
Di sebuah Universitas terbesar di Jakarta terlihat Nabila yang sedang menunggu seseorang di parkiran. Tak lama seorang wanita cantik datang menghampiri nya yang dapat kita yakini dia adalah Aisyah, hari ini Nabila meminta izin pada sang kakak Devan untuk mengajak Aisyah jalan-jalan. Sebenarnya sih ada hal yang ingin ia tanyakan seputar perkuliahan karna itu ia memilih kaka iparnya di bandingkan kakaknya sendiri karna jurusan yang mereka ambil jelas berbeda.
Setelah dari kampus mereka langsung pergi ke Mall untuk membeli belanjaan. Nabila dan Aisyah terlihat sangat antusias bahkan keduanya tak canggung seperti adik ipar dan kakak ipar pada umumnya, keduanya bersikap seperti adik dan kakak kandung yang tidak malu satu sama lain.
" Kaka tau terakhir aku belanja sama kak Devan semua orang melihat kami seperti sepasang kekasih, apalagi saat orang-orang terus melihat kak Devan. Ehhh... Rasanya aku pengen colok tu mata perempuan," dumel Nabila di sepanjang memilih pakaian.
" Itu berarti kamu sama kak Devan cantik dan ganteng. Karna itu tatapan mereka tidak bisa berpaling dari kalian," ucap Aisyah tak sadar kalau ia mulai menyebut suaminya dengan sebutan kak.
" Hm emang iya sih kak Devan ganteng banget. Bahkan teman- teman sekolah ku dulu sering datang ke rumah dengan alasan pengen kerja kelompok tapi yang sebenarnya mereka hanya ingin melihat kak Devan aja,"
" Karna itu sekarang Kak Devan nggak mau aku ajak ke kampus. Karna dia nggak mau jadi obsesi teman cewe di kampusku," lanjutnya. Bibir itu terangkat menampilkan senyuman kecil, Aisyah benar-benar beruntung karna mendapatkan suami seperti Devan. Bahkan jika ia bersaing dulu dengan wanita-wanita itu mungkin Aisyah tidak akan pernah menjadi istrinya sekarang.
Sudah hampir dua jam lebih mereka menghabiskan waktu berbelanja, keduanya sudah sama-sama kelaparan. Aisyah dan Nabila pergi ke lantai atas untuk mencari makanan. " Eumm lapar banget perut aku. " gumam Nabila tak sabar. Aisyah memanggil pelayan dan memesan makanan, tak butuh waktu lama makanan yang di pesan datang.
Nabila yang sudah kelewat lapar langsung memakan makanan itu tapi tidak dengan Aisyah. Aisyah mengabadikan sensasi itu dan mengirimkan pada suaminya.
[Pict makanan]
" Apa kamu mau makan?" ketik Aisyah pada keyboard ponselnya dan langsung mengirimnya.
[ Wah enak sepertinya, lain kali kamu harus pergi bersamaku!🥰]
Aisyah tersenyum melihat emot luv yang Devan kirim. Nabila yang tidak sengaja melihat itu seketika memicingkan matanya. " Kaka kenapa senyum-senyum sendiri? Oh apa jangan-jangan lagi chattingan sama kak Devan yah. " Goda Nabila berhasil membuat rona merah di wajah Aisyah.
Aisyah mematikan ponselnya dan ikut bergabung memakan makanan di atas meja. Aisyah dan Nabila menikmati kebersamaan mereka, seperti awal tadi Nabila meminta saran akan mata kuliahnya. Aisyah yang satu jurusan dengan Nabila akhirnya memberi penjelasan mengenai mata kuliah itu.
" Astaga bukan hanya pintar ternyata kakak juga pintar. Eumm.. Aku jadi sirik deh, kak Devan benar-benar beruntung karna mendapatkan istri cantik, pintar dan baik seperti kakak," pujian berturut-turut itu keluar dari bibir Nabila.
" Jangan berlebihan kamu juga cantik dan pintar kok. Hanya saja kamu belum mengerti materi ini, dulu juga kakak sangat sulit memahami materi ini bahkan sampai dosen kakak memarahi kaka di depan teman kelas kaka,"
" Benarkah?"
" Iyah, tapi untungnya kakak mendapat pelajaran dari sana sampai kakak berhasil memahaminya," lanjut Aisyah yang membuat Nabila melongo
" Woah Daebak kakak. Kamu memang benar-benar hebat, pokoknya aku pengen seperti kakak nanti," ucap Nabila dengan di akhiri tawa mereka.
*
Hari sudah semakin sore, Aisyah dan Nabila berencana mengakhiri waktu mereka. Namun saat hendak keluar tiba-tiba ada panggilan alam, Nabila pergi ke toilet sedangkan Aisyah menunggunya. Sudah beberapa menit lamanya Nabila tidak kunjung datang, Aisyah yang khawatir berinisiatif menyusul Nabila namun saat berbalik Aisyah malah menabrak seseorang repleks Aisyah meminta maaf dan memunggut barang belanjaan orang itu.
" Astaga maaf aku nggak sengaja," ucap Aisyah refleks sembari memungut barang itu.
" Ini barang kalian maaf jat..."
Degh
Dunia memang sempit bahkan saat kita tidak mau bertemu dengan dia, dunia malah mempertemukannya. Ucapan Aisyah terpotong saat kala menangkap sosok wanita yang hari lalu membuatnya kesal, Fellysha dan Dafriza sedikit terkejut karna bertemu dengan Aisyah disana.
" Aisyah kamu disini juga?" ucap Dafriza dengan nada ramah. Namun dengan cepat Fellysha menarik lengan Dafriza.
" Maaf karna aku barang kalian jadi jatuh,"
" Nggak papa kok Aisyah nggak kotor juga kok," jawab Dafriza dengan senyuman manis di bibirnya. Fellysha yang melihat itu sedikit kesal dan menatap Aisyah sinis.
" Dunia memang kecil yah, sampai kita bisa bertemu di sini. Oh apa jangan-jangan selama ini kamu ngikutin kita yah?"
__ADS_1
" Fellysha...,"
" Apa si sayang, memang benar kok. Selama ini dia tidak pernah bisa mengikhlaskan mu bersama ku karna itu dia tiba-tiba menghilang dan kembali untuk menyusun rencana agar kita berpisah," ucap Fellysha dengan lirikan matanya tertuju pada Aisyah.
" Aku bukan wanita seperti itu," tandas Aisyah
" Benarkah?"
" Fellysha cukup! Apa kau tidak punya malu? Semua orang memerhatikan kita sekarang," gubris Dafriza sedikit berbisik
" Apa yang harus aku malukan Dafri? Disini aku tidak salah, yang salah itu dia! Dari dulu hingga sekarang dia terus mengusik hubungan kita, biarkan semua orang tau kebusukan wanita di balik hijab itu, "
" Woy!!!" Teriakan melengking itu berhasil membuat semua orang tertuju pada suara itu. Nabila berjalan ke arah Aisyah dan menatap tajam ke arah Fellysha dan Dafriza. Sedangkan Aisyah hanya diam kedua tangan Aisyah mengepal dengan bibirnya yang bergetar menahan kekesalan.
" Jaga mulut lo yah! Jangan berani mengatakan hal buruk padanya," teriak Nabila di depan Fellysha
" Maaf anda siapa yah?"
" Cih! Di depan layar aja sok manis. Tapi di belakang layar ternyata....Cecece sungguh menjijikkan!" Celrtuk Nabila berhasil membuat semua orang tersentak.
" Apa maksud mu?" Nabila tersenyum smrik dan langsung menarik Aisyah pergi dari sana. Dafriza hendak mengejarnya namun dengan cepat Fellysha menahannya.
Dafri menatap Fellysha tajam dan langsung menariknya ke taman belakang.
" Dafri lepas sakit, " ringis Fellysha saat kala Dafri mencengkram tangannya kasar.
" Apa yang kamu lakukan hah?" terdengar dengan jelas nada Dafri yang kasar dengan sorot mata tajam tertuju pada Fellysha.
" Kenapa apa kau tidak suka?"
" Kamu sendiri yang membuat hubungan kita menjadi main-main Daf. Kau sendiri yang sudah bersandiwara,"
" Cukup Fellysha! Apa Kau Bisa Berubah Hah?" Bentak Dafri kelewat batas. Air mata Fellysha lolos begitu saja saat mendapat bentakan itu, cepat-cepat Fellysha menghapus air mata itu kasar dan kembali memasang senyuman di bibirnya.
" Apa aku salah Daf?"
" Huh... Kau masih bertanya salah atau tidak? Jelas semuanya salah! Kau tidak bisa terus menerus menyalahkan Aisyah dalam hal ini Felly,"
" Jika bukan Aisyah yang salah lalu siapa?"
" Kau...? Ya kalian berdua bersalah. Kalian diam-diam bertemu untuk kembali bukan?" Dafri mengacak rambutnya frustasi dengan semua pikiran wanita di depannya.
" Aisyah dan aku tidak pernah kembali dan bertemu!"
" Bohong! Kamu bohong Dafri, kamu pikir aku bodoh huh? Selama ini aku mengikutimu, aku melihat kalian bertemu dan di Resto itu aku melihat kalian berpelukan," Dafri tersentak kaget mendengar ucapan Fellysha, jadi selama ini Fellysha diam-diam mengikutinya.
" Bertahun-tahun kita bersama tapi kenapa kamu tidak bisa mencintaiku Daf? Kenapa kamu terus memikirkan wanita itu. apa yang kurang dariku huh? Aku rela memberikan segalanya untuk mu bahkan aku bisa memberikan hal yang tidak bisa Aisyah berikan kepadamu. Tapi kenapa kamu tidak pernah melihatku Daf?" teriak Fellysha murka. Hatinya benar-benar hancur mengingat hari-harinya bersama Dafri tanpa ada cinta sedikitpun.
Fellysha menarik kerah baju Dafri dan berusaha mencium Dafri. Namun pria itu enggan dan mencoba memberontak.
" Cium aku Dafri..."
" Fellysha hentikan!"
"Cium aku Dafri aku mohon," Fellysha terus memaksa mencium Dafri namun pria itu terus memberontak.
__ADS_1
" FELLYSHA CUKUP!" Bentak Dafri berhasil membuat Fellysha terkejut dan melepas cengkraman nya. Air matanya lagi dan lagi lolos begitu saja, tangisnya pecah di sana.
" Kau bahkan tidak mau menyentuhku Daf, "
" Kamu selalu bersamaku tapi hati dan pikiranmu bersamanya. Aku sangat membenci wanita itu, aku benar-benar membencinya hiks," tangis Fellysha pecah. Wajahnya ia tutupi dengan kedua tangannya sendiri, Fellysha benar-benar terpuruk saat ini sedangkan Dafri ia sedang berusaha mengatur deru nafasnya yang memuncak karna ulah Fellysha.
*
Di tempat lain, tepatnya Apartemen Devan terlihat Aisyah yang masih diam memikirkan kejadian tadi. Nabila yang khawatir dengan keadaan Aisyah tidak tega meninggalkan nya sendirian di Apartemen.
" Kak minum dulu," ucap Nabila sembari memberikan air minum pada Aisyah.
" Makasih, " Aisyah meneguk air putih itu hingga habis tak tersisa.
" Kak sebenarnya siapa mereka? Kenapa mereka mengatakan hal buruk itu pada kaka?" tanya Nabila penasaran
" Bukan siapa-siapa, mereka sahabat kaka waktu kuliah, "
" Sahabat kaka bilang? Jika mereka sahabat dia tidak mungkin mengatakan hal buruk itu pada kakak," gubris Nabila tidak percaya
Aisyah membuang nafas berat dan menceritakan apa yang terjadi. Nabila yang mengerti itu langsung mengangguk, namun setelah itu Nabila terus memaki Fellysha.
" Dia yang salah lalu kenapa kakak yang di sudutkan? Ini tidak bisa di biarin kak. Aku harus hubungi kak Devan," Nabila merogoh ponselnya dan hendak menghubungi Devan, namun dengan cepat Aisyah menahannya.
" Jangan Nabila aku ngga mau dia khawatir. Biarkan saja, kakak masih bisa mengurus ini semua sendiri. Lagi pula kaka diam bukan karna kaka tidak bisa, kaka hanya belum bisa percaya kalau kaka akan memiliki hubungan buruk dengan sahabat kakak sendiri," ucap Aisyah memberi pengertian.
" Baiklah tapi kaka jangan diam lagi kalau di tindas. Wanita itu benar-benar tidak waras, dia bisa melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang dia inginkan," ujar Nabila. Aisyah tersenyum bahagia karna mendapatkan adik ipar seperti Nabila yang selalu ada untuknya.
Tak berselang lama keduanya mendengar suara seseorang yang memasukan Password. Dan benar saja tak lama Devan masuk dengan wajah tampannya yang tidak pernah luntur.
" Loh Nabila kamu masih disini?"
" Kenapa memangnya? apa aku nggak boleh datang ke Apartemen kakanya sendiri?" sungut Nabila dengan wajahnya yang sedikit maju seperti menantang
" Turunkan wajahmu itu. Kau ini cewe atau cowok," gubris Devan dingin.
Aisyah mendekati Devan mencium punggung tangan Devan dan beralih mengambil jad juga tasnya. Sebaliknya Devan mencium kening Aisyah lama membuat Nabila berdecak kesal seakan tidak menyadari kehadirannya.
" Ck tidak tau apa ada yang jomblo disini," umpat Nabila yang dapat di dengar oleh Devan
" Jangan banyak bicara, apa kau tidak mau mencium tangan kakakmu? Dasar anak remaja tidak tau sopan santun," tandas Devan
" Ok baiklah aku akan mencium tangan kaka tapi dengan satu syarat, belikan aku mobil yang sempat aku kirimkan ke kakak minggu yang lalu gimana?"
" Syarat macam apa itu? Lebih baik kaka pergi bulan madu dari pada membelikanmu mobil,"
" Jadi kalian mau berbulan madu?" Keduanya seketika mematung. Tatapan mereka beradu namun hanya beberapa detik saja.
" Y_ya apa lagi, kita akan pergi berbulan madu. Kamu mau kan?" tanya Devan pada istrinya. Aisyah tersenyum dan menganggukan kepalanya.
" Yeayy asik, aku boleh ikut dong," teriak Nabila antusias.
" Boleh, tapi kamu harus menikah dulu!" Ucap Devan dan bergegas pergi melewati Aisyah dan Nabila. Senyuman gembira itu memudar tapi tidak dengan Aisyah yang masih full smile.
...Lanjut? ...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. See you next time.