
Di sebuah Restoran mewah di kota Y terlihat dua pria tampan dan gagah itu sedang beradu pandang dengan tajam. Sorot keduanya terlihat begitu tajam, bahkan orang-orang disana dapat melihat ketidak akuran keduanya.
Andreas yang di minta untuk tidak ikut kelantai atas hanya menunggu dan memantau tuannya di bawah sana. Dapat Andreas lihat dua pria yang sedang menatap tajam satu sama lain di atas sana, di sisi lain Andreas merasa khawatir akan tuannya. Karna semua orang tau sikap lain dari tuannya yaitu tidak bisa menahan emosinya jika tidak ada Aisyah di sampingnya.
" Bagaimana ini? Bagaimana kalau tuan tidak bisa mengontrol emosinya. Apa saya harus menghubungi Aisyah? Tapi tidak. Jika saya menghubungi Aisyah dan memberitahu nya bisa-bisa saya yang kena marah," gumam Andreas khawatir.
Di atas sana Devan meneguk minumannya sedangkan Dafri hanya diam menatap Devan dingin. " Kenapa menatap saya? kau ingin minum? Saya rasa kau punya tangan." celetuk Devan yang membuat Dafri jengah
" Jangan berlama-lama. Katakan apa yang ingin kau katakan? saya tidak punya waktu untuk berbicara hal yang tidak penting!" Tandas Dafri
" Hah sombong sekali anda. Jika boleh saya sombongkan, waktu saya lebih berharga dari waktu anda itu,"
" Jika bukan karna istri saya, saya juga tidak ingin duduk disini berdua dengan anda!" lanjut Devan yang berhasil membuat Dafri sedikit tersentak.
[Aisyah, ada apa dengan Aisyah?]
" Istri anda adalah istri anda. Lalu, apa hubungannya dengan saya? Dan ya saya tidak tau menau tentang kalian,"
" Oh benarkah? Ternyata mulut anda memang tidak bisa di percaya," ucap Devan lalu mengeluarkan sebuah amplop coklat dan melemparkan nya ke arah Dafri, Dafri yang bingung langsung mengambil amplop itu dan membukanya.
Dafri sedikit terkejut saat melihat beberapa foto dirinya dengan Aisyah saat-saat terindah bersama Aisyah, namun seketika Dafri terdiam sejenak saat melihat foto-foto Devan dan Aisyah yang terlihat sangat bahagia disana.
" Kau mengerti sekarang?"
" Apa maksudmu?"
" Disana sudah membuktikan jika anda adalah masalalu istri saya. Dan sekarang masa depannya adalah saya, saya yang bisa membahagiakan dia lebih dari anda. Jadi, saya harap anda bisa mengerti dan sadar kalau sekarang Aisyah adalah istri saya,"
" Dan stop anda usik kehidupan saya dan istri saya. Jangan pernah berani muncul di dalam kehidupan kami apalagi mencoba mengambil kesempatan pada istri saya, saya tidak akan segan bertindak kasar jika anda melewati batas wajarmu!" lanjut Devan penuh penekanan.
Terlihat Dafri yang tertawa hambar dan kembali melempar semua foto-foto itu ke arah Devan. " Hah kamu pikir kamu siapa? Kamu bukan atasan atau Tuhan saya, jadi jangan bertindak semau mu. Dan yeah sampai detik ini saya masih mencintainya dan bahkan sampai detik ini dia masih kekasih saya, kami tidak pernah mengatakan putus jadi yang seharusnya yang mengerti akan posisi saat ini adalah kau!" ucap Dafri penuh penekanan
__ADS_1
Terlihat tangan kanan Devan mengepal pertanda emosinya mulai terpancing. " Anda memang tidak bisa di ajak bicara baik-baik tuan Dafri."
" Jika kamu mengajak bertemu saya hanya untuk menyuruh saya menjauh dari Aisyah. Saya tidak akan pernah mengikuti semua ucapan mu, bagaimana pun kami saling mencintai dan karna mu hubungan kami jadi berantakan!"
" Tutup mulut mu selagi saya masih bisa mengontrol emosi saya," Ujar Devan menahan emosinya yang mulai meronta-meronta.
Melihat sikap Devan membuat Dafri mengambil kesempatan dan menjadi tau kelemahan lawan bicaranya. Dafri mulai memancing emosi Devan, ia tidak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya yang ingin ia lakukan adalah membuat pria di depannya menampilkan watak aslinya itu.
" Hahah Devan, Devan. Kau tau? dulu kami saling mencintai dan bahkan sampai detik ini. Hubungan mu dan Aisyah hanyalah sebuah perjanjian antara kolega bisnis. Cecece sungguh di sayangkan Aisyah harus meninggalkan saya hanya karna untuk menikahi pria lumpuh seperti mu!"
" Brengsek!!"
Andreas yang berada di bawah sana terkejut saat melihat Devan mencengkram kerah baju Dafri kasar. Tidak ingin hal buruk terjadi Andreas cepat-cepat naik ke lantai atas untuk menenangkan emosi tuannya.
Sesampainya di lantai atas dapat Andreas lihat sorot mata tajam dengan kedua mata yang memerah itu mengarah pada Dafri. Bahkan dua pria itu kini menjadi sorotan semua pengunjung disana.
" Lihatlah apa yang di lakukan pria ini. Kasian sekali Aisyah karna harus menikahi pria Arogan dan emosional seperti mu!" Dafri semakin menjadi-jadi dan bahkan sekarang kesukaan nya itu adalah membuat Devan emosi.
" Sejak tadi kau terus menghina dan mengatakan tentang keburukan saya. Tapi apa pernah kamu melirik diri mu sendiri? Sungguh menjijikkan, seorang pria yang mengatakan mencintainya tapi dia berani bermain ranjang dengan sahabat kekasihnya sendiri. Sungguh di sayangkan, saya memang pria Arogan tapi untuk saat ini sebutan itu lebih bagus di bandingkan dengan sebutan Bajingan seperti anda!"
Dafri tersentak mendengar ucapan Devan. Deru nafasnya mulai memburu rasa emosi dan amarah mulai menyelimuti tubuhnya.
" Hari ini saya lepaskan kau. Tapi jika saya melihatmu mencoba menyentuh dan bahkan menemui istri saya, saya tidak akan segan mematahkan lehermu ini!" Ancam Devan penuh penekanan dan bergegas pergi meninggalkan Dafri disana.
Dafri tertawa hambar dan menyunggingkan senyumnya sesaat setelah kepergian Devan.
***
Di tempat lain Aisyah terus menatap layar ponselnya. Pesan panjang yang ia kirimkan pada suaminya belum juga di balas bahkan di lihat saja tidak dan hal itu membuat Aisyah tidak bisa fokus bekerja hari ini.
" Mas apa kamu masih marah? Kenapa kamu jahat banget, kamu kan tau aku nggak akan pernah fokus bekerja kalau nggak ada notif dari kamu. Sampai kapan kamu diemin aku mas?" gumam Aisyah dalam hati sembari tatapannya fokus pada layar.
__ADS_1
Tiba-tiba Jeslyn datang dan mengagetkan Aisyah sontak hal itu mendapat pukulan kecil dari Aisyah. " Kebiasaan deh, kalau aku jantungan gimana?" ketus Aisyah
" Yaelah lagian kamu kenapa ngelamun terus? Nggak ada niat bantuin aku gitu? Belanjaan banyak banget loh yang harus kita beli, kamu serius nggak mau bantuin aku?" tanya Jeslyn dengan wajah diimut-imutkan.
" Iya, iya aku bantuin kok. Bentar aku ambil tas dulu," Aisyah bangkit dari duduknya dan bergegas pergi mengambil tas, namun melihat wajah Aisyah yang sedih Jeslyn langsung menarik Aisyah.
" Tunggu kamu kenapa lagi? Apa karna mas Devan?"
" Hm kayanya dia masih marah. Ini kali pertamanya dia marah lama sama aku, aku benar-benar ngerasa bersalah sama dia,"
" Kamu udah pikirin belum usul aku kemarin?"
" Belum,"
" Yaudah gini aja sekarang kita belanja. Setelah itu aku bantuin kamu nyiapin acaranya, kita buat acara dinner romantis kamu di Rooftop Resto, untuk hari ini kita buka sampe jam 2 siang aja gimana?"
"Kamu serius?"
" Iya,"
" Yaudah tunggu apa lagi sekarang kita berangkat takut kesiangan soalnya, " Aisyah bergegas mengambil tas dan berangkat pergi ke pasar untuk membeli belanjaan.
Aisyah benar-benar bersyukur karna mendapatkan sahabat yang setia dan bisa membantu nya ketika ia sedang kesulitan.
Itulah arti sahabat dalam kehidupan kita. Dimana ada kesulitan maka dia akan datang untuk menompang kesulitan itu.
...Lanjut?...
**Mohon maaf karna baru kali ini cerita ini publish. Di karenakan banyak kendala yang membuat saya tidak bisa melanjutkan cerita ini.
Tapi saya harap masih ada yang menyukai dan menunggu cerita saya. Dan Terima kasih pada kalian yang masih setia menunggu walaupun saya sadar, saya hanya bisa memberi harapan palsu😅 Tapi di situlah saya melihat dimana kesetiaan kalian.
__ADS_1
Up Rindu buat kalian yang masih stay dengan cerita aku terimakasih banyak🥰🥰😙**