Terpaksa Menikahi Pria Lumpuh

Terpaksa Menikahi Pria Lumpuh
Chapter 44 Penyesalan


__ADS_3

~Di Kediaman Kenzo


Devan dan Aisyah pergi ke rumah Kenzo untuk bertemu Linda karna Aisyah merengek merindukan Linda ibu mertuanya. Devan dengan senang hati mengantar sang istri ke rumahnya dan membiarkan istri dan ibunya menghabiskan waktu bersama.


" Sayang bagaimana kabar kalian? Kapan kalian akan memberi bunda cucu?" Devan dan Aisyah saling bertatapan, keduanya sedikit terkejut mendengar ucapan Linda.


" Bunda kita baru sampai di rumah dan bunda langsung menanyakan cucu?"


" Devan kamu kan tau bunda dan papah sangat menginginkan seorang cucu darimu. Apalagi Nabila dia pasti sangat senang mendapat keponakan imut dari kalian,"


" Kalau begitu suruh dia buat anak sendiri," celetuk Devan yang mendapat cubitan kecil dari Aisyah.


" Maaf bunda mas Devan memang suka begitu," ucap Aisyah


" Iya sayang nggak papa, bunda udah tau kok sikap anak bunda yang satu ini," sindirnya sembari ujung mata itu melirik Devan.


" Oh iya dimana Andreas? Dia tidak ikut kesini?" tanya Linda sadar saat tidak menemukan Andreas disana.


" Huft! Sudahlah jangan mencari anak itu. Dia benar-benar keras kepala," ucap Devan dengan raut wajah tidak suka.


" Kenapa apa ada masalah?"


" Nggak ada bunda, mungkin mereka sedang bertengkar. Nanti juga baikan lagi," sahut Aisyah mencoba mengalihkan pembicaraan. Karna jujur saja Aisyah tidak mau sahabatnya Jeslyn terbawa dalam pertengkaran dua benua itu.


***


Sudah beberapa jam Aisyah dan Devan menghabiskan waktu mereka di kediaman Kenzo. Keduanya berpamitan pergi pulang karna mengingat hari yang semakin malam, namun saat di perjalanan Devan mengingat ada hal yang ingin ia beli. Devan pergi ke dalam toko sedangkan Aisyah menunggu di dalam mobil, saat sedang menunggu netranya kini jatuh pada pasangan yang sangat familiar di penglihatannya. Terlihat dari kejauhan pasangan itu bertengkar adu mulut, tiba-tiba kedua matanya memanas, kedua tangannya mencengkram erat bajunya.


" Fellysha..?" satu kata lolos begitu saja.


Pasangan yang Aisyah lihat saat ini adalah Dafriza dan sahabatnya Fellysha. Fellysha adalah sahabat terbaiknya dulu bahkan saat Aisyah tidak ada tempat untuk cerita, Fellysha lah tempatnya berbagi cerita bahkan saat ia bercerita tentang cinta pertamanya Dafri, Fellysha lah orang yang pertama menjadi tempat Aisyah berbagi cerita namun Aisyah tidak pernah menyangka bahwa sahabatnya sendiri lah yang berkhianat.


Cepat-cepat Aisyah mengusap air matanya agar tidak ada yang melihatnya. Namun, dua pasangan itu semakin lama semakin panas. Tak lama seorang pria keluar dari dalam toko dan berjalan ke arah mobil dimana Aisyah di dalamnya.


" Sayang ada apa?" tanya Devan yang baru masuk mobil. Cepat-cepat Aisyah menggelengkan kepalanya. " Nggak papa."


" Oh iya kamu beli apa?" tanya Aisyah mengalihkan pembicaraan


" Aku beli minuman dan roti lapis buat nanti di rumah," jawab Devan memperlihatkan barang yang ia beli.


Tanpa melihat sekitar (dan tidak penting juga) Devan bergegas menancapkan gasnya pergi ke Apartemen. Di sepanjang jalan Aisyah tak henti-hentinya memikirkan dua insan yang terlihat sedang bertengkar. " apa yang terjadi sebenarnya? bukannya mereka saling mencintai. Dan semua orang melihat mereka sebagai pasangan serasi tapi yang baru aku lihat barusan mereka bertengkar." gumam Aisyah dalam hati.


Devan yang melihat istrinya melamun bahkan saat dia panggil pun tidak ada sahutan dari sang empu merasa bingung, Devan meraih tangan Aisyah dangan mengengamnya erat.


" Kenapa? apa yang kamu pikirkan?" tanya Devan khawatir

__ADS_1


" Tidak ada, aku hanya sedikit pusing,"


" Benarkah?" terlihat dari nada Devan yang terkejut. Devan mengesampingkan mobilnya di pinggir jalan dan menatap Aisyah khawatir.


" Kepala kamu pusing? Kenapa kamu nggak bilang? Kalau tau tadi kita ke rumah sakit dulu,"


" Aku hanya pusing bentar lagi juga sembuh,"


" Sayang sekecil apapun itu jika kita biarkan itu akan semakin besar. Aku nggak mau itu terjadi kita ke rumah sakit sekarang!"


" Sayang aku nggak papa. aku hanya butuh istirahat, mungkin karna efek aku terus memikirkan Jeslyn jadi kepala aku pusing," sergah Aisyah mencoba meyakinkan Devan.


" Kamu serius? aku nggak mau kamu kenapa-kenapa,"


" Iya aku nggak papa kok," ucap Aisyah sembari mengangkat kedua jarinnya berbentuk V


Devan tersenyum dan mengelus kepala Aisyah lembut. " Kemarin aku datang ke Apartemen Andreas karna aku yakin Jeslyn pergi karna dia. Dan benar saja, aku benar-benar minta maaf karna Andreas sahabat kamu satu-satunya jadi pergi."


" Tapi aku janji aku akan suruh anak buah aku yang lainnya untuk mencari keberadaan Jeslyn," janji Devan


" Nggak perlu!"


" Loh kenapa?"


" Sebenarnya aku sudah tau dimana Jeslyn. Kemarin dia telpon aku dan dia bilang dia hanya butuh waktu sendiri," tutur Aisyah.


Devan kembali menyalakan mobilnya dan bergegas pergi ke Apartemen. Sedangkan di tempat lain tepatnya di apartemen Andreas terlihat seorang pria tampan yang sedang duduk di bawah ranjang dengan tubuh sepenuhnya ia sandarkan ke bibir ranjang. Pikirannya terus tertuju saat-saat bersama Jeslyn, kata demi kata yang terlontar dari Devan benar-benar membuat Andreas kalut akan perasaannya.


Semua yang di katakan Devan itu benar kalau ia tidak bisa berhenti memikirkan Jeslyn. Tapi, disisi lain ia masih ragu akan perasaannya pada Jeslyn.


..." Kau tidak bisa melupakan nya bukan berarti kau masih mencintai nya. Tapi karna kau tidak bisa melupakan apa yang sudah dia lakukan padamu!"...


Perkataan Devan terus terngiang-ngiang di pikiran Andreas. Andreas berteriak keras seakan benar-benar dirinya tidak waras, Andreas meraih ponsel dan mencoba menghubungi Jeslyn namun sayangnya nomer Jeslyn tidak aktif. Andreas bangkit dan mengambil jaket serta kunci mobil dan langsung meluncur ke apartemen Devan.


Skip Apartemen Devan.


Terlihat dua insan itu sudah tidur terlelap dengan posisi Devan memeluk Aisyah dari belakang. Suara hujan di luar membuat lagu penghantar tidur untuk mereka, sampai mereka tidak mendengar suara bel berbunyi berulang-ulang kali.


Tintong_tintong!


" Sayang seperti nya di luar ada tamu," ucap Aisyah dengan suara seraknya.


" Ini sudah malam mana mungkin ada tamu," sahut sang empu dengan kedua matanya masih tertutup rapat. Tidak mendengar bel lagi Aisyah kembali memejamkan matanya.


Drtt_drtt_drtt

__ADS_1


Kali ini ponsel Devan berdering.


" Mas ponsel kamu berdering,"


" Aku ngantuk sayang biarkan saja," rengeknya dan malah semakin memeluk Aisyah erat. Sedangkan di luar sana Andreas tak henti-hentinya mengerutu kesal sesekali dia mengutuk Devan.


Tintong_tintong_tintong!


" Mas bangun dulu siapa tau itu penting," Devan berdecak kesal dan bangkit dengan rambutnya yang acak-acakan namun terlihat tampan dan imut.



" Siapa sih malam-malam gini ganggu orang tidur aja," gerutu Devan kesal. Aisyah yang melihat itu terkekeh kecil.


Devan dan Aisyah bangkit dari ranjang dan bergegas membukakan pintu. Aisyah sedikit terkejut saat tiba-tiba melihat Andreas di apartemen nya tapi tidak dengan Devan.


" Kau...ngapain kau disini?"


" Kamu budek apa gimana hah? Saya sudah menekan bel dan hampir 10 kali saya telpon kamu ta..."


" Masih 10 kan nggak sampe 100," seloroh Devan dingin. Andreas membuang nafas berat dan menatap wajah sahabatnya, tanpa permisi Andreas langsung masuk ke dalam Apartemen mendekati Devan yang kini sedang bersandar ke tembok dengan kedua tangannya ia silangkan di depan dada.


" Devan saya benar-benar minta maaf atas kejadian kemarin,"


" Jika kamu hanya ingin keras kepala dan tidak mau merdengarkan saya. Lebih baik kamu pergi!" usir Devan tegas. membuat semua orang tersentak kaget.


" Devan saya minta maaf, oke kemarin saya terbawa emosi. Saya benar-benar tidak bisa berpikir saat itu, tapi Dev jangan seperti ini,"


" Seperti apa maksud mu huh? Bukannya kamu bilang jangan campuri urusan kamu. Yasudah jangan pernah datangi saya lagi selesai bukan?" terlihat Devan yang terbawa emosi. Aisyah yang tidak ingin terjadi keributan mencoba menenangkan Devan.


" Ada apa sebenarnya? Apa yang kalian ributkan?" tanya Aisyah tidak mengerti.


" Kamu tanya sendiri sama dia," ujar Devan tanpa menatap Andreas. Kini Aisyah beralih menatap Andreas meminta jawaban.


Andreas membuang nafas panjang dan menjelaskan apa yang ingin Aisyah dengar. " Aisyah saya benar-benar nggak tau harus ngapain, saya benar-benar butuh bantuan kamu sekarang."


" Bantuan apa?"


" Kamu temannya kamu pasti tau dimana Jeslyn sekarang," Aisyah terdiam sejenak mendengar ucapan Andreas. Ingin sekali ia memberitahu pria itu tapi ia teringat akan janjinya pada sahabatnya itu.


" Jangan beritahu dia Aisyah. Biarkan dia mencari Jeslyn sendiri, dia bisa menemukan banyak orang lalu kenapa Jeslyn tidak bisa," Tatapan elang itu bertemu.


" Mas Devan benar kamu harus mencari Jeslyn sendiri. Kamu tau dia selama ini menyimpan perasaan kepadamu, tapi ketika kamu tau dia menyukaimu kamu malah mengatakan hal bodoh itu? Menurutmu bagaimana seorang wanita bisa begitu mudah memaafkanmu?" Andreas menundukan kepalanya, ia benar-benar bodoh karna sudah menyia-nyiakan wanita yang tulus mencintainya.


...Lanjut?...

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, follow and vote.


__ADS_2