
Pintu diketuk dan keluarlah sesosok makhluk aneh lainnya, senyumnya mengembang saat melihat Wira.
“Tuan, silahkan masuk!”
Dari suaranya Heaven dapat menebak bahwa dia betina, atau perempuan? Ah, sama saja!
Tingginya melebihi Heaven. Kaki panjangnya berwarna hijau persis seperti kaki belalang, tangannya hanya memiliki tiga jari keras mirip cakar yang tajam.
Di atas kepalanya terdapat dua buah antena panjang seperti pada kupu-kupu pada umumnya, matanya gelap seperti malam dan juga sepasang sayap tembus pandang dengan garis hijau di belakang tubuhnya.
Wira menyeruput air dari cangkir yang disuguhkan oleh tuan rumah sementara Heaven memerhatikan.
“Minumlah, tidak baik menolak niat baik tuan rumah.”
Heaven dengan ragu-ragu mencicipi air dengan warna kuning itu. Satu tegukan ... dua tegukan dan cangkir di tangan Heaven langsung kosong.
“Bagaimana rasanya?” Makhluk hijau bersayap itu bertanya dengan suaranya yang lembut.
“Enak, apa ini?”
Heaven menatap pada dasar gelas yang masih menyisakan setetes air itu.
“Darahku.” Ekspresi makhluk itu tiba-tiba menjadi seram.
“Apa?!” Seketika perut Heaven mual!
“Tenanglah, darah Tcesni sangat bagus untuk kesehatan bahkan bisa membuatmu panjang umur,” terang Wira.
Sementara Tcesni tertawa sambil mengambil tempat duduk di samping Heaven. Mengangkat teko berisi darahnya dan menawarkannya pada Heaven, “Mau lagi?”
“Tidak, terima kasih!” tolak Heaven menutup mulutnya dengan punggung tangan.
Wira bangkit dari duduknya berjalan menuju jendela yang terbuka.
Memandang hamparan rumput hijau yang luas.
“Tcesni, bagaimana keadaan di sini?” tanya Wira tanpa menoleh dan tetap fokus pada objek pandangnya.
“Tidak ada masalah, semua aman terkendali.”
Tcesni masih menggoda Haaven yang sudah sangat tertekan batin.
“Oh ya, beberapa waktu lalu ada getaran aneh di pohon kehidupan.”
__ADS_1
Tcesni menjentikkan jarinya saat mengingat informasi penting yang hampir ia lupakan.
Wira tetap bergeming di tempatnya, hanya satu hembusan napas lembut yang terdengar.
“Bagaimana bisa begitu?” Wira kembali duduk di tempatnya semula di depan Heaven.
Tcesni melepaskan rangkulan tangannya di bahu Heaven dan raut wajah Heaven tampak lega. Tcesni malah yang kini tampak serius menatap Wira.
Ia menghembuskan napas berat sebelum akhirnya menjawab dengan suara lirih,
“Maaf, Tuan, untuk itu aku masih belum tau.”
Dia menunduk, matanya tak berani menatap Wira yang duduk kembali dengan tenang di seberang meja.
“Apa itu pohon kehidupan?” tanya Heaven.
Ia sebenarnya tak berminat ikut dalam perbincangan itu tapi saat melihat suasana yang hening dan tampak canggun dia tak bisa menahan diri.
“Pohon kehidupan adalah sumber energi dan juga jantung dari dunia kaca ini, jika pohon kehidupan bermasalah maka semua yang ada di sini juga akan bermasalah,” jelas Tcesni tanpa menatap lawan bicara.
“Terus cari tahu tentang ini,” titah Wira.
Tcesni mengangguk paham.
Di hari berikutnya,
Setelah membaca surat dari Tcesni yang mengabarkan bahwa keadaan di pohon kehidupan semakin gawat, Wira dan Heaven bergegas menuju ke sana.
“Berapa lama jika kita naik perahu?” Heaven bertanyaan saat mereka berjalan menyusuri tepi sungai.
“Paling cepat tengah hari baru sampai.” Wira menjawab dengan cemas.
Heaven berpikir sejenak, apa yang bisa dia lakukan untuk menolong teman pertamanya itu.
Dia bertanya, “apa tidak ada jalan lain?”
“Ada, tapi aku yakin kau tidak akan mau,” kata Wira ragu-ragu.
Wira berjalan lebih cepat lagi saat melihat perahu kayu yang mereka tumpangi kemarin.
“Tidak masalah, aku menyanggupi apapun itu!”
Wira melirik Heaven sebentar kemudian menjawab, “Baiklah.”
Ia mengulurkan tangannya ke dalam air sambil memejamkan mata.
Heaven memerhatikan permukaan air yang awalnya tenang perlahan-lahan mulai bergejolak diiringi dengan suara nyaring seperti pekikan keras.
__ADS_1
“Ayo, tumpangan sudah tiba.”
Wira menunjuk pada Silpyh yang sudah siap di tempat dengan kerangka baju besi emas yang menyatu dengan pedati dan siap mengantar mereka kemana saja.
Heaven menelan ludahnya dengan kasar.
“Kau ... yakin?”
“Tentu, Silphy adalah perenang tercepat di sini.”
Sekarang ia menyesali perkataannya sebelumnya namun hanya bisa pasrah. Dia hanya bisa mengekori Wira naik ke atas perahu.
Dengan kecepatan yang luar biasa, tak sampai dua jam mereka sudah sampai di tujuan.
Setelah Wira dan Heaven turun, Silphy dan pedati menghilang ke bawah air.
Mereka tiba di daratan, Heaven mabuk berat karena tak terbiasa menaiki kendaraan air ditambah dengan kecepatan super yang dimiliki ikan aneh itu.
“Kau tidak apa-apa?” Wira menepuk pelan pundak Heaven.
“Tidak, ayo lanjutkan perjalanan.”
Heaven baru sadar bahwa disana terdapat banyak makhluk seperti manusia yang berukuran kecil. Mereka bercahaya dan bersayap dan telinga mereka panjang dan runcing.
“Kalian sudah sampai. Ayo cepat masuk!”
Tcesni segera memimpin jalan masuk ke dalan pohon besar yang ukurannya tidak biasa itu.
Mereka berjalan melewati lorong dengan bau khas pohon, namun sangat nyaman di indra penciuman.
Dindingnya persis dengan corak serat kayu namun sangat halus saat disentuh.
“Di sini dingin,” keluh Heaven.
Ia mendekap diri sendiri, menggosokkan kedua telapak tangan untuk menyalurkan rasa hangat.
“Kau bisa memeluk ku jika kau mau,” tawar Tcesni sementara Heaven bergidik ngeri dibalik tampilan senyumnya yang aneh.
Memilih bersembunyi dibalik badan Wira daripada harus dipeluk makhluk aneh.
Ketiga-nya terus berjalan, menaiki anak tangga kayu yang melayang di udara dan tersusun sangat rapi dan kokoh menuju puncak.
Hingga mereka sampai di depan sebuah dinding dengan garis berbentuk bulat persegi besar bercorak serat kayu yang indah.
Heaven merasakan temperaturnya semakin dingin, bahkan kini ada uap yang keluar dari mulut dan hidungnya saat ia benapas.
Tapi Wira tampak biasa saja seolah tak merasakan apa-apa.
Tcesni menyentuh permukaan dinding itu dan seketika sebuah formasi rumit muncul.
Detik berikutnya dinding itu bergerak dan terbuka seperti pintu, hawa dingin seketika menyeruak keluar dan itu sangat dingin hingga wajah Heaven terasa kaku sekarang.
“Apa ... yang terjadi?”
__ADS_1
Tcesni menutup mulutnya tak percaya atas apa yang baru mereka lihat.