Terpaksa Menikahi Pria Lumpuh

Terpaksa Menikahi Pria Lumpuh
Chapter 55 Bujangan Tua!


__ADS_3

Suasana malam yang redup, suara hujan rintik itu terdengar seperti irama penghantar tidur. Di dalam kamar yang luas itu terlihat sepasang kekasih yang sedang bergelut manja di atas ranjang, keringat dan suara merdu mereka terus memenuhi seisi ruangan. Hingga pelepasan tiba erangan keras mereka terdengar sangat nyaring, malam yang dingin namun bagi dua insan itu adalah malam yang panas penuh keringat.


Devan jatuh dalam pelukan Aisyah begitu pun sebaliknya. Rasa lelah mereka telah menjadi sebuah kenikmatan surga duniawi yang tidak pernah bisa mereka dapatkan dari manapun selain dari atas ranjang.


Keesokan harinya Aisyah sudah bangun lebih awal dan bergegas turun untuk menyiapkan sarapan pagi mereka. Tak butuh waktu lama makanan itu sudah selesai dan Aisyah pun segera naik ke atas untuk melihat suaminya dan benar saja suaminya itu masih setia tidur di balik selimut tebal itu dengan keadaan tanpa menggunakan pakaian.


Aisyah mendekati ranjang dan membangunkan suaminya lembut. " Mas bangun, aku udah siapin sarapan di bawah."


" Hmm 5 menit lagi yang,"


" Yang ini udah siang loh, kamu kan harus berangkat ke kantor. Bukannya hari ini kamu harus pergi ke kantor polisi untuk mengurus masalah kemarin?"


Devan membuka matanya perlahan lalu menggeliat. Namun, wajah tampan itu tidak pernah hilang bahkan Devan terlihat sangat imut dan tampan apalagi saatrambutnya yang berantakan itu membuat Aisyah yang melihatnya gemas.


" Yang apa kamu lelah?" tanya Devan konyol. Aisyah mengerutkan dahinya bingung. " Tidak."


" Benarkah? Haish itu berarti main kita semalam kurang sayang. Makanya kamu nggak cape, tapi kamu tenang aja lain kali aku akan membuatmu lelah dan terus meminta," racau Devan yang mendapat pukulan kecil di perutnya.


Bugh!


" Awsss yang kenapa di pukul sih? Kan sakit," lirihnya kesakitan sembari memegang perut ratanya


" Makanya jangan mesum,"


" Udah ah sana mandi habis itu turun buat sarapan. Nanti keburu dingin," titah Aisyah sambil membantu tubuh pria itu ke kamar mandi.


" Tapi yang aku pengen mandi berdua sama kamu,"


" Jangan aneh-aneh deh ini udah siang Devan!"


" Eh kamu bilang apa tadi?" Seketika Aisyah terdiam, bibirnya kelu menahan senyuman. Sedangkan pria kekar itu masih mencerna ucapan istrinya yang menyebut namanya.


" Bilang apa si yang? Udah cepet sana mandi,"


" Kamu sebut nama aku? Kamu benar-benar ingin aku hukum huh?" Terlihat dengan jelas wajah Devan yang marah namun hal itu malah membuat Aisyah tertawa.


" Dih malah ketawa lagi, kamu benar-benar harus aku hukum!"


" Ahh mas jangan aku udah mandi turunin aku!" teriak Aisyah saat kala Devan mengendongnya paksa ke kamar mandi.


Mereka mandi bersama, sesekali mereka melakukan nya di kamar mandi sebagai hukuman untuk Aisyah yang berani menyebut nama suaminya sendiri hingga memakan waktu yang cukup lama disana.


Di meja makan Aisyah sedari tadi hanya diam dengan mengerucutkan bibirnya kesal. Bagaimana tidak? Aisyah sudah mandi dan keramas sekarang ia harus mengulang itu lagi karna ulah suaminya.


" Makanya jangan kaya gitu lagi, itu baru pemulaan. Aku bisa melakukannya lebih lama lagi," Cetus Devan sembari menyantap makanan di piringnya sedangkan Aisyah hanya membuang wajah kesal dan terus mengumpati suaminya dalam hati.


.....


Di kantor polisi Devan mengurus semua permasalahan di kantornya. Ternyata perasaan selama ini terjawab sudah, pemberontak itu ternyata ada kaitannya dengan lahan yang akan ia tempati untuk membuat sebuah Resort untuk Aislyn dan Mall.


Setelah mendapat informasi itu segera mungkin Devan pergi menemui sang ayah dan memberitahukan apa yang ia tau mengenai kejadian kemarin.


" Semua pirasat papah benar. Mereka tidak mau lahan itu di bangun, pasti ada sesuatu yang mereka sembunyikan,"

__ADS_1


" Tapi pah sampai detik ini Devan masih belum tau siapa dalang dari semua ini. Pihak polisi pun sudah mencoba memaksa mereka untuk berbicara tapi tidak ada yang mau berbicara siapa yang menyuruh mereka," jelas Devan.


" Hm kamu harus hati-hati Devan, rencana awal mereka gagal dan itu merugikan banyak orang. Dan sekarang mereka pasti sedang menyusun rencana untuk mu karna lahan itu kau yang garap Devan," Terlihat dengan jelas dari wajah Farhan yang sangat cemas akan putranya. Kekhawatiran seorang ayah tidak akan pernah lepas dari putranya apapun yang terjadi.


" Pah Devan akan baik-baik saja. Devan janji tidak akan ada korban lagi mulai saat ini,"


" Huh ntahlah, Papah masih sangat mencemaskan mu," gumamnya lirih.


Devan tau jika saat ini ayahnya sedang mengkhawatirkan nya tapi Devan sebisa mungkin meyakinkan Farhan untuk tetap optomis. Karna tentu saja Devan masih yakin akan kecemasan Farhan mengenai 5 tahun yang lalu dimana ada seseorang yang berniat jahat melukai Devan hingga akhirnya kakinya lumpuh dan membuat dirinya kehilangan semangat hidup. Dan pada akhirnya Aisyah datang dan mengubah segalanya, mengubah daya pikir Devan yang awalnya tidak percaya keajaiban Tuhan akan adanya Aisyah ia menjadi percaya.


Setelah selesai bertemu sang ayah, Devan bergegas kembali ke perusahaan nya. Semuanya kembali berjalan normal namun setelah kejadian itu Devan mengkerahkan semua tangan kanannya untuk menjaga perusahaan bahkan bukan hanya perusahaan melainkan keluarga dan orang-orang terdekatnya, orang jahat itu bisa melakukan apapun untuk mencapai tujuannya dan orang seperti itu tidak memiliki otak.


Di ruangan besar itu Devan sedang sibuk dengan laptopnya. Namun, Tiba-tiba bayangan Aisyah terlintar di pikirannya sontak hal itu membuat konsentrasinya pecah.


" Haish kenapa wanita itu membuatku sangat tidak fokus. Dia harus bertanggung jawab," gumam Devan meraih ponselnya.


Devan melakukan video call dengan Aisyah. Tak lama layar itu memenuhi wajah cantik Aisyah. " Ada apa?"


Devan sedikit tersentak saat tidak mendapat sambutan manis apapun.


" Apa ini? Kenapa nadamu seperti itu? Oh apa jangan-jangan kamu tidak suka yah suamimu menelpon?"


" Sayang aku sangat lelah karna kamu. Kamu benar-benar membuat tubuhku remuk, lihat aku bahkan sulit melakukan aktivitas karna mu," rengek Aisyah kesal di sebrang sana. Sedangkan Devan hanya tertawa lepas karna akhirnya istrinya lelah juga karna pertempuran penyatuan mereka.


" Hahah iya sayang maaf_maaf. Lain kali aku akan melakukannya pelan, lagian kamu sendiri yang salah kenapa sebut nama suamimu,"


" Kamu yang salah wong aku bener kok nama kamu Devan," timpal Aisyah tidak mau kalah. Devan yang melihat keimutan istrinya tidak bisa menahan untuk tidak menerkam istrinya, jika saja Aisyah ada di depannya mungkin mereka sudah bertempur lagi.


" Iya sayang maaf, sebagai gantinya nanti kalau aku pulang kamu mau apa? nanti aku beliin semua yang kamu mau,"


" Iya sayang,"


" Kalau gitu aku mau ice cream vanila coklat. Sudah lama aku belum makan ice cream eum pasti rasanya enak," gumam Aisyah smebari mengkhayal menikmati makan ice cream.


" Oke nanti ku beliin yah,"


" Oke,"


Tok_tok_tok


Suara pintu yang di ketuk dari luar.


" Sayang udah dulu yah aku mau lanjut kerja. Nanti aku telpon lagi,"


" Oke jangan lupa ice cream nya,"


" iya sayang bawelku," Aisyah terkekeh geli saat mendengar suara lembut Devan di sebrang sana. Tak lama sambungan itu berakhir, pintu pun terbuka menampilkan seorang wanita yang di kucir kuda dengan membawa berkas di tangannya.


" Ada apa?"


" Ini pakada berkas yang harus bapak tanda tangani,"


" Oh ya mana?" Wanita itu memberikan berkas itu dan Devan langsung menandatangani nya.

__ADS_1


" Makasih pak, kalau begitu saya permisi!"


" Tunggu sebentar!"


" Iya ada apa pak?"


" Bagaimana keadaan Robert?" tanya Devan pada wanita itu karna sejak kejadian itu baru satu kali ia menjengguk Robert.


" Pak Robert alhamdulillah keadaannya sudah membaik pak,"


" Syukurlah, tolong kamu siapkan mobil saya akan pergi ke rumah sakit," titah Devan yang di angguki wanita itu.


Setelah mobil sudah siap Devan bergegas pergi ke rumah sakit untuk menjengguk Robert, rumah sakit itu sama dengan rumah sakit dimana Andreas di rawat karna itu setelah ia menjenguk Robert Devan berinisiatif menjengguk Andreas.


" Robert bagaimana keadaan mu?" tanya Devan dengan kedua tangannya ia masukan ke dalam saku


" Saya baik Pak. Terima kasih karna bapak sudah membayar biaya saya selama di rumah sakit,"


" Seharusnya saya yang berterima kasih padamu karna kamu sudah menolong perusahaan saya. Tapi, kenapa kamu tidak mengatakan yang sebenarnya soal pin itu pada mereka?" tanya Devan penasaran karna saat itu Devan sudah menyuruh Robert untuk memberi tahu orang bertopeng itu soal pin brankas. Tapi Robert tidak memberitahu mereka.


" Pak Devan sudah banyak berjasa untuk ku dan perusahaan. Saya tahu betul perjuangan bapak membangun perusahaan Leover itu seorang diri, saya tidak mungkin begitu mudah menghancurkan impian bapak dan memberikan semua yang ada di dalam brankas itu pada orang yang salah," tutur Robert jelas dan hal itu membuat Devan terpaku.


" Terimakasih Robert, saya benar-benar tidak salah memercayai mu!" ucap Devan yakin.


*


Setelah melihat keadaan Robert yang membaik Devan segera pergi ke ruangan Andreas namun netranya malah menangkap pria yang ingin ia temui.


" Andreas?!" panggil Devan berhasil membuat pria dan wanita itu menoleh


" Tuan?"


" Kamu mau kemana?"


" Pak Andreas bersikeras ingin pulang pak. aku sudah melarangnya tapi dia tidak mau dengar," jawab Jeslyn kesal dengan Andreas namun ia juga tidak bisa membiarkan Andreas pulang seorang diri.


" Sudahlah saya nggak papa kok. Jangan seperti anak kecil deh, lihat tubuh saya besar mana mungkin saya selemah it .... Arghh!" Teriak Andreas keras saat kala Devan mencubit luka jahit di perutnya.


" Apa kau gila hah?!!" pekik Andreas kesakitan dengan mata itu yang membola seakan ingin memakan Devan di depannya


" Katanya tidak lemah tapi cuman di cubit sedikit sudah berteriak, apa kamu tidak malu dengan pacar di sampingmu?" Kini dua netra itu saling bertemu Andreas dan Jeslyn sedikit tersentak saat Devan mengetahui hubungan mereka padahal mereka belum mengatakan apapun.


" Apa maksud mu?"


" Kalian pikir saya tidak tau? Hm akhirnya setelah sekian lama bujangan tua ini akhirnya mau juga hubungan,"


" Yak!! Berhenti mengatai saya bujangan tua. Saya masih muda apa kau tidak lihat?" teriak Andreas kesal sesaat setelah kepergian Devan yang semakin lama semakin menjauh. Sedangkan di sampingnya Jeslyn menahan tawa saat mendengar kekasihnya di sebuta bujangan tua.


" Kenapa kamu ketawa? apa yang lucu?" cetus Andreas dengan raut wajahnya yang tak berekspresi dan bergegas pergi meninggalkan Jeslyn.


" Hey tunggu jangan marah, " teriak Jeslyn mengejar Andreas.


...Lanjut?...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak kalian disini!


__ADS_2