
Di kediaman Dafri terlihat seorang wanita yang duduk di sofa panjang itu dengan suasana hati yang sedikit gugup dan takut. Dafri memberikan semua minuman pada Aisyah namun sang empu tidak menerimanya.
" Aku tidak memasukan apapun pada minuman itu. Minum lah tenggorokan mu pasti kering karna terus berteriak," ujar Dafri. Aisyah terdiam sejenak dan mengambil minuman itu di tangan Dafri.
Aisyah meneguk minuman itu sedangkan Dafri duduk di sofa sembari menatap Aisyah.
" Maafkan aku Aisyah, aku terpaksa membawamu ke sini agar aku bisa bicara sama kamu," ucap Dafri merasa bersalah karna sudah memaksa wanita itu.
" Kau ingin bicara apa? Sekarang bicaralah aku tidak punya banyak waktu,"
" Aisyah aku tau aku sudah menyakiti mu, tapi percayalah aku benar-benar tidak melakukan itu dengan Felly. Dia menjebakku, malam itu setelah aku mengantar kamu pulang tiba-tiba Fellysha menghubungi ku dan meminta bantuan, aku sangat khawatir karna dia sahabat ku tapi aku tidak menyangka kalau dia akan menjebakku seperti ini,"
" Apa gunanya kamu mengatakan itu Dafri? aku sudah memaafkanmu dan juga Fellysha, tapi jika kamu meminta kembali aku tidak bisa," ucap Aisyah lirih
" Kenapa Aisyah? Apa karna pria itu? Aisyah jangan membohongi diri kamu sendiri. Aku tau kalau pernikahan kalian karna perjodohan,"
" Kami memang menikah tanpa cinta, bahkan kami tidak saling mengenal satu sama lain. Tapi seiring berjalannya waktu aku bisa mengenalnya begitupun sebaliknya, aku mencintainya Dafri dan dia juga mencintaiku. Aku mohon lupakan aku dan menikah lah dengan Fellysha, dia sangat mencintaimu Daf,"
" Tidak Aisyah, aku tidak mau menikah dengannya. Jika memang aku tidak bisa bersamamu maka dia juga jangan harap bisa bersamaku," tandas Dafri. Aisyah sedikit terkejut mendengar ucapannya.
" Dafri..."
" Jangan memaksaku Aisyah. Aku mencintaimu dan selamanya akan seperti itu," selorohnya tegas. Aisyah tidak bisa mengatakan apa-apa lagi, begitupun Dafri setelah mengatakan hal itu dia menjadi diam dan menunduk, membuat suasana menjadi hening.
" Sekarang aku antar kamu pulang," ucapnya memecah keheningan, Dafri pergi keluar yang di susul Aisyah.
Di sepanjang perjalanan Dafri tidak berbicara apapun. Aisyah yang tidak mood berbicara membiarkan suasana itu kembali hening, tak butuh waktu lama Aisyah meminta Dafri untuk menurunkannnya di dekat Resto karna Aisyah tidak ingin ada keributan lagi. Dafri yang mengerti menganggukan kepalanya dan memberhentikan mobilnya di dekat Resto, Aisyah turun dan bergegas pergi ke dalam Resto meninggalkan Dafri disana.
" Apa aku benar-benar kehilangan kamu Aisyah?" batin Dafri dengan tatapannya fokus pada punggung Aisyah yang perlahan menjauh.
Di dalam Restoran Jeslyn sudah di buat khawatir dan tegang dengan kepergian Aisyah. Netranya kini tertuju pada seorang gadis yang baru saja masuk dengan wajah yang tanpa ekspresi, Jeslyn yang sudah khawatir langsung mendekati Aisyah.
" Aisyah kamu kemana aja? Kamu tau aku sangat mengkhawatirkan mu," ucap Jeslyn. Dapat Aisyah lihat dari wajahnya kalau Jeslyn benar-benar mengkhawatirkan nya.
" Maafin aku Jeslyn karna sudah membuatmu khawatir,"
" Lalu kemana kamu?" tanya Jeslyn membuat Aisyah diam, tidak mungkin Aisyah mengatakan kalau ia pergi menemui Fellysha.
" Aisyah..?"
" Aku pergi menemui orang-orang disini siapa tau mereka melihat kejadian semalam. Tapi tidak ada satupun yang melihatnya," jawab Aisyah bohong.
" Hm kamu ini bisa aja bikin orang khawatir,"
" Ya maaf habisnya kalau aku ajak kamu kamu pasti tidak sabaran. Kamu kan mudah emosi,"
" Emang iya sih," ucap Jeslyn lirih.
Tak lama sebuah mobil hitam berhenti di depan Resto. Sontak hal itu membuat perhatian dua wanita itu teralihkan, Andreas keluar dari mobil dan berjalan menghampiri dua insan itu dengan wajah cemas.
" Astaga siapa yang melakukan ini? Maaf karna saya baru bisa datang karna pekerjaan di kantor tidak bisa di pending," tutur Andreas merasa bersalah.
" Nggak papa kak kita ngerti kok,"
" Kalian tenang saja saya sudah suruh tangan kanan pak Devan untuk mencari pelakunya,"
" Nggak usah kak," seloroh Aisyah membuat dua insan itu menatap Aisyah bingung.
" Kenapa Aisyah? kita harus cari tau siapa yang sudah melakukan ini. Mereka benar-benar sudah keterlaluan," ucap Jeslyn tidak setuju dengan ucapan Aisyah.
" Iya Aisyah Jeslyn benar, kita harus mencari pelakunya. Dia harus bertanggung jawab," kini Andreas yang membuka bicara.
" Nggak biarkan saja kak, aku yakin setelah ini dia tidak akan pernah berani melakukan hal ini lagi. Jika itu terjadi aku sendiri yang akan melakukan nya,"
__ADS_1
" Tunggu Aisyah apa kamu tau siapa pelakunya?" tanya Jeslyn penasaran. Aisyah terdiam sejenak tidak mungkin ia memberitahu kalau Fellysha adalah pelakunya. Semua yang di lakukan Fellysha karna dirinya, lagi pula Aisyah tidak mau ada keributan lagi apalagi Jeslyn yang sangat membenci Fellysha dan Dafri.
" Aku tidak tau, tapi sudahlah Jeslyn. Percuma saja kita mencarinya itu buang-buang waktu, lebih baik kita rapihkan Resto Aislyn ini,"
" Hm yasudahlah terserah kamu aja. Kamu aneh tau nggak," ucap Jeslyn bergegas pergi meninggalkan Aisyah yang masih diam di sana.
***
Malam hari yang cerah namun tidak dengan perasaan dan suasana Aisyah. Setelah selesai membereskan semua kerusakan Aisyah tertidur lelah di meja hingga ia tidak sadar kalau ponselnya terus berdering dengan banyaknya notif yang masuk.
Andreas yang melihat itu mengambil ponsel Aisyah dan mengangkatnya. Terlihat di layar itu wajah tampan terpampang jelas disana.
// Andreas kenapa kamu? Dimana Aisyah? (terkejut)
// Aisyah sedang tidur, sepertinya dia kelelahan karna membereskan Restoran.
// Apa hari ini banyak yang datang sampai Aisyah kelelahan seperti itu?
// Tuan tidak tau?
// Tidak tau apa maksud kamu?
// Pagi tadi keadaan Restoran sudah hancur. Semua barang tidak tersisa sedikitpun, saya kira tuan tau soal ini.
// Bagaimana bisa? Tidak Aisyah tidak mengatakan apapun pada saya. Bahkan saya hubunginya tapi dia tidak mengangkatnya.(kaget)
// Bangunkan dia dan berikan ponselnya padanya!
// Tapi tuan Aisyah sedang tidur. Dia benar-benar kelelahan.
// Kalau begitu saya pulang sekarang!
// Tapi tuan pekerjaan tuan di sana masih...
Belum selesai bicara Devan lebih dulu memutuskan panggilan secara sepihak. Andreas yang mengenal sifat dan emosi tuannya merasa khawatir kalau nanti Aisyah dan tuannya akan ribut.
[ Bagaimana ini? Bagaimana kalau tuan benar-benar pulang dan tau masalah yang pernah Aisyah lalui saat dia tidak ada. Soal aku juga pasti mendapat getahnya] batin Andreas khawatir.
Tak lama Aisyah terbangun dan sedikit terkejut saat melihat Andreas di depannya. " Kak Andreas... ?"
" Aisyah kamu sudah bangun,"
" Kamu ngapain disini? Jeslyn mana?" tanya Aisyah saat tidak melihat Jeslyn di mana-mana
" Jeslyn ada di belakang," jawab Andreas. Namun perhatian Aisyah teralihkan pada tangan Andreas yang sedang memegang ponselnya.
" Itu ponsel Aisyah..."
"Eh iya maaf tadi saat kamu tidur tuan telpon. Maaf tidak menberitahumu,"
" Mas Devan telpon?" ucap ulang Aisyah terkejut. Aisyah mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Devan tapi tidak ada tanda-tanda sang empu mengangkatnya.
Aisyah yang sendikit khawatir bergegas pergi pulang tak lupa mengirim salam pada Andreas untuk Jeslyn.
****
Sudah beberapa kali Aisyah hubungi tapi tetap saja Devan tidak mengangkatnya. Bahkan pesannya pun tidak dia balas, hanya ceklis dua lalu satu.
" Mas kenapa kamu nggak angkat? Maafin aku, aku benar-benar tidak tau kalau kamu telpon aku," gumam Aisyah lirih.
Aisyah yang sudah lelah dengan semua keadaan memilih merebahkan tubuhnya dan menyambut mimpi indah.
*
__ADS_1
*
Pukul 3.00 pagi, Aisyah terbangun dan merasakan benda berat melingkar di pinggangnya. Aisyah membuka kedua matanya perlahan dan sedikit melirik ke belakang, sayup-sayup dapat Aisyah lihat wajah tampan suaminya.
" Apa aku sedang bermimpi? Kamu ada disini mas?"
" Jika iya aku tidak ingin bangun," lanjut Aisyah dan berbalik merubah posisinya. Aisyah memeluk tubuh kekar itu erat, namun tidak ada balasan sedikitpun dari sang empu.
Tak lama tangan kekar itu melepas pelukan Aisyah. Devan bangkit dari ranjang hal itu membuat sang empu bingung. " Mas kamu mau kemana?" tanya Aisyah dengan keadaan ruangan yang remang.
Aisyah bangkit hingga posisi duduk. Pikirannya yang berpikir sedang bermimpi rasanya seperti nyata, tubuh kekar, deru nafas dan kehangatan di tubuh itu benar-benar terasa nyata.
" Kenapa kamu merahasiakan masalahmu padaku Aisyah?" suara bariton itu berhasil membuat Aisyah sedikit tersentak. Aisyah yakin kalau saat ini ia sedang tidak bermimpi, pria yang sangat ia rindukan ada di hadapannya.
Aisyah bangkit dari ranjang dan bergegas menghampiri Devan dan memluknya dari belakang. "Ini benar kamu mas? aku sangat merindukanmu." gumam Aisyah lirih.
Devan melepas pelukan Aisyah dan berbalik menatapnya seriusnya.
" Katakan padaku kenapa kamu tidak memberitahuku? Berapa banyak yang kamu rahasiakan dariku Aisyah?" Kini suara bariton itu berubah, nada tinggi itu benar-benar membuat Aisyah sedikit takut pada suaminya apalagi saat melihat wajahnya yang begitu merah karna marah.
" Maafin aku mas, aku tidak berniat merahasiakan ini darimu. Lagi pula aku nggak papa dan Resto Aislyn pun sekarang sudah baik, aku berniat memberitahumu tapi aku tau kalau kamu pasti sedang kerja aku tidak mau membuatmu khawatir,"
" Kamu tidak mau membuatku khawatir tapi sikap mu yang kekanak-kanakan seperti inilah yang justru membuatku khawatir Aisyah!" Sarkas Devan terlanjur emosi.
" A_ku minta maaf mas. Aku benar-benar minta maaf,"
" Jawab aku berapa banyak yang belum aku tau darimu?" tanya Devan serius
" N_nggak ada mas hanya itu,"
" Benarkah? apa kamu benar-benar tidak mau jujur sama aku Aisyah?"
" Mas aku tidak menyembunyikan apapun darimu," ucap Aisyah sedikit berteriak. Devan terdiam sejenak dan membuang muka ke arah lain. " Baiklah jika kamu tidak mau jujur padaku, biar aku saja yang menjawabnya."
" Bukannya Mantan terindah mu datang ke Restoran dan memelukmu di depan umum? Dan hari ini kau datang ke Perusahaan Group Zy untuk bertemu mantanmu itu? Bahkan sampai kalian pergi ke rumah mantanmu berdua?"
Degh
Aisyah tersentak kaget mendengar ucapan Devan. " Kenapa kamu diam? Kamu pasti bertanya kenapa aku bisa tau?"
" Aisyah tangan kananku bukan hanya Andreas saja tapi banyak. Aku sudah menyuruh mereka untuk mengawasimu selama aku di Jepang, jadi aku tau apa yang sedang kamu lakukan saat aku tidak ada,"
" Mas percaya sama aku, aku pergi ke perusahaan itu tidak berniat bertemu dengan Dafri. Dan soal pergi ke rumahnya aku sama sekali tidak mau pergi, dia ingin berbicara denganku tapi aku menolaknya. Karna itu dia memaksaku pergi dengannya, percaya sama aku mas, aku sama sekali tidak berniat pergi dengannya," Aisyah terus memohon agar Devan mau percaya dengannya. Tapi tangannya di tepis pelan.
" Aku hanya ingin kamu bisa berbagi masalahmu denganku Aisyah. Tapi lihatlah saat aku bertanya kamu tidak mau mengatakan hal jujur, apa kamu tidak mengangap ku suamimu Aisyah?"
" Nggak mas bukan begitu..."
" Kamu tau Aisyah saat aku melihat kamu di peluk olehnya dan pergi berdua ke rumahnya. Aku cemburu Aisyah, aku marah, aku kecewa, aku kira kamu akan memberitahuku tapi ternyata aku salah. Kamu bahkan tidak berniat memberitahuku, kenapa Aisyah? Kenapa kamu tidak mau berbagi masalahmu denganku? aku suamimu Aisyah tapi kenapa kamu tidak mau memberitahuku?"
" Mas aku tidak mau membuatmu khawatir. Pekerjaan kamu lebih penting, aku tidak peduli berapa banyak masalah yang ku alami tapi aku tidak mau masalahku malah membuat mu mendapat masalah,"
" Tapi aku suamimu Aisyah! Kamu tau hal apa yang aku pikirkan saat kamu melakukan hal ini? aku seperti suami tidak berguna Aisyah," Tandas Devan tegas
" Mas..."
" Sudah cukup. Aku ingin sendiri jangan ganggu aku," Devan bergegas pergi meninggalkan Aisyah yang sudah menangis di sana. Semua yang terjadi memang kesalahannya, tidak ada orang yang harus disalahkan selain dirinya.
Kemarahan Devan, Kerusakan Di Restoran, Pertengkaran Dafri dan Fellysha, Kebencian Fellysha itu semua salah Aisyah. Jadi benar, Tidak ada seseorang yang harus di salahkan dalam hal ini selain dirinya sendiri.
" Semua ini salahku, maafin aku mas," ucap Aisyah lirih sembari menangis
...**Lanjut?...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian**.