
...Happy Reading...
Hari sudah sore, setelah dari kantor Devan Aisyah berniat pergi ke rumahnya sakit untuk menemui sang ayah namun sebelum itu Aisyah minta izin kepada sang suami. Di dalam ruangan yang luas itu Aisyah menghampiri Devan yang tengah sibuk dengan laptopnya, awalnya Aisyah tak berani meminta izin tapi tak lama Devan yang menyadari keberadaan Aisyah langsung menatapnya. " Ada apa?" tanya Devan kini menatap lawan bicaranya.
" Sudah lama aku tidak menjenguk ayah, aku mau minta izin pergi ke rumah sakit. Apa aku boleh pergi?" tanya Aisyah sedikit gugup.
" Kamu pergi dengan siapa?" tanya nya
" Aku pergi sendiri,"
" Saya akan suruh Andreas buat antar dan menjaga kamu," Devan mengambil ponselnya dan menghubungi Andreas, Aisyah yang tidak mau merepotkan orang lain mencoba menolaknya.
" Nggak papa mas, aku bisa pergi sendiri. Lagi pula rumahsakit tidak jauh dari sini, kalau Andreas mengantarku lalu kamu bagaimana?" ucapan Aisyah sedikit menyakiti Devan.
" Apa maksudmu? Apa kamu mulai meremehkan saya Aisyah? Saya memang lumpuh tapi saya bisa menjaga diri saya sendiri," tandas Devan dengan nada sedikit tinggi.
" M_maksud aku bukan begitu..."
" Sudahlah, jika kamu disini hanya untuk meledek saya. Lebih baik kamu segera pergi, saya tidak mau melihat wajahmu disini," Aisyah tersentak saat kala Devan mengusirnya, secara ia tidak bermaksud menjelek-jelekkannya. Aisyah pergi ke rumah sakit dengan Andreas mengantarnya.
Sesampainya di Rumahsakit Aisyah pergi menemui sang ayah yang masih terbaring lemas di atas Bankar. Terlihat Sinta yang tengah setia mendampingi Risman disana, Aisyah mendekati Sinta dan hendak mencium punggung tangannya. Tapi, tiba-tiba Sinta menepis tangan Aisyah membuat sang empu menatap Sinta bingung.
" Ngapain kamu disini? Aku sudah menyuruhmu untuk jangan datang kesini lagi. Apa kamu tidak dengar?" pungkas Sinta dengan sorot mata tajam mengarah ke kepada Aisyah.
" Bu aku hanya ingin melihat kondisi ayah,"
__ADS_1
" Ayahmu seperti ini itu karna kamu. Jika bukan karena kamu, ayahmu tidak akan pernah ada di rumah sakit ini," Sinta tak henti-hentinya menyalahkan Aisyah bahkan Sinta tak tanggung-tanggung mengeluarkan kata-kata yang membuat hati Aisyah hancur.
" Kamu tau Aisyah, dia menyayangi mu melebihi dirinya sendiri. Dia rela berhutang hanya untuk mewujudkan apa yang kamu inginkan, tapi apa ini balasanmu? Kamu bahkan tidak tau cara berterimakasih kepada ayahmu. Kamu memang anak tidak tau diri,"
" Cukup Ibu!" bentak Aisyah, seketika membuat Sinta dan Andreas terkejut.
" Selama ini aku diam, tapi itu bukan berarti aku mengakui kalau itu kesalahan ku. Semua kesalahan yang tidak pernah ku perbuat kamu lemparkan kepadaku, sebenarnya siapa kamu? Seorang ibu...?. Aku bahkan tidak pernah merasakan kasih sayang ibu dari mu," ucap Aisyah meluapkan smeua kekesalan di dalam hatinya.
Sinta tertawa hambar. " Kau benar Aisyah, semua yang kamu rasakan itu benar. Aku memang bukan ibumu!"
Deghh!!
Aisyah terkejut saat mendengar ucapan Sinta. " M_maksud ibu?"
" Bukankah kau pintar Aisyah? Lalu kenapa kamu sangat sulit menangkap ucapan? Perlakuan ku dan sikapku bukan seperti seorang ibu. Lalu, kenapa kamu masih menganggap ku Ibu?"
Aisyah tidak dapat membendung air matanya lagi. Air matanya lolos begitu saja membasahi pipinya. " Kau bukan ibuku? Lalu kenapa baru sekarang kamu mengatakan ini kepadaku?"
" Ayahmu yang melarang ku untuk mengatakan ini karna dia takut kau akan merindukan ibumu,"
" Pantas saja aku merasa kau hanya menyayangi Diana. Itu karna kamu bukan ibuku?"
" Iyah,"
" Aku benar-benar bodoh, aku bodoh karna aku menganggap dan menyayangimu sebagai ibuku sendiri. Kamu tau dalam sujudku aku selalu berdoa agar ibuku menyayangi ku seperti dia menyayangi adikku, tapi ternyata tidak. Kau bahkan tidak pernah sedikitpun peduli kepadaku, kau hanya mencintai dan menyayangi ayahku saja," ucap Aisyah dengan air mata yang tak henti-hentinya keluar.
__ADS_1
Andreas yang tidak tega melihat keadaan Aisyah mencoba menghubungi Devan, tapi sialnya di dalam kantor Devan sedang melakukan meeting bersama klien.
" Sudahlah Aisyah, lebih baik kamu usap air mata buaya mu itu. Ibumu meninggal karna mu dan sekarang ayahmu sakit karna mu, kau memang anak pembawa sial!" celetuk Sinta. Aisyah benar-benar terpuruk, rahasia yang tidak ia tau sama sekali sekarang membuatnya menyesal karna mengetahui rahasia itu. Rahasia kematian sang ibu yaitu karna dirinya.
Aisyah pergi meninggalkan rumah sakit dengan Andreas mengejarnya. Di sebuah jalan tidak terlalu luas Aisyah berteriak keras, Aisyah tidak peduli mau siapapun orang yang melihatnya sedang menangis.
" Ahhhh..."
" Kenapa kamu begitu tidak adil kepadaku? Kenapa kamu ambil hidupku di saat dia melahirkan ku. Aku sungguh menyayangi nya sebagai seorang ibu, aku tidak pernah mengeluh tentang dia kepadamu tapi kenapa kamu lakukan ini kepadaku?"
" Ibuku sudah meninggal karna melahirkan ku dan ayahku sedang kritis di rumah sakit dan itu karna aku. Dia benar, aku memang anak pembawa sial. Aku pantas dibenci," tangis Aisyah keras.
" Ny. bangun. Semua yang dia katakan itu tidak benar, ibu nyonya meninggal dan ayah nyonya sakit itu bukan karna nyonya. Semua itu karna takdir, nyonya tidak boleh menyalahkan diri nyonya sendiri," ucap Andreas mencoba menenangkan Aisyah.
" Nggak Andreas, dia benar aku memang anak pembawa sial. Aku pantas di benci Andreas,"
" Tidak nyonya, sekarang kita pulang. Nyonya harus benar-benar istirahat," Andres menuntun Aisyah masuk ke dalam mobil, Andreas menancapkan gasnya ke kediaman Kenzo.
Sesampainya di kediaman Kenzo Linda terkejut dan khawatir saat melihat keadaan Aisyah yang buruk. Aisyah menangis keras di pelukan Linda." Sayang ada apa? Kenapa kamu nangis? Bilang sama bunda. Apa Devan menyakiti kamu?" pertanyaan demi pertanyaan keluar dari bibir Linda. Aisyah menggeleng kan kepalanya dan kembali memeluk Linda, Linda yang benar-benar bingung dan khawatir bertanya kepada Andreas tentang Aisyah. Andreas menjelaskannya segalanya. sontak hal itu membuat Linda marah, kasian dan sedih.
" Sayang dengerin bunda, kamu tidak salah dalam ini. Semua yang terjadi itu semua bukan karna kamu, jika wanita itu terus menyalahkan mu biarkan saja. Kamu tidak boleh menyalahkan diri kamu sendiri hanya karna ucapan wanita itu," ujar Linda kepada Aisyah.
" Tapi bunda apa yang terjadi kepada ibu dan ayah itu memang karna Aisyah. Aisyah benar-benar minta maaf, Aisyah nggak tau harus ngapain bunda," Linda memeluk Aisyah erat dan memberikan kehangatan dan kenyamanan. Linda membiarkan Aisyah menangis meluapkan semua kesedihannya di dalam pelukannya, 1 jam kemudian Aisyah tertidur pulas di pelukan Linda. Linda benar-benar merasa kasian kepada Aisyah karena harus menerima kenyataan pahit ini.
...Lanjut?...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak. Seperti Like, Komen, vote And follow