
Setelah penembakan itu Andreas segera di larikan ke rumah sakit sedangkan Devan masih di dalam perusahaan untuk membantu para polisi menangkap penjahat itu
" Pak kami pasti sangat membutuhkan saksi anda," ucap pak polisi itu
" Saya akan pergi ke kantor polisi tapi setelah saya memastikan semuanya baik-baik saja,"
" Baik pak, kalau begitu kami permisi," Semua polisi itu pergi dengan membawa para penjahat itu.
Di luar sana Aisyah masih mengkhawatirkan Devan yang tak kunjung keluar. Bahkan ia sempat bersikeras masuk namun para petugas itu malah melarangnya, tak lama dari pintu besar itu seorang pria berkemeja putih yang sudah kotor karna di penuhi darah dan wajahnya yang penuh dengan luka.
Aisyah termenung saat melihat siapa yang ia lihat sekarang. " Mas Devan." Aisyah menerobos batas itu dan berlari menghampiri Devan.
Aisyah memeluk tubuh itu erat sangat erat bahkan rasa sakit di tubuh kekar itu kembali berdenyut saat kala Aisyah memeluknya.
" Aku sangat mengkhawatirkan mu, " tangis Aisyah pecah di pelukan suaminya. Aisyah benar-benar bisa bernafas lega setelah melihat suaminya, walaupun banyak luka di tubuh itu tapi setidaknya Tuhan masih memberi kesempatan untuk mereka bertemu.
" Sayang aku nggak papa. Don't worry,"
Aisyah melepas pelukannya dan memukul lengan Devan keras membuat sang empu meringis kesakitan. " Aduh sayang kenapa kamu memukul ku?"
" Apa yang sudah terjadi dan luka di tubuhmu kamu masih bilang nggak papa?" cetus Aisyah kesal dengan semua kebohongan suaminya.
Tangan satu Devan menangkup wajah Aisyah. " Maafkan aku karna sudah membuatmu khawatir."
" Sekarang yang terpenting aku baik-baik saja. Dan aku bahagia karna saat ini aku masih bisa melihat wajah cantik mu,"
Aisyah menangis keras bisa-bisanya Devan menggobal di saat seperti ini. Senyuman kecil terukir di bibir sedikit tebal itu Devan menarik tubuh istrinya dan memeluknya erat, jika boleh jujur saat di dalam sana Devansudah berpikir yang tidak-tidak, yang ia takutkan adalah ia tidak bisa lagi bertemu dengan Aisyah wanita yang sudah benar-benar ia cintai.
Semua karyawan di evaluasi yang terluka parah langsung di larikan ke rumah sakit begitu juga dengan Devan. Walaupun tidak terlalu parah tapi luka di tubuh Devan harus segera di tanggani karna itu bisa mengakibatkan infeksi.
Di ruang operasi itu sampai detik ini belum ada kabar dari dokter yang menangani Andreas, bahkan tanpa pria itu sadari ada seseorang yang setia menjaganya dari luar. Jeslyn mundar-mandir di depan pintu itu tak karuan, perasaan khawatir itu terus terbalut di hatinya.
Tak lama lampu on di atas pintu itu mati, sudah menandakan kalau operasi berjalan dengan lancar. Pintu terbuka menampilkan seorang dokter pria berjas putih keluar. " Pak bagaimana keadaannya?"
" Dia sempat kehilangan darah dan untungnya kami memiliki stok darah pasien sehingga pasien dapat melewati masa kritisnya, " tutur dokter itu. Jeslyn membuang ngas panjang, Jeslyn benar-benar bernafas lega mendapat kabar baik itu.
" Dokter apa aku boleh menjengguknya?"
" Tentu saja, tapi setelah kami memindahkan nya ke ruang rawat," ujar dokter itu dan berlalu pergi.
Selain itu, di sebuah ruangan bernuansa putih terlihat pria yang terlihat sehat itu terbaring lemas di atas ranjang. Ini untuk kesekian kalinya Devan merasakan bagaimana rasanya tidur di atas ranjang yang sempit itu, karna itu Devan tidak suka berada di dalam rumah sakit karna menurutnya rumah sakit itu membosankan dan sangat bau.
Namun, semua rasa itu hilang karna sekarang ada istri cantik yang menjaganya. Devan tak henti-hentinya menatap Aisyah, ia tidak pernah berpikir kalau ia masih bisa memandangi wajah cantik itu sekarang.
" Kenapa kamu menatapku seperti itu?" ucap Aisyah saat mata elang itu tidak berkedip menatapnya.
" Aku sangat merindukanmu,"
" Rindu?" Devan mengangguk pelan." Bukan kah hanya 10 jam kita berpisah dan kamu sudah merindukanku?"
__ADS_1
" Yes baby I really missing you,"
" Pikiranku tidak bisa berhenti memikirkan mu. Senyuman mu benar-benar menarikku untuk selalu mengingatmu, lalu apa kamu juga merindukan ku?" tanya Devan dengan wajahnya yang polos.
" Aku juga merindukan mu," jawab Aisyah dengan senyuman kecil
" Benarkah? Aku masih belum percaya,"
" Jadi kamu meragukanku?"
" Eum, tapi jika kamu membuktikannya mungkin aku akan percaya,"
" Bagaimana cara aku membuktikannya?"
" Ciuman!" Satu kata keluar dari bibir yang sedikit tebal itu. Aisyah mengembangkan senyumannya malu dapat Devan lihat pipi Aisyah yang merah merona karna menahan malu.
" Kenapa wajahmu merah sayang? apa kamu malu?" Aisyah sedikit tersentak refleks kedua tangannya memegang wajahnya, Devan yang melihat itu hanya tertawa kecil melihat istrinya yang benar-benar terlihat sangat imut.
" Kamu sangat imut sayang, cepatlah kesini. Aku sangat merindukanmu," rengek Devan. Pria dingin 15 pintu itu bisa mencir hanya pada wanita yang ia cintai dan itu istrinya. Bahkan dulu saat Devan masih menjalin cinta dengan wanita yang dulu meninggalkan nya sikap manja dan fosesifnya tidak seperti sekarang.
" Baiklah tapi janji, setelah itu kamu harus istirahat,"
" Iya janji," promise Devan sembari mengangkat jari kelingking nya. Aisyah mendekatkan wajahnya dan mengecup benda kenyal itu lama, saat hendak menjauh tiba-tiba tangan Devan menahan tengkuk lehernya membuat pangutan itu semakin dalam.
Bukan hanya sebuah kecupan kini kecupan itu menjadi sebuah *******. lidah tak bertulang itu mengisap luar semua yang ada di mulut Aisyah, ciuman yang sudah cukup lama itu membuat Aisyah mengakhiri nya dan menyuruh Devan untuk istirahat.
*
Saat melihat pergerakan di tubuh itu dengan cepat Andreas menarik tangannya. Jeslyn mengedip kan matanya berulang kali menyesuaikannya dengan cahaya lampu, Jeslyn sedikit terkejut saat melihat Andreas yang sudah bisa membuka matanya dan sekarang pria itu sedang menatapnya.
" Pak Andreas sudah siuman? Apa yang sakit? apa perlu aku panggilkan dokter atau.."
" Saya nggak papa," seloroh Andreas tanpa menunggu Jeslyn menyelesaikan ucapnya.
Kini keduanya jadi canggung, Jeslyn hanya diam tidak bergeming bahkan ia tidak berani menatap pemilik mata elang itu. " Kenapa kamu bisa ada disini?" Satu pertanyaan itu berhasil memecah keheningan. Jeslyn sedikit mendongak menatap lawan bicaranya.
" A_aku melihat berita kalau perusahaan pak Devan sedang dalam masalah. Karna itu aku datang kesini,"
" Benarkah? Apa bukan karna hal lain?" tanyanya lagi dengan wajahnya yang tidak memperlihatkan ekspresi apapun. Jeslyn kembali di buat gugup.
" A_aku..."
" Dan ya, kenapa kamu sendiri. Dimana pria yang selalu bersamamu?" Jeslyn sedikit memincingkan matanya tidak mengerti. " Pria? Pria mana maksud bapak?"
Andreas sedikit membuang nafas jengah, ia benar-benar tidak sudi menyebut namanya apalagi mengingat wajah ingusan itu. Semua rasa aneh itu terus terbalut dalam dirinya saat Leo tak henti-hentinya mencoba mendekati Jeslyn dan menjauhkan Jeslyn darinya.
" Bocah ingusan itu siapa lagi," tandas Andreas
" Maksud kamu Leo?" tanya Jeslyn meyakinkan namun hanya mendapat deheman kecil dari sang empu.
__ADS_1
" Kenapa apa kamu cemburu?"
" Apa cemburu? Tidak saya tidak cemburu. Saya hanya... hanya tidak suka kepadanya," pekik Andreas sedikit terjeda. Jeslyn yang mendengar itu hanya terkekeh kecil.
" Kenapa kamu tertawa apa ada yang lucu?"
Jeslyn menggelengkan kepalanya dengan tawanya yang tertahan. Devan yang melihat itu hanya mendelik kesal dan sedikit meringis saat rasa denyut di perutnya kembali muncul mungkin itu karna efek operasi yang belum kering.
" Sebaiknya kamu pulang di sini tidak ada tempat tidur untuk mu. Jadi pulanglah sepertinya kamu masih mengantuk," ucap Andreas dingin dengan perhatiannya fokus ke memegang perutnya.
" Aku sangat mengkhawatirkan mu,"
Degh
Dapat Andreas dengar lirihan di bibir itu. Andreas mengangkat wajahnya menatap gadis di depannya.
" Saat aku tau kalau kamu juga ada di dalam sana. Tiba-tiba pikiranku terus tertuju padamu, bahkan yang membawaku kesini itu kamu pak. Bodoh bukan? Yah aku memang bodoh karna tidak bisa melupakanmu, aku pergi jauh agar aku bisa melupakanmu tapi kamu... Kenapa kamu malah datang?" Andreas tidak pernah memalingkan wajahnya ke arah lain. Netranya hanya tertuju pada gadis di depannya yang sedang berbicara.
Andreas meraih tangan Jeslyn dan mengengamnya sontak hal itu membuat Jeslyn terkejut. " Jangan mengkhawatirkan saya. Saya baik-baik saja."
" Kamu tertembak mana mungkin kamu baik-baik saja,"
" Rasa sakit ini tidak seberapa di banding dengan rasa sakit saat kamu membentak saya di hadapan bocah itu,"
Ingatan Jeslyn kembali mengingat saat ia membentak Andreas karna terus bertengkar dengan Leo. Tapi ini bukan murni kesalahannya, tapi bagaimana pun juga Andreas adalah pria terhormat, kehormatan nya akan turun jika tau kalau ia di bentak di hadapan orang apalagi bocah ingusan itu.
" M_maafkan aku, aku benar-benar tidak bermaksud membentakmu. Saat itu aku terbawa emosi karna kalian terus bertengkar, maafkan aku,"
Tangan mereka masih berpegangan yah.
" Seharusnya saya juga minta maaf. Karna sudah menyakiti perasaan mu, tapi Jeslyn kamu benar tidak salah jika saya membuka hati saya untuk orang lain,"
" Setelah bertemu kamu, saya memang tidak menyukaimu tapi seiring berjalannya waktu. Kehadiranmu membuatku sadar kalau masa lalu tidak bisa di ulang kembali, mulai sekarang saya akan belajar memahamimu,"
Jeslyn termenung ia masih belum mengerti dengan ucapan Andreas.
" Jeslyn saya ingin lebih memahamimu dan belajar untuk mencintaimu. Apa kamu mau?"
Degup jantung itu berdegup sangat cepat, desiran aliran di tubuh itu seperti sengatan listrik. Jeslyn terkejut mendengar semua ucapan Andreas, rasanya seperti mimpi namun nyata. Kata manis itu keluar dari bibir Andreas, walau tidak sepenuhnya cinta tapi tetap saja pria itu ada kemauan dan berusaha untuk mencintainya.
Andreas terkejut saat melihat Jeslyn yang tiba-tiba menangis. " Jeslyn kenapa kamu menangis?"
" Apa aku sedang mimpi? Jika ia aku tidak ingin bangun," tangisnya. Andreas yang melihat itu hanya tersenyum kecil.
" Kamu sedang tidak bermimpi Jeslyn, saya benar-benar serius mengatakan ini. Bantu aku memahamimu Jeslyn, apa kamu juga mau memahami saya?" tanya Andreas serius.
Terlihat Jeslyn yang gugup, ia tidak tau ini benar atau salah. Tapi yang pasti ia akan melewati apapun itu nantinya. " A_aku mau pak." jawab Jeslyn dengan nada yang sedikit tertahan. Sudut bibir itu terangkat menampakan senyuman manis di bibir itu.
Ini bukan akhir tapi awal, Jeslyn tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya. apa ia akan merasakan sakit, kecewa atau bahagia yang pasti mulai sekarang ia akan belajar memahami Andreas begitu juga membuat pria itu benar-benar mencintainya.
__ADS_1
Lanjut or no?
...^^^Next time^^^...