Terpaksa Menikahi Pria Lumpuh

Terpaksa Menikahi Pria Lumpuh
Chapter 13 Orang Asing


__ADS_3

...Happy Reading!...


Jangan lupa follow sebelum baca:)


...^^^***^^^...


Sudah beberapa hari Devan menjalani pekerjaannya di kantor setelah sekian lama ia berhenti bekerja dalam dunia bisnis tapi karena Farhan, ia kembali bekerja dan mengurus semua berkas perusahaan. Namun, siapa sangka kehadiran Devan malah membuat seseorang merasa tersaingi, siapa lagi kalau bukan Dylon. Dylon merasa tersaingi dan tidak suka dengan Devan kembali bekerja di perusahaan itu walaupun semua orang tau kalau perusahaan itu adalah warisan Farhan kepada Devan, tapi Dylon tidak ingin perusahaan itu di ambil alih kepada Devan karena menurutnya orang yang pantas memegang perusahaan itu adalah dirinya bukan Devan.


Devan sedang melakukan pengontrolan dengan klien Singapura dengan Andreas mendorong kursi roda Devan. Di sisi lain Dylon melihat itu dari arah kejauhan, pikiran jahat tiba-tiba terlintas di pikirannya karena merasa iri dengan keberhasilan Devan.


" Terimakasih pak Devan, saya sangat senang bisa bekerja sama dengan Anda," ucap pria yang lebih tua dari nya. Devan tersenyum kecil dan membalas uluran tangan pria itu. " Saya juga terimakasih karna bapak sudah mempercayakan saya untuk menangani bisnis bapak." ucap Devan


Pria itu tersenyum dan bergegas pergi begitu juga dengan Devan. Devan menyuruh Andreas untuk membawanya ke ruangan pribadinya, di ruangan itu Devan menyandarkan tubuhnya ke dinding kursi. Devan mengistirahatkan tubuhnya sejenak, namun entah kenapa tiba-tiba wajah Aisyah muncul di pikirannya sontak hal itu membuat kelopak mata itu kembali terbuka.


[ Ada apa denganmu Devan? kenapa kamu memikirkannya?]


Devan memukul-mukul kepadanya pelan mencoba menghilangkan wajah Aisyah di pikirannya, Andreas yang melihat tingkah tuannya yang begitu aneh merasa bingung. " Tuan apa tuan baik-baik saja?" tanya Andreas khawatir.


" Saya nggak papa," jawab Devan dingin. Andreas mengangguk mengerti.


" Andreas..?"


" Iya tuan?"


" Apa kamu pernah memikirkan seseorang?" tanya Devan yang membuat Andreas memicingkan matanya.


" Saya begitu fokus bekerja mana mungkin saya memikirkan orang lain tuan," jawaban Andreas membuat Devan yang mendengarnya kesal, ternyata ia salah karna berbicara tentang perasaan kepada Andreas.


" Tapi tuan, sebelum saya bekerja bersama tuan. Saya tidak pernah lepas memikirkan seorang wanita yang begitu saya cintai, saya benar-benar berpikir jika saat itu saya gila karna setiap detik dan menit saya selalu memikirkan gadis itu, namun setelah bekerja dengan tuan saya bisa melupakan gadis itu," lanjut Andreas


" Ada apa tuan? Apa tuan sedang memikirkan istri tuan?" Devan tersbetak kaget saat mendengar tebakan Andreas yang benar, namun Devan terlalu gengsi untuk berkarta jujur. Devan mengelak ucapan Andreas dan mengatakan dengan tegas jika dirinya sama sekali tidak memikirkan Aisyah, namun Andreas seorang pria sama seperti Devan jadi dia tau bagaimana perasaan Devan saat ini.


" Tuan tidak salah jika kita jatuh cinta. Saya yakin tuan sudah mulai jatuh cinta kepada Aisyah," ucap Andreas yang mendapatkan sorot mata elang.


" Tau apa kamu tentang saya? Saya tidak mencintainya. Justru saya ingin segera berakhir hubungan ini," timpal Devan

__ADS_1


Andreas terkekeh kecil mendengar ucapan Devan. " Jangan pernah menyesal dengan apa yang sudah tuan lakukan. Sejujurnya seorang wanita memiliki kelemahan, dia akan berhenti berjuang jika merasa perjuangannya tidak pernah di hargai. Jadi, tuan jangan menyia-nyiakan wanita yang benar-benar tulus kepada tuan karna jika sampai dia pergi tuan pasti akan menyesal." ujar Andreas yang mendapat tatapan sinis dari lawan bicaranya


" Apa maksudmu? Sekarang kamu mulai berani menceramahi bos kamu sendiri begitu?"


" Tidak tuan, apa yang aku katakan dan lakukan itu semua demi kebaikan tuan. Saya tidak mau hal yang tidak di inginkan terjadi," ucap Andreas. Devan terdiam mendengar ucapan Andreas, memang semua ucapan Andreas ada benarnya tapi Devan masih belum bisa menyadari kalau sekarang dia sudah mulai memiliki perasaan kepada Aisyah.


***


Keesokan harinya Devan seperti biasa berangkat bekerja bersama Farhan. Dylon selalu menolak berangkat bersama dengan beralasan ada urusan lain, tapi yang benar adalah dia tidak mau berangkat satu mobil dengan Devan.


Linda menyuruh Aisyah untuk mengantarkan makanan untuk makan siang Devan, Farhan dan juga Dylon. Siang hari itu Aisyah pergi ke kantor Devan untuk memberikan makan siang untuk mereka, saat di loby banyak pasang mata yang memperhatikan Aisyah itu karna melihat Aisyah terlihat sangat cantik dan tentu semua karyawan tau kalau Aisyah adalah istri dari sang CEO.


Saat sedang menuju ruangan Devan tiba-tiba dari arah samping Dylon datang dan mendekati Aisyah, refleks hal itu membuat Aisyah tidak nyaman. Aisyah berjalan ke arah lift dengan Dylon yang juga berada di dalam lift, di sana terlihat Dylon yang mencoba mendekati Aisyah dan mengajak ngobrol tapi Aisyah tidak terlalu menanggapi nya, justru Aisyah benar-benar mendiamkan Dylon dan ingin segera keluar dari lift itu.


" Kamu buatkan makanan sebanyak ini untuk Devan?" tanya Dylon yang tidak mendapat respon apapun.


" Sayang sekali, kenapa kamu tidak memberikannya kepadaku? Aisyah kenapa kamu begitu setia kepadanya? Jelas saja ada pria yang lebih baik dari dia tapi kenapa kamu memilihnya?" tanya Dylon menatap wjaah Aisyah. Aisyah membuang nafas sedikit kasar dan beralih menatap Dylon.


" Maaf apa semua ucapanmu penting untuk aku jawab?" Dylon terdiam mendengar ucapan singkat Aisyah.


" Dylon cukup!" Sarkas Aisyah sudah kehabisan kesabaran.


" Apa kamu benar-benar sudah tidak waras Dylon? Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu itu. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa Devan memiliki hati yang baik sehingga dia masih mau menerima kamu di rumahnya," ucap Aisyah kesal


" Baik kamu bilang? Kamu hanyalah wanita asing di hidupnya. Kamu pikir aku tidak tau apa yang terjadi di antara kalian huh?"


" Sepasang suami-istri yang tidur terpisah. Apa kamu pikir kalian adalah pasangan? Bukan Aisyah, orang yang pantas kamu sebut tidak waras itu kamu! Kamu masih bertahan dengan kehidupan mu yang seperti ini? Sadar Aisyah pria yang kau puja-puja bak malaikat itu tidak pernah mencintaimu lalu untuk apa kamu bertahan di rumah itu huh?" Ucapan Dylon berhasil membuat Aisyah terdiam.


" Kau hanyalah menantu tanpa seorang suami. Pria itu tidak pernah menganggapmu istri, apa kau bodoh huh?" Seakan tertampar Aisyah menahan air matanya yang meronta-ronta ingin keluar. Pintu lift itu terbuka lebar, segera mungkin Aisyah pergi dari lift itu meninggalkan Dylon yang tersenyum smrik di sana.


Di sebuah balkon kecil Aisyah termenung memikirkan ucapan Dylon. Semua perkataan Dylon benar-benar membuatnya sakit hati, ini untuk pertama kalinya ada seseorang yang menyadarkan dirinya akan posisi. Aisyah menangis keras di balkon itu, untungnya tidak ada orang satupun di sana sehingga tidak akan ada orang yang tau dan mendengarnya kalau Aisyah sedang menangis.


" Untuk apa aku bertahan? Dylon benar aku hanyalah orang asing. Aku benar-benar orang asing di rumah itu," gumam Aisyah terduduk lemas di sana. Aisyah memeluk lututnya erat dengan isakan demi isakan yang keluar dari bibirnya.


Tiba-tiba ponselnya berdering, Aisyah merogoh ponselnya di tas dan melihat nama Devan tertera memenuhi layar ponsel miliknya. Aisyah mengelap air matanya dan mengatur nafasnya.

__ADS_1


" Iya?"


" Kau dimana? Kamu tau kami sedang kelaparan disini dan itu karna menunggumu," ucap Devan dengan nada sedikit tinggi


" Maaf mas aku segera kesana," Aisyah bergegas pergi keruangan Devan dan benar saja di sana sudah ada Devan, Farhan, Andreas dan juga Dylon.


Tatapan Aisyah dan Dylon bertemu namun hanya beberapa detik saja. Aisyah segera mungkin menghidangkan makanan itu ke piring Devan dan yang lainnya, setelah selesai Aisyah bangku dan hendak pergi tapi tiba-tiba sebuah tangan menahannya refleks Aisyah menoleh ke arah orang itu.


" Mau kemana?" tanya Devan yang 99° berbeda.


" Kalian mau makan aku tidak mau menganggu kalian karna itu aku mau keluar,"


" Duduk!"


" Tapi,"


" Duduk Aisyah," ucap Devan tegas. Aisyah duduk di samping Devan dengan wajahnya yang menunduk tak berani menatap orang di sampingnya. Sedang Dylon yang melihat ekspresi wajah Aisyah tersenyum senang.


" Kamu sudah makan?" tanya Devan dingin. Aisyah menggelengkan kepalanya sebagai jawaban


" Kau ini, kamu datang kesini membawakan makanan untuk kami tapi kamu sendiri belum makan?"


" Aku tidak lapar mas,"


" Bibir kamu yang tidak lapar tapi perut kamu yang bilang lapar," tandas Devan. Devan menggerakkan tangannya dan menyuruh Aisyah untuk membuka mulut sontak hal itu membuat semua orang melongo termasuk Aisyah.


" Buka mulut kamu Aisyah,"


" Tapi mas disini..." Ucap Aisyah mengantung. Devan melirik sekelilingnya dan menyadari kalau ada banyak pasang mata yang sedang memerhatikan nya. " Yasudah makan sendiri!" ucap Devan memberikan sendok miliknya kepada Aisyah.


Farhan dan Andreas menahan tawa saat melihat tingkah Devan berbeda dengan Dylon yang tidak suka dengan apa yang ia lihat. Sedangkan disisi lain Aisyah merasa bingung dengan sikap Devan, apa semua ini adalah tipuannya karna ada Farhan disana?


...**Lanjut?...


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Kalau suka boleh masukan cerita ini ke daftar favorit kalian agar Tidak ketinggalan cerita nya.

__ADS_1


See You Next Time**...


__ADS_2