Terpaksa Menikahi Pria Lumpuh

Terpaksa Menikahi Pria Lumpuh
Chapter 75 Kehamilan Aisyah


__ADS_3

Doorr!!


Suara doubel tembakan itu menggema. Aisyah kehilangan keseimbangan namun dengan cepat Devan menangkap tubuh itu.


Ternyata doubel tembakan itu terjadi juga pada Dylon yang di tembak oleh polisi yang baru datang. Tembakan itu tepat mengenai dada Dylon dan hal itu membuat senapan itu melesat dan mengenai lengan Aisyah.


Aisyah terbaring lemas dalam pelukan suaminya. Khawatir dan marah membalut hati pria itu, kedua mata itu memerah menahan air mata yang terus memberontak ingin keluar. Aisyah hanya diam menahan rasa yang amat sangat sakit, bibir nya pun kelu untuk berbicara. Darah itu terus keluar tanpa henti, Devan merobek bajunya dan langsung membungkus luka di lengan Aisyah mencoba menghentikan darah itu.


" Kenapa kamu bodoh? Seharusnya kamu tidak menghalangi peluru itu," ucap Devan lirih sembari tangannya mengikat kain di lengan Aisyah.


" J jika kamu yang terluka. L lalu siapa yang akan menjagaku?" jawab Aisyah terbata-bata.


Devan menangis, tidak sanggup lagi rasa nya pria itu menahan kesedihan. Devan mengendong Aisyah dan berniat membawanya ke mobil, namun sialnya jarak mobil dan dirinya cukup jauh. Tak lama Andreas datang dengan mobil, Andreas menyuruh Devan untuk naik ke dalam mobil. Tanpa berpikir Devan langsung membawa Aisyah ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, beberapa perawat datang dan membawa bankar. Devan membaringkan tubuh istrinya di atas bankar itu, kedua mata itu tertutup rapat. Aisyah benar-benar kehilangan darah.


" Sayang bertahanlah kamu pasti kuat," gumam Devan lirih sembari menatap pintu putih yang bertulisan UGD itu.


***


Sudah hampir setengah jam lebih Devan masih tidak tenang karna belum mendengar kabar istrinya di dalam. Semua keluargapun berkumpul di depan ruang UGD itu dengan penuh harapan dan kekhawatiran, tak lama seorang dokter keluar. " Dok bagaimana keadaan istri saya?" tanya Devan khawatir.


" Kami sudah mendonorkan darah yang cocok untuk nya. Namun, stok darah kami ternyata tidak cukup, apalagi pasien sedang hamil jadi ini membutuhkan donor darah yang cukup banyak,"


Degh!


Rasa percaya dan tidak. Rasanya seperti salah mendengar saat mendengar kehamilan itu, Devan tertegun dan menatap dokter itu serius. " I istri saya hamil dok?" Tanya Devan meyakinkan.


" Benar pak. Kehamilan nya sudah memasuki 3 minggu,"


Semua orang yang ada di sana ikut bahagia mendengarnya. Hal yang selama ini di nanti-nanti akhirnya di ijabah, Devan menangis terharu namun kebahagiaan itu hanya sementara. Devan menyuruh Andreas untuk mencari pedonor yang cocok untuk istrinya, tidak hanya mereka bahkan banyak sekali yang membantu Devan mencari donor darah.


Tidak butuh waktu lama banyak orang yang datang ke rumah sakit untuk memberikan darah mereka. Itu bukan karna jaminan yang di berikan Devan melainkan rasa balas budi mereka karna selama hidup Devan pernah menolong mereka yang membutuhkan bantuan.

__ADS_1


Setelah pengecekan darah yang cocok akhirnya Aisyah mendapatkan donor darah. Devan bersyukur karna di saat dirinya butuh bantuan banyak orang yang senantiasa membantunya tanpa pamrih.


***


Di ruangan bernuansa putih itu, terlihat Aisyah yang tengah terbaring di atas ranjang dengan impusan di tangannya. Perlahan kelopak mata itu terbuka, Aisyah Mengerjap-erjapkan matanya menyesuaikan dengan cahaya lampu.


Aisyah mengamati sekitar sesaat sebelum mendapati sosok pria yang tengah tertidur di sampingnya dengan tangan yang menggenggam erat tangannya. Bibir itu melengkung tipis, Aisyah menggerakkan tangannya dan mengelus kepala suaminya lembut.


Devan yang merasakan pergerakan di kepalanya itu langsung membuka mata dan terkejut saat melihat istrinya yang sudah tersenyum simpul padanya. Devan bangkit dari duduknya dan memeluk istrinya erat sesekali ia menc*um kening itu lama. Devan benar-benar bersyukur karna istrinya itu sudah sadar.


" Sayang aku bahagia kamu baik-baik saja," gumam Devan lirih. Aisyah tersenyum tipis dan mengelus pipi Devan lembut. " Aku nggak papa mas."


Devan meraih tangan Aisyah yang berada di pipinya lalu mengecupnya lama. Tidak ada kebahagiaan yang sesungguhnya selain bisa berkumpul dengan istri tercinta.


" Sayang," Panggil Devan menggantung


" Apa?"


" Kabar baik apa?" tanya Aisyah penasaran


Devan tersenyum dan beralih mengelus perut Aisyah yang masih rata. " Sekarang tugasku bukan hanya menjagamu tapi juga menjaga orang yang ada di sini."


Aisyah tertegun, kedua matanya berkaca-kaca. " M Maksud kamu aku hamil mas?" tanya Aisyah meyakinkan.


Devan menganggukkan kepalanya pelan. " Iya sayang. Sebentar lagi kita akan menjadi seorang ayah dan ibu. "


Aisyah menangis bahagia sembari memeluk suaminya erat. Kebahagiaan yang tiada tara, akhirnya hari yang di tunggu-tunggu selama ini terkabulkan. " Yang anteng ya di dalam sana. Ibu janji Ibu akan selalu menjaga kamu sampai kamu bisa melihat dunia Ibu dan Papah disini." gumam Aisyah sembari mengelus perutnya itu.


Devan tersenyum dan mengecup kening Aisyah. " Tapi mas kenapa aku nggak ngerasain awal kehamilan yah? Aku nggak ngerasa mual tu."


" Itu karna hormon kehamilan itu beda-beda sayang. Ada yang mual banget sampe nggak bisa makan, ada yang kakinya bengkak dan bahkan ada yang tidak merasakan apa-apa. Termasuk bunda, dulu saat bunda mengandung Devan bunda sama sekali nggak ngerasain apa-apa," Seloroh Linda yang baru masuk ke ruang rawat Aisyah.


Bukan hanya Linda saja tapi juga Nabila, Farhan, Jeslyn dan Andreas.

__ADS_1


" Selamat sayang dan terimakasih karna sudah memberikan cucu untuk bunda dan papah," ucap Linda mengecup kening sang menantu.


" Selamat kak atas kehamilan nya. Nabila ikut seneng dengernya karna sebentar lagi aku punya ponakan," seru Nabila sumringah.


" Aisyah.." panggil seseorang dengan nada lirih. Aisyah menoleh ke arah sumber suara dan melihat Jeslyn yang sudah menangis disana, Aisyah tersenyum simpul dan merentangkan tangannya memberikan aset untuk wanita peluk.


Jeslyn berhamburan memeluk Aisyah, rasa khawatir sudah terbayar sudah. Tidak bisa di bayangkan jika ia harus kehilangan Aisyah sudah cukup Jeslyn kehilangan kedua orang tuanya.


" Aku seneng kamu baik-baik saja Syah. Nggak kebayang bagaimana jadinya aku kalau nggak ada kamu, kamu adalah keluarga yang aku punya," ucap Jeslyn dalam celuk pelukan Aisyah.


" Hey sayang apa yang kamu bicarakan? Kami semua keluarga kamu. Dan Andreas bukannya dia pacar kamu? Dia akan menjaga kamu seperti ayah kamu menjaga kamu," ucap Linda


Jeslyn tersenyum dan menghapus air matanya. Linda benar mereka adalah keluarga baru untuknya dan Andreas adalah orang yang bisa menjagaku seperti orang tuanya dulu.


" Oh iya bagaimana kamu bisa bersama Dylon Syah?" Tanya Jeslyn penasaran, bukan hanya Jeslyn saja tapi semua orang yang ada di ruangan itu juga penasaran dengan cerita yang sebenarnya.


" Sebenarnya saat aku ke toilet aku merasakan ada seseorang yang terus membuntutiku. Karna itu aku lama di toilet, setelah memastikan semuanya aman aku bergegas pergi dari toilet itu, tapi saat hendak keluar tiba-tiba seseorang masuk dan langsung membungkam ku, jadi aku tidak sempat berteriak dan meminta bantuan," tutur Aisyah jelas.


" apa dia menyakitimu?" Tanya Jeslyn khawatir. Beberapa detik kemudian Aisyah menggeleng pelan. " Dia sama sekali tidak menyakiti ku, bahkan dia tidak membiarkan anak buahnya menyakitiku sedikitpun."


" Ternyata Om Dylon sangat mencintai kak Aisyah," ucap Nabila yang mendapat tatapan tajam dari Devan.


" Apa? aku berkata apa adanya. Itu lebih baik jika Om Dylon tidak menyakiti kak Aisyah," lanjut Nabila yang mengerti dengan sorot mata tajam kakaknya.


" Dylon bagaimana kondisinya? Aku lihat dia juga tertembak," Tanya Aisyah, namun bukannya menjawab mereka hanya diam.


" Kenapa kalian hanya diam? Mas kamu juga kenapa diam? Bagaimana keadaan Dylon?"


" Tembakan itu tepat mengenai jantungnya. Dan .... Dylon sudah meninggal di tempat kejadian," jawab Devan ada rasa bela sungkawah sedikit. Walaupun pria itu sudah berani membawa istrinya tapi itu bukan berarti Devan harus merayakan kematian pria itu.


Aisyah sedikit kasian, bagaimanapun Dylon seperti itu karna dirinya dan karna rasa irinya pada suaminya. Tapi bagaimanapun semua terjadi dan aku hanya bisa menerima kenyataan ini. pekik Aisyah.


......***......

__ADS_1


__ADS_2