Terpaksa Menikahi Pria Lumpuh

Terpaksa Menikahi Pria Lumpuh
Chapter 58 Berlibur.


__ADS_3

PoV Aisyah.


Di saat Devan meminta penjelasan tentang hubungan ku dengan Dafri aku ingin sekali menjelaskan nya tapi lagi dan lagi bayangan saat pengkhianatan itu kembali muncul, semua telah berubah hanya dalam sekejap. Aku benar-benar tidak pernah berpikir kalau persahabatan kami akan hancur hanya karna cinta.


Di dalam kamar aku tidak melihat Devan di sana. Suara percikan air di dalam kamar mandi membuatku berpikir kalau saat ini Devan sedang mandi, ku tarik nafas panjang dan membuantnya perlahan. Tak lama pintu kamar mandi terbuka menampilkan sosok pria tampan yang baru keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk di pinggang nya.


Devan berjalan melewati ku dengan dingin menuju al lemari. Aku berusaha berbicara padanya tapi tidak ada sahutan sedikit pun darinya, aku menghela nafas berat dan memilih pergi ke kamar mandi untuk mendinginkan seluruh tubuhku. Di dalam kamar mandi aku masih belum bisa tenang tentang Devan dia bahkan tidak mau berbicara denganku, seketika pikiran jahilku muncul aku akan melakukan apapun agar Devan mau berbicara padanya.


Sudah hampir 1 jam aku masih di dalam kamar mandi tidak berniat keluar dan berendam di dalam bathup hanya agar pria itu datang padaku. Karna aku yakin Devan akan masuk karna mengkhawatirkanku, sudah cukup lama tidak ada tanda pria itu masuk membuatku menghela nafas berat dan memejamkan mata ku rapat-rapat.


Ceklek


" Astaga Aisyah," Aku terkejut saat tiba-tiba Devan menarikku yang hendak tenggelam.


" Apa yang kamu pikirkan? Kenapa kamu tidur di kamar mandi? Kalau sampe kamu kenapa-kenapa gimana?" Aku sedikit tersentak saat Devan memarahiku tapi di sisi lain aku merasa senang karna akhirnya Devan datang karna mengkhawatirkanku.


Ku peluk tubuh kekar itu erat dengan keadaan tubuhku yang masih tidak terbalut apa-apa. Ah, sudahlah semua rasa malu sudah putus seketika sekarang.


" Mas jangan diamin aku seperti ini. Aku nggak suka kalau kalau marah sama aku," ucapku dengan mempererat pelukanku.


" Kamu tidak suka kalau aku marah tapi kamu sendiri yang terus membuatku marah Aisyah," ucapnya penuh penekanan.


" Aku minta maaf mas, aku benar-benar belum siap menjelaskannya,"


" Huft! Sudahlah sekarang kamu bereskan mandimu lalu keluar. Kamu bisa sakit nanti," ujarnya dan bergegas pergi meninggalkan ku sendiri, Haish benar-benar kurang asem emang. Bukannya bantuin ini malah ninggalin.


Aku bergegas menyelesaikan mandiku dan keluar dengan keadaan handuk sebagai penutup tubuhku hingga menampilkan paha mulusku.


Ku lewati Devan yang sedang asik bermain dengan laptopnya. Aku tidak peduli lagi dengan apa yang pria itu pikirkan karna yang benar aku tidak ingin menggodanya.


Ku pergi ke dalam ruangan ganti baju dan memilih pakaian tidurku. Namun saat hendak memakai br* tiba-tiba sebuah tangan kekar memeluk dari belakang sontak hal itu membuatku terkejut.


" Mas...?"


" Kenapa kamu malah mengodaku hm?" bisiknya dengan menghitung aroma vanila di tubuh ku.


" Aku tidak menggodamu, ini salahmu sendiri karna mendiamiku karna itu aku lupa bawa baju,"


" Benarkah? Jadi kamu tidak berniat menggodaku?"


Astaga, aku tidak tau kapan handukku melorot. Cermin besar di depanku menampakkan pantulan yang di lakukan Devan kepadaku, wajahku yang merah karna malu sedangkan pria itu asik menciumi punggung ku dengan tangannya yang mulai liar mer**as dadaku.


" M_mas ini dingin aku mau pakai baju," ucapku lirih. Pria tampan itu mendongak menatapku lewat pantulan cermin, ku silangkan tanganku di depan dada agar pria itu tidak bisa melihat tubuh telanj*** ku.

__ADS_1


" Baiklah aku akan memberimu kehangatan sekaligus memberimu hukuman setelah itu kamu harus membayar penjelasan kepadaku," bisiknya dan kembali menciumi daun telingaku dan beralih turun keleher meninggalkan banyak kiss marks di sana.


Rasa geli itulah yang aku rasakan saat kala daging tak bertulang itu menyentuh daun telinga dan leherku. Devan membalikkan tubuhku dan langsung mel**at bibirku lembut begitupun dengan tanganku, ku kalungkan tanganku pada leher jenjangnya.


Lum*tan itu kini beralih turun menyesap leherku dan semakin turun hingga berada tepat di buah dadaku, Devan mer*mas dan mengulus nya seperti bayi yang kehausan membuatku mengerang nikmat di sensasi ini.


Mendengar eranganku membuat nyali dan hasrat pria itu semakin memuncak. Devan mengangkat tubuhku ke meja dengan pangutan kami yang tidak pernah lepas, perlakuan lembut namun nikmat itu benar-benar membuatku gila. Pria yang berhasil membuatku gila akan sensasi cinta ini.


***


Di dalam kamar keduanya terbaring lemas setelah melakukan beberapa ronde cinta mereka. Sekarang aku tertidur di dadanya dapat ku dengar deru nafasnya yang tidak beraturan mungkin dia juga lelah, aku mendongak dan menatap wajah tampan itu air keringat masih membasahi dahinya ku usap air keringat itu pelan namun berhasil membuat sang empu terbangun.


" Jangan menggodaku lagi Aisyah," ucapnya membuatku tersentak. " Siapa yang mau menggodamu? aku hanya ingin memastikan apa sekarang kamu sudah memaafkanku?"


Devan terdiam sejenak dan bangkit memposisikan dirinya menjadi duduk. Devan menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku mengerti, aku bangkit dan duduk menghadapnya sesekali aku menarik selimut untuk menutupi tubuhku karena saat ini tubuh kami masih sama-sama telan****.


" Sekarang jelaskan aku ingin mendengarnya," ucap Devan serius. Mungkin aku tidak bisa menghindarinya lagi sekarang, ku tarik nafas panjang dan membuangnya perlahan.


" Aku dan Dafri tidak memiliki hubungan apapun selain dari sahabat,"


" Aisyah aku minta kam..."


" Tapi hubungan kami hancur hanya karna kesalah pahaman. Kami bertiga adalah sahabat baik, tapi aku tidak tau kapan dan dimana aku dan Dafri memiliki perasaan. Hingga pada akhirnya kami terus terang dengan perasaan kita masing-masing tapi kita tidak sampai berpacaran karna pada


hari itu aku melihat Fellysha dan Dafri tidur bersama," jawabku dengan air mata yang lolos begitu saja. Ntah lah aku benar-benar cengeng saat ini apalagi mengingat kejadian hari itu.


Bukannya menjawab aku malah menangis keras di depannya. Devan menarikku dan memelukku erat sangat erat bahkan baru pertama kalinya di saat aku berbagi cerita aku merasakan puasa dan tenang mungkin kali ini berbeda, kali ini aku berbagi cerita dengan suamiku sendiri.


" Hapus air matamu, kamu tidak perlu menangisi orang seperti mereka. Maafkan aku karna aku tidak mau mengerti keadaan mu," ucapnya mengelus punggung ku berniat memberikan ketenangan.


Aku menangis keras di dalam dengkapannya. Kekecewaan, amarah dan kesedihan ku luapkan pada suamiku sendiri. Ketenangan dan kepuasan itulah yang saat ini aku rasakan setelah menangis di pelukan nya, aku benar-benar bersyukur karna mendapatkan suami seperti Devan walaupun ia tidak pernah berani berbagi cerita ini tapi ternyata berbagi cerita pada suami itu lebih nyaman di banding pada orang lain.


PoV Aisyah End.


***


Di tempat lain khususnya rumah sakit terlihat Dafri yang masih belum sadar. Fellysha tak henti-hentinya berdoa dan berharap kesembuhan Dafri, bahkan di saat Dafri kritis Fellysha lah yang selalu menemani Dafri tapi ntah kenapa pria itu tidak pernah mau membuka hati padanya.


" Dafri aku sangat mencintaimu aku bisa melakukan apapun untukmu. Aku tau kamu sangat membenciku tapi apa kamu pernah melihatku seperti wanita? aku rasa tidak. Kamu tidak pernah mengangap ku lebih dari seorang sahabat," gumam Fellysha lirih.


" Aku mencintaimu Dafri aku ingin kamu juga mencintaiku seperti kamu mencintai Aisyah. Rasa cinta mu pada Aisyah karna itulah aku sangat membencinya, tapi kenapa kamu tidak pernah mau mengerti Daf?" lirih Fellysha dengan air matanya yang lolos begitu saja. Fellysha mengengam tangan Dafri dan mencium tanganku lama namun...


" Aisyah...?"

__ADS_1


Mendengar nama dan suara itu Fellysha refleks mendongak menatap wajah pria yang kini sudah pucat itu nanar.


" Aisyah katakan kau tidak mencintainya... Aku sangat mencintaimu, kenapa kamu pergi sebelum aku menjelaskan apapun padamu. Fellysha, sahabat kita itu sudah berubah Aisyah, aku sangat membutuhkanmu sekarang," ngigau Dafri di bawah alam sadar.


Mendengar hal itu rasa sesak dan sakit hati kembali muncul. Air mata itu kian kembali jatuh mendengar penuturan Dafri yang jelas itu adalah isi hati yang sebenarnya. Fellysha yang sudah tidak tahan lagi bergegas pergi meninggalkan Dafri sendirian di sana, teriakan dan tangisannya ia coba tahan agar tidak ada seorang pun yang melihatnya daam keadaan seperti ini.


" Apa aku benar-benar tidak mau bersamaku Daf sampai masih tidak sadarpun kamu mengatakan hal itu? Apa sampai kapanpun aku tidak akan pernah berada di hatimu? Kenapa kamu tidak bisa mencintai ku seperti kamu mencintainya Daf, " tangis Fellysha terisak-isak di sana.


***


Di Resto Aisyah, Devan, Jeslyn dan Andreas sedang menikmati kebersamaan mereka dengan mencicipi hidangan menu baru yang pernah ia makan sebelumnya.


Dua pria itu sangat beruntung karna bertemu dengan wanita hebat yang bisa menciptakan berbagai makanan enak yang belum pernah ada.


" Wah aku seneng banget akhirnya kita bisa bareng-bareng kaya gini lagi," ucap Aisyah sangat antusias.


" Eum bagaimana kalau kita pergi berlibur berempat?" ujar Devan menunggu keputusan yang lain.


" Tidak bisa tuan. Minggu sekarang tuan banyak pekerjaan yang tidak bisa di tunda,"


" Saya bisa mempertimbangkan pekerjaan saya. Lagi pula pekerjaan itu masih panjang saya bisa melakukan nya lain kali,"


" Tidak tuan, pekerjaan harus segera di selesaikan!"


" Andreas disini siapa bos kamu? Saya atau kamu?"


" Tapi tuan..."


" Sudah saya bilang pekerjaan ini tidak terlalu banyak. lagi pula kalian baru saja resmi berpacaran apa kamu sebagai seorang pria tidak ingin mengajak kekasihmu berlibur?"


Jeslyn dan Andreas bertatapan satu sama lain. Rasa canggung masih menyelimuti keduanya, jujur saja Andreas masih belum sepenuhnya memberikan hatinya pada Andreas karna itulah Devan bersikeras menyuruh kedua orang itu berlibur agar Andreas bisa mencintai Jeslyn sepenuhnya.


" Bagaimana Jeslyn apa kamu mau?" tanya Devan menatap Jeslyn


" Kalau pak Andreas ikut aku tidak juga ikut,"


" Apa ini kenapa kamu masih menyebutnya pak?"


" Diamlah Devan. Apa kamu bisa berhenti menggoda orang lain?" Sergah Andreas kesal karna bosnya terus menerus menggoda hubungan nya dengan Jeslyn


" Baiklah aku akan ikut bersama kalian tapi dengan satu syarat setelah sampai di sana jangan pernah menganggu dunia kami,"


" Haha baiklah_baiklah saya tidak akan menganggu kalian. Lagi pula saya juga memiliki dunia saya sendiri dan lebih menarik dari duniamu!" ucap Devan melempar kedipan pada Aisyah di sampingnya sedangkan sang empu hanya memincingkan matanya bingung.

__ADS_1


...lanjut? ...


Jangan lupa like, komen, follow and Vote.


__ADS_2