
...Happy Reading...
" Aisyah sebaiknya kamu pulang dulu, kondisi kamu masih belum stabil," ujar Devan
" Nggak Mas, aku nggak tenang kalau belum tau tentang keadaan papah. Kamu kalau mau pulang-pulang saja, nanti kalau bunda tanya jawab saja aku nggak bisa pulang," Devan membuang nafas berat. Mana mungkin ia meninggalkan Aisyah di rumah sakit sendirian bisa-bisa kena omel lagi.
" Saya nggak akan pulang kalau kamu nggak pulang,"
" Aku nggak papa kok," Devan tidak menjawab ia hanya diam tidak mau mendengar ucapan Aisyah lagi. " Kamu nggak mau pulang karna takut kena omel bunda yah? Aku nggak papa kok, oh apa aku harus hubungi bunda dulu agar kamu nggak kena omel."
" Saya nggak akan pulang Aisyah. Kenapa dari tadi kamu terus menyuruhku pulang, apa kamu tidak suka saya disini?"
" Nggak kok.. Bukan itu maksudku. Aku seneng kok kamu ada disini, aku cuman tidak mau ngerepotin kamu,"
" Kamu memang merepotkan saya," jawab Devan. Aisyah membuang nafas panjang dan mengerucutkan bibir.
***
Beberapa jam kemudian Aisyah tertidur pulas di kursi tunggu. Tanpa Aisyah tau, keadaan Risman sudah mulai membaik dan sudah di pindahkan ke ruang rawat. Devan berjalan mendekati Aisyah dan memberikan jasnya untuk menyelimuti tubuh Aisyah tanpa Devan sadari ada seseorang dari kejauhan memergokinya yang bisa berjalan, Diana yang ingin menemui Aisyah terkejut saat melihat Devan bisa jalan kembali. Memang mustahil dan sulit di percaya tapi inilah kenyataannya, tidak ada yang tau takdir dan kehendak allah SWT.
" Apa yang aku lihat sekarang? Jadi Devan bisa jalan?" ucap Diana tak percaya
" Astaga bodoh sekali, kalau begini Aisyah benar-benar sangat beruntung. Tunggu apa selama ini Aisyah tau tentang semua ini? gadis itu benar-benar munafik dia menyembunyikan semua ini agar tidak ada yang tau?" Diana bergegas pergi saat kala melihat kedatangan Andreas dari sebrang sana.
" Tuan pak Risman sudah boleh di jenguk,"
" Lalu wanita tua itu?"
" Mereka tidak ada disini tuan, kita harus menjengguk nya sebelum mereka datang," ujar Andreas.
Devan duduk di kursi roda dan membangunkan Aisyah. " Aisyah bangun."
" M_maaf mas aku ketiduran,"
" Om Risman sudah melewati masa kritisnya. Bukannya kamu ingin menjengguknya? Cepatlah sebelum mereka datang dan membuat kegaduhan lagi," ucap Devan yang membuat Aisyah terkejut dan bahagia. " Kamu serius mas?"
" Hm, cepatlah," Aisyah, Devan dan Andreas bergegas pergi ke ruang rawat Risman. Di ruangan bernuansa putih itu terlihat Risman yang terbaring lemas tak berdaya dengan beberapa alat medis memenuhi tubuhnya. Lagi dan lagi tanpa ia sadari air mata itu lolos begitu saja, Aisyah mendekati Risman dan mengengam tangan itu erat.
__ADS_1
" Pah Aisyah minta maaf, Aisyah nggak bisa ngelakuin apa-apa untuk papah. Kenapa papah rahasiakan semua ini dari Aisyah?" tangis Aisyah pecah di hadapan sang ayah
Sebuah tangan besar itu bergerak mengelus wajah Aisyah. Aisyah sedikit terkejut saat melihat ayahnya yang mulai sadar. " Kamu tidak perlu minta maaf, disini ayah yang salah. Maafin papah sayang," ucap Risman lirih
Risman terus memerhatikan Aisyah. Luka di tangan dan di kepala Aisyah membuat Risman semakin khawatir akan kondisinya. " Papah benar-benar minta maaf, apa kamu bahagia? Aku tidak akan memafkan diriku sendiri. Karna aku hidupmu menjadi seperti ini, apa yang sudah terjadi kepadamu?" tangis Risman saat melihat putrinya terluka
" Aisyah nggak papa,"
" Apa mereka menjahati kamu?"
" Nggak pah, mereka sangat baik dan mereka sangat menyayangi Aisyah seperti putri kandungnya sendiri. Aisyah bahagia bersama mereka pah, papah harus sembuh," ucap Aisyah dengan senyuman kecilnya
" Nyonya," panggil Andreas di balik pintu
" Kita harus pulang sekarang," Lanjutnya
Aisyah melirik Risman dan mencium kening sang ayah lama. " Aku akan kembali, papah harus sembuh."
Aisyah bergegas pergi meninggalkan Risman yang masih dalam keadaan lemah. Rasanya sangat berat bagi Aisyah meninggalkan Risman tapi mau gimana lagi, Aisyah harus pergi karna sekarang hidupnya dengan orang lain.
****
" Aisyah apa yang kamu lakukan?"
" Malam ini aku tidur di sofa, aku merasa tidak enak jika aku tidur di ranjang sedangkan kamu di sofa,"
" Malam ini tidak ada yang akan tidur di sofa,"
Deghh...
Ucapan Devan berhasil menghentikan aktivitas Aisyah. " M_maksud kamu?"
" Cuaca malam ini sangat dingin. Saya tidak mau ada yang sakit di antara kita,"
" Tapi aku..."
" Tidak ada yang harus di perpanjang," Seloroh Devan membuat Aisyah terdiam.
__ADS_1
Devan bangkit dan beranjak ke atas ranjang. Aisyah hanya diam dan melihat Devan tanpa melakukan apapun. " Apa kamu akan terus berdiri di situ?"
" Hah?" Aisyah tersadar dan bergegas naik ke atas ranjang. Keduanya diam di buat gugup sendiri, ini memang buka malam pertama tapi tetap saja ini adalah malam pertama bagi dua insan itu tidur dalam satu ranjang.
" Mas..?"
" Apa?"
" Apa aku boleh bertanya,"
" Hm,"
" Bukannya kamu tidak suka tidur dengan aku. Lalu kenapa sekarang kamu...,"
" Apa saya harus menjawab pertanyaan mu itu? Ini sudah malam Aisyah sebaiknya tidur. Besok saya harus ke kantor pagi-pagi," sergahnya. Devan tidur memungungi Aisyah begitupun sebaliknya Aisyah tidur membelakangi Devan, beberapa menit kemudian rasa ngantuk menyerang dua insan itu tidur sangat pulas hingga matahari terbit.
Namun, posisi mereka sangat berbeda dengan awal mereka tidur yang saling membelakangi. Sekarang kedua insan itu tidur saling berhadapan dengan Aisyah yang tidur di lengan Devan, kelopak mata itu perlahan terbuka hal yang pertama kali Devan lihat adalah wajah istrinya yang cantik alami. Hidung yang mancung, bibir pink alami, bulu mata panjang membuat wajah itu benar-benar sempurna.
[Aisyah kenapa aku begitu bodoh melukai wanita secantik dan sebaik kamu. Andai waktu bisa di ulang aku tidak akan pernah menyakitimu] batin Devan
" Eungh," lengkuhan Aisyah. Devan yang tau Aisyah akan bangun langsung pura-pura tidur.
Aisyah tersenyum kecil dan menatap wajah Devan lama. " Tidak peduli banyak orang yang menghina kamu. Kamu tetap suamiku dan aku akan selalu menjagamu, kamu pria baik aku senang karna kamu suamiku." gumam Aisyah yang dapat di dengar oleh Devan. Tanpa pikir panjang Devan membuka mata sontak hal itu membuat Aisyah terkejut.
" Kamu sudah bangun?" ucap Aisyah yang masih terkejut
" Saya sudah bangun jauh sebelum kamu bangun. Kamu tenang saja saya akan menjaga rahasia yang kamu ucapkan tadi," goda Devan yang membuat Aisyah malu
" K_kamu tidak marah?"
" Untuk apa saya marah?" senyuman Aisyah mengembang sikap Devan yang perlahan berubah membuat Aisyah memiliki lampu hijau untuk bisa menjalin hubungan yang baik dengan Devan.
Pagi ini Devan pergi lebih awal, seperti biasa Aisyah selalu membersihkan kamar mereka. Saat hendak memindahkan barang Aisyah yang tidak melihat ada benda di depannya tak sengaja tersenggol dan jatuh. " Sejak kapan ada tempat sampah disini?" gumam Aisyah sembari merapihkan sampah yang berserakan. Saat sedang merapihkan netranya terhenti ke sebuah amplop putih, Aisyah mengambil amplop itu dan membukanya karna takut penting.
Baru 1 kalimat yang terbaca Aisyah sudah bisa mengenal tulisan itu. Pria yang sudah membuat Aisyah tidak lagi percaya dengan pria lain, pria yang sudah berkhianat dengan sahabatnya sendiri. Aisyah merobek surat itu dan kembali membuangnya.
Dafriza adalah kakak kelas Aisyah waktu SMA hingga kuliah pun Dafri selalu bersama Aisyah, Aisyah dan Dafri memang saling menyukai namun mereka tidak ada niat untuk saling mengungkapkan hingga pada akhirnya sahabat Aisyah memberitahu Dafri tentang perasaan Aisyah kepadanya. Sahabatnya selalu mendukung tapi ntah kenapa malam itu saat Aisyah pergi ke rumah sahabatnya ia terkejut saat melihat Dafri dan sahabatnya sedang tertidur berdua, sejak saat itu lah Aisyah tiba-tiba menghilang dan tidak pernah muncul di hadapan Dafriza dan sahabatnya.
__ADS_1
......Next Part>......