The Escapade

The Escapade
EPISODE 72


__ADS_3

   “Kenapa kau kemari? Tidak bisa lewat pintu saja?” tanya Paula heran, dia baru saja akan marah tetapi kekesalannya dengan cepat berganti kebingungan saat melihat bagaimana ekspresi yang ditampillan Heaven ketika itu.


   “Ada apa?”


   “Bu Guru pergi ke BloodyRose.”


Kata Bloodyrose benar-benar seperti sebuah petir yang menyambar tubuh Paula. Setelah mendapatkan kembali kesadaran di otaknya, dia dengan cepat melompati jendela dan pergi bersama Heaven.


   “Kau yakin Bu Erin pergi ke sana?” tanya Paula saat mereka terbang melesat seperti meteor.


Heaven mengangguk mantap di sebelahnya. “Hengky datang ke rumah saat kami makan malam, Wira sudah bersamanya sekarang.”


   “Paula! Heaven!”


Mereka berdua berhenti di udara dan menoleh untuk mendapati Bella dan Liam terbang ke arah mereka. Keduanya saling berpandangan untuk bertanya pada satu sama lain tetapi mereka tidak memiliki jawaban untuk pertanyaan di hati mereka.


   “Wira melakukan transisi suara pada kami, itulah sebabnya kami datang dengan cepat,” tutur Liam.


   “Transisi suara? Bajingan itu tidak bilang dia bisa melakukannya!” Heaven menjerit dengan marah. Dia bersusah payah menemui Paula untuk memberitahunya sementara dia hanya perlu melakukan satu hal dan tetap bisa menuju Bloodyrose pada waktu yang bersamaan.


   “Itu tidak penting sekarang, yang terpenting adalah Bu Erin. Ayo pergi!”


Tidak butuh waktu lama, mereka sudah bergabung dengan Wira dan Hengky. Pergi bersama menuju Bloody rose, kemarahan mereka semua seperti api yang akan membakar Sandor jika sampai mereka melukai sedikit saja guru wanita itu.


Saat mereka sampai, mereka bisa melihat betapa megahnya bangunan legendaris itu. Orang-orang bilang itu adalah tempat di mana kamu bisa menemukan surga di dalamnya, tetapi Paula sangat muak dengan semua hal itu, tempat ini adalah tempat yang sangat menjijikan baginya.


   “Di mana Bu Erina?”


   “Tempat ini terlalu besar, akan butuh waktu lama jika kita mencarinya satu persatu diantara bangunan itu.”


   “Tapi kita tidak tahu Bu Erina berada di ruangan mana!”


Mereka semua hampir frustrasi, Heaven bahkan mengacak rambutnya sendiri karena kesal. Hengky menjadi semakin panik, dia tahu tempat macam apa ini dan dia juga tahu orang yang seperti apa Sandor itu. Dia menggertakkan giginya dengan marah karena tidak mendapatkan solusi.

__ADS_1


   “Lewat sini.”


Semua orang menoleh pada Wira dan tampak sangat bingung. Tapi kemudian Heaven dan Paula menyusul dan tidak ragu-ragu untuk mengikuti Wira, jadi Hengky hanya bisa percaya pada mereka karena dia sendiri tidak memiliki jalan keluar lain di kepalanya.


   “Di sana, Dia ada di bangunan di tengah taman itu,” kata Wira dengan jari menunjuk pada sebuah banguan yang berdiri di tengah taman mawar luas.


   “Bagus, ayo pergi!”


Paula tidak bisa menunggu lebih lama lagi, dia melesat dengan cepat seperti batu yang dilemparkan dengan kekuatan penuh, dan dengan satu tinjunya dia menghancurkan bangunan itu hingga menyebabkan lubang besar di dindingnya.


Mereka yang berada di dalam bangunan itu sangat terkejut. Siapa yang berani membuat keributan di Bloody Rose yang terkenal? Apakah mereka ingin mati?


Sandor tetap duduk di kursinya dan tidak memerdulikan hal ini, dia mengambil secangkir anggur lagi dan menuangkannya pada Erina yang sekarang duduk di bawah kakinua, ia sudah basah kuyup oleh anggur.


Setelah debu menghilang terbawa angin, Paula, Heaven, Wira dan ketiga lainnya, mereka semua sama-sama tercengang saat melihat adegan yang terjadi di depan mata mereka.


Erina duduk bersimpuh di lantai dengan baju yang sudah basah, pakaiannya yang tipis semakin mencetak jelas bentuk tubuhnya karena basah.


Melihat itu, kemarahan Paula membumbung tinggi seperti api yang disiram minyak tanah. Dia menarik jubah luar berlengan pendek yang dipakai Heaven dengan paksa kemudian berlari menuju Erina dan langsung membungkus tubuhnya.


   “Huh, tidak ada urusannya denganmu!” balas Ansel dengan wajah sombongnya.


Dia kemudian berteriak, “Penjaga! Di mana kalian, seseorang membuat keributan di Bloody Rose!”


Hening


Ansel mengerutkan keningnya, kemudian berteriak lebih keras lagi. “Penjaga! Apa mereka mabuk? Huh, tidak berguna kalian!”


   “Berhenti berteriak, itu tidak berguna.” Ansel menoleh untuk melihat siapa yang bicara.


   “Oh, begitukah? Kau pikir dirimu siapa? Satu penjaga di sini bahkan bisa melumpuhkan kalian semua!”


   “Siapa yang membuat keributan?!”

__ADS_1


Ansel tersenyum miring ketika mendengar suara derap langkah yang datang menuju mereka.


Lebih dari selusin penjaga datang dengan senjata di tangan mereka, lengkap dengan baju zirah perak yang membalut tubuh mereka.


   “Heh, kalian mau perang, ya? Lengkap sekali, bahkan pakai zirah segala.”


   “Hey! Apa kau sedang menghina kami? Beraninya anak kecil sepertimu menghina kami!” raung salah satu dari mereka.


Tapi Heaven tidak peduli, dia mengangkat bahunya dan tidak bicara lebih jauh lagi. Yang terpenting sekarang adalah membawa guru wanita itu kembali, Heaven bisa melihat tubuh Erina yang gemetar, wajahnya pucat pasi seolah darah tidak mengalir lagi di dalam tubuhnya.


   “Usir mereka, jika tidak mereka akan merusak reputasi rumah mawar ini!”


   “Reputasi?” Wajah Paula telah menjadi lebih gelap daripada malam itu, matanya setajam elang saat dia menegakkan wajahnya dan menatap para penjaga berzirah itu.


   “Reputasi macam apa yang kalian miliki? Reputasi seperti apa yang dimilik oleh tempat kotor ini?!” Teriaknya marah.


Selusin penjaga itu juga sama marahnya. Bloody Rose telah berdiri sangat lama di tanah ini dan mereka telah menjadi sangat terkenal dari waktu ke waktu, tetapi sekumpulan anak kecil benar-benar berani membuat keributan di rumah mawar mereka.


Mereka tidak bisa menerimanya!


   “Jalang kecil! Jaga bicaramu!” teriak satu penjaga yang berdiri paling depan sambil menudingkan jarinya pada Paula.


Suasanya menjadi sangat tidak terkendali di ruangan itu. Lebih dari selusin pria berzirah segera berlari menyerbu ke arah mereka, tapi sebelum mereka melangkah lebih dari lima kali, mereka tidak bisa bergerak sama sekali.


Saat pandangan mereka jatuh ke bawah, wajah selusin lebih penjaga itu langsung berubah menjadi pucat seperti mayat. Kaki mereka terpaku di lantai yang membeku, es dingin telah memerangkap kaki mereka di lantai dan mereka tidak bisa bergerak sama sekali.


Bagaimana bisa?


Para penjaga itu melepaskan kemarahan yang lebih besar lagi, mereka adalah para penjaga terpilih yang telah dilatih secara khusus oleh Bloody Rose untuk menjaga tempat ini. Jika mereka menyerah sekarang itu hanya akan menjadi lelucon.


   “Menyerah saja, kami tidak akan membuat keributan,” kata Heaven santai.


Erina sudah tampak menjadi sedikit lebih tenang sekarang, Bella telah menenangkannya. Sementara Paula masih mencoba menekan amarah dihatinya.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2