The Escapade

The Escapade
Episode 19


__ADS_3

“Kau bajingan! Feyang, kau bajingan paling busuk!”


Satu demi satu tinju Heaven mengenai Feyang dan dia menerimanya tanpa perlawanan. Kemarahan Heaven sudah di puncaknya dan dia menggeram keras seolah-olah ada serigala yang bersembunyi di dalam dirinya.


Matanya menyala merah seperti api saat dia menunduk menatap Feyang, tinjunya sekarang diselimuti oleh api merah menyala dengan kekuatan yang berlipat ganda dari sebelumnya.


Saat tinju itu jatuh itu menghasilkan dentuman yang keras! Mereka yang melihat itu merasakan jantung mereka berhenti berdetak sebentar.


Itu tinju yang sangat kuat!


Tanah menjadi cekungan besar di samping wajah Feyang, dan dia merasa dia akan mati karena terkejut. Jika dia tidak menghindar dan tinju itu mengenai kepalaya, maka itu akan membuatnya hancur berkeping-keping. Bagaimana Heaven bisa menjadi begitu kuat hanya karena marah?!


“Darah Raja Phoenix.” Zmey menyipitkan matanya. Dia yakin tentang itu, tapi dari mana anak manusia sepertinya mendapat darah raja phoenix yang melegenda?


“Bukan Feyang yang melakukannya.” Heaven berbalik untuk melihat Tcesni yang menatapnya.


“Itu memang aku.”


Feyang akhirnya angkat suara setelah diam begitu lama. Bukan hanya Heaven, Wira juga terkejut. Bagaimana itu mungkin?


Bukankah Feyang adalah pelayan setia ibunya? Dia bahkan rela melepas jabatan sebagai jenderal tertinggi demi mengikuti ibunya!


Setelah memikirkannya lagi akhirnya Wira mengerti. Dia menghela napasnya dan terlihat sangat lelah.


Heaven akan menghajarnya lagi jika tidak di tahan oleh Wira.


“Itu semua sudah dalam pengaturan Dewi, beliau sudah menebak hal ini akan terjadi. Dewi sudah bisa memprediksi semuanya.” Suara Tcesni bergetar saat dia mengatakan itu.


Dia menatap Wira dengan sendu saat dia berkata, “Sang Dewi juga mengatakan bahwa Tuan pasti akan berusaha keluar dari tempat ini, dan sampai hari itu tiba tidak akan ada yang bisa menghalangi Tuan,” kata Tcesni setelah beberapa kali tarikan napas.


Tcesni kemudian menatap keenam penjaga lainnya dan mereka semua mengangguk pelan. Dia kemudian kehilangan ekspresinya dan tampak tegas. Berbeda dengan dirinya yang biasanya.

__ADS_1


...


Mereka sekaranh sudah berada di ruangan tempat jantung es berada. Warna hijau yang berpendar sangat cantik, berbeda saat terakhir kali Heaven melihatnya.


“Jantung yang selama ini menjadi pusat kehidupan dari dunia kecil ini sebenarnya adalah jantung milik Dewi.” Tecsni mengatakan itu dengan wajah dingin.


Tetapi Wira merasa jantungnya akan meledak. Itu sebenarnya adalah jantung Dewi Bulan? Jantung ibunya? Napasnya menjadi terburu-buru dan membuatnya agak sesak.


“Sang Dewi?”


“Benar, Dewi bulan adalah pencipta dari dunia kecil ini,” kata Tcesni.


“Dan ibu dari Wira,” sambung Feyang.


Saat melihat Feyang, Heaven merasa tidak enak karena sudah memukulinya. Dia akan meminta maaf nanti. Tidak, dia akan minta maaf sekarang.


“Aku minta maaf,” kata Heaven dengan tulus, dia benar-benar merasa bersalah. Tapi berkat Feyang, dia berhasil membangkitkan element api dalam dirinya. Ini berkah yang tak terduga!


Dia menghela napas dan ada raut penyesalan di wajahnya. Jika saja saat itu dia tidak mengajarkan Teknik Rantai Neraka itu pada nyonya-nya mungkin Wira tidak akan terlalu kesulitan seperti ini.


“Tcesni, bukankah kau bilang Nyonya pernah mengatakan sesuatu tentang ini?”


“Benar, sebelum pergi Dewi pergi mengatakan sesuatu padaku.”


Dia kemudian melirik Wira dengan tatapannya yang sangat dingin, seolah-olah dia adalah robot tanpa emosi.


“Berikan satu keping jiwa Tuan dan masukan ke dalamnya.” Matanya mengarah pada jantung es.


Wira tidak banyak bertanya dan melakukannya. Saat satu keping jiwa itu di tarik, itu menyebabkan rasa sakit yang luar biasa.


Dia meraung saat rasa sakit itu seperti menggerogoti semua anggota tubuhnya, itu seperti dia telah dikuliti hidup-hidup!

__ADS_1


Peluh membanjiri wajahnya, dan punggungnya juga basah karena keringat. Napasnya memburu dan wajahnya serta telinganya menjadi merah.


Semua orang sangat khawatir tetapi Wira melambaikan tangannya seolah berkata ‘jangan cemas’.


Setelah satu keping jiwa berhasil ditarik, itu berpendar dengan dua cahaya yang berbeda dan segera masuk ke dalam jantung es. Sesaat setelahnya energi dari jantung itu seperti meledak dan memancarkan cahaya yang menyilaukan mata.


Jantung semua orang berdegub dengan kencang, Heaven bahkan bisa mendengar suara detak jantungnya.


Sesosok wanita cantik muncul dari dalam jantung es itu, dia sangat tenang dan senyum di wajahnya sangat indah.


Wira segera jatuh berlutut dengan bunyi gedebuk yang keras, begitu pula dengan ketujuh lainnya. Mereka semua berlutut di lantai dan menunduk penuh hormat kecuali Heaven yang tidak tahu apa-apa.


Wira merasa jantungnya akan melompat keluar dari mulutnya saat dia melihat ibunya! Sudah berapa lama ini dan akhirnya dia bisa melihat ibunya lagi, meski itu hanya kesadaran roh yang sedikit, itu sudah cukup menghangatkan hatinya.


“Memberi hormat pada Dewi!”


“Apa kabar semuanya?” dia tersenyum dan senyumnya seperti madu.


Dia menatap Wira dengan sangat hangat dan penuh kasih sayang. Tangannya terulur tetapi itu tidak dapat menyentuhnya secara fisik. Wira mendongak untuk melihat wajah ibunya, matanya berkabut karena air mata yang terus turun.


“Wira, anakku, kau sudah dewasa saat kau melihat ini. Ini adalah sisa kesadaranku dan tidak banyak lagi yang tersisa setelah bertahun-tahun,” katanya. Dia tidak membuang waktu dan tidak membiarkan Wira mengatakan sepatah katapun.


Dia menghela napasnya. “Kau sudah tumbuh dengan sangat baik, semua yang ku bisa sudah kuajarkan padamu. Juga, semua yang ibu miliki ibu serahkan padamu. Ini tanggung jawab yang besar jadi ibu meninggalkan mereka untukmu.” Matanya melirikk satu per satu dari ketujuh juru kunci.


“Keluar dan nikmatilah hidupmu.” Tangannya menyentuk puncak kepala Wira meski itu tidak benar-benar bisa menyentuhnya.


“Kau sudah cukup menderita.” Ada rasa penyesalan di dalam suaranya yang bergetar.


Wira menggeleng dengan cepat dan berkata, “Aku bahagia, aku bahagia bersamamu ibu.” Dia mulai menangis dan air matanya semakin deras.


 

__ADS_1


__ADS_2