
...Happy Reading...
Aisyah bergegas pergi ke dalam kamar. Perkataan Dylon tadi benar-benar membuat Aisyah kesal dan marah, karna berani sekali dia menjelekkan suaminya sendiri dan bahkan mengatakan hal buruk tentang keadaan suaminya. Aisyah menarik nafas dan membuangnya pelan, netranya kini mencari sosok pria di sana namun tak ada tanda-tanda ada keberadaannya.
" Dia udah bangun?" gumam Aisyah
Aisyah merapihkan selimut dan bantal yang Devan gunakan untuk tidur dan merapihkan kembali di ranjangnya.
Ceklek...
Suara pintu terbuka berhasil mengalihkan perhatian Aisyah. Seorang pria tampan yang duduk di kursi roda itu benar-benar membuat perhatian Aisyah teralihkan, Devan berjalan ke arah al lemari untuk mengambil pakaian kantornya. Aisyah yang peka langsung membantu Devan mengambilkan bajunya. " Ini mas, aku udah siapin baju kamu." ucap Aisyah sembari menyodorkan baju milik Devan.
Devan mengambil baju itu dan bergegas memakainya. Setelah selesai Devan dan Aisyah bergabung di meja makan untuk sarapan pagi. " Alhamdulillah sekarang kita bisa sarapan bareng lagi." gumam Linda bahagia karna Aisyah dapat bergabung lagi
" Kamu tau Aisyah? Saat nggak ada kamu. Semuanya tampak hening dan kak Devan pun terlihat nggak semangat," goda Nabila dengan ujung matanya melirik Devan.
" Apaan sih,"
"Tapi benarkan? Saat Aisyah kritis di rumah sakit orang yang paling terlihat khawatir adalah kakak. Cie, yang mulai cinta," goda Nabila lagi. Aisyah yang mendengar itu hanya tersenyum tipis berbeda dengan Dylon yang hanya diam dengan di dalamnya penuh kekesalan.
" Nabila sekali lagi kamu bicara saya tidak akan memberikan uang jajan selama sebulan," ancam Devan
" Yah kok gitu sih..."
" Udah, nggak baik ribut-ribut di depan makanan. Lagian kenapa kamu harus marah? apa yang dikatakan Nabila itu benar kamu suaminya dan itu pasti kamu adalah orang yang pertama mengkhawatirkan istri kamu," sergah Linda.
Tatapan Aisyah dan Devan kembali bertemu namun hanya beberapa saat sebelum Dylon bangkit meninggalkan meja makan, tanpa mereka sadari Devan menyunggingkan senyumannya.
***
Devan dan Andreas berangkat menggunakan mobil pribadinya. Hari ini Devan dan Andreas tidak langsung ke kantor karna harus bertemu dengan klien di tempat lain, Andreas bukan hanya bodyguard melainkan sudah Devan anggap kakaknya sendiri karna umur yang terbilang lebih jauh dari nya (beda dua tahun). Jadi, sudah tidak aneh jika semua yang di lakukan Devan dapat di ketahui oleh Andreas.
" Tuan...,"
" Apa?"
" Kenapa tuan tidak memberitahu Ny. Aisyah kalau tuan yang sudah membawanya ke rumah sakit dan tentang kaki tuan...?" tanya Andreas penasaran
" Jika saya mengatakannya maka saya akan kehilangan segalanya," jawab Devan jelas namun Andreas tidak mengerti dengan ucapan Devan. " Kehilangan?" ucap Andreas mengulang ucapan Devan.
" Kamu tau sebuah janji yang harus di tepati? Jika saja sebuah janji itu tidak kamu inginkan dan tetap harus di tepati? apa yang harus kamu lakukan?"
" Saya tidak akan pernah membiarkannya terjadi, " jawab Andreas
__ADS_1
" Itulah yang saya lakukan sekarang,"
Andreas terdiam dengan tatapannya fokus menyetir. Namun, tetap saja pikirannya terus memikirkan perkataan Devan. " Janji apa yang sudah mereka buat?" gumam Andreas dalam hati.
****
Di tempat lain Aisyah yang tengah sibuk membereskan rumah dapat telpon dari rumah sakit kalau keadaan Risma semakin memburuk sontak hal itu membuat Aisyah terkejut dan bergegas pergi. Sesampainya di rumah sakit Aisyah langsung pergi ke ruangan ICU, dari arah kejauhan terlihat beberapa orang suster dan dokter serta Sinta dan Diana. Aisyah mendekati mereka dan menangis saat melihat kondisi sang ayah. " Papah, kenapa bisa seperti ini?" tangis Aisyah
Diana menarik Aisyah kasar dan menjauhkannya dari Risman. " Mau apa kamu kesini huh?"
" Diana apa yang terjadi?"
" Kamu masih bertanya apa yang terjadi? Lihat karna kamu papah menjadi seperti ini. Aku tidak akan pernah memafkanmu kalau sampai papah kenapa-kenapa," ancam Diana
Suster dan dokter itu membawa Risman masuk ke ruangan ICU. Sorotan tajam mengarah kepada Aisyah, Sinta mendekati Aisyah mendorong tubuh Aisyah kasar hingga terjatuh ke lantai. " Kamu puas huh? Sekarang lihat. Ayahmu sedang sekarat di rumah sakit dan itu karna mu, kamu memang benalu di sini kamu tidak pantas hidup Aisyah!" teriakan demi teriakan Sinta memenuhi rumah sakit.
" Kamu harus bertanggungjawab Aisyah kamu harus tangung jawab atas semua ini, " teriak Sinta sembari menarik-narik baju Aisyah kasar. Aisyah menepis tangan Sinta kasar dan menatap wajah Sinta penuh amarah.
" Apa salahku huh? Aku juga sama seperti kalian. Pria yang ada di dalam adalah ayahku dan aku anak kandungnya, tapi kenapa kalian terus menyalahi ku seakan ini semua salahku. Kalian semua tidak berhak menyalahkan ku, disini yang seharusnya di salahkan itu kalian bukan aku. Jika saja kalian tidak pernah menggunakan uang papah untuk hal yang tidak berguna mungkin ayah tidak akan pernah meminjam uang ke reternir,"
" Oh jadi sekarang kamu sudah berani menyalahkan kami yang jelas itu salah kamu. Dan lihatlah seorang gadis yang berkata menyayangi seorang ibu tapi sekarang? Cih, munafik," desis Diana
" Dia memang bukan ibuku tapi aku menghormati dia sebagai seorang ibu. Tapi, apa yang aku dapatkan darinya? Sebuah penghinaan, andai aku tau sejak dulu mungkin aku tidak akan pernah membiarkan kalian menguasai rumah dan ayahku. Ayahku berubah itu karna kalian, dan sekarang ayahku sakit itu karna kalian," Tandas Aisyah yang berhasil membuat Diana tersentak kaget. Sinta menarik lengan Aisyah kasar dan...
Satu tamparan keras mendarat di wajah Aisyah." lancang sekali kamu mengatakan hal itu kepada kami. Jika ayah mu tau perubahan gadis kesayangannya seperti ini mungkin dia tidak akan pernah mengangap mu sebagai putrinya."
" Kita lihat saja nanti siapa yang akan ayah pilih istri dan anak tirinya atau putri kandungnya," Tangan Diana mengepal seakan siap untuk ia layangkan ke wajah Aisyah, namun cepat-cepat ia urungkan saat kala seorang suster keluar dari ruang ICU.
" Suster bagaimana keadaannya?" tanya Aisyah khawatir
" Keadaan pasien masih kritis kalian berdoa saja agar pasien cepat melewati masa kritisnya," jawab suster itu membuat Aisyah kembali melemas.
Sedangkan di tempat lain Devan mendapat kabar dari Linda kalau Aisyah pergi ke rumah sakit karna kondisi Risman yang semakin parah. Cepat-cepat Devan menyelesaikannya pertemuannya dan bergegas pergi ke rumah sakit, sesampainya di rumah sakit Devan melihat Aisyah yang duduk di kursi tunggu dengan wajahnya yang pucat. Devan mendekati Aisyah dan terkejut saat tiba-tiba Aisyah memeluknya erat. " Mas aku sangat takut, papah masih di dalam. Aku nggak mau papah kenapa-kenapa." ucap Aisyah lirih
Devan mengelus punggung Aisyah lembut. " Tenanglah dia pasti baik-baik saja." ucap Devan lembut.
Aisyah melepas pelukannya dan meminta maaf atas perlakuannya yang tiba-tiba. " Sudah berapa lama om Risman di dalam?" tanya Devan
" Sudah hampir 2 jam,"
" Kamu sudah makan?" tanya Devan yang mendapat gelengan dari sang empu
" Kau ini baru saja sembuh dan sekarang membiarkan perutmu kosong?" ucap Devan dengan nada sedikit tinggi
__ADS_1
" Aku tidak peduli,"
" Tapi saya ped..." ucapan Devan menggantung
" ?? "
" Lupakan. Andreas..?"
" Iya tuan?"
" Belikan makanan dan minuman untuk Aisyah,"
" Baik tuan," Andreas bergegas pergi meninggalkan dua insan itu. Setelah kepergian Andreas Devan masih sempat-sempatnya menatap Aisyah terlihat wajah Aisyah yang cemas. Tak lama seorang dokter keluar Aisyah bangku dari kursi dan bergegas menghampiri dokter itu.
"Dokter bagaimana keadaannya?" tanya Aisyah
" Keadaan Pak Risman masih belum stabil. Tapi kami sudah melakukan semaksimal mungkin, kalian berdoa saja agar Pak Risman baik-baik saja," Aisyah membuang nafas berat dapat Devan lihat kesedihan yang Aisyah rasakan saat ini. Dokter itu kembali masuk ke dalam tak lama Diana dan Sinta datang.
" Ternyata ada tamu." seru Diana
" Jadi sekarang kamu mulai mengadu dan membawa suami kamu Aisyah? Huh... Sangat tidak mandiri," Ledek Diana berhasil memancing emosi Devan
" Maaf nona, coba katakan apa yang tadi anda ucapkan. Tidak mandiri? menurut saya orang yang tidak mandiri itu anda, istri saya sudah cukup dewasa dan sempurna. Dia bisa berpikir kritis dan tidak membebankan orang tuanya justru sebaliknya kakak tirinya lah yang tidak mandiri yang hanya mengandalkan uang ayah tirinya," Semua orang tersentak kaget mendengar ucapan Devan.
" Maksud kamu apa?"
" Anda masih belum mengerti? Huh pantas saja Aisyah lebih pintar dari anda karna IQ anda terlalu rendah," celetuk Devan kembali membuat semua orang tersentak.
" Oh bukannya kamu wanita yang pak Risman piihkan untuk menjadi Istri saya? Huh saya sangat bersyukur karna kamu tidak menjadi istri saya," lanjut Devan
" Kau....? Memangnya aku mau menikah dengan pria lumpuh seperti kamu. Aku tidak sudi punya suami lumpuh kaya kamu, kamu benar kamu memang tidak pantas untukku. Kamu memang tampan tapi sayangnya kamu tidak bisa jalan dan kamu sangat cocok dengan Aisyah,"
" Diana cukup!" Teriak Aisyah
" Kamu boleh hina aku tapi jangan pernah berani menghina suamiku," Tandas Aisyah yang berhasil membuat Diana terkejut dan tertawa hambar
" Owhh sudah mulai berani berteriak di hadapan pria lumpuh ini? Wow... Kalian benar-benar pasangan yang serasi," Aisyah yang benar-benar sudah kehabisan kesabaran rasanya ingin mencabak rambut Diana namun aksinya terhenti saat kala Devan memegang tangannya. Devan memberikan kode untuk Aisyah berhenti karna percuma saja melawan orang yang bukan manusia.
Beberapa menit kemudian Andreas datang dengan membawa makanan dan minuman untuk Aisyah. Netra Diana jatuh saat kala dua pria yang melayani Aisyah dengan sangat baik, tidak seperti dirinya dari dulu tidak ada yang memperlakukan dirinya layaknya perempuan mereka hanya menginginkan tubuhnya bukan karna cinta.
......**Part Next>......
Jangan lupa like, komen, follow and vote makasih😊**
__ADS_1