Terpaksa Menikahi Pria Lumpuh

Terpaksa Menikahi Pria Lumpuh
Chapter 70 Jangan menggodaku sayang


__ADS_3

Sesampainya di Perusahaan Group Zy, Aisyah langsung memberikan laporan itu kepada Nabila. Nabila memeluk Aisyah erat dan mengucapkan terimakasih sesaat sebelum ia lari ke dalam kantor.


Aisyah bisa bernafas lega karna bisa memberikan laporan itu tepat waktu walaupun banyak kendala saat di perjalanan. Aisyah berpikir sejenak dan berniat pergi ke rumahnya untuk melihat keadaan Diana, namun saat hendak pergi tiba-tiba seseorang memanggilnya refleks Aisyah menoleh dan terkejut saat melihat Nabila bersama Dafri yang kini sedang berjalan ke arahnya.


" Nabila kamu kok..."


" Ah iya kak, ternyata pak Dafri ingin menyelesaikan laporan ku sambil minum teh. Kakak mau ikut?" ajak Nabila yang langsung di tolak Aisyah.


" Enggak Nabila aku ada urusan jadi..."


" Kenapa tidak? Bukan kah itu lebih bagus? Lagi pula kalau kamu ikut kamu bisa membantu Nabila laporan mana yang harus di revisi," sangah Dafri. Tatapan keduanya beradu, Aisyah benar-benar tidak mengerti apa yang dia rencanakan setelah ini.


" Ayolah kak, lagi pula aku merasa canggung kalau cuman berdua sama Pak Dafri," Bisik Nabila sembari memohon.


" Tapi Nabila kaka..."


" Please aku mohon,"


Melihat Nabila yang terus memohon akhirnya dengan terpaksa Aisyah menyetujui permintaan nya. Terlihat senyum simpul terpampang di bibir Dafri.


***


Di luar kantor Devan sedang fokus memantau pekerjaan karyawannya. Namun, pikiran nya langsung teralihkan pada ponsel, ia langsungmerogoh sakunya dan melihat ada notif masuk dari sang istri. Rahang nya tiba-tiba mengeras saat mengetahui kalau Aisyah pergi ke kantor Dafri.


" Apa ini kenapa Nabila meninggalkan laporannya segala," gumam Devan kesal pada adiknya.


Kini Devan beralih menghubungi Aisyah dan tak lama Aisyah mengangkat nya.


// Sekarang kamu dimana?


Tanya Devan dengan nada sedikit tertahan.


// Eum aku di Cafe...


// Apa Cafe? Bukannya kamu sedang di kantor Nabila?


// Iya awalnya, tapi tiba-tiba Nabila mengajakku ke Cafe.


// Mau ngapain? Tunggu bukannya hari ini Nabila bertemu dengan Dafri. Apa disana ada Dafri juga?


// Iya...


[ Dafri persetan, apa maksud dia? Dia benar-benar ingin bermain-main dengan saya]


// Mas kamu nggak usah khawatir, disini ada Nabila juga kok. Lagi pula aku disini hanya ingin membantu Nabila.


// Membantu apa? Sebaiknya kamu pulang.


// Tapi mas aku..


// Saya bilang pulang Aisyah! 💥


Degh


Ini untuk kedua kalinya Devan membentak dirinya. Dan itu semua karna Dafri, kini semua yang Aisyah rasakan pada Dafri berubah menjadi kebencian.

__ADS_1


" Ada apa kak? Dia bilang apa?"


" Sepertinya aku harus pergi, Mas Devan suruh aku pulang,"


" Apa-apaan ini? Ini nggak adil untuk kaka. Kak Devan terus mengengkang kaka, tunggu biar aku bicara sama kak Devan," Nabila merogoh ponselnya dari dalam tas berniat menghubungi kakaknya namun dengan cepat Aisyah menghentikan aksinya itu.


" Tunggu Nabila nggak usah, apa yang kaka kamu lakukan bukan karna dia mengengkang kaka. Justru dia sangat mencintai kaka, dia tidak mau ada orang lain menganggu kaka itu aja," Ucap Aisyah tegas. Namun, Dafri merasa itu adalah sebuah sindiran untuknya. Tapi bukan Dafri jika tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.


" Apa yang di katakan Nabila itu benar, suami macam apa dia mengengkang istrinya keluar. Apa kamu nyaman di perlakukan seperti ini Aisyah?" ucap Dafri


" Maaf Pak atas hak apa bapak berbicara? Ini hubungan saya jadi saya harap bapak tidak perlu ikut campur!"


" Oh maaf jika kamu merasa saya ikut campur, tapi saya hanya tidak suka melihat wanita tersakiti," ucap Dafri lagi. Kali ini ucapan Dafri berhasil membuat Aisyah sedikit tersentak dan langsung menatap wajah pria itu.


" Apa bapak bilang? Hah apa bapak sadar dengan ucapan bapak sendiri? Apa bapak tidak merasa kalau bapak sedang membicarakan tentang diri bapak sendiri?"


Dafri terdiam mendengar ucapan Aisyah. Namun, di sisi lain Nabila merasa ada keanehan di antara dua insan itu. Perdebatan itu seakan-akan mengartikan sesuatu.


" Maaf Nabila kaka harus pergi. Setelah pekerjaan mu selesai sebaiknya segera pulang, Assalamu'alaikum.."


" Waalaikumsalam,"


Setelah kepergian Aisyah suasana seketika menjadi tegang. Dafri hanya diam namun dalam diamnya ia sedang menyembunyikan amarahnya, bukan karna perkataan Aisyah melainkan karna sikap Aisyah. Semuanya sudah berubah sikap Aisyah sekarang berbeda terlihat dengan jelas dari matanya Aisyah terlihat sangat membenci dirinya.


Di area parkiran ketika sedang menunggu taksi, dari arah kejauhan ada seseorang yang sedang memerhatikan Aisyah. Saat hendak menghampiri tiba-tiba Aisyah pergi sesaat setelah datangnya taksi pesanannya.


***


Suasana hatinya sekarang sedikit buruk karna itu Aisyah berniat mengunjungi suaminya ke kantor. Namun, ketika sudah sampai ternyata Devan tidak ada di kantor karna ia sedang bertugas di luar kantor, karna itu karyawan kantor itu menyuruh Aisyah agar menunggu di ruangannya.


*


*


" Astaga tuan kasian sekali istrimu dia menunggu mu sampai ketiduran seperti ini," bisik Andreas saat melihat Aisyah yang ketiduran di sofa.


Devan yang mendengar itu langsung duduk di samping Aisyah dan menatapnya lekat.


" Sejak kapan dia ada disini?" tanya Devan


" Sejak jam 10 pagi tuan," Jawab karyawan wanita yang sudah menyuruh Aisyah menunggu di ruangan Devan.


" Baiklah kalian boleh pergi. Dan ya jangan biarkan orang masuk tanpa seizin saya,"


" Baik tuan,"


Andreas dan Wanita itu pergi dari ruangan Devan. Devan menatap lekat wajah cantik istrinya itu dan langsung mengecup keningnya lama.


" Maafin aku sayang, karna menunggu ku kamu sampe ketiduran seperti ini," ucap Devan merasa bersalah.


Melihat tidurnya yang tak nyaman Devan mencoba membawa Aisyah ke dalam kamar pribadi yang ada di ruangannya. Namun, Belum beberapa langkah Aisyah terbangun dan sedikit terkejut saat melihat Devan yang sedang mengendongnya.


" Loh kamu mau bawa aku kemana?" ucap Aisyah yang masih setengah sadar


" Kamu nggak bisa tidur di sofa bisa-bisa punggung mu sakit, karna itu aku mau pindahin kamu ke kamar,"

__ADS_1


" Hm nggak papa kok lagian udah terbiasa. Kamu nggak ingat waktu kita belum saling suka, aku tidur selalu di sofa. Karna ya, kamu nggak mau tidur satu ranjang sama aku," tutur Aisyah terus berbicara


" Udah yang jangan di bahas terus. Iya aku minta maaf, dulu kan aku masih belum siap nikah. Kalau bukan karna papah aku juga nggak mau nikah,"


" Terus sekarang? Oh jadi kamu nyesel iya nikah sama aku?"


" Bukannya gitu yang, aku kan bilang dulu bukan sekarang. Kalau sekarang aku sangat berterima kasih ke papah karna sudah menikahkan aku dengan wanita cantik, sholeh dan baik hati seperti kamu, "


Aisyah di buat merona oleh kata manis Devan. Aisyah benar-benar tidak menyangka pria yang tidak berani ia harapkan akan menjadi suami utuhnya malah sekarang dia sedang bersikap manis padanya.


Devan menurunkan tubuh Aisyah ke atas ranjang dan beralih ke meja rias. Devan melepas dasi dan arlojinya, Aisyah yang melihat itu merasa terpesona saat melihat ketampanan sang suami.


" Mas sayang.." panggil Aisyah yang malah mendapat tatapan aneh dari sang empu.


" Tatapan apa itu? Kenapa menatapku seperti itu? Apa ada salah?"


" Nggak papa hanya ada yang aneh aja. Biasanya panggil Mas atau sayang aja tapi sekarang mas sayangnya di satuin,"


" Ya nggak papa dong kan mas sebutan nya dan sayang karna aku sayang mas,"


" Dasar Ada- ada aja kamu,"


" Ih Mas Sayang..." rengek Aisyah


" Apan sih yang geli tau denger nya. Nggak biasanya kamu kaya gini,"


" Napa sih emang nggak boleh yah. Aku kan pengen kaya orang lain,"


" Kaya orang lain gimana? Aku sukanya kamu bukan orang lain. Lagi pula kamu belum cuci muka mungkin karna itu kamu jadi ngelantur kaya gini,"


" Ih mas aku nggak ngelantur,"


Devan menatap Aisyah membuat sang empu diam dan bingung. Devan berjalan ke atas ranjang dan naik, tatapan itu tidak pernah berubah dan berhasil membuat Aisyah gugup walaupun sudah berapa kali ia mendapat tatapan itu.


Kalau Aisyah prediksi sih tatapan itu adalah awal Devan ingin menciumnya. Karna itu Aisyah memejamkan kedua matanya perlahan saat wajah Devan mulai mendekat, namun sudah selang beberapa detik Aisyah tidak merasakan benda kenyal menyentuh bibirnya.


" Apa yang sedang kamu pikirkan hm?"


Mendengar ucapan itu sontak Aisyah membuka matanya lebar dan berkedip 2 kali berturut-turut.


" Jangan berani menggodaku sayang, karna kamu tau hal apa yang membuatku tergoda?"


Glekk...


Susah payah Aisyah menelan salivanya. " Tingkahmu, semakin kamu bertingkah maka aku akan semakin tergoda." ucap Devan dengan senyuman devilnya.


" Cepat cuci muka. Bekas ilermu masih ada,"


" Apa?"


Aisyah bergegas lari ke dalam kamar mandi. Devan yang melihat itu hanya tertawa lepas disana sembari memegang perutnya yang mulai sakit karna terlalu berlebihan tertawa.


...Lanjut? ...


Jangan lupa Like, komen, vote and follow

__ADS_1


__ADS_2