
...WARNING!!...
...Harap Bijak Dalam Membaca! ...
...Area 21+...
Di rumah yang tidak terlalu besar itu, Jeslyn, Andreas dan Leo menghabiskan waktu makan malam bersama. Terlihat dia mata elang itu terus memantau dia sejoli yang sedang asik makan dengan canda tawa mereka, Andreas tidak berbicara karna Leo tidak memberinya kesempatan untuk berbicara hal itu membuat Andreas kesal seakan kehadirannya tidak di hargai.
" Ekhem," deheman Andreas mencoba memulai bicara. Tapi sepertinya dua insan itu masih fokus berbicara seakan dunia milik berdua.
[Siapa sebenarnya pria ingusan ini. Kenapa dia sangat dekat dengan Jeslyn, kalau begini bagaimana cara saya bicara dengannya] batin Andreas
*
Di tempat lain, sebuah kamar yang di hias indah dan romantis dengan sekuntum bunga mawar di mana-mana. Cahaya yang hanya terpancar dari lilin itu benar-benar membuat kamar itu terlihat indah.
Kedua insan itu terbuai akan pangeran mereka. Devan mengiring Aisyah ke ranjang dengan pangutan mereka yang masih saling berpangutan panas, Devan melepas bajunya dan melemparnya kesebrang arah, ia mulai mencumbui Aisyah yang berada tepat di bawah kungkungannya.
C****n itu beralih dari kening, mata, pipi, hidung dan terakhir bibir. Devan m*****t bibir Aisyah lembut namun sensasi itu benar-benar membuat Aisyah merasakan panas dan sesak di tubuhnya, tangan Devan mulai melucuti satu-persatu kain yang melekat di tubuh itu dan hanya menyisakan bra untuk menutupi benda favoritnya itu.
Devan mengangkat tubuh Aisyah menjadi di atas pangkuannya. Tangan itu meraba-raba punggung halus Aisyah mencari pengait bra yang menutupi benda favorit nya, tanpa butuh waktu lama pengait itu sudah terlepas dengan sempurna membuat dua bukit kenyal itu menyembul sempurna tepat di wajah Devan.
Seperti bayi yang haus akan Asi sang ibu. Devan langsung memilih put*** pink itu rakus sesekali mengigitnya membuat sang empu mengerang nikm*t.
" Ahhsss," Suara erangan yang terdengar merdu itu membuat Devan semakin liar.
Tatapan mereka bertemu, keduanya aling mengatur deru nafas yang memburu. Tangan Devan beralih ke rambut Aisyah, rambut Aisyah tergerai sempurna saat kala tangan kekar itu melepas pengikat rambut itu.
" Kamu sangat cantik sayang," Ucap Devan dengan nada berat dan hal itu benar-benar terdengar sangat seksi di telinga Aisyah.
Tak kuasa melihat keseksian Aisyah Devan kembali m*****t bibir Aisyah agresif dan mengungkung Aisyah di bawah sana. C****n itu kini beralih ke leher dan meninggalkan banyak kiss marks disana. lalu turun ke perut rata Aisyah dan semakin turun hingga paha mulus itu. Aisyah mengigit bibir bawahnya saat kala bibir itu menci*mi miliknya yang masih terbalut CD.
" Ahh mas Devan..." Satu des**** lolos begitu saja.
Devan kembali mencium bibir Aisyah dan menatap manik mata itu. " Kamu sudah basah sayang."
" Mas aku..."
" Kita mulai yah?" ucap Devan yang di angguki Aisyah. Karna jujur saja Aisyah juga menginginkannya.
Di bawah sana Aisyah merasakan benda besar yang memaksa masuk. Rasanya sangat sakit dan besar seperti saat pertama Devan melakukannya. Devan berusaha memasukan benda pusakanya sesekali ia menc*** bibir Aisyah agar wanita itu semakin terangsang dan...
Jleb
Sekali hentakan Devan langsung memenuhi milik Aisyah. Devan terus mrnghujam milik Aisyah dengan cepat membuat sang empu terus mende*** nikmat. Tempo itu semakin lama semakin cepat hingga belum sempat beberapa menit Aisyah sudah mencapai puncaknya, namun Devan masih belum puas.
Ia terus menghujam miliknya. Keringat di tubuh mereka benar-benar bersatu, tubuh mereka benar-benar basah karna keringat namun hal itu menjadi bukti cinta mereka yang sebenarnya.
" Sayang aku ahh...."
Devan ambruk di atas Aisyah. Cairan itu ia semburkan di dalam rahim Aisyah, Devan mencium kening Aisyah lama dan mengecup bibir itu.
" Makasih sayang. Aku mencintaimu,"
" Aku juga mencintaimu," jawab Aisyah dengan senyuman mekar di bibir itu.
Keduanya tertidur pulas dalam keadaan tanpa kain sedikitpun.
__ADS_1
***
Leo sudah tertidur pulas di dalam. Sedangkan Jeslyn masih sibuk membereskan tempat meja mereka, tak lama Andreas datang dan membantu Jeslyn tapi sang empu malah menolaknya.
" Sebaiknya bapak juga tidur, besok bapak harus pulang!" ujar Jeslyn tanpa menatap lawan bicaranya.
" Kenapa sejak tadi kamu menyuruh saya pulang Jeslyn?"
" Rumah bapak kan bukan disini. Lagi pula aku akan tinggal disini lama, jadi bapak pulang saja," ujar Jeslyn lagi
" Kamu akan tinggal disini lalu Aisyah?"
Jeslyn menghentikan aktivitas nya sejenak dan kembali melanjutkannya. " Aisyah sudah punya suami jadi aku tidak perlu merasa mengkhawatirkan nya. "
" Lalu saya?"
Degh
Langkah kaki yang hendak masuk ke dalam rumah tiba-tiba kaku. Jantung itu berdegup sangat cepat, Jeslyn terus mencerna ucapan Andreas barusan.
" Apa kamu tidak mengkhawatirkan saya Jeslyn? Bukan kah kau bilang kau menyukaiku?" ucapnya lagi. Jeslyn berbalik dan menatap Andreas yang hanya diam membalas tatapannya.
" Hahah bapak bercanda? Aku tidak mungkin mengkhawatirkan bapak. Bapak sudah besar apalagi hebat dalam beladiri, aku tidak khwatir akan hal itu,"
" Jadi apa kamu tinggal disini karna ada Leo?" pertanyaan konyol terlontar dari bibir tipis itu
" Leo?"
" Iya Leo. Saya lihat hubungan kalian sangat dekat dan sepertinya dia cukup baik dan perhatian sama kamu,"
" Bapak benar dari kecil hingga sekarang dia sangat memperhatikan ku. Bahkan ketika aku butuh seseorang dia selalu ada untukku," jawab Jeslyn santai. Andreas memilih bibir itu sekilas dengan kedua tangannya sedikit mengepal.
" Haish bodoh! Kenapa kamu nggak coba ajak Jeslyn iku pulang bersamamu, "
" Dan wanita itu kenapa dia terus memuji bocah ingusan itu? Haish ternyata aku harus bersaing dengan bocah ingusan itu, baiklah kita lihat siapa yang akan menang. Aku pria tampan, memiliki IQ di atas rata-rata dan semua wanita mengejarku atau bocah ingusan itu," gumam Andreas dengan wajah seriusnya.
**
Pagi hari yang cerah, sinar matahari itu masuk melalui celah jendela. Dua insan yang masih tertidur pulas itu enggan membuka mata, keduanya sama-sama lelap akan mimpi dan pelukan hangat mereka.
Aisyah membuka matanya, hal yang pertama ia lihat adalah wajah tampan sang suami. Aisyah mengecup pipi Devan sekilas dan langsung menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Sedangkan Devan mengerjap-ngerjapkan matanya menyesuaikan dengan cahaya lampu.
" Sayang apa yang tadi kamu lakukan? Apa kamu mencoba menggodaku?"
Aisyah menurunkan selimut itu dan menatap wajah suaminya yang kini sudah ada di atasnya. " Aku hanya ingin menyapa pagi apa tidak boleh?"
" Tentu saja boleh sayang, tapi sapa pagimu membuat si bontot bangun. Dan kamu harus bertangungjawab," Ucapnya dengan senyuman yang penuh arti. Dan benar saja Aisyah merasakan benda keras menyentuh paha mulus nya, Aisyah yang malu langsung bangkit dengan selimut yang melekat di tubuhnya.
Namun segera mungkin ia tersadar jika selimut itu ia tarik maka Devan sekarang.
" Ahhh,"teriak Aisyah menutup wajahnya menggunakan selimut. Namun Devan hanya mengerutkan halisnya tidak mengerti, tanpa rasa malu Devan bangkit dan mendekati Aisyah.
" Kenapa kamu berteriak?"
" Kamu nggak pake baju," jawab Aisyah yang berhasil membuat gelak tawa Devan pecah.
" Kenapa kamu malu? Bukan kah semalam kamu melihatnya? Bahkan kamu sangat menyentuhnya semalam," seru Devan berhasil membuat wajah Aisyah merah merona.
__ADS_1
" Seperti nya kamu belum terbiasa dan aku harus memperkenalkannya untukmu,"
Devan mengangkat tubuh Aisyah ala bridal style. " Mas kamu mau ngapain?"
" Bukannya kamu mau mandi? aku juga mau mandi, biar cepet kita mandi bersama aja," Aisyah membelalakan matanya. Aisyah memang sudah berhubungan tapi ia masih belum terbiasa saat melihat tubuh Devan yang polos itu.
*
*
" Dimana Jeslyn?" Andreas pergi mencari Jeslyn yang sejak ia bangun ia tidak melihat Jeslyn dan Leo.
Andreas mencari keseluruh sudut ruangan bahkan taman belakang. Tapi tetap tidak ada tanda-tanda sang empu disana, akhirnya Andreas memilih mencari Jeslyn ke pantai. Seketika deru nafasnya mulai naik, wajahnya pun seketika berubah menjadi dingin.
Terlihat Jeslyn dan Leo sedang menikmati pantai pagi. Senyuman mekar itu terlihat jelas di bibir Jeslyn, senyuman yang tidak pernah ia lihat sebelumnya kini terlihat dengan jelas di wajah itu saat bersama bocah yang bisa di bilang lebih muda dari Jeslyn.
" Jeslyn siapa pria itu sebenarnya? Kenapa aku merasa dia tidak menyukai ku. Saat aku bersama mu dia pasti ada di sana dan menatapku tajam, apa dia pacarmu?" tanya Leo penasaran
Jeslyn terdiam sejenak dan langsung mengelengkan kepalanya. " Bukan."
" Lalu kenapa dia bersikap seakan kalian sedang berpacaran? Sangat menyebalkan. Usir saja dia dari sini, aku tidak bisa berbicara dengan tenang sama kamu karna dia," ucap Leo mencibiri Andreas
" Leo maafkan aku, aku juga tidak tau kenapa di seperti itu. Hari ini dia akan kembali ke Jakarta dan aku yakin ini akan lebih baik,"
" Tapi kenapa wajahmu sedih?"
" Hah sedih? Hahah mana ada. Aku tidak sedih aku hanya..."
" Hai?!!"
Ucapan Jeslyn terpotong saat kala Andreas datang. Leo memutar bola matanya malas dan beranjak pergi dari sana meninggalkan Andreas dan Jeslyn berdua.
" Bocah itu kenapa?" tanya Andreas bingung. Jeslyn hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban.
" Oh iya Jeslyn saya ingin bicara sama kamu,"
" Bicara soal apa?"
" Saya..."
" Jeslyn?!" Lagi dan lagi ucapan Andreas terpotong membuat sang empu membuang nafas kasar dan menatap Leo tajam.
" Ada apa Leo?"
" Apa kamu ingin mie instan? Sini biar aku buatkan," teriaknya
" Aku mau!" sahut Jeslyn antusias lalu beralih melirik Andreas. " Apa bapak mau?"
" Tidak! Mie instan tidak baik untuk kesehatan. Dan sebaliknya kamu juga jangan makan mie instan,"
" Loh kenapa? Mie instan sangat enak kok. lagi pula hari ini aku tidak masak, bapak kan mau pulang ke Jakarta jadi harus makan dulu. Ayok!" Jeslyn berlari masuk ke dalam rumah.
Sedangkan Andreas hanya bisa mendengus kesal.
...Lanjut? ...
Duh gimana nih ceritanya makin ngaco yah? Kok sepi amat sih, kasih saran dong biar kalian bisa semangat lagi.
__ADS_1
O iya jangan lupa kasih like dan Vote kalian yah. Makasih banyak:)