
Di Bali dia insan itu menikmati kebersamaan mereka. Banyak hal romantis yang di lakukan Devan dan itu di luar dugaan Aisyah, dua insan itu kini sedang berlayar di sebuah kapal besar milik keluarga Kenzo. Karna tidak ada yang tau keluarga Kenzo terkenal orang besar di kota itu.
Dari memancing, dinner romantis dan juga berenang. Mereka melakukan kegiatan itu full menghabiskan nya dengan penuh keromantisan, Devan tidak pernah berpikir jika hubungan itu akan semanis ini. Bahkan dulu ia sempat jatuh karna di tinggalkan oleh wanita yang ia sukai karna keadaannya kakinya yang lumpuh, namun ia bersyukur karna Ayahnya mempertemukan dirinya dengan Aisyah wanita cantik, sholeh dan baik.
Di dalam kapal pesiar mewah itu, Aisyah dan Devan sedang asik bersantai di bawah sinar matahari. Tidak terlalu banyak orang hanya pengawal pribadi dan anak buah itu membuat liburan keduanya merasa nyaman karna tidak ada yang menganggu mereka.
" Sayang aku bersyukur karna ada kamu di hidupku. Aku tidak tau bagaimana kalau kamu tidak ada di sampingku, mungkin aku akan menjadi Devan yang keras, dingin dan tidak peduli kepada orang lain,"
" Kamu datang menjadi penyemangat hidupku Aisyah. Tanpamu mungkin saat ini aku masih berada di atas kursi seperti pria cacat,"
" ***! Kenapa kamu bicara seperti itu? Ada aku atau tidak takdir itu milik kamu. Kamu sembuh karna takdir kamu,"
" Tapi tetap saja karna kamu yang berusaha membantu ku Aisyah," Ucap Devan bersikeras. Aisyah tersenyum dan memeluk tubuh keker itu erat.
" Aku juga beruntung mendapatkan suami seperti mu mas," gumam Aisyah lirih.
Devan menarik dagu Aisyah sedikit, netranya jatuh pada bibir ranum itu. Benda kenyal itu menempel dengan sempurna, lum**** di bibir Aisyah membuat sensasi panas. Devan melum** bibir itu lembut, lidahnya bermain di dalam sana mengabsen setiap benda yang ada di dalam mulut itu.
Tangannya tidak tinggal diam, tangan itu menyelusup ke dalam baju dan mencari benda favorit nya. Setelah mendapatkan Devan mere*** dan memainkan benda kenyal itu dengan lihai, membuat sang empu mengerang. Tubuhnya yang sudah menegang itu membuat Aisyah benar-benar di buat gila oleh sentuhan tangan Devan.
Keadaan yang sepi, bahkan tidak ada satupun orang yang berlayar di pantai itu apalagi semua anak buah Devan yang berada di bawah tidak berani naik ke atas karna perintah tuannya.
Devan membuka kancing baju itu satu-persatu dengan pangutan mereka yang masih berpangutan panas. Namun, saat Devan hendak melepas satu kancing baju lagi tiba-tiba tangannya di tahan Aisyah membuat sang empu mengerutkan dahinya bingung.
" Jangan disini, nanti ada yang lihat gimana," ucap Aisyah sedikit berbisik.
" Tidak ada yang berani masuk kesini. Dan kamu bisa lihat disini sangat sepi, tidak ada yang akan melihat kita,"
Devan kembali menc*umi leher Aisyah meninggalkan banyak kiss smarks sebagai tanda kepemilikannya. Kerudung dan kain yang digunakan Aisyah sudah berserakan di mana-mana, Keduanya melakukan adengan panas di atas kapal pesiar itu. Tidak ada yang bisa menolak permintaan Devan, sentuhan dan tubuhnya yang benar-benar indah itu membuat Aisyah pun sulit menolak.
Devan menghujam milik Aisyah dengan tempo sangat cepat. Deru nafas, keringat dan suara des**** mereka bercampur menjadi satu, Aisyah benar-benar menikmati setiap sentuhan yang di berikan Devan apalagi saat bibir itu bermain sangat lihai di tubuhnya.
Tangan Aisyah mencengkram punggung Devan erat dan juga tempo yang Devan mainkan semakin cepat menandakan keduanya hampir mencapai *******. Dalam satu hentakan Devan ambruk ke tubuh Aisyah dengan deru nafas mereka yang masih tidak beraturan, Devan mengecup kening Aisyah lalu bibir Aisyah.
" Lelah sayang?" Aisyah hanya mengangguk manangapi pertanyaan Devan. Saat ini Aisyah benar-benar tidak sanggup untuk berbicara, pria di atasnya benar-benar membuatnya lemas tak berdaya. Walau hanya sebentar tapi pria itu benar-benar membuatnya melayang.
*
Hari sudah senja saat Aisyah bangun ia tidak melihat Devan di sampingnya. Bergegas ia turun dan mencari Devan namun saat ia tanya pada orang-orang bawah tidak ada yang melihat Devan, Aisyah berlari ke atas tempat ia bercinta dengan suaminya dengan perasaan khawatir.
Namun seketika rasa khawatir itu hilang saat ia melihat tubuh indah suaminya di sana. Terlihat Devan yang sedang sibuk menelpon hingga tidak menyadari kalau istrinya sekarang sudah ada di belakangnya. Aisyah berlari mendekati Devan dan memeluk nya dari belakang, rasa sesak dan kekhawatiran itu bercampur menjadi satu.
Devan mematikan ponselnya saat sambungan telpon itu berakhir dan berbalik melihat istrinya. " Kamu sudah bangun?"
" Kenapa kamu meninggalkan ku? Saat aku bangun aku benar-benar takut saat kamu tidak di sampingku, " racau Aisyah dengan banyaknya keringat memenuhi wajahnya.
__ADS_1
Devan menghapus keringat Aisyah menggunakan tangannya lembut. " Ada apa? Apa kamu mimpi buruk?" tanya Devan yang di angguki Aisyah.
" Aku sangat takut dalam mimpi itu kamu pergi meninggalkan ku mas," Devan menangkup wajah Aisyah dan menatapnya dalam.
" Apa yang kamu takutkan? Sekarang aku di depan mu. Tidak akan ada yang pergi, jika aku pergi kamu juga akan ikut bersama ku bukan?" Aisyah mengangguk dan memeluk Devan erat. Mimpi yang benar-benar seperti nyata, waktu, tempat, baju dan jam yang sama. Jelas hal itu membuat Aisyah ketakutan.
" Apa kamu sudah tenang?" tanya Devan yang di angguki Aisyah.
Terlihat Devan menarik nafas dan membuangnya perlahan. " Maaf sayang sepertinya kita harus kembali ke Jakarta hari ini juga,"
Aisyah sedikit terkejut dan mendongak menatap Devan. " Kenapa? Apa ada masalah?"
" Sedikit. Di kantor ada masalah dan harus segera aku selesaikan, nggak papa kan?"
" Iya nggak papa kok. Aku ngerti, lagi pula kita bisa kesini lagi lain waktu,"
" Makasih sayang karna kamu selalu ngertiin aku. Yaudah sekarang kita siap-siap oke?" Aisyah mengangguk dan bergegas pergi.
Di perjalanan pulang dapat Aisyah lihat perubahan di wajah sang suami. Raut wajah yang gelisah dan keringat dingin membasahi rambut tipis itu, Aisyah tau ada yang di sembunyikan oleh pria di sampingnya tapi pria itu pintar sekali menyembunyikan masalahnya.
" Sayang kamu nggak papa kan? apa ada masalah?" tanya Aisyah khawatir. Devan hanya menanggapi Aisyah dengan senyuman dengan tangannya mengelus pucuk kepala Aisyah lembut.
***
Andreas di buat kesal akan tingkah Leo yang terus berdekatan dengan Jeslyn. Bahkan saat ia ingin berbicara dengan Jeslyn pun selalu ada Leo yang menghalangi nya, Andreas yang sudah muak langsung mendekati Jeslyn dan menariknya menjauh dari Leo sontak hal itu membuat Leo terkejut dan menarik Jeslyn. Jadilah adengan tarik menarik disana.
" Lepasin tangan Jeslyn!" Titah Andreas tegas
" Siapa kamu berani suruh saya?" Sungut Leo
" Jeslyn saya ingin bicara sama kamu," ucap Andreas serius
" Tidak bisa! Jeslyn lebih dulu bicara sama aku,"
" Hey bocah apa masalah kamu sebenarnya? Saya tidak tau siapa anda dan tolong jangan ikut campur," tegas Andreas
Jeslyn yang benar-benar muak langsung berteriak dan menarik tangannya kasar.
" Kalian kenapa sih nggak bisa akur?"
" Om itu duluan Jeslyn," Celetuk Leo yang berhasil membuat Andreas tersentak kaget.
" Apa Kamu Bilang? Om?" Terlihat Andreas yang menahan emosinya
" Iya om kenapa nggak suka?"
__ADS_1
" Kau benar-benar..."
" STOP!!!" Teriak Jeslyn berhasil membuat dua pria itu bungkam.
" Bisa nggak sehari aja nggak ribut huh?"
" Leo bukannya kamu disini untuk pulang menemui ibumu? Dan Pak Andreas. Bukannya hari ini bapak pulang? Kenapa bapak tidak pulang? Disini tidak ada yang harus bapak temui bukan?" Terlanjur kesal Jeslyn tak bisa mengontrol setiap ucapannya.
Terlihat Andreas diam membisu dan membuang nafas berat. " Sepertinya kamu memang ingin saya pergi."
Jeslyn tersadar akan ucapannya. Bibirnya begitu jahat pada Andreas.
Tak lama ponsel Andreas berdering, Andreas langsung merogohnya dan mengangkatnya.
[ Ya tuan?]
[ Andreas kau dimana?]
[ Saya sedang bersama Jeslyn. Ada apa?]
[Cepat kembali ke kantor ada masalah! Saya tunggu kamu di depan perusahaan]
[ Baik tuan. Saya segera kesana]
Tut_tut_tut
Sambungan telpon berakhir. Ekspresi wajah Andreas setelah mendapat telpon itu seketika berubah membuat Jeslyn bingung.
" Ada apa?" Tanya Jeslyn. Andreas menatap manik mata drak itu serius.
" Satu hal Jeslyn, saya datang kesini karna saya benar-benar menyesal dan minta maaf. Setelah kepergianmu saya benar-benar merasa kehilangan, saya berniat untuk membuka hati dan belajar untuk mencintaimu. Tapi, sepertinya kau sudah tidak menyukai ku dan memilih bersamanya,"
Degh
Jeslyn tersentak kaget mendengar ucapan Andreas begitu juga dengan Leo.
" Kamu ingin saya pergi bukan? Baru saja tuan Devan menghubungi saya dan menyuruh saya kembali ke Jakarta. Saya benar-benar terimakasih karna kamu sudah mau menerima saya di rumahmu, saya permisi!"
Andreas bergegas pergi meninggalkan Jeslyn dan Leo disana. Jeslyn benar-benar terkejut dengan apa yang ia dengar, selama ini ternyata ia salah menilai. Jujur saja Jeslyn tidak sungguh mengatakan hal itu.
...Lanjut? ...
Ada masalah apa yah? Hm nggak papa deh Andreas pulang biarkan Jeslyn sendiri dulu.
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian yah.
__ADS_1