
...Happy Reading...
......***......
Hari ini Devan mengantar Aisyah ke toko buku. Awalnya Devan menolak tapi dengan paksaan Aisyah akhirnya Devan mau menemani istrinya pergi mencari buku novel kesukaannya, Aisyah memiliki kebiasaan membaca buku Novel. Asiyah sangat menyukai cerita fiksi yang suaminya romantis, tapi sayangnya kisah nyatanya bertolak belakang. Aisyah malah mendapat suami yang dingin, cuek dan acuh tak acuh. Namun, hal itu malah membuat Aisyah semakin memiliki perasaan terhadap suaminya, di balik sikap Devan yang dingin dan acuh tak acuh itu sebenarnya Devan memiliki perhatian yang terselimut.
" Cepatlah Aisyah, saya tidak punya banyak waktu mengantarmu membeli buku itu," pekik Devan yang sudah bosan. Karna hampir setengah jam Aisyah masih memilih-milih buku novel yang akan ia beli.
Aisyah mengambil sebuah novel dengan judul 'My Husband' . Entahlah tapi Aisyah sangat tertarik dengan semua novel yang mengisahkan tentang seorang suami. Menurutnya suami di dalam Novel sangat berbeda dengan suami di dunia nyata, Kharisma dan karakteristik Fiksi dalam Novel ini benar-benar sangat menjiwai.
Devan dan Aisyah kembali ke rumah tepat pukul 13.15. Devan langsung pergi ke dalam kamar di susul Aisyah di belakangnya, Aisyah menyimpan buku novel itu di atas meja dan bergegas membersihkan tubuhnya karna merasa lengket.
Disisi lain Devan merasa penasaran dengan Novel yang Aisyah beli. Devan mengambil novel itu dan sedikit memicingkan matanya saat membaca judul novel itu.
" Untuk apa dia membeli buku ini? Apa dia mau mencari tau tentang bagaimana menjadi istri yang baik untuk suaminya?" Gumam Devan sedikit menyungingkan senyuman. Tak lama pintu kamar mandi terbuka, cepat-cepat Devan menaruh Novel itu di atas meja dan bersikap seakan tidak terjadi apa-apa. Rambut hitam panjang terurai itu benar-benar sangat indah di tambah wajah cantik Aisyah. Aisyah sudah terbiasa melepas kerudung nya saat ia hanya berdua dengan Devan, apalagi Devan yang menyuruhnya langsung untuk Aisyah melepas kerudung ketika hanya sedang berdua.
" Mas mau minum teh?" tawar Aisyah.
[Huh apa ini? Apa ini trik pertama dia dalam menjadi istri yang baik?] batin Devan.
" Tidak!" jawab Devan singkat, padat dan jelas.
Aisyah mengangguk mengerti dan naik ke atas ranjang. Aisyah mengambil Novel itu dan membacanya, di atas sofa empuk itu Devan tak henti-hentinya curi-curi pandang. Aisyah tidak buta jadi dia tau kalau sedari tadi suaminya terus curi-curi pandang kepadanya.
" Mas butuh sesuatu? Aku lihat dari tadi Mas curi-curi pandang melihatku. Katakan saja,"
__ADS_1
" Apa maksud mu? Ternyata kamu sangat kepedean siapa juga yang liatin kamu. Dan apa itu tadi curi-curi pandang, kata dari mana itu? Perkataanmu benar-benar sangat aneh jika membaca novel- Novel itu," Ucap Devan dan bergegas pergi meninggalkan kamar.
Aisyah hanya diam dan melanjutkan aktivitas baca Novelnya.
Disisi lain Devan terus mengumpat istrinya Aisyah, Aisyah benar-benar tidak tau apa kesalahannya sehingga suaminya terus mengumpat dirinya. Devan mencoba menggerakkan kursi rodanya yang tersangkut, biasanya Aisyah yang selalu membantu nya tapi sekarang Aisyah sedang tidak disisinya membuat Devan kesulitan menggerakkan kursi rodanya.
" Apa ada yang butuh bantuan?" Suara yang sangat familiar dan mungkin akan membuat darah tinggi. Siapa lagi kalau bukan Dylon.
Devan menghiraukan kehadiran dan ucapan sepupunya dan mencoba menggerakkan kursi rodanya yang tersangkut. Dylon membuang nafas jengah dan langsung membantu kursi roda Devan yang tersangkut. " Ayolah kak, jangan seperti bisa melakukan sesuatu. Sadar saja kaki kakak sedang lumpuh dan itu artinya tidak bisa berjalan bahkan bergerak pun tidak bisa, jadi apa salahnya tinggal berteriak meminta bantuan."
Kalau bukan karena orang tuanya, sudah lama Devan menendang dan mengusir Dylon dari rumahnya, tapi karena ayah yang melarangnya terpaksa Devan menahan semua amarahnya.
" Kak..."
" Jangan panggil saya kak! Saya bukan kakak kamu," Tandas Devan menyorotkan mata elangnya itu. " Uhh kakak kenapa kamu sangat marah? Bukannya kakak seharusnya berterima kasih kepadaku karena aku istrimu tidak di goda oleh om-om tukang pasar itu."
" Huh kamu sangat beruntung kak karena mendapat istri cantik, Sholeh dan pintar seperti Aisyah. Tapi, tunggu apa Aisyah beruntung mendapatkan suami seperti kakak?"
" Dylon tutup mulutmu!" teriak Aisyah yang berhasil membuat dua pria itu menoleh ke arah suara. Aisyah mendekati Devan dan Dylon dengan tatapan maut tertuju pada Dylon. " Apa ini sikapmu kepada orang yang lebih tua darimu huh?"
" Oh Aisyah sejak kapan kamu ada disana,"
" Jangan menganti topik Dylon. Aku benar-benar tidak habis pikir, ada ya orang seperti kamu. Kamu tidak sepantasnya mengatakan hal itu, tapi jika kamu bertanya aku beruntung atau tidak. Jelas aku sangat beruntung karna mendapatkan suami setampan, sepintar dan sebaik dia!" Tangkas Aisyah
Dylon sedikit tersentak, tapi tidak dengan Devan. Devan memang menyukai ucapan Aisyah, tapi kembali pada dirinya Devan tidak suka ada orang yang membelanya apalagi Devan masih marah tentang Aisyah yang di goda pria tapi dia tidak memberitahunya sedikitpun. Aisyah mendorong kursi roda Devan dan membawanya ke dalam kamar meninggalkan Dylon yang sedang kesal dengan ucapan Aisyah yang selalu membela Devan.
__ADS_1
Di dalam kamar Aisyah membantu Devan ke ranjang. Devan menyandarkan tubuhnya ke dinding ranjang. " Kamu nggak papa? Kenapa kamu tidak memanggil ku kalau kamu sedang kesulitan." ucap Aisyah khawatir
" Kenapa kamu tidak bilang kalau ada orang yang menggodamu?" Aisyah sedikit memincingkan matanya. " Saya suamimu, saya berhak tau apa yang terjadi kepadamu. Kenapa kamu tidak memberitahu saya? dan malah orang lain yang lebih tau tentangmu,"
" Apa maksud kamu mas?"
" Apa yang dilakukan Dylon saat pria-pria pasar itu menggodamu?" tanya Devan serius. Aisyah sedikit bernafas ternyata soal itu. " Dylon hanya mengatakan kalau dia pasangan aku itu aja."
" Itu saja?"
" Kenapa kamu tidak mengelak kalau pria itu bukan pasangan kamu? Seharusnya kamu mengelak dan bilang jika aku suamimu. Kenapa kamu sangat polos seperti ini? Apa kamu tau Dylon akan terus melakukan hal itu kepadamu,"
" Mas aku..."
" Sudahlah saya capek berdebat sama kamu,"
Aisyah membuang nafas berat dan meraih tangan Devan dan menggenggamnya. " Aku minta maaf, kamu benar. Seharusnya aku tidak membiarkan pria itu mengisi identitas mu sebagai suamiku."
" Tapi disini aku bisa rasakan keanehan dari sikap kamu. Apa kamu cemburu hm?" Goda Aisyah. Terlihat wajah Devan yang seketika gugup dan salting. " Apa maksudmu? Saya tidak pernah mencintaimu lalu untuk apa aku cemburu?"
" Saya hanya tidak terima dengan pria itu lakukan. Jika dia melakukan ini maka dia akan semakin keras dan bertingkah!" elak Devan yang hanya di senyumi Aisyah.
Benar atau tidak, Aisyah hanya merasa senang karna semakin hari sikap Devan semakin baik kepadanya.
......****......
__ADS_1
...Lanjut?...