The Escapade

The Escapade
Episode 10


__ADS_3

Sementara itu


Akademi Atas Awan


Ketua tim pencari baru saja masuk ke dalam ruangan, kepala akademi dan yang lainnya duduk di kursi mereka.


“Bagaimana, apa ada perkembangan?” tanya kepala akademi.


Ketua tim pencarian yang di utus ke lembah dosa untuk mencari Heaven sejak satu bulan yang lalu itu berpakaian kusut dan wajahnya tampak kelelahan.


“Kami sudah menyisir tempat itu dan tidak ada tanda-tanda keberadaan Heaven,” bebernya melapor hasil pencarian.


Paul menunduk memandangi kakinya, perasaannya sangat cemas sekarang.


Kepala akademi, Hydra Jogmungandr, menghela napas berat.


“Apa benar-benar sudah di cari ke seluruh tempat?” Hydra bertanya lagi.



“Itu ... ada satu tempat yang belum, tapi tidak ada anggota tim yang mau ke sana.”



“Tanah iblis.” Suara mendesis itu membuat semua orang di ruangan bergidik.


Hydra memberi perintah lagi setelah diam beberapa lama, “suruh tim-mu untuk istirahat dan ganti dengan tim baru!”


“Baik!”


Paul pulang ke rumahnya dan duduk di atas ranjang putranya dengan murung.


Seorang pria dengan otot-otot yang menonjol dengan kebiasaan membunuh kini hampir menangis. Dia bahkan lupa kapan terakhir kali ia menangis .


Bibirnya bergetar saat melirik lemari pakaian yang hampir kosong di salah satu sudut kamar.


Ia bangkit saat mendengar pintu diketuk.


Itu Pulcra Clearn, kepala badan hukum di Akademi Atas Awan. Mereka sudah bersahabat sejak masih kecil.


“Ada apa mengunjungiku tengah malam begini?” Paul tampak jengkel.


Pulcra meletakan barang bawaannya di atas meja di ruangan itu. Rumah itu cukup besar meski yang paling kecil di antara rumah petinggi akademi lainnya.


Pulcra tanpa izin masuk ke dapur dan mengambil dua buah gelas, kemudian membawanya ke atas meja dan menuangkan anggur yang di bawanya dari rumahnya.


“Minum ini!” pulcra mendorong satu gelas pada Paul.


Paul tidak mengatakan apa-apa dan langsung menenggak habis.

__ADS_1


Ini adalah kebiasaan Paul sejak masih muda, anggur itu dengan segera menenangkan emosinya dan cemasnya hilang sementara.


Mereka terus minum hingga lima botol penuh, baik wajah Paul maupun Pulcra sama merahnya.


Mereka berdua sangat mabuk sekarang dan mulai melantur hingga akhirnya tertidur di tempat.


  Paginya Paul mendapat kabar bahwa tim pencari yang baru telah berangkat ke Lembah Dosa.


Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi, di satu sisi adalah Heaven di sini lainnya adalah kewajibannya sebagai Amor bagi Akademi.


Jadi dia hanya bisa menyerahkan semuanya pada tim pencari saja.


 Lembah Dos


“Semuanya, dengarkan instruksi dariku!” suara lantang itu dari ketua tim pencari yang baru, Riander Chigo.


Matanya menyisir semua anggotanya yang kini berbaris rapi dan berdiri tegap di depannya.


“Misi kali ini hanya satu, tapi sangat berbahaya. kalian adalah yang terbaik di antara yang terbaik, itulah mengapa kepala Akademi memerintahkan kita yang menjalankan misi ini.”


Semua orang menjadi sangat bersemangat dan di penuhi oleh energi.


Pemimpin mereka melanjutkan, “Kita akan berangkat menuju Tanah Iblis dan pulang dengan keberhasilan yang mengagumkan! Semuanya paham?”


“Ya, Pak!” jawab mereka serempak.


Setelah membakar semangat dari anak buahnya, mereka berangkat menuju Tanah Iblis.


   Sementara di sisi lain,


Rumah kediaman Moa, Ruang pribadi Sin Moa.


Sin Moa berdiri di depan jendela kamar pribadinya, seseorang masuk dan memberi salam hormat.


“Bagaimana?” tanya Sin Moa tanpa mengalihkan pandangannya.


Seseorang di balik bayangan hitam itu menyeringai, “Sesuai rencana, Ayah.”


Sin Moa kemudian tertawa keras.


“Bagus! Jika dia memang tidak mati di lembah dosa, maka dia pasti mati di tanah iblis.”



“Seorang pendekar elemen sekalipun tidak akan berhasil keluar hidup-hidup dari sana, apalagi hanya seekor tikus sepertinya!” Sin Moa tersenyum puas.


Dia menoleh ke belakang, “Lanjutkan latihanmu!”


“Baik Ayah!”

__ADS_1


Sandor Moa keluar dari ruangan dengan kesal. Tadinya dia akan bersenang-senang dan menghibur diri dengan merayakan kematian Heaven, tapi sekarang tampaknya itu tidak akan terjadi.


Tapi sinar kebahagiaan dimatanya tidak bisa disembunyikan, dia sangat senang sekarang. Akhirnya penghalang terbesarnya sudah tidak ada. Heaven sudah mati!


Ayahnya menyuruhnya untuk mencari seseorang di antara tim pencari untuk menjadi malaikat maut bagi Heaven, dan tentu dengan harga yang tinggi. Sandor sangat senang hingga rasanya ia akan meledak karena kebahagiaan.


“Sejak dulu kau selalu merampas semuanya dariku, sekarang kau tidak akan bisa merebut apapun lagi.



Heaven, Heaven, sayang sekali nyawamu itu di hargai dengan 10.000 koin emas.” Ada tatapan meremehkan ketika ia mengingat wajah musuhnya itu.


Sandor akhirnya kembali memasuki ruang latihannya dan mulai berlatih dengan keras.


 


Sementara Itu, Tanah Iblis


“Ini, Tanah Iblis?”


Mereka menahan napas saat merasakan hawa mematikan yang menguar dari balik gerbang besi berkarat di depan mereka.


“Ini adalah gerbang menuju tanah iblis. Semuanya, persiapkan diri kalian!” Riander berteriak kencang.


Ada kilatan keberanian saat mereka mendengar suara pimpinan mereka.


Gerbang itu berada di ujung jembatan batu yang sudah tua, udara sangat lembab dan dingin tapi di jembatan itu terlihat sangat kering. Di tempat mengerikan ini lumut pun takut untuk tumbuh.


Beberapa dari mereka berusaha membuka pintu gerbang berkarat dengan sekuat tenaga.


Suara berdecit memekakkan telinga terdengar saat gerbang itu terbuka. Saat mereka semua sudah masuk ke dalam gerbang mereka merasa berada di dunia lain, tidak ada matahari, tidak ada bulan ataupun bintang.


Langit seperti bermandikan darah dengan gumpalan putih yang samar.


Beberapa dari mereka menoleh dan tidak mendapati di mana gerbang yang baru saja mereka lewati, padahal mereka baru saja masuk beberapa langkah.


Pemimpin tim, Riander Chigo, menatap sekitar, tatapannya menjadi tajam, dingin dan kejam.


“Ayo jalan.”


Mereka baru berjalan beberapa meter tapi sekarang kerongkongan mereka sangat haus, mereka sudah meminum hampir semua persediaan air yang dibawa.


Riander menjadi geram namun tetap menampilkan sikap tenang.


“Semuanya dengar! Buat pelindung angin, bungkus tubuh kalian dengan angin dingin!”


Perintahnya dengan cepat dilaksanakan, mereka menarik napas lega saat merasakan sejuk.


 

__ADS_1


__ADS_2