
Di sebuah kota pesisir terlihat seorang gadis cantik yang sedang menatap pemandangan pantai di depannya. Angin yang tidak terlalu kenyang dan pemandangan ombak itu membuat ketenangan bagi Jeslyn, sejak pergi dari kota Jakarta Jeslyn berniat melupakan Andreas namun semakin ia melupakan nya ia malah semakin memikirkan nya.
Haish ingin sekali ia menghilang dan melupakan apa yang sudah terjadi. Ini untuk kali pertamanya ada pria yang menolaknya terang-terangan, bahkan Jeslyn tidak pernah berpikir akan mencintai pria cuek dan dingin 12 pintu itu.
Sudah merasa tenang Jeslyn bergegas pergi ke rumah ibunya dengan menaiki sepeda miliknya. Dari dulu hingga sekarang Jeslyn selalu menggunakan sepeda pemberian ibunya kemanapun ia akan pergi, baginya sepeda itu tidak ada nilai harganya dari apapun.
Sesampainya di perkarangan rumah Jeslyn mempakirkan nya di depan rumah dan bergegas masuk. Rasa haus di tenggorakan nya membuat ia berjalan ke kulkas dan mengambil minuman dingin di kulkas itu.
" Ahhh rasanya segar," gumam Jeslyn saat merasakan rasa sejuk di tenggorakan nya.
" Ternyata kau tidak pernah berubah,"
" Ommo!" latah Jeslyn terkejut saat tiba-tiba mendengar suara bariton.
Jeslyn membelalakan matanya saat melihat keberadaan Andreas yang tersenyum kepadanya. " Astaga apa ini? apa sekarang aku sedang berhalusinasi? Haish kenapa aku terus memikirkan nya. Dan sekarang aku bisa melihat wajahnya disini, haish aku bisa gila kalau gini." gumam Jeslyn sembari memukul-mukul wajahnya.
Andreas terkekeh kecil dan berjalan mendekati Jeslyn.
" Jadi selama ini kamu memikirkan saya juga Jeslyn?"
Degh
Degup jantung Jeslyn berdegup sangat cepat. Harum parfum maskulin itu benar-benar menyadarkan Jeslyn kalau ia sedang tidak berhalusinasi.
" Apa aku sedang tidak berhalusinasi?"
Andreas tersenyum dan mencubit pipi Jeslyn sontak hal itu membuat sang empu terkejut.
" Apa Sakit?" tanya Andreas lembut. Jeslyn yang tersadar langsung menjauh dari Andreas dan hal itu membuat Andreas memincingkan matanya bingung.
" K_kenapa bapak ada disini?" tnya Jeslyn gugup
" Jeslyn saya minta maaf seharusnya saya tidak mengatakan hal itu padamu. Kamu tau jika dulu aku pernah di tinggalkan menikah oleh wanita yang saya sukai, sejak itu saya tidak pernah menjalin hubungan dengan siapun,"
" Dan jujur saja saya tidak pernah memiliki niatan untuk menyakitimu bahkan untuk membuatmu memiliki perasaan kepadaku. Tapi, setelah mendengar semua ucapan Devan dan kepergianmu membuat aku sadar kalau sebenarnya aku masih belum bisa melupakan saat dia menyakitiku, " ucap Andreas menyesal. Jeslyn sedikit mengangkat bibirnya ia tau jika pritu itu menyesal tapi itu bukan salahnya, keadaanlah yang membuatnya melakukan hal itu.
__ADS_1
" Kamu tidak perlu minta maaf, seharusnya aku yang minta maaf. Aku tau kehadiran ku malah membuatmu risih, aku benar-benar minta maaf,"
" Apa itu artinya kamu memaafkan ku?"
" Tidak ada yang perlu di maafkan. Kamu memang tidak salah apapun,"
" Huft! Jika tidak bisa menjadi pasangan teman juga bisa kan?" seru Jeslyn dengan senyumannya
Namun, terlihat perubahan drastis dari wajah tampan itu. Jeslyn pergi ke dapur untuk membuatkan Andreas teh, namun di sisi lain Andreas masih belum mengerti tentang kata teman yang Jeslyn ucapkan.
Andreas mengikuti Jeslyn ke dapur untuk mengklarifikasi maksud ucapannya. Bukankah ia mencintainya tapi kenapa dia malah menjadikan status nya menjadi teman, jauh-jauh dia datang dari Jakarta ke kota pesisir itu untuk memperbaiki segalanya dan menjadikan hubungan itu menjadi serius tapi tiba-tiba dia mengatakan itu? Lalu untuk apa ia datang ke pesisir itu jika hubungan itu tetap menjadi teman.
" Jeslyn apa maksud ucapanmu tadi?" tanya Andreas
" Kamu belum bisa melupakan masa lalumu, jadi sekarang aku akan membantumu melupakan nya dengan sebagai teman. Sekarang aku sadar aku tidak ingin berharap lebih kepadamu, aku tau kamu tidak suka di kejar dan di dekati oleh wanita seperti ku,"
" Karna itu aku tidak ingin terlalu mendekati mu yang membuatmu malah semakin ilfil kepadaku. Berada di dekatmu hanya sebatas temanmu pun aku sudah bahagia," Andreas sedikit tersentak mendengar ucapan Jeslyn.
" Jeslyn kamu tau aku datang kesini karna apa?" tanya Andreas menatap manik drak itu serius
" Aku tau, itu pasti karna Aisyah kan?"
" Jeslyn bukan karna Aisyah. Justru aku datang kesini karna aku..."
" Jeslyn kau dimana?" panggil seseorang dari luar.
" Ini teh kamu, aku keluar dulu," Jeslyn memberikan secangkir teh pada Andreas dan bergegas pergi.
Di luar terlihat seorang pria manis yang sedang menunggu di sana. " Leo?"
" Hai?!"
" Kamu disini?"
" Ya aku baru saja pulang. Tau kamu juga ada disini akhirnya aku kesini," seru pria itu antusias. Tanpa mereka sadari ada seseorang yang sedang memerhatikan mereka, Andreas menatap tajam ke arah pria itu dengan meneguk teh di tangannya.
__ADS_1
[Siapa pria itu? Apa hubungannya dengan Jeslyn?]
*
Di tempat lain, tepatnya di Bali. Hari ini Aisyah dan Devan memutuskan berbulan madu ke Bali setelah menyelesaikan pekerjaannya. Setelah menikah kedua insan itu tidak pernah berbulan madu bahkan jalan-jalan berdua layaknya pasangan pada umumnya pun mereka belum pernah.
Kali ini sebagai suami sudh sepantasnya Devan membahagiakan istrinya. Di sebuah Villa mewah itu terlihat banyak sekali ruangan luas unik. " Sayang lihat-lihatlah dulu aku mau simpan koper ke kamar."
Aisyah mengangguk pelan, Devan melangkah pergi masuk ke dalam kamar dan menyimpan semua barang itu. Aisyah sangat mengamati seluruh inci Villa itu, tidak pernah ia bayangkan bisa datang ke tempat romantis ini bersama suaminya. Bahkan dulu ia tidak pernah berani berkhayal akan berbulan mandi dan memiliki keluarga yang utuh, tapi hari ini ketakutan itu menjadi kenyataan. Pria yang menikah dengannya hanya karna uang dan terpaksa itu akhirnya menjadi hidup dan cintanya.
Sebuah tangan tiba-tiba melingkar di perutnya. " apa yang sedang kamu lihat?" desus Devan tepat pada telinga Aisyah.
" Pemandangan disini sangat indah mas. Kamu tau sejak dulu aku selalu menginginkan hal ini bersama keluargaku, aku selalu ingin melihat pemandangan ini bersama ayah dan ibu ku. Tapi, kenapa sangat sulit?" ucap Aisyah lirih.
Devan melonggarkan pelukannya dan membalikan tubuh Aisyah menjadi menghadap nya. " Kamu merindukan ibumu?"
Aisyah mengangguk pelan. " aku merindukan sosok ibu, tapi tuhan tidak adil kepadaku. Dia menyuruhku datang ke dunia tapi dia tidak pernah memperlihatkan wajah yang melahirkanku itu padaku. "
" Aku sangat merindukannya mas," Devan kembali memeluk Aisyah erat. Air mata itu tidak bisa ia bendung lagi, pelukan hangat dan nyaman itu benar-benar membuat Aisyah tenang dan meluapkan kesedihannya.
Devan benar-benar merasakan kesedihan sangat istri, ia tidak bisa membayangkan bagaimana istrinya bisa menjalani hidup tanpa orang yang ia sayang. Dan bahkan di saat Aisyah bertemu dengan suami yang seharusnya melindungi dan menjaga ia malah mendapatkan hal yang tak adil darinya.
*
*
" Sayang hari ini tidak ada makanan di sini. Kamu mau keluar?" Ajak Devan yang di angguki Aisyah.
" Makan di luar sepertinya enak mas, lagi pula makan di rumah terus rasanya tidak yang beda,"
" Kalau begitu siap-siap. Kita cari makan di luar," Aisyah teriak antusias dan bergegas pergi ke dalam kamar. Devan yang melihat itu hanya senyuman kecil terpampang di bibirnya.
" Jika mereka tidak bisa membahagiakanmu. Maka aku yang akan membahagiakan mu Aisyah," gumam Devan tulus.
Di sebuah restoran yang terbuka itu Aisyah dan Devan menghabiskan waktu mereka disana. Pemandangan malam yang begitu indah, angin laut yang tidak terlalu kencang dan suara ombak yang merdu itu benar-benar membuat sensasi romantis itu memang benar ada.
__ADS_1
Keromantisan yang dilakukan Devan pada Aisyah benar-benar membuat semua pasang mata memerhatikan nya iri. Sungguh Aisyah benar-benar wanita beruntung di dunia ini di perlakukan dengan baik oleh pria tampan.
...Lanjut?...