Terpaksa Menikahi Pria Lumpuh

Terpaksa Menikahi Pria Lumpuh
Chapter 62 Kepergian Orang tua Jeslyn


__ADS_3

Di Resto Aislyn aku dan Jeslyn sibuk melayani konsumen. Hari ini tidak terlalu banyak yang datang sehingga aku dan Jeslyn bisa beristirahat, lagi dan lagi netraku jatuh pada ponsel milikku aku benar-benar sangat tidak sabar menunggu kabar dari Devan yang sampai sekarang tidak ada kabar sedikit pun dari dia.


" Mas kamu kemana sih? Sampai sekarang kamu belum ngabarin aku. Apa kamu tidak tau aku sangat mengkhawatirkan mu?" gumamku lirih dengan tatapanku fokus ke layar ponsel.


Tiba-tiba ponsel ku berdering aku sedikit memincingkan mataku saat melihat nomor yang tidak aku kenal. Ku tekan tombol warna merah itu karna aku tidak pernah mau menerima nomor yang tidak aku kenal.


Tapi lagi dan lagi ponselku berdering dan kubiarkan ponselku berdering hingga di sebrang sana mematikannya. Tak lama notif masuk ke ponselku.


+627483*******


Aisyah ini aku suamimu.


Melihat notif pesan itu sontak aku membelalak mata. Ponsel ku kembali berdering spontan aku mengangkat nya.


// Hallo mas?


//Aisyah maafkan aku, aku tidak bisa menghubungi mu karna setibanya di sini aku kehilangan ponsel📲


//Aku kira kamu kenapa mas. Aku sangat khawatir disini, bukan hanya aku saja yang khawatir tapi bunda dan papah mereka semua khawatir.


//Iya sayang maaf. Aku juga nggak tau kenapa ponsel aku hilang, tapi kamu nggak papakan?


//Iya aku nggak papa kok.


//Syukurlah, aku baik-baik saja disini. Kemarin aku tiba pukul 4 pagi.


//Oh iya ini ponsel milik rekan bisnis aku disini. Jangan di simpan!


//Haha iya mas nggak. Lagian buat apa simpan nomor orang lain


//Oke bagus. Eum sepertinya aku harus kerja yang, nanti aku beli ponsel lalu telpon kamu. Ingat jangan simpan nomor ini!


//Iya mas nggak


//Yaudah udah dulu Assalamu'alaikum istriku


//Waalaikumsalam suamiku


Sambungan berakhir aku bernafas lega karna Devan baik-baik saja. Setidaknya aku bisa lebih tenang saat melakukan aktivitas, aku bergegas pergi ke dapur untuk mencari Jeslyn tapi aku tidak menemukannya. Dimana dia? Kebiasaan buruknya tidak pernah hilang, dia selalu pergi tanpa mengatakan apapun kepadaku apa dia tau kalau aku sangat mengkhawatirkan nya?


Tak lama satu notif masuk ke ponselku cepat-cepat aku melihatnya.


JESLYN


//Aisyah aku ada urusan di luar. Maaf tidak langsung memberitahumu 📥


//Urusan apa? apa semuanya baik-baik saja? 📩

__ADS_1


Jeslyn mengirim lokasi..


" Bandara? Kenapa dia ke Bandara?" gumamku.


Aku yang merasa khawatir bergegas menutup Resto kebetulan sedang sepi dan bergegas pergi ke Bandara menyusul Jeslyn.


Sesampainya di Bandara dari arah kejauhan aku bisa melihat Jeslyn yang sedang menangis keras sembari berusaha menerobos petugas untuk masuk. Aku melangkahkan kakiku menghampiri nya.


" Jeslyn apa yang terjadi? Kamu kenapa?" tanyaku khawatir saat melihat Jeslyn yang menangis sesegukan. Namun, bukan hanya Jeslyn saja yang menangis tapi semua orang yang ada di sana juga menangis seperti Jeslyn .


" A_aisyah papah_mamah aku. Pesawat yang mereka tumpangi jatuh Aisyah," tangis nya.


Degh


Aku yang mendengar hal itu terkejut. Kaki Jeslyn tiba-tiba lemas sehingga tidak bisa menompang tubuhnya lebih lama lagi, Jeslyn terduduk lemas sembari menangis memelukku.


" Aisyah bagaimana kalau mereka tidak bisa selamat? Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain mereka," tangis nya.


" Suttt! Kamu nggak boleh bicara seperti itu Jeslyn. Mereka pasti baik-baik saja kamu tidak boleh berpikir yang tidak-tidak,"


" Tapi Aisyah petugas itu mengatakan kalau semua yang ada di dalam pesawat itu semuanya tidak selamat karna pesawat itu jatuh dan hancur. Aku nggak mau kehilangan mereka Aisyah,"


" Jeslyn dengerin aku. Apa mereka sudah melihat ke lokasi? Belum tentu semua yang mereka pikirkan itu benar-benar terjadi, sekarang tenanglah aku akan mencoba bicara sama petugas itu," Jeslyn mengangguk, ku tuntun Jeslyn ke kursi panjang agar dia bisa menenangkan diri.


Aku melangkah pergi menemui petugas yang sedang berjaga di sana.


" Petugas kami sudah terbang ke TKP untuk melihat keadaan disana. Semua yang ada di dalam pesawat tidak ada yang selamat semuanya hancur,"


" apa saya boleh melihat daftar penumpang dalam pesawat itu?" pintaku. Pria itu mengangguk dan memberikan daftar nama penumpang yang ada di dalam pesawat itu. Ku cari nama orang tua Jeslyn dan benar saja ada nama mereka di sana, ku lirik Jeslyn yang masih menangis disana.


Dengan langkah berat ku langkahkan kakiku mendekati Jeslyn. Jeslyn bangkit dan langsung mendekatiku dengan wajah yang berharap lebih. " Aisyah bagaimana? orang tua aku baik-baik aja kan? Mereka semua selamat kan?" tanyanya.


" Aisyah kenapa kamu hanya diam? Jawab aku Aisyah bagaimana keadaan mereka?" tanyanya lagi sembari menguncang tubuhku


" Jeslyn apa pun yang terjadi kamu harus tetap kuat. Kamu harus mengikhlaskan mereka," ucapku menahan tangisan.


" Nggak mungkin, apa yang kamu katakan Aisyah? Mereka berjanji akan menemuiku bagaimana aku bisa mengikhlaskan mereka sebelum mereka menepati janji mereka padaku,"


" Jeslyn..."


" Nggak Aisyah aku tidak pernah percaya, mereka sangat menyayangi ku bagaimana bisa mereka tega meninggalkan ku sendirian seperti ini," sarkasnya dan mendorong tubuhku sedikit kasar. Jeslyn menerobos petugas itu masuk, aku terus mencoba menahannya tapi tenaganya lebih kuat dariku.


Tiba-tiba ponselku berdering tertera nama Andreas disana. Cepat-cepat ku hapus air mataku dan mengangkat nya.


//Hallo Aisyah apa kamu bersama Jeslyn? Saya mencoba menghubungi nya tapi...


//Andreas cepatlah datang ke Bandara. Jeslyn ****

__ADS_1


//Apa?Baiklah saya segera kesana sekarang.


Panggilan berakhir, aku dan petugas di Bandara mencoba menenangkan Jeslyn yang bersikeras masuk. Tak butuh waktu lama Andreas sampai di Bandara dan melihat Jeslyn yang sedang menangis disana, tanpa pikir panjang Andreas mendekati Jeslyn mencoba menenangkan nya.


" Andreas mereka tidak mungkin meninggalkan ku. Mereka sudah janji sama aku kalau hari ini mereka akan datang menemuiku, mereka nggak boleh pergi Andreas," tangis Jeslyn pecah disana. Andreas meraih tubuh Jeslyn dan memeluknya, ia membiarkan Jeslyn menangis keras di dengkapannya.


Setelah merasa lebih baik Andreas menangkup wajah Jeslyn dan menatapnya, mata yang sembab dan merah itu benar-benar membuat ku dan Andreas melihat betapa kehilangannya Jeslyn saat ini.


" Tenanglah sekarang tidak sendirian ada aku dan Aisyah. Kita tidak akan membiarkanmu sendirian,"


" Tapi mereka ninggalin aku Andreas, mereka sudah berjanji akan menemuiku tapi lihatlah mereka malah pergi meninggalkanku. Tuhan tidak adil kepadaku, aku ingin merasakan kehangatan mereka tapi kenapa mereka malah mengambilnya dariku," tangis Jeslyn terisak-isak.


" Mereka sayang sama kamu buktinya ketika kau meminta dia datang mereka langsung datang. Hanya saja Tuhan memanggil mereka dengan cara seperti ini, kamu harus belajar ikhlas. Kamu tidak mau kan melihat kedua orang tuamu sedih karna melihatmu seperti ini?" ucap Andreas yang mendapat gelengan dari sang empu.


" Sekarang hapus air matamu, kita tunggu informasi selanjutnya dari petugas," Andreas menghapus air mata Jeslyn dengan ibu jarinya. Jeslyn memeluk Andreas erat, aku yang melihat itu benar-benar bersyukur karna ketika Jeslyn kehilangan orang tuanya ada orang lain yang menjaganya.


***


Malam hari aku masih stay di Bandara untuk menemani Jeslyn. Semua jenazah akan di bawa ke bandara esok hari karna itu Jeslyn lebih memilih tetap stay di Bandara untuk menyambut kedatangan orang tuanya.


" Jeslyn apa nggak sebaiknya kita pulang dulu? baru besok kembali ke sini, kamu belum makan sedikitpun. Kita pulang dulu yah," bujukku agar dia mau pulang, karna jujur saja aku tidak kuat melihat dia yang seperti ini.


" Nggak Aisyah aku mau tetap disini. Kamu kalau mau pulang, pulang aja nggak papa kok. Aku akan tetap disini nunggu papah sama mamah," jawabnya. Ku buang nafas berat dan memilih untuk tetap di bandara menemaninya, tak lama Andreas datang dengan membawa makanan dan minuman hangat.


" Aisyah ini teh hangat dan makanan buat kalian," ucapnya memberikan bungkusan makanan dan minuman kepadaku.


Aku mendongak menatap Andreas lalu Jeslyn, Andreas yang mengerti dengan tatapanku langsung berjongkok di depan Jeslyn. Andreas meraih tangan Jeslyn dan mengengamnya sontak hal itu mendapat tatapan dari sang empu.


" Kenapa nggak mau makan?" tanya Andreas dengan wajah serius


" Mamah sama papah pasti belum makan, aku mana mungkin makan disini,"


" Apa mereka menginginkan hal ini? Jeslyn jangan menyiksa diri sendiri seperti ini. Kamu harus makan mereka juga tidak menginginkan hal ini,"


" Tapi..."


" Aku suapin," Andreas bangkit dan mengambil makanan di tangan ku untuk menyuapi Jeslyn. Aku yang melihat itu merasa bahagia karna di saat sedang seperti ini Andreas ada untuk menemani Jeslyn, Andreas yang terkenal dingin, cuek tak kalah sama seperti Devan 11-12.


" Aisyah kamu juga makan, kalau kamu tidak makan bisa-bisa tuan 9 hari 10 malam akan menganggu saya," ujarnya


Aku hanya terkekeh dan mengangguki ucapannya. Ku makan makanan itu, namun baru beberapa suap ponselku berdering tertera nomor yang tidak di kenal terpampang di layar ponsel.


" Ini pasti mas Devan," gumamku dan mengangkat telpon itu.


...Lanjut?...


Jangan lupa like, komen, follow and vote. Makasih dukungan kalian adalah semangatnya aku untuk menulis🥰

__ADS_1


__ADS_2