
Wira menyemburkan teh dari mulutnya. Dia kemudian tersenyum kecil saat menyadari betapa cerdiknya anak itu.
“Ada apa?” tanya Paul saat dia menghampiri Heaven.
Dia melirik Wira sekilas kemudian melihat kembali ke kegiatan Heaven. Pasir itu mengeluarkan hawa panas yang lumayan.
“Aku lapar.” Dia terdengar sangat lemah dan sedih. Matanya sudah berair saat dia menatap Paul.
Dia kemudian menyadari bahwa putranya ini ingin memanfaatkannya tetapi Paul tidak marah. Sebaliknya, dia duduk bersama Wira dan menyuruh beberapa palayan untuk mengantarkan makanan untuk mereka.
“Selamat makan semuanya!” Heaven mulai melahap makanannya dengan senang.
Paul berdeham beberapa kali saat dia melirik Heaven intens, tetapi anak itu tidak memperdulikan apapun dan terus mengunyah. Tangannya berayun dari satu piring ke piring lainnya untuk mengambil makanan.
Paul bahkan merubah suaranya menjadi lebih keras lagi tapi hasilnya tetap sama. Heaven tidak peduli sama sekali dan hanya menikmati dirinya sendiri.
Paul menyerah. Dia kemudian mengambil satu apel dan menggigitnya sangat besar sebagai gantinya.
Wira di sampingnya diam-diam tersenyum sambil sesekali mengunyah camilan miliknya.
“Bagaimana latihannya?” tanya Paul pada Wira.
Wira dengan pelan meletakan cangkirnya kembali kemudian menjawab,
“Tidak buruk, tetapi masih sangat kurang.”
Paul mengangguk mengerti. Sudah cukup bagus untuk memiliki beberapa perkembangan saat usia Heaven yang agak terlambat daripada anak yang lain. Di usia yang sekarang pada umumnya sudah seharusnya memasuki Tahap Pembagunan Pondasi tingkat menengah atau setidaknya Tahan Penyatuan Energi tingkat awal.
“Memang agak sedikit terlambat tetapi aku yakin kau bisa membimbingnya.” Dia menepuk pelan bahu Wira dan mengangguk percaya.
Meski dia tidak percaya sekalipun Paul harus tetap percaya. Perkembangan Heaven yang signifikan sudah cukup membuktikan bahwa Wira layak.
“Jangan khawatir, Ayah. Aku pasti akan bekerja keras!” Heaven sangat percaya diri dan dia dipenuhi dengan semangat. Selama ada celah untuk maju maka dia akan maju.
Paul tertawa puas saat dia melihat betapa banyak perkembangan yang sudah dimiliki putranya. Bukan hanya kekuatan fisik tetapi juga kekuatan mentalnya meningkat dan ini pertama kali dia melihatnya begitu antusias untuk belajar.
“Bagus, bagus. Istirahatlah lebih awal hari ini karena besok ujian terakhir akan dimulai.”
“Ngomong-ngomong soal itu, kudengar ujian terakhir akan di adakan di pulau tengkorak.
__ADS_1
"Itu tempat yang seperti apa?” tanya Heaven sambil mengupas kulit anggur satu persatu.
Mata Paul tidak berhenti berbinar dengan cerah saat dia meremas ujung pakaiannya dengan gembira. Heaven tidak pernah tertarik dengan pelajaran apapun yang diberikan baik dirinya maupun akademi.
Ini adalah pertama kalinya Heaven berinisiatif bertanya lebih dulu. Jadi dia dengan cepat mengendalikan dirinya sendiri saat menyadari tatapan Heaven yang mulai menyorot tajam padanya.
“Ekhem, baiklah. Sampai mana tadi ....”
“Oh pulau tengkorak, benar! Baiklah anak-anak, tolong perhatikan dan jangan ribut ... bapak akan menjelas---”
“Jelaskan saja, jangan bertele-tele.” Heaven menyela.
Paul mengerucutkan bibirnya dengan kesal. Kemudian dia perlahan-lahan menjelaskan pada mereka.
“Tempat itu cukup berbahaya tapi juga tidak berbahaya pada waktu bersamaan,” katanya.
“Tetapi yang paling berbahaya adalah kabut beracun dari area terlarang pulau itu. Yah, pulau tengkorak tidak dinamai sebagai omong-kosong.
Kabut itu akan melumpuhkan sistem saraf di semua bagian tubuh termasuk jantung dan otak dan hanya butuh beberapa detik untuk asap itu membuatmu mati tanpa sempat menarik napas selanjutnya.”
Heaven menopang wajahnya dengan satu tangan sementara tangan lainnya memasukan anggur yang sudah dikupas ke dalam mulut.
Paul mengulurkan tangannya untuk meraih piring anggur milik Heaven tapi segera ditepis olehnya, jadi dia menarik kembali tangannya sambil mengerucutkan bibirnya lagi.
“Dasar pelit!”
Heaven tidak peduli. Wira sudah terbiasa dengan adegan seperti itu, tanpa bicara dia mengambil beberapa anggur dan mulai mengupasnya untuk Paul.
“Berapa lama kami akan berada di sana?” tanya Heaven dengan mulut penuh dengan anggur.
“Lima hari atau setelah poin kalian mencukupi target.”
Sangat cepat, piring milik Paul segera dipenuhi dengan anggur yang sudah dikupas. Dia memakannya perlahan dan mulai melirik Heaven yang diam-diam memperhatikan miliknya.
“Poin?”
“Kau pikir kalian di sana untuk liburan?”
“Tentu saja tidak.”
__ADS_1
Paul menarik piringnya dengan cepat saat Heaven hampir menggapainya. Heaven memelototinya tetapi dia tidak peduli, ini adalah hasil kerja keras Wira dan ini adalah miliknya. Sekarang dia punya Wira jadi dia tidak takut lagi pada Heaven.
Dia dengan sengaja menjulurkan lidahnya dan mengejek Heaven yang sudah kesal. Dia tertawa penuh kemenangan dalam hatinya saat melihat betapa kesalnya anak itu.
“Jadi saat sudah punya cukup poin, para peserta sudah boleh kembali?” tanya Wira saat melihat bagaimana dua orang itu mulai bertingkah seperti anak kecil lagi.
Paul mengangguk tetapi tidak berhenti menggoda Heaven dengan satu piring penuh anggur yang mengguirkan di tangannya.
“Untuk mendapatkan poin kalian harus---”
“Menghajar orang!” teriak Heaven.
“Hajar kepalamu!” Paul tidak dapat menahan dirinya untuk tidak memukul Heaven. Jadi dia memukulnya hingga kepalanya benjol.
“Kenapa? Memangnya di sana dilarang berkelahi?” Heaven bertanya dengan kesal sambil mengusap pelan kepalanya yang sakit akibat pukulan tadi.
Paul menggeleng. “Perkelahian tidak akan dapat dihindari, selama itu tidak membahayakan nyawa maka itu tidak dilarang,” jelasnya.
“Intinya, kalian akan berburu harta karun di sana. Semakin banyak yang didapat semakin banyak pion yang terkumpul.”
Paul kemudian melemparkan dua cincin kepada mereka berdua. Heaven segera membulatkan matanya dan tidak percaya sama sekali saat dia melihat berapa banyak uang didalamnya.
“Gunakan sebaik mungkin, kelincimu juga tidak akan kelaparan di kediamanku!” sungut Paul saat dia mendengus kesal.
Mata Heaven semakin melotot saat dia berteriak dengan keras, “Kau memindahkan mereka?!”
Paul mengangguk dan melambaikan tangannya agar Heaven tidak bicara lagi. Dia membersihkan tangannya sebelum pergi dan menyuruh mereka istirahat.
Pagi berikutnya ...
Paul menatap beberapa tas besar di depannya kemudian menggeleng pelan.
“Ini belum cukup.”
Para pelayan menahan napas mereka saat mereka ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada yang mengatakannya pada Paul. Mereka sudah mengemas hampir semua perabotan rumah tapi Paul bilang itu masih tidak cukup!
Pada saat itu Heaven dan Wira turun dari kamar mereka dan langsung melihat banyak tas besar di samping tangga menuju lantai bawah.
“Tapi semua barang sudah di kemas, Tuan.” Kepala pelayan, Womry Gone, berkata dengan hati-hati ketika dia melirik bawahannya yang tidak berani bicara dengan tatapan tajam.
__ADS_1