Terpaksa Menikahi Pria Lumpuh

Terpaksa Menikahi Pria Lumpuh
Chapter_52 Persanderaan 2


__ADS_3

Di sebuah ruangan yang luas itu terlihat 5 pria bertopeng itu sedang memegang senjata. Terlihat Celline dan Robert yang sedang duduk di depan mereka semua dengan keadaan tangan mereka berada di atas kepala.


" Ayo katakan berapa pin brankas ini. Atau aya tembak kalian!" Suara bariton itu berhasil membuat Celline dan Robert ketakutan. Bagaimana tidak sekarang keduanya dalam posisi bingung, jika ia memberitahu pria itu maka Perusahaan nya akan hancur dan jika ia tidak memberitahunya maka dia lah yang akan mati.


" S_saya tidak tau pak, "


" Bohong kalian. Saya tau kalau pak Devan mempercayakan kalian dalam hal kantor," seloroh salah-satu pria yang di yakini adalah orang dalam.


" K_Kami memang mengurus semua data laporan perusahaan ini. T_Tapi soal brankas itu kami benar-benar tidak tau," ucap Albert terbata-bata.


Keringat dingin mereka sudah keluar bahkan sudah membuat rambut keduanya basah. Sedangkan di tempat lain Devan masih menaiki tangga, jarak lantai 2 ke lantai 4 lumayan memakai waktu lama bahkan kaki Devan yang benar-benar total sembuh itu merasa sedikit sakit saat menaiki tangga.


" Huh...Bagaimana ini? Aku tidak mungkin sampai ke lantai 4 jika terus menggunakan tangga darurat. Aku harus naik lift agar bisa cepat sampai ke lantai 4," Gumam Devan dan beralih pergi untuk naik lift. Disana dapat Devan lihat dua pria bertopeng itu sedang berjaga, Devan berdecak kesal dan mencari lift lain.


Saat sedang mencari tiba-tiba ia mendegar suara di dalam ruangan. Devan yang siaga itu mengeluarkan pistolnya dan perlahan melangkah mendekati pintu itu, dengan penuh keberanian Devan membuka pintu itu kasar dan langsung menyodong kan pistolnya ke depan. Betapa terkejut nya Devan saat kala melihat Farhan ada di sana.


" Papah?"


" Devan,"


" Papah sedang apa disini?"


" Devan di luar..."


" Iyah, mereka semua berhasil masuk dan menyandra semua orang. Lalu bagaimana keadaan papah? Ada yang terluka?" tanya Devan khawatir. Terlihat tangan Farhan yang terluka sontak hal itu membuat Devan sangat khawatir


" Papah nggak papa," Ucap Farhan tiba-tiba seakan mengerti dengan tatapan Devan


" Astaga sebenarnya siapa dalang dari semua ini?"


" Dengarkan papah, mereka tidak ingin uang. Mereka pemberontakan yang ingin jaya dengan mengambil semua aset penting dari perusahaan ini, mereka tau jika perusahaan ini bisa berkembang dengan pesat. Karna itu mereka ingin perusahaan yang mereka miliki juga seperti perusahaan mu yaitu dengan cara mengambil semua data dan aset penting dari perusahaan ini,"


" Lalu Devan harus bagaimana?"


" Kau harus berpikir cepat, bukan hanya aset perusahaan tapi juga nyawa seseorang. Kau harus melakukan dua itu, saat inilah kamu di tuntut untuk menjadi pemimpin. Lakukanlah tugasmu sekarang Devan," Devan tertegun mendengar ucapan Farhan. Bingung an takut itu bergabung menjadi satu, bibirnya mulai kelu rasa kekhawatiran itu bterus menyelimuti nya.


Apa mungkin segampang itu ia memberikan rahasia perusahaan yang sejak ia muda Devan rilis hingga mencapai puncak kejayaan dan begitu mudahnya orang asing itu mendapatkan nya?


" Pergilah Devan kau tidak punya banyak waktu," ujar Farhan tegas


" Papah pergilah ke lantai 2 disana ada Andreas, dia yang akan mengeluarkan papah dan yang lainnya," ujar Devan yang di angguki Farhan.


" Dan jika papah bertemu Aisyah, tolong katakan padanya aku akan baik-baik saja," Farhan tersenyum kecil sebagai jawaban.


Devan mencium tangan Farhan dan bergegas pergi. Perkataan Farhan benar-benar membuat Devan mengurungkan niat awalnya, Devan merogoh ponselnya dan menghubungi kontak orang itu.


+628928*****


Oh Hallo ada apa? Apa kau sudah berubah pikiran? Hahah apa ku bunuh saja karyawan bodohmu ini?


Devan:


Jangan berani menyentuhnya atau kau akan habis.


+628928*****


Hahah ancaman yang cukup bagus.


Devan:


Berikan ponsel itu pada Robert!


+628928*****


Apa keuntungan ku jika aku mematuhimu Pak Devan.


Devan :


Kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan.


Pria itu mendekatkan ponselnya ke Robert dengan pengeras suara sehingga semua orang dapat mendengarnya.


" Hallo Pak? Pak Devan tolong kami. Mereka sangat kasar, bahkan Celline sekarang tidak sadarkan diri karna mereka memukulnya,"


" Apa?" Langkah Devan terhenti saat mendengar ucapan Robert. Deru nafasnya memuncak, rahangnya mulai mengeras dengan kedua tangannya mengepal sempurna.


Bugh!


" Argh!"


" Jangan sakiti dia atau kalian benar-benar akan mati!" teriak Devan kehabisan kesabaran saat kala mendengar teriakan Robert dari sebrang sana.


" Jangan banyak drama, katakan apa yang ingin kau katakan padanya," ucap pria itu


Devan menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan. " Robert dengarkan saya, beritahu mereka berapa pinnya." ujar Devan


" Apa? Tapi pak..."


" Lakukan apa yang saya perintah kan," seloroh Devan tegas. Devan berlari secepat mungkin ke arah lift dan menekan tombol 4 tak butuh waktu lama Devan sampai dan langsung mengendap-endap agar tidak ada yang mengetahui keberadaan nya.


**


Sedangkan di bawah sana Andreas sudah berhasil mengalahkan semua para penjahat itu. Andreas melirik arloji nya sekilas, mengeluarkan 3 ribu orang dalam waktu 30 menit apa itu cukup? Namun tidak ada hal yang mustahil Andreas langsung mengarahkan semua orang ke pintu itu dengan cepat.


" Andreas...?" panggil seseorang. Andreas menoleh dan terkejut saat melihat Farhan di sana.


" Om kenapa ada disini?"

__ADS_1


" Ceritanya panjang. Tapi Andreas apa kau bisa berjanji padaku? Bukankah kau sudah mengangapku ayahmu sendiri?" Andreas hanya diam tidak mengatakan apapun.


"Sekarang Devan berada dalam bahaya, apa kau bisa menolongnya? Jika bukan karna ku lakukan lah demi adikmu," Andreas sedikit tersentak mendengar ucapan Farhan, kata adik itu benar-benar membuat Andreas merasakan hal lain.


Andreas membalas genggaman tangan itu dan menatapnya. " Tanpa om suruh pun saya akan menolong tuan." jawab Andreas


****


" Mas Devan...?!" Teriak Aisyah dari luar perusahaan. Hatinya benar-benar hancur saat mendengar kalau suami dan yang lainnya dalam bahaya.


" Aisyah tenangkan dirimu,"


" Bagaimana aku bisa tenang Jes kalau mas Devan ada di dalam,"


" Aku tau tapi kita harus berdoa agar mereka baik-baik saja," ujar Jeslyn. Tak lama beberapa orang keluar dari belakang perusahaan dan semakin banyak lagi orang yang berhamburan keluar.


Semua reporter dan petugas polisi lainnya langsung mengevaluasi korban. Semua keluarga korban langsung berlari untuk menghampiri mereka semua begitu juga Aisyah dan Jeslyn.


Aisyah menggamati semua orang yang keluar namun tidak ada batang hidung dari suaminya.


***


" Bos semua sandra berhasil keluar dan banyak reporter juga polisi ada di luar sana bos,"


" Apa?" Pria itu berjalan mendekati Jendela dan melihat banyak orang di bawah sana.


" Brengsek! Dia menipu kita," umpat pria itu dan berjalan mendekati Robert dengan tatapan penuh amarah. pistol itu ia arahkan ke kepala Albert, bisa di lihat pria itu tidak akan segan menarik pelatuknya kali ini.


" Cepat buka brankas itu atau peluru ini akan masuk ke dalam otak mu!" Pria itu mengarahkan pistolnya tepat di kepala Albert.


Dengan tangannya yang bergetar Albert mengetik pin di dalam brankas itu. Namun, ntah kenapa pin yang ia tulis salah sontak hal itu membuat pria itu marah.


" Cepat buka brankas itu!"


" M_maaf Pak, s_saya juga tidak tau kenapa pin ini bisa salah,"


" Apa maksudmu hah?!!" teriaknya keras.


Lewat jendela dapat Devan lihat Robert yang sedang di ancam sedangkan Celline yang tak sadarkan diri di bawah sana dengan kepalanya yang sudah di penuhi oleh darah.


" S_saya benar-benar tidak tau. Saya mohon lepaskan saya, saya tidak tau apapun dalam hal ini," teriak Robert menangis dan memohon, namun pria keji itu malah menendang Robert kasar.


" Berani kau memohon kepadaku sedangkan kau belum bisa memberikan isi brankas itu padaku hah,"


Prank!


Suara tiba-tiba dari arah luar, Devan sengaja memancing mereka untuk keluar sehingga ia bisa lebih leluasa menghajar mereka.


Sedangkan Albert teru mencoba membuka pin itu tapi sayangnya tetap tidak bisa. Ntah apa yang terjadi.


" Pak saya bilang saya tidak bisa, saya tidak tau apapun soal ini. Saya mohon biarkan saya pergi dari sini.."


" Argh!!!" Pria itu menarik pelatuknya ke udara membuat Albert ketakutan.


" Jangan berani mempermainkan saya!" tandasnya tajam. " Bos mu itu benar-benar pecundang dan kau hanya beban disini. Aku membawamu kesini agar kau bisa membukakan nya untuk ku. Tapi sepertinya kau sama saja seperti mereka tidak ada gunanya, sebaiknya kau mati!" Pria itu mengarahkan pistolnya ke arah Albert. Jari itu menarik pelatuknya dan siap untuk di lepas.


Dorrr!


Pistol itu jatuh saat kala Devan menembak pistol yang di pegang pria itu, sehingga senapan itu tidak jadi melukai Robert. Robert yang melihat Bosnya langsung berlari dan bersembunyi di balik tubuh Devan, namun percuma saja tubuhnya lebih besar di banding Devan.


" Wow luar biasa pak Devan. Kau berhasil mengalahkan orang-orang ku dan berhasil datang kesini seorang diri?" seru pria itu dengan senyuman gilanya.


" Bukan kah kita sudah melakukan perjanjian untuk tidak menyakiti siapapun. Lalu apa yang sudah kau lakukan padanya hah?!" Teriak Devan murka saat melihat mayat Celline tergampar dengan kepalanya yang di penuhi oleh darah.


" Jangan hanya menyalahkanku. Kau sendiri yang tidak bisa berjanji,"


" apa maksud mu? Saya tidak pernah melanggar kesepakatan kita,"


" Kamu pikir aku bodoh huh? Kau diam- diam memanggil polisi dan wartawan kesini. Apa yang kau lakukan hah?"


" Apa polisi? Saya tidak pernah memanggil mereka.."


" Ayolah pak Devan berhenti bersandiwara,"


" Kau sendiri yang memulai menggunakan rencana licik mu untuk hal ini. Maka aku akan melakukan hal yang sama," Desisnya.


Pria itu mendekati Devan dan menghajarnya. Perkelahian panas itu terjadi, keduanya terluka akibat pukulan. Sedangkan Albert yang sudah takut dan tidak berani memilih diam di pojok.


Brakkk!


" Arghh," Teriak Devan saat kala tubuhnya ambruk ke meja hingga meja itu hancur. Pria itu naik ke atas Devan dan memukul wajah tampan itu bruntal. Wajah Devan sekarang di penuhi oleh luka-luka, Albert yang melihat itu berniat pergi untuk mencari bantuan tapi langkahnya di ketahui oleh pria itu.


Doorrr!!


" Arghh?!!"


" Albert...?" teriak Devan terkejut saat kala pria itu menarik pelatuknya ke arah Albert. Tubuh Albert ambruk saat kala senapan itu tembus ke dalam kakinya.


Devan yang benar-benar kehabisan kesabaran itu langsung menghajar Pria itu tanpa ampun. Kali ini Devan yang memulainya, Devan menghajar pria itu bruntal saat ini ia membalaskan semua kejahatan yang di lakukan pria itu pada karyawannya, semua karyawannya terluka dan mati itu karna ulahnya.


" Lakukan lah Devan, lakukan sampai kau puas. Jika aku mati tuanku tidak akan membunuhku dan kita akan mati bersama disini," racaunya


" Apa maksud mu?"


" 15 menit lagi bom itu akan meledak,"


" Bom..? Bom apa maksud mu hah?" teriak Devan di depan wajah pria itu.

__ADS_1


Pria itu memperlihatkan detik bom di tangannya. Devan membelalakan matanya terkejut saat melihat angka-angka itu mulai berkurang.


" Apa masalahmu hah?!!" Teriak Devan keras. Namun seperti orang gila pria itu hanya tertawa renyah.


" Dimana letak bom itu? Katakan dimana?!!"


" Dimana para nyawa itu berkumpul," jawab Pria itu. Seketika Devan terdiam dan mengingat semua para sandra, Devan mendekati Albert. " Albert bertahanlah, saya akan kembali setelah mematikan bom peledak itu."


" Pak tolong saya... Saya tidak mau kehilangan kaki saya," tangis Albert pecah di sana hal itu membuat hati Devan mulai goyah.


Kematian Celline mungkin bukan satu-satunya, pasti banyak orang yang terluka karna itu. Devan tidak akan membiarkan lebih banyak korban lagi.


Dengan jalan tergontai Devan berlari sekuat tenaga ke arah lift untuk bisa sampai ke lantai 2.


****


Di luar Perusahaan.


Terlihat semua orang menangis bahagia karna putra-putri, ibu dan ayah mereka baik-baik baik saja. Andreas dan Farhan merasa lega karna semua baik-baik saja walaupun ada yang terluka, tapi mereka langsung di larikan ke rumah sakit.


Netra Andreas kini jatuh pada wanita yang sempat ia temui. Jeslyn merasa lega karna Andreas baik-baik saja, walaupun sedikit luka di tangannya.


" Andreas kenapa kamu sendiri? Dimana mas Devan?" Tanya Aisyah saat tidak menemukan Devan disana.


" Tuan belum keluar?" tanya balik Andreas


" Dia belum keluar sama sekali. Andreas tolong selamatkan mas Devan dia masih ada di dalam," tangis Aisyah. Farhan yang melihat kekhawatiran menantunya tak segan memeluknya memberikan ketenangan.


" Devan pasti baik-baik saja sayang,"


" Pah aku sangat takut. Gimana kalau terjadi sesuatu padanya?"


Bukan hanya Aisyah saja yang khawatir. Tapi semua orang juga sangat khawatir akan keadaan Devan yang masih belum ada kabar di sana, Andreas yang sudah berjanji tanpa pikir panjang Andreas menerobos kerumunan dan masuk ke dalam. Lantai 1 sudah tidak ada yang jaga mungkin mereka sudah naik ke lantai atas, cepat-cepat Andreas naik lift untuk bisa naik ke lantai 4 dimana ia tau Devan ada disana. Namun saat sampai di lantai 4 ia tidak bisa menemukan Devan yang ia temukan hanyalah Celline dan Albert yang terluka.


" Albert kau tidak papa?"


" Kaki saya sangat sakit.." jawabnya lirih.


Andreas merobek bajunya dan melilitkannya pada luka tembak di kaki Albert agar darah itu berhenti keluar.


" Dimana tuan Devan?" tanya Andreas khawatir


" Pak Devan pergi ke lantai 2 untuk mematikan bom peledak itu,"


" Apa bom peledak?" ucap Andreas terkejut. Albert menganggukan kepalanya pelan.


Dengan berat hati Andreas meninggalkan Albert dengan jasad Celline disana. Namun, ia tiba-tiba bertemu dengan beberapa pria dengan satu orang pria di bopong. Dapat Andreas yakini kalau mereka adalah orang yang memimpin rencana ini, tanpa rasa takut Andreas menghajar pria itu dari belakang.


Belum sempat beberapa menit Andreas sudah membuat mereka KO!


" Kau pikir bisa pergi? Ayo kau harus mempertanggungjawaban mu," Andreas menyeret pria itu kasar ke dalam lift dan membawanya ke lantai 2


Sedangkan di lantai dua Devan sedang berusaha mencari dimana letak bom itu. Beberapa orang datang, untuk sekian kalinya Devan harus bertarung dulu sebelum menang. Perkelahian di mulai, melawan cucurut itu sangat mudah bagi Devan walaupun tenaga nya sudah terkuras tapi Devan masih bisa bertahan untuk beberapa waktu.


Setelah semuanya ambruk Devan menarik salah satu bertopeng itu kasar dan memintanya menunjukkan dimana letak bom itu. Pria itu dengan mudah menunjukannya, waktu sudah hampir 10 menit tersisa 5 menit lagi agar Devan bisa menghentikan bom itu.


Devan yang tidak ahli dalam hal itu berpikir keras, ia tidak memahami tentang cara mematikan bom itu. Jika orang yang paling handal dalam hal ini adalah Andreas.


" Sial gimana cara matiinnya, salah dikit saya bisa mati disini!" gumam Devan mengacak rambutnya bingung.


" Tuan..?" panggil keras dari arah belakang.


" Tuan biar saya yang melakukan nya," Ujar Andreas dan mengambil alih.


Andreas dengan langkah hati- hati dan konsisten itu mencoba mematikan bom itu.


" Andreas 1 menit lagi bom itu akan meledak,"


" Saya akan selesai tuan," jawabnya dengan tatapannya fokus ke bom itu.


Detik demi detik itu mulai berkurang. Keringat panas dingin itu mulai bercucuran, jika Andreas tidak bisa mematikan bom itu maka tamatlah. Bukan para penjahat itu melainkan mereka juga akan ikut mati bersamanya.


...1...


...2...


" Selesai!" Ucap Andreas lirih.


Devan merasakan tidak terjadi apapun, ia membuang nafas lega karna hidupnya tidak akan mati sia-sia. Devan dan Andreas saling melempar senyum, bahkan senyuman Andreas itu memiliki arti kekhawatiran saat melihat keadaan Tuannya yang terluka.


" Apa di luar ada istri saya?" tanya Devan


" Ada tuan, dia sangat mengkhawatirkan tuan,"


" Baiklah saya akan keluar," Devan bangkit dan berjalan meninggalkan Andreas. Andreas memerhatikan langkah Devan hingga tidak menyadari kalau ada seseorang yang sedang mengarahkan sebuah pistol ke arah Devan.


" TUANN AWASSS!!!" Teriak Andreas berhasil membuat pria itu menoleh.


DOORRR!


Suara tembakan itu menggema di sana, bahkan suara tembakan itu dapat di dengar hingga keluar. Devan membelalakan matanya saat kala Andreas terduduk lemas sat menghadang peluru itu.


" Andreas?!"


Devan mendekati Andreas dan menekan-nekan perut Andreas yang terkena tembak itu mencoba menghentikan darah agar tidak keluar. Bersamaan dengan itu banyak polisi yang datang dan langsung menangkap penjahat itu.


Devan berteriak keras meminta pertolongan tak lama beberapa orang datang.

__ADS_1


" Argh," ringis Andreas kesakitan.


" Bertahanlah Andreas mereka pasti akan menolongmu," ucap Devan dengan tangannya terus menekan luka tembak di perutnya.


__ADS_2