Terpaksa Menikahi Pria Lumpuh

Terpaksa Menikahi Pria Lumpuh
Chapter_17 Maaf


__ADS_3

...Happy Reading!...


Sesampainya di rumah sakit keadaan Aisyah masih kritis, darah yang tak henti-hentinya keluar membuat Aisyah mengalami kekurangan darah dan membutuhkan donor darah secepatnya. Devan yang khawatir langsung menghubungi semua rekan kerjanya untuk mendonorkan darah dengan imbalan akan memberikan gajih dan uang dengan nominal yang cukup besar, Andreas yang melihat itu benar-benar terkejut akan kondisi kaki dan sikap Devan yang benar-benar mengatakan jika dirinya sudah mulai membuka hati lagi. Beberapa menit kemudian ada seseorang yang bersedia mendonorkan darahnya untuk Aisyah, Devan bernafas lega setidaknya ada orang yang bersedia mendonorkan darahnya untuk Aisyah. Tak berselang lama Farhan dan yang lainnya termasuk Dylon datang dengan ekpresi wajahnya yang khawatir, otomatis Devan duduk di kursi roda dengan tatapannya yang seperti biasa (dingin).


" Devan sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa ini selalu terjadi kepada keluarga kita? Bagaimana keadaan Aisyah sekarang?" pertanyaan demi pertanyaan keluar dari bibir Linda.


Farhan yang melihat istrinya khawatir langsung menenangkan sang istri.


" Aisyah masih di dalam tante, dokter masih menanganinya. Kita berdoa saja agar Aisyah baik-baik saja, " ucap Andreas


Linda menangis di pelukan sang suami. Sedangkan Nabila hanya diam, semua yang terjadi kepada Aisyah ia berpikir itu semua kesalahannya. Disisilain Nabila tidak menyadari kalau sedari tadi ada seseorang yang terus memerhatikan nya. " Kali ini kamu selamat tapi lihatlah nanti tidak akan ada malaikat seperti Aisyah yang menolongmu." gumam Dylon dalam hati dengan tatapan masih menatap Nabila penuh dendam.


Ceklek


Pintu terbuka lebar menampilkan seorang dokter yang baru keluar dari ICU. " Bagaimana keadaan menantu saya dok?" tanya Farhan


" Alhamdulillah kondisi pasien sekarang sudah mulai stabil. Berkat Pak Devan pasien dapat tertolong, jika saja pak Devan telat memberikan donor darah itu saya tidak yakin kalau pasien dapat tertolong, " tutur dokter itu. Semua orang bernafas lega mendapat kabar baik itu.


"Dokter apa kami boleh menjenguknya?" tanya Linda


" Maaf sebelumnya, untuk saat ini pasien belum bisa di jenguk karna kondisinya yang masih lemah, "


" Tapi dokter apa tidak boleh sama sekali? setidaknya apa boleh suaminya melihat keadaan istrinya di dalam?" tanya Farhan. Terlihat dari wajahnya dokter itu terdiam sejenak seperti sedang mempertimbangkan ucapan Farhan. "Baiklah, tapi hanya satu orang yang boleh masuk. " ucap dokter itu.


" Ayok Devan masuk istri kamu sekarang sedang membutuhkanmu," titah Farhan


" Tidak! Bunda terlihat sangat khawatir, Bunda saja, " tolak Devan lembut


" Jadi maksudmu kamu tidak khawatir dengan kondisi istrimu sekarang? Dasar kau ini, Papah sudah malu meminta hal ini kepada dokter agar kamu bisa masuk melihat istrimu. Tapi, kamu malah seperti ini,"


" Sayang masuklah, kamu yang lebih khawatir. Aisyah sangat membutuhkan mu," titah Linda dengan mengelus pundak Devan lembut.

__ADS_1


Devan membuang nafas berat dan pergi masuk dengan kursi rodanya itu. " Kenapa tuan tidak mau jujur dan malah menyembunyikan keadaan kakinya sekarang?" batin Andreas sesaat sebelum Devan masuk kedalam ruangan.


***


Di dalam ruangan netra elang itu jatuh pada sosok wanita yang kini terbaring lemas tak berdaya di atas Bankar itu, suster-suster yang ada di dalam ruangan itu langsung keluar membiarkan Devan dan Aisyah berdua di sana. Devan menghampiri Aisyah, perlahan Devan menurunkan kakinya ada rasa sakit dan kaku saat ia mengerakan kakinya namun tidak ia hiraukan. Devan bangkit dari kursi roda dan menatap wajah istrinya yang sangat pucat dengan balutan perban di kepalanya.


Tangan Devan kini beralih mengengam tangan Aisyah hangat. Perasaan aneh muncul saat mengengam tangan itu, dapat Devan rasakan jika perasaan itu sama persis saat pertama kali ia menyukai seorang wanita.


" Maaf Aisyah, saya bukanlah pria yang pantas untukmu. Saya pria yang tak berguna untuk mu, di saat kamu membutuhkan sosok seorang suami, saya selalu tidak ada disana. Tapi, kamu benar-benar wanita cantik dan baik. Meskipun kamu tau kekurangan ku kamu tetap mau mengangap ku suamimu, aku sangat beruntung mendapatkan istri seperti mu Aisyah," Kata demi kata keluar dari bibir tipis itu. " Saya mohon bangun Aisyah, semua yang saya katakan kepadamu saya benar-benar sangat menyesal. Saya berjanji setelah kamu bangun aku tidak akan berlaku kasar kepadam. Saya berjanji!"


Dapat Devan rasakan dan lihat perlahan jari jemari tangan Aisyah bergerak. Devan tersenyum tipis dan langsung duduk saat melihat kelopak mata Aisyah yang perlahan terbuka, hal yang pertama kali Aisyah lihat yaitu ruangan bernuansa putih dengan cahaya yang sedikit terang.


" Aisyah kamu dengar saya?" suara Devan yang samar dapat di dengar Aisyah. Refleks Aisyah menoleh ke arah sumber suara. " M_mas Devan..?" ucap Aisyah lirih.


Dari wajahnya yang dingin dan datar tidak menandakan jika ia tidak bahagia saat melihat wanita yang akhir-akhir ini membuatnya semangat bangun dari tidur yang hampir saja merenggut hidupnya. Devan benar-benar bernafas lega dan bahagia saat mendengar suara dan mata indah milik istrinya itu.


Skip\=>


" Aku benar-benar minta maaf, karna aku kamu jadi seperti ini. Kamu benar-benar wanita hebat dan berani, kamu rela berkorban demi aku bahkan saat itu kamu tidak berpikir tentang keselamatan mu sendiri," tangis Nabila pecah di sana. Devan yang melihat itu hanya mengelengkan kepalanya yang tidak pusing.


" Aku nggak papa kok, lagian keselamatan kamu adalah keselamatan aku juga. Jadi kamu nggak boleh nyalahin diri kamu sendiri, aku seneng kalau kamu nggak papa, " ucap Aisyah yang berhasil membuat Nabila terharu. Nabila kembali memeluk Aisyah hangat, Devan yang mendengar itu hanya diam dengan diam-diam senyuman kecil di bibirnya.


" Aku beruntung mendapatkan kakak ipar cantik dan baik seperti kamu, "


" aku juga beruntung karna mendapatkan adik ipar secantik, sebaik dan sepintar kamu, "balas Aisyah yang mendapat kekehan kecil dari masing-masing.


" Oh iya, siapa yang berani mau menculik aku? Perasaan aku tidak punya musuh," gumam Nabila bingung


" Tidak Nabila, ini bukan musuh kamu. Tapi, seperti nya ini musuh kaka, Kakak pastikan orang itu akan mendapat hukuman yang berat karna sudah menyakiti adik kesayangan kakak dan... " ucapan Devan menggantung


Tatapan Devan dan Aisyah kini bertemu, seperti sengatan listrik dan detakan jantung yang tak normal membuat Devan merasa takut jika sikapnya akan terlihat aneh di mata orang lain. " Dan apa kakak?"

__ADS_1


Aisyah mengalihkan pandangannya menjadi menunduk. Dalam pikiran Aisyah sudah bisa menebak kalau Devan tidak akan pernah menyebutnya istri, tapi tidak apa Aisyah sudah sering mendengar hal itu dari bibir suaminya sehingga ia bisa menangi soal perasaannya itu.


" Dan istriku... "


Degh


Aisyah tersentak kaget mendengar ucapan Devan yang menyebutnya istri. Tatapan keduanya kembali bertemu, dapat di lihat dari bibir yang mengembang itu kalau saat ini Aisyah benar-benar sangat bahagia karna dua kata itu. Nabila yang melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Aisyah merasa bahagia karna ia tau kalau hubungan Aisyah dan kakanya tidak harmonis seperti pasangan lainnya.


Beberapa hari kemudian, Aisyah sudah di perbolehkan pulang. Namun, dengan istirahat total tapi setidaknya Aisyah bisa tidur dengan nyaman karna tidur di rumah yang sangat ia rindukan. Di dalam kamar Aisyah yang di bantu Devan untuk makan, awalnya Aisyah menolak tapi keras kepala Devan membuat Aisyah kembali takluk kepada pria dingin itu.


" Mas aku bisa sendiri,"


" Kamu tidak bisa melihat tanganmu? Tanganmu penuh perban apa kamu bisa makan dengan tangan kiri?" tanya Devan yang membuat Aisyah diam tidak berani menjawab


" Lagipula apa susahnya tinggal buka mulut. Mertua kamu kalau tau kamu tidak makan saya yang dapat omelan, kamu memang suka melihat saya di omelin kan?"


" Nggak kok mas, aku cuman nggak enak aja. Aku udah besar aku bisa sendiri, lagi pula makan dengan tangan kiri tidak terlalu sulit, "


" Yasudah makan sendiri!" Devan memberikan mangkuk berisi bubur itu ke Aisyah. Aisyah meraih sendok dan memakannya dengan tanagn kiri, ternyata benar makan menggunakan tangan kiri rasanya sangat sulit dan hal itu membuat bibir Aisyah belepotan. Devan yang geram tanpa sadar tangannya bergerak mengelap sisa makanan di bibir Aisyah sontak hal itu membuat sang empu terkejut dan gugup.


Devan yang sadar langsung menjauhkan tangannya dari bibir Aisyah. Keduanya sama-sama di buat gugup sendiri, Aisyah menyodorkan mangkuk bubur itu ke Devan membuat Devan mengerutkan dahi. " Kamu benar aku membutuhkan bantuan orang lain. "


" Cih! Makanya kalau di bilangin sama orang itu nurut. Lihat siapa yang malu?"


" Maaf, "


" Lupakan!" Devan mulai menyuapi Aisyah, Aisyah benar-benar menikmati momen itu. Ini adalah momen yang tidak akan pernah ia lupakan dimana Devan mau Menyuapinya walaupun dengan alasan tidak mau di omeli Linda.


...**Next Part>>>...


Jangan Lupa Like, komen, follow and vote**

__ADS_1


__ADS_2