
“Aku sehat, dasar tolol!”
Paul mengangkat kedua bahunya setelah dengan cepat menangkap belati itu dengan jarinya. “Siapa yang tahu.”
“Ngomong-ngomong.” David berjalan masuk dan duduk di pinggir ranjang, kemudian menatap Paul dan melanjutkan. “Ada apa dengan semua keributan di kota? Apa akan ada perayaan besar?”
“Mereka sedang mempersiapkan festival panen. Itu sudah biasa,” jelas Paul.
“Festival besar?”
Paul mengangguk. Perayaan besar akan diadakan dan persiapan telah dilakukan sejak lima hari lalu, ada banyak orang baik dari dalam maupun luar kota Skaydry berdatangan untuk menyaksikan festival.
Meski hanya untuk satu hari satu malam, Festival Musim Panen selalu sangat di nanti-nantikan oleh banyak orang. Terutama untuk acara puncak yang dilakukan ketika hari hampir pagi, menyambut matahari baru setelah menyantap makan besar bersama.
“Jadi? Akan ada perayaan besar tapi kau kelihatan tidak bersemangat sama sekali.”
Paul memajukan bibirnya dan tangannya masih memain-mainkan selembar daun kuning di antara jari-jari besarnya.
“Hey, akan ada minuman juga jadi jangan sedih. Kau jadi seperti jelly sekarang, lembek.” David beranjak dari ranjang dan mengejek lagi, “Lembeek!”
“Diam! Dasar brengsek.” Paul mendengus dan kembali memandang keluar jendela, menatap jauh.
David tidak jadi keluar, dia berbalik kemudian menyandarkan dirinya dan berdiri di ambang pintu, ada lukisan Heaven di dinding sebelah pintu dan sebuah meja di depannya dengan bunga chamomile dalam vas kaca yang cantik.
“Masalah di perbatasan?” tanya David tiba-tiba.
Paul menyipitkan matanya ketika tatapannya berubah datar dan kejam. Awalnya dia kira itu hanya masalah kecil tetapi kemudian Paul menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak biasa. Mungkin sesuatu yang besar akan terjadi.
“Menurutmu apa itu wajar?” Paul bertanya tanpa menoleh.
“Mana ku tahu.”
“Ck, dasar tidak berguna,” gumam Paul kecil tetapi masih bisa terdengar di telinga sensitif David.
“Hey, bodoh. Aku baru tiba di sini dua minggu lalu, bagaimana aku bisa tahu tentang situasi di sini,” sembur David marah, dia mendengus kesal dan bersedekap dada dan ada kerutan tidak senang di dahinya.
Paul masih duduk di dekat jendela, dia menoleh pada David dan mencibir. “Jika itu terjadi di medan perang kau pasti akan langsung mati!”
“Heh, sepertinya kemampuanmu menurun drastis setelah bertahun-tahun,” ejek Paul.
__ADS_1
“Aku sedang dalam pemulihan, tunggu saja setelah aku pulih sepenuhnya akan kubuat kau ingat masa-masa pelatihanmu saat itu,” kata David ketus kemudian pergi, meninggalkan Paul sendirian di kamarnya.
“Haah.” Paul menghela napas keras, dia tidak percaya sama sekali bahwa David yang baru saja pergi itu adalah David yang sama.
Setelah hampir dua puluh tahun tidak bertemu, ada banyak sekali perubahan pada diri David. Kecuali sikap keras kepala dan pendendamnya itu. Paul yakin kedua hal itu tidak akan pernah bisa diubah sampai kapanmu, yah, kecuali suatu saat nanti ada seseorang yang memang bisa merubahnya. Tapi Paul tidak yakin tentang itu.
Kembali pada masalah yang terjadi di perbatasan timur akademi. Paul merenung lama di ambang jendelanya dan tampak muram. Tepat saat itu, seseorang muncul dari kegelapan di sudut ruangan.
“Bagaimana menurutmu, Tora?”
“Ini bukan sesuatu yang baik.” Suara itu sangat datar dan mata di balik topeng itu juga sedingin es.
Paul berbalik dan menatap sosok Tora yang sekarang keluar dari bayangan gelap dan berjongkok dengan bertumpu pada satu kaki di hadapannya.
“Kau menemukan sesuatu?”
“Tuan, sesuatu yang besar akan terjadi,” kata Tora. “Saya menemukan sebuah formasi udara tingkat tinggi di kedalaman hutan lindung kota.”
Formasi tingkat tinggi!
Tora tidak mengangkat kepalanya tetapi dia tahu pasti bahwa Paul tidak terkejut sama sekali tentang itu. Jika informasi ini didengar oleh orang lain, mungkin dia sudah menjadi gila karena panik dan ketakutan.
“Saya memiliki beberapa asumsi dan juga ... apakah perlu memberitahu Master Kota tentang hal ini?”
“Tidak, perketat saja penjagaan dan awasi setiap orang yang kau curigai. Lagipula tugasku hanya melindungi Akademi dan tidak lebih.”
Setelah mengatakan itu, Tora tetap di tempatnya, bergeming dan tidak mengatakan apa-apa. Sementara Paul telah mengembalikan pandangannya ke atas, melihat langit yang siang itu sangat cerah tanpa gumpalan putih samar sama sekali.
“Ada yang ingin kau katakan?” tanya Paul setelah beberapa lama menunggu Tora yang tidak bergerak sama sekali.
“Tuan, saya memiliki beberapa pertanyaan.”
Paul menoleh lagi pada pria di depannya itu dan sedikit mengangguk.
“Mengapa Anda begitu percaya pada Saya?”
Hm?
Meski heran dengan pertanyaan tiba-tiba yang dilontarkan tangan kanannya itu, ia tetap tidak merubah ekspresinya sama sekali.
__ADS_1
“Apa kau ingin aku tidak percaya padamu?”
Tora tidak menjawab, ada bayang-bayang keraguan di manik mata hitamnya.
“Apakah Anda tidak pernah memikirkan bagaimana jika suatu hari nanti saya mengkhianati Anda?” tanya Tora lagi, suaranya sangat datar namun sekarang itu terdengar lebih lemah dari sebelumnya.
Paul tersenyum sedikit, hanya sedikit sampai-sampai itu tidak terlihat sama sekali.
“Jadi, apakah kau akan mengkhianatiku?”
“Ada banyak hal di dunia ini yang bisa membuat orang seperti saya menjadi penghianat.”
Tora adalah pria yang jarang bicara atau berinteraksi, kecuali dengan tuannya, Paul dan satu seniornya yang juga sama-sama menjadi tangan kanan Paul, Cliff. Karena peristiwa yang terjadi di masa lalu membuat Tora hanya fokus untuk mengabdi pada Paul.
“Terlalu banyak? Beri aku satu contoh,” kata Paul sambil menyilangkan satu kakinya dan meletakkannya di atas kaki lainnya sambil terus menatap Tora yang tertunduk.
“Misalnya seperti ....” Ia menarik napas dalam-dalam dan tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, hatinya menjadi gemetar!
Paul menarik satu sudut bibirnya dan menggeleng pelan. “Kau telah mengikutiku selama bertahun-tahun, bahkan lebih lama dari Heaven. Jadi ada apa dengan hari ini?”
Dia membenarkan posisi duduknya dan membungkuk dengan kedua tangan bertumpu pada lututnya yang sekarang terbuka lebar kemudian melanjutkan,
“Dengar ya, aku tidak menyelamatkanmu hari itu untuk menyaksikan hari ini, atau mendengar semua omong-kosongmu atau pengkhianatan seperti yang kau bilang sebelumnya.”
Paul mengangkat dagunya, tersinggung dengan perkataan Tora sebelumnya. “Tidak ada yang bisa menghianatiku dan kau tidak akan pernah mengkhianatiku,” putusnya.
Tora masih tidak bergerak dari tempatnya, hanya jari-jarinya yang semakin terkepal erat. Dia menggertakkan gigi-giginya dan jantungnya berpacu lebih cepat lagi saat darahnya berdesir seperti gelombang ombak yang dahsyat.
Saat itu Tora yang masih remaja telah mengikuti kompetisi dan berbagai macam ujian ketentaraan di kerajaan dan dia lulus dengan sangat baik.
Akan tetapi karena latar belakang keluarganya yang miskin, posisinya digantikan oleh seorang anak dari keluarga terpandang yang kaya raya dan berkedudukan.
Tora sangat sakit hati saat itu, dia dengan marah mengadukan hal ini kepada pimpinan tentara saat itu dan melaporkan tindak kecurangan yang terjadi.
Sayangnya ketika dia kembali kerumah, seluruh isi di rumah itu berantakan dan kedua orang tuanya mati dengan bersimbah darah, tergeletak di tanah yang dingin.
Bersambung ...
Hallo, Sudah selesai membaca? Jika sudah coba beritahu aku bagaimana pendapatmu tentang karakter Tora. Dia salah satu karakter favoritku loh.
__ADS_1