Terpaksa Menikahi Pria Lumpuh

Terpaksa Menikahi Pria Lumpuh
Chapter 61 Di tinggal bertugas


__ADS_3

Di Perusahaan Leover Liver Leave tepatnya di sebuah ruangan besar terdapat beberapa orang penting di dalam pertemuan itu. Devan dan Andreas menemui kliennya dari Jepang, tak sangka klien Jepang itu jauh-jauh datang ke Jakarta hanya untuk bertemu dengannya. Jelas saja hal itu sedikit menganggu pikiran Devan karna ia takut pekerjaan nya tidak memuaskan mereka.


" Pak Devan bagaimana kabarmu?" tanya orang Jepang itu dalam bahasa Jepang.


" Saya baik," jawab Devan dalam bahasa Jepang.


" Anda pasti bingung kenapa saya datang kesini bukan? Hahah bahkan orang yang di sana juga terheran-heran kenapa saya datang jauh-jauh kesini untuk menemui anda," ucap pria Jepang itu dengan tawa renyahnya namun Devan hanya menangapinya dengan senyuman tipisnya.


" Maaf lalu ada apa anda datang kesini? Apa karyawan saya melakukan kesalahan disana?" tanya Devan penasaran


" Oh tidak pak Devan, kerja mereka sangat bagus dan kompenten. Kami sangat senang bisa bekerja sama dengan anda,"


" Saya kira kami mengecewakan anda,"


" Tidak pak Devan. Justru kedatangan saya kesini saya ingin anda ikut bersama kami ke Jepang untuk ikut secara langsung proses kerja mereka, kami sangat berharap anda bisa ikut bersama kami karna kami di sana sangat membutuhkan ide bapak," ucap pria itu berharap Devan mau ikut dengannya.


Devan berpikir keras mana mungkin ia meninggalkan istrinya setelah ia kembali bersama. Tapi, di sisi lain Devan tidak mungkin menolak ajakan kliennya apalagi klien itu adalah pembisnis terkenal di negara Jepang.


" Bagaimana pak Devan? Saya sangat berharap anda bisa ikut bersama kami. Jam 1 siang kami akan kembali ke Jepang dan saya harap anda bisa bergabung bersama kami,"


Devan kembali berpikir untuk sesaat, Andreas yang mengerti dengan apa yang di pikirkan Devan mencoba mengajak Devan untuk berbicara. Dua pria itu pergi keluar untuk berbicara meninggalkan Klien Jepang itu dengan beberapa orang disana.


" Andreas saya tidak tau apa saya harus pergi atau tidak. Saya tidak mungkin meninggalkan Aisyah sendirian, apalagi saya tidak tau sampai kapan saya akan berada di sana,"


" Tuan jangan khawatir selama saya ada disini saya akan menjaga Aisyah. Tuan pergilah saya yakin tuan tidak akan lama disana,"


" Huft! Baiklah saya akan menelpon istri saya dulu. Kamu masuk saja dulu temani mereka," titah Devan yang di angguki Andreas.


Andreas masuk ke dalam ruangan, sedangkan Devan merogoh ponselnya untuk menghubungi Aisyah. Tak lama panggilan tersambung.


//Ya mas ada apa?📲


//Sayang kamu sedang apa? 📲


//Aku baru aja beres mandi. Ada apa? 📲


// Sayang kamu ingat kan klien Jepang yang ingin bertemu aku?


//Iya aku ingat.


//Mereka ingin aku ikut bersama mereka ke Jepang. Aku tidak akan lama kok, setelah pekerjaan aku selesai aku langsung pulang.


//Sayang kok diem? Kalau kamu nggak izinin nggak papa kok. Nanti aku bilang sama mereka kalau aku nggak bisa ikut.


//Eh jangan! Nggak papa kok. Kamu pergi aja lagian itu pekerjaan kamu aku nggak berhak melarang kamu, aku hanya sedih aja karna pasti aku akan merindukan mu.


//Hm belum aja pergi kamu udah galauin mas aja. 📲


//Hehe nggak papa dong kan sama suami sendiri


//Iya sayang boleh. Jadi gimana di izinin nih? yakin nggak akan nyesel?


//Iya mas nggak papa. Asal kamu selalu ingat aku dan jaga kesehatan aja


//Iya itu pasti yang.

__ADS_1


//Oh iya kamu berangkat jam berapa? aku siapin pakaian kamu.


//Jam 1 yang. Nanti setelah pertemuan aku langsung pulang buat ambil barang sama sekali ngabisin waktu sama kamu.


//Eum Yaudah aku siapin dulu semua barang kamu.


//Iya makasih yang.


Panggilan berakhir. Devan membuang nafas berat dan pergi ke dalam ruangan.


***


Di Apartemen Devan bergegas pergi ke kamar untuk mencari istrinya. Terlihat Aisyah yang sedang memasukan semua pakaiannya ke dalam koper, Devan melangkah pelan mendekati sang istri dan memeluknya dari belakang.


Sedangkan yang di peluk tersentak karna tiba-tiba Devan memeluknya. " Mas kamu udah pulang?"


" Aku pasti kangen sama kamu," desus Devan tepat di telinga Aisyah.


" Memangnya berapa lama kamu tinggal disana? Nggak sampe 1 tahun kan?"


" Iya tapi kan aku pasti kangen yang. Kemarin juga baru 1 hari aja aku udah kangen berat apalagi ini Berbulan-bulan," dengernya mengerucutkan bibir


Aisyah terkekeh dan berbalik menatap wajah suaminya. " Aku juga pasti kangen sama kamu mas. Tapi mau gimana lagi itu sudah resiko kamu jadi seorang bos perusahaan."


" Hm kamu benar,"


" Oh iya aku udah siapin semua barang kamu ke dalam koper. Mau berangkat sekarang?" tanya Aisyah


" Bentar lagi aku pengen sama kamu sebentar," ucap Devan memeluk Aisyah erat.


" Sayang ingat jangan kemana-mana tanpa seizin aku atau Andreas. Kemanapun kamu pergi kamu harus di awasi oleh Andreas dan satu hal lagi aku sudah bilang sama bunda dan papah, selama aku pergi kamu akan tinggal bersama mereka," tutur Devan jelas. Ini bukan untuk satu kalinya Devan mengatakan hal itu tapi berulang-ulang kali membuat Aisyah terkekeh akan sikapnya.


Aisyah meraih tangan Devan dan menciumnya. Begitupun Devan ia mencium kening Aisyah lama dan kini beralih mencium bibir Aisyah, Andreas yang melihat itu memilih masuk ke dalam mobil membiarkan dua insan itu saling melepaskan satu sama lain.


Ciuman itu perlahan menjadi sebuah *******. Devan melepas pangutan itu dan bergegas masuk ke dalam mobil karna waktu sudah menunjukkan jam 1 kurang.


**


Setelah kepergian Devan rasanya rumah sebesar itu menjadi sepi. Belum satu hari di tingga sang suami Aisyah sudah di buat galau karna merindukan suaminya, tak lama Andreas datang dan membawa semua barang milik Aisyah ke dalam mobil. Karna hari ini Aisyah akan kembali ke kediaman Kenzo karna permintaan sang suami.


Sesampainya di kediaman Kenzo seperti biasa Aisyah di sambut hangat oleh keluarga apalagi Nabila yang akan mendapat teman mengobrol lagi.


" Kaka sekarang kan kak Devan nggak ada. Gimana kalau kaka temenin aku tidur? Kak Aisyah tidur di kamar Nabila aja," usul Nabila antusias


" Sayang kamu kan udah besar, lagian Aisyah juga punya kamar sendiri. Kamu tidur aja sendiri," sahut Farhan yang asik mengelilingi


" Yah papah Nabila kan juga pengen ngerasain tidur bareng sama kak Aisyah," rengek Nabila dengan mengerucutkan bibir. Semua orang yang melihat itu hanya tertawa gemas dengan keimutan Nabila.


PoV Aisyah


Melihat tingkah Nabila benar-benar terlihat imut seperti anak kecil. Namun, umurnya sudah dewasa tapi itu bukan berarti Nabila akan selalu anak kecil bukan? Tiba-tiba Nabila mendekati ku dan duduk di sampingku aku yang bingung hanya menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.


" Apa?"


" Kak aku punya satu cerita yang belum aku cerita in sama siapapun,"

__ADS_1


" Cerita apa?" tanyaku penasaran.


" Kemarin sebenarnya saat aku pulang dari kampus aku di hadang oleh beberapa pria mabuk di jalan. Tapi kaka tenang aja aku nggak papa kok, untung saja ada seseorang yang menolong ku,"


" Astaga Bila kenapa kamu nggak bilang sama kaka atau kak Devan? Tapi kamu bener nggak papa kan?"


" Aku nggak papa, lihat aku baik-baik saja kan?"


" Hm kamu ini kalau sampe bunda papah dan kak Devan tau gimana? Dia pasti khawatir sama kamu," ucap ku tak sadar menyebut Devan dengan sebutan kak.


" Mereka tidak akan tau kalau Nabila dan kaka tidak memberitahunya,"


" Apa kaka tidak penasaran siapa yang menolong aku?"


" Siapa?"


" Aku juga belum tau sih. Tapi, pria itu sangat terluka aku pikir dia baru keluar dari rumah sakit, tapi gara-gara menolong aku luka yang belum sembuh itu kembali terluka,"


" Lalu?"


" Lalu aku mengantarnya pulang sampai rumahnya. Aku mengobati luka itu dan langsung pulang, tapi apa kakak tau? Pria itu sangat tampan kak. Huft! Karna gugup aku jadi lupa menanyakan namanya," gumam Nabila sembari memikirkan wajah Dafri.


" Kamu ini selesaiin kuliah kamu dulu baru cowok,"


" Iya kak aku juga nggak akan ketemu lagi sama dia jadi tenang lah,"


" Tapi kaka harus berterimakasih padanya karna dia adik ipar kesayangan aku ini nggak kenapa-kenapa,"


" Itu harus sih kak, aku juga berharap bisa bertemu lagi sama dia," ucap Nabila berharap penuh pada keajaiban.


***


Sudah tengah malam WIB tapi tidak ada kabar sedikitpun dari Devan. Apa perjalanannya cukup jauh sehingga dia tidak bisa memberi kabar sedikitpun? Ku buang nafas panjang dan mematikan lampu kamar, ku pejamkan mataku berharap esok hari ada kabar dari Devan.


Keesokan harinya seperti biasa aku bangun pagi-pagi untuk melakukan tugasku sebagai seorang muslim. Setelah itu aku berangkat turun untuk menyiapkan sarapan untuk semua orang, tak lama bunda datang dan membantuku menyiapkan sarapan.


" Sayang gimana Devan apa dia sudah mengabari kamu?" tanya bunda padaku.


" Belum bunda,"


" Loh kok belum? Kalau ke Jepang sih seharusnya sekarang udah sampe. Ah mungkin sesampainya di sana Devan langsung istirahat atau ponselnya mati, nanti juga pasti kabarin kamu kok," ucap bunda mencoba membuat pikiranku menjadi positif


" Iya bunda Aisyah juga kepikiran itu," jawabku tersenyum sedikit paksa karna jujur saja tidak ada istri yang tidak khawatir saat tidak ada kabar sedikitpun dari sang suami apalagi saat sang suami pergi jauh.


Tak lama Nabila dan Farhan datang untuk sarapan. Mereka keduanya bersiap untuk pergi ke kampus dan juga kantor.


"Sayang bagaimana Devan apa dia sudah sampai?" tanya Papah padaku, dia belum tau aja kalau Devan belum mengabari apa-apa.


" Belum pah, mungkin ponsel nya mati karna itu dia belum sempat kabarin Aisyah," jawabku


" Anak itu kebiasaan. Dia sudah tau punya istri dan keluarga yang mengkhawatirkan nya tapi dia malah ceroboh," umpat Papah yang dapat ku dengar.


Aku hanya bisa diam dan berpikir kemana sebenarnya Mas Devan? Kenapa dia belum mengabari ku? Apa dia tidak tau kalau aku sangat mengkhawatirkan nya.


...Lanjut? ...

__ADS_1


__ADS_2