
...***Terpaksa Menikahi Pria Lumpuh...
...Happy Reading***...
Di sebuah jalan itu terlihat Diana yang tak sengaja melihat Aisyah dan Devan, aliran panas di dalam tubuhnya sekarang muncul, seru nafas yang tidak beraturan dan kedua tangannya yang mengepal sempurna sudah bisa kita katakan kalau saat ini Diana sedang di bakar apo cemburu dan iri kepada Aisyah.
Melihat kebersamaan dan keromantisan itu membuat Diana muakdan semakin mengila, ia benar-benar tidak pernah menyangka kalau hidup Aisyah akan seindah itu sedangkan sekarang hidup dirinya malah semakin buruk dan kacau.
" Tidak Diana kamu masih ada kesempatan, mereka tidak benar-benar saling mencintai. Kamu masih ada sedikit kesempatan untuk mengambil apa yang sudah seharusnya milik kamu," gumam Diana bicara sendiri.
" Sayang apa semua keperluan rumah sudah cukup?" tanya Devan dengan tentengan di kedua tangannya.
" Sudah kok,"
" Yaudah kalau begitu kita pulang, hari sudah sore lagi pula menurut perkiraan cuaca, hari ini akan turun hujan dan angin kencang. Karna itu kita harus segera kembali ke apartemen sebelum badai itu datang.
Aisyah mengangguk dan bergegas masuk ke dalam mobil begitu juga dengan Devan. Mereka meninggalkan tempat perbelanjaan itu.
***
" Astaga sepertinya akan turun hujan mana aku lupa bawa payung lagi," gumam Jeslyn sesaat sesudah mengunci Resto. Jeslyn bergegas pergi dari Resto itu dan berteduh di halte bus saat hujan itu mulai turun.
" Tuh kan basah," gumam Jeslyn sembari membersihkan air di pakaiannya.
" Butuh tumpangan?" Suara bariton itu berhasil menghentikan aktivitas gadis itu. Jeslyn sedikit mendongakan kepala nya dan melihat Andreas di depan sana.
" Nggak usah aku bisa pulang sendiri, lagi pula sebentar lagi busnya datang," tolak Jeslyn lembut. Andreas membuang nafas dan turun dari mobil menghampiri Jeslyn disana.
" Jeslyn cuaca hari ini sangat buruk ayok saya antar," tawar Andreas lagi.
" Maaf Pak tapi saya benar-benar ingin naik bus, jika cuacanya buruk sebaiknya bapak segera pulang,"
" Apa kamu tidak tau Jeslyn?"
" Hah tau apa?"
" Bus itu tidak akan datang, karna sekarang cuaca disini sangat buruk. Semua orang dan kendaraan lainnya berdiam diri tidak ada yang keluar karna mereka takut sesuatu terjadi," ucap Andreas sedikit berteriak agar Jeslyn bisa mendengarnya.
Angin dan hujan yang deras itu membuat Andreas dan Jeslyn harus berbicara keras agar mereka bisa saling mendengar satu sama lain. " Jeslyn apa kamu dengar saya?"
" Ayok masuk mobil saya, saya antar kamu pulang," lanjutnya. Jeslyn berpikir sejenak ia melihat sekelilingnya benar-benar sepi tidak ada orang dan kendaraan satu pun disana. Tidak ada cara lain dengan terpaksa Jeslyn mau naik mobil Andreas. Di sepanjang perjalanan Jeslyn hanya diam dengan tatapannya fokus ke luar jendela hal itu membuat Andreas sendiri bingung dengan apa yang terjadi kepada Jeslyn akhir-akhir ini.
__ADS_1
" Apa kamu marah sama saya?" pertanyaan Andreas berhasil mengalihkan perhatian Jeslyn.
" T_tidak untuk apa aku marah sama kamu,"
" Lalu kenapa dengan sikapmu? Aku merasa kamu menjauhi saya akhir-akhir ini," Jeslyn hanya diam tidak mengubris ucapan Andreas.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah Jeslyn, cuaca masih buruk bahkan di luar sana hujan dan angin itu bersatu sangat deras. " Pak Andreas cuaca sangat buruk sebaiknya untuk sementara waktu tunggu di rumah aku sampai keadaan sudah membaik." Ujar Jeslyn.
" Saya tidak papa, saya langsung pulang saja. Lagi pula jarak rumah kamu dengan Apartemen saya tidak terlalu jauh," tolak Andreas lembut.
[ Bahkan kamu tidak mau tinggal berdua denganku walau hanya sebatas menduh. Kamu memang tidak akan pernah bisa membuka hatimu] batin Jeslyn.
" Baiklah kalau begitu hati-hati, aku masuk dulu!" Andreas mengangguk pelan, ia turun dari mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah. Dari celah jendela Jeslyn melihat kepergian mobil Andreas, lagi dan lagi Jeslyn membuang nafasnya panjang.
Di tempat lain tepatnya di Apartemen Devan, kedua insan itu baru sampai Apartemen. " Sebaiknya kamu mandi dengan air hangat karna tadi kepala kamu kena air hujan, aku takut nanti kamu sakit." ujar Devan
" Kamu juga harus segera mandi hujan ini tidak baik untuk kesehatan,"
" Aku akan mandi di kamar tamu. Oh atau nggak kita mandi bersama saja bagaimana hm?" goda Devan
" Nggak aku mau mandi sendiri," ucap Aisyah dan bergegas pergi ke dalam kamar.
***
Devan berjalan mendekati pintu dan mengetuk pintu itu.
Tok_tok_tok
" Sayang? kenapa kamu lama di dalam Are you oke?" teriak Devan dari luar.
" I_iya aku nggak papa kok,"
" Aku sudah selesai mandi tapi kamu masih di dalam. Kamu kenapa? aku masuk yah!" ucap Devan dan beralih memegang knop pintu. Saat hendak membuka pintu itu tiba-tiba Pintu terbuka menampilkan Aisyah disana, kedua mata Devan sedikit membulat tak berkedip dan sesekali ia menelan salivanya susah payah saat melihat Aisyah keluar hanya mengenakan kemeja putih miliknya dan itupun kebesaran di tubuh mungilnya kedua paha mulus dan putih itu sangat terlihat apalagi rambutnya yang basah dan leher putih yang berkilap itu, sungguh aaat ini Devan sedang berusaha untuk tidak menerkam gadis di depannya.
" Sayang apa yang kamu kenakan? Apa sekarang kamu sedang mencoba menggodaku hm?" Devan memperdekat jaraknya dengan Aisyah.
" Aku tidak menggodamu, lihat semua bajuku ada di ruang ganti itu. Aku nggak tau cara masuknya karna itu aku pakai baju yang ada saja,"
" Astaghfirullah aku lupa belum memberitahu mu. Ruangan itu aku beri Pin, disana ada ruang rahasia karna itu aku beri Pin agar tidak ada sembarang orang yang masuk ke sana," tutur Devan
" Tapi, aku rasa kemejaku itu sangat cocok di tubuhmu. Kamu terlihat sangat Sexy sayang," Goda Devan membuat wajah Aisyah merah merona.
__ADS_1
Devan melangkahkan kakinya mendekati Aisyah dan menarik tubuh itu ke dalam pelukannya. Suara hujan yang begitu merdu membuat suasana itu semakin tak karuan, tangan Devan sibuk menyelipkan helaian rambut itu ke daun telinga Aisyah, jantungnya berdetak sangat cepat bahkan Aisyah sangat sulit bernafas karna gugup.
" Apa kamu masih ingat hukuman yang akan aku berikan kepadamu??" bisik Devan tepat di telinga Aisyah.
" Aku rasa kamu tidak melupakan nya, kamu tenang saja aku tidak akan menyakitimu. Hukuman yang aku berikan akan membuatmu selalu mengingatnya, akan ku pastikan itu," ucap Devan tersenyum smrik. Aisyah yang gugup hanya bisa meremas kemejanya erat.
[Apa yang akan dia lakukan? A_aku sangat gugup bagaimana ini] batin Aisyah.
Devan meraih tengkuk leher Aisyah, perlahan wajahnya mendekati wajah Aisyah. Aisyah tau apa yang akan pria itu lakukan tanpa berpikir Aisyah memejamkan matanya, sebuah benda kenyal itu menyentuh bibir Aisyah. Devan ******* bibir Aisyah lembut, Aisyah yang tidak handal dalam hal ini namun dengan mengikuti gerakan bibir itu kini Aisyah bisa mengimbanginya. Aisyah membalas ******* bibir Devan itu, tangan Devan tidak tinggal diam pria itu mulai menyentuh hal-hal sensitif Aisyah.
Drtt_drtt_drtt
Satu panggilan masuk ke ponsel Devan tapi sepertinya tidak di gubris sang pemilik. Ponsel Devan yang terus berdering membuat Aisyah menghentikan Devan. " Angkat siapa tau itu penting." ujar Aisyah.
Devan berdecih dan mengangkat telpon itu.
" Ya?"
" Tunggu sepertinya saya tidak melakukan kesalahan dan saya baru menelponmu sekali. Tapi kenapa namamu seperti itu?" ucap Andreas di sebrang sana.
Aisyah yang tidak mau menganggu memilih untuk pergi namun langkahnya terhenti saat sebuah tangan kekar menahannya. Tatapan mereka bertemu bahkan Devan tidak pernah mengalihkan pandangan nya dari Aisyah.
" Kesalahan mu adalah menganggu saya. Jadi jangan hubungi saya malam ini!"
Tut_tut_tut.
Devan memutuskan panggilan itu sepihak.
" Aku tidak bisa menahannya lagi,"
Street!!!
Aisyah sedikit terkejut saat tiba-tiba Devan menciumnya agresif. Mereka berciuman sembari berjalan, Devan menjatuhkan tubuh Aisyah ke ranjang dan menindihinya. Devan mencium kening Aisyah, mata, pipi, hidung dan terakhir bibir. Kedua insan itu saling berpangutan dan juga menukar saliva masing-masing, bibir itu mengabsen gigi putih yang berjahar disana. Ciuman itu kini beralih ke leher Aisyah dia meninggalkan banyak jejak tanda kepemilikannya disana dengan tangannya aktif meraba dan mer**** dua gundukan kenyal itu membuat sang empu mengerang.
...lanjut?...
Maaf yah kemarin nggak up di karenakan badan nggak fit jadi otakpun ikut ngeblank. But, author tidak pernah lupa memikirkan hal menarik untuk cerita ini.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini!
Salam rindu dari Author :)
__ADS_1