dan sedih. Bahkan sesampainya di apartemen pun Devan tidak ada niatan untuk membuka bicara bahkan selalu menghiraukan Aisyah yang berbicara padanya.
" Aisyah kemana saja kamu? Mana barang yang aku minta tadi?" ucap Jeslyn di sebrang sana.
" Maaf Jeslyn aku sudah beli barang yang kau inginkan tapi sekarang aku tidak bisa ke Resto,"
" Loh kenapa? Apa ada masalah?"
" Hm aku harus menjelaskan tentang hubungan ku dengan Dafri pada Devan. Sepertinya dia marah karna aku tidak menjelaskan apapun tentang hubungan kami,"
" Astaga kenapa bisa seperti itu? Yasudah nggak papa. Kamu selesain masalah kamu sendiri dulu setelah itu baru pesanan ku, "
" Makasih ya Jes,"
" Iya sama-sama. Yaudah udah dulu aku banyak kerjaan,"
" Iya,"
Tut_tut_tut
Sambungan telpon berakhir. Aisyah membuang nafas panjang dan pergi menyusul Devan ke dalam kamar.
__ADS_1