
...Happy Reading...
Di sebuah perusahaan besar itu yang di pimpin oleh CEO Devano, berjalan cukup baik walaupun dengan keadaan kakinya yang lumpuh tapi pria itu bisa mengendalikan perusahaan nya dengan baik. Di pertemuan antar kolega bisnis ini terlihat terjadi persaingan yang sangat sengit, Perusahaan Group Zy ini seperti nya ingin menjatuhkan perusahaan Devan namun dengan kepintaran dan kecerdasan Devan hal itu tidak mempan kepadanya malah sebaliknya perusahaan Group Zy lah yang di jatuhkan oleh perusahaan Devan.
2 jam lamanya pertemuan itu selesai, Devan bergegas pergi ke ruangannya dengan Andreas mendorong kursi rodanya. " Tuan sepertinya pria tadi ingin menjatuhkan tuan." ucap Andreas
" Siapa dia?"
" Dia Direktur dari perusahaan Group Zy, pimpinan mereka tidak datang karna ada urusan mendadak," jawab Andreas
Devan bangkit dari kursi roda dan duduk di kursi ke besarannya. Devan menjadi Andreas untuk mengunci pintu agar tidak ada siapapun yang tau soal kakinya, Andreas dengan patuh menutup pintu itu dan menguncinya. Tiba-tiba Devan teringat Aisyah di rumah, Devan merogoh ponselnya dan hendak menghubungi Aisyah namun segera mungkin ia urungkan. Andreas yang diam-diam melihat itu hanya tersenyum tipis. " Tuan katakan.."
" Saya sudah bilang jangan panggil saya tuan jika sedang berdua," sarkas Devan
" Baiklah Devan katakan apa kamu sudah mulai mencintai istri kamu?" tanya Andreas yang mendapat tatapan aneh dari sang empu.
" Apa kamu belum sadar dengan semua yang kamu lakukan? Sikapmu, perilaku kamu itu sudah membuktikan kalau kamu sudah mencintainya,"
" Saya tidak tau, dia wanita cantik dan baik akhir-akhir ini saya tidak bisa menyakitinya,"
" Ayolah Devan apa kamu masih belum sadar? Jika kamu mencintainya katakan yang sejujurnya, dia manusia dan dia seorang perempuan. Kapan saja dia bisa pergi darimu,"
" Dia tidak akan pergi,"
" Tau dari mana kamu? Kamu bukan seorang peramal Devan, ayolah jangan membuat hidupmu terus menggantung. Aku melihat Aisyah juga menyukai kamu, dia menerima apa adanya bukan kah ini yang kamu inginkan?"
" Ntahlah saya tidak bisa,"
" Apa yang tidak bisa?"
" Apa karna kamu takut Aisyah akan meninggalkan mu seperti wanita itu? ayolah Devan berpikir yang cerdas, Aisyah adalah wanita yang baik untukmu. Dia bisa mencintaimu yang orang lain tidak bisa," Devan tidak menjawab, ia hanya diam memikirkan apa yang di katakan Andreas.
" Lalu saya harus melakukan apa? apa saya harus membeli bunga, boneka, coklat dan mengarang kata-kata romantis untuknya?"
" Hei Ayolah.... Saya bukan pria seperti itu. Saya tidak bisa bersikap Romantis seperti pria pada umumnya," lanjut Devan mustahil
" Apa kamu pikir mengatakan perasaan itu harus selalu dengan bunga? Nothing! Devan. Kamu hanya mengatakan apa yang sedang kamu rasakan sekarang, jadilah Devan yang sebenarnya. Lupakan mereka yang meninggalkanmu seperti sampah dan sekarang lihatlah ada wanita yang harus kau perjuangan untuk bersamamu," Tandas Andreas yang berhasil membuat Devan bungkam. Apa yang dikatakan Andreas memang benar, cinta tidak semuanya dengan benda melainkan keseriusan kita.
Tok_tok_tok
Suara ketukan pintu itu berhasil membuat perhatian kedua insan itu terahlikan. Andreas membuka pintu itu dan sedikit terkejut saat melihat Aisyah, Aisyah melempar senyum manisnya kepada Andreas. Andreas melirik Devan dan memberi kedipan agar Devan segera mengatakan perasaannya, tidak mau menganggu Andreas keluar dari ruangan Devan dan meninggalkan dua insan itu berdua.
__ADS_1
Terlihat Devan yang sedikit gugup, Aisyah mendekati Devan menyimpan kotak makan di atas meja kerjanya. " Aku bawain kamu makanan, maaf telat soalnya tadi ada kecelakaan di jalan."
" It's oke, lagi pula saya tidak terlalu lapar," Ucap Devan. Aisyah mengangguk dan menghidangkan makanan untuk Devan, Devan yang gugup tidak berani menatap wajah Aisyah ia hanya menunduk mengalihkan pandangannya. Namun, netranya terhenti saat melihat luka di kaki Aisyah. " Kenapa dengan kakimu?"
Pertanyaan Devan berhasil menghentikan aktivitas Aisyah. Aisyah menundukkan kepalanya sedikit untuk melihat luka yang Devan maksud. " Oh ini mungkin karna tadi."
" Tadi?"
" Kecelakaan itu membuat kemacetan di jalan. Karna nggak ada kendaraan aku jalan kaki kesini, karna aku takut... "
" Apa? Jadi kamu jalan kaki ke sini?" ucapnya terkejut
" Iya,"
" Astaga kamu bodoh atau gimana? Jarak rumah ke perusahaan itu jauh dan kamu jalan kaki?"
" Aku jalan pintas kok,"
" Tetap saja jauh Aisyah. Kamu ini istri dari seorang CEO dan dari keluarga Kenzo tapi kamu malah jalan kaki? Kenapa kamu tidak meminta orang rumah untuk mengantarmu? Kenapa harus sendiri, pantas saja kaki mu terluka seperti ini," Aisyah sedikit terkejut saat melihat sikap dan perhatian Devan kepadanya. Devan memanggil Andreas dan meminta membawakan kotak P3K.
" Mas nggak usah kaki aku nggak pap.." Belum selesai bicara Devan lebih dulu menatap Aisyah tajam, membuat sang empu diam dan memerhatikan Devan yang tulus mengobati.
Beberapa menit kemudian Devan selesai mengobati kaki Aisyah. " Kaki kamu sudah saya obati."
" Makasih," ucap Aisyah yang hanya mendapat tatapan dari sang empu.
Devan memakan makanan yang siapkan Aisyah. Jujur saja Devan sangat menyukai makanan yang di buat Aisyah, karna makanan itu benar-benar sangat enak. " Kamu sudah makan?" Tanya Devan
" Sudah,"
" Kamu yakin tidak mau makan lagi?"
" Tidak, aku siapkan makanan itu khusus buat kamu,"
" Yasudah," Devan kembali melanjutkan makannya dengan sangat lahap. Aisyah tersenyum saat melihat suaminya sedang makan karna baginya saat ini Devan terlihat sangat tampan jika di lihat dari samping.
***
Aisyah merapihkan kembali kotak makanan itu untuk ia bawa pulang kembali. Devan yang melihat Aisyah Hendra pergi mencoba menahannya karna tidak mungkin Devan membiarkan Aisyah pergi sendiri.
" Tetaplah disini, saya ada satu pertemuan lagi. Kita pulang bersama,"
__ADS_1
" K_kamu seriuss?"
" Apa ucapan saya selalu bercanda di mata kamu Aisyah?" Aisyah menggelengkan kepalanya. Tidak ada yang tau kebahagiaan yang di rasakan Aisyah saat ini karna akan pulang bersama suaminya sendiri.
Hari sudah larut, Devan baru selesai dengan pekerjaannya. Devan tersadar kalau ada seseorang yang menunggu sejak tadi, segera mungkin Devan pergi ke ruangannya dan melihat seorang gadis cantik yang tertidur pulas di sofa panjang itu, Devan mendekati Aisyah dan menatap wajah cantik itu. Tangan Devan mulai aktif mengelus kepala Aisyah yang terbalit kain, sungguh sangat cantik. Bahkan Devan tidak bisa mengalihkan pandangan nya dari wajah cantik Aisyah.
Devan menarik tangannya saat kala kedua kelopak mata itu perlahan terbuka. Aisyah mengerjap-erjapkan matanya menyesuaikan penglihatan nya dengan cahaya lampu, Aisyah bangkit menjadi posisi duduk dan menatap Devan.
" Maaf menunggumu lama, kalau masih mau tidur lanjut saja,"
" Aku mau pulang saja," ucap Aisyah serak
Di perjalanan Aisyah melanjutkan tidur yang sempat terganggu tadi dan tanpa sadar ia menyandar ke bahu Devan sontak hal itu membuat Devan kembali di serang rasa gugup. Andreas yang melihat di kaca spion itu hanya tersenyum tipis.
" Kamu masih belum mengatakannya?" ucap Andreas tiba-tiba
" Belum,"
" Haish, apa saya saja yang mengatakan?"
" Tidak!"
" Lalu kapan?"
" Kenapa kamu begitu cerewet, biarlah ini menjadi urusan saya. Kamu membantuku sedangkan kamu saja belum punya pacar, " Sarkas Devan yang membuat Andreas sedikit kesal
" Hey, dengar banyak wanita yang mengejar saya. Jika saya mau mungkin sekarang saya sudah punya pacar, hanya saja sekarang saya tidak punya waktu untuk itu,"
" Tidak punya waktu atau kau takut dia menduakanmu lagi?"
" YAK!!" teriak Andreas tanpa sadar. Aisyah yang tertidur pulas tidak terusik sama sakali.
" ***!! Apa kau bisa diam?"
" Maaf,"
" Menyetir yang benar atau gajimu saya potong," ancam Devan
" Potong saja, bulanan pak Farhan masih berjalan mulus," Devan membuang nafas kasar menghadapi bodyguard nya yang begitu keras kepala.
...Next Part\=>...
__ADS_1