
Diego menyerahkan semua token yang dimilikinya pada Heaven saat dia tersenyum dan berkata, “Ini ... ini untuk bantuannya,” katanya dengan suara agak serak karena tenggorokannya yang menjadi kering secara tiba-tiba.
Heaven tersenyum semringah dan wajahnya berseri-seri saat tangannya dengan cepat mengambil semua token itukemudian menyerahkannya pada Paula, di belakangnya yang kemudian mentrasfer poin di dalamnya untuk menjadi milik mereka.
“Tentu! Kita semua adalah murid di akademi yang sama jadi kita semua adalah saudara,” ucap Heaven.
Semua orang mencibirnya dalam hati mereka terutama Diego dan timnya. Saudara apanya!
“Benar kan?”
Mereka mengangguk cepat saat mendengar suara tegas Heaven, sementara teman-temannya menahan tawa mereka.
Heaven sedang dalam mood untuk mengganggu seseorang saat ini.
Suara auman dan dentuman kembali terdengar dari arah danau dan mengalihkan perhatian mereka.
Riander telah bergerak!
Riander segera menyerang saat naga itu muncul dari dalam air. Serangannya bertubi-tubi dan tidak menimbulkan jeda, dia tidak memberi kesempatan pada lawannya untuk melakukan serangan balasan.
Suara dentingan pedangnya saat beradu dengan sisik naga itu terdengar sangat keras dan menimbulkan banyak percikan api seolah-olah sisiknya adalah besi.
Serangan Riander perlahan-lahan berkurang dan akhirnya berhenti saat tidak ada gerakan lagi dari sang lawan. Suasana menjadi sunyi tetapi hawa ketegangan tidak berkurang sama sekali.
Saat kabut dari pertarungan perlahan memudar, naga itu menyerang! Dia membuka mulutnya lebar-lebar dan ingin menelan Riander bulat-bulat tetapi itu ditangkisnya. Rian mengayunkan pedangnya dengan kekuatan penuh dan berhasil mematahkan satu gigi taringnnya yang besar.
Saat giginya patah dengan suara krak dia juga mengaum karena rasa sakitnya, tetapi dia tetap melakukan serangan balasan. Naga itu mengayunkan ekornya sebelum sempat dihindari oleh Riander hingga membuatnya terpental jauh ke seberang danau.
Semua orang menjadi cemas dan Diego menjadi lebih cemas lagi dari sebelumnya. Monster Hewan Purba memang luar biasa!
Dia senang jika Riander dan Oberyn tiada hari ini, tetapi itu sama artinya dengan kematiannya juga! Dia berharap ada seseorang yang akan datang dan menolong mereka sesegera mungkin.
Heaven dan keempat lainnya mulai bergerak. Mereka menuju ke sisi lain danau untuk melihat Riander dan Oberyn.
“Mereka masih hidup?” Bella bertanya dengan agak cemas pada Paula yang memeriksa keadaan Riander.
“Aku tidak akan mati semudah itu!” Oberyn sadar dari pingsannya tetapi dia tidak bisa bergerak sama sekali. Hampir dari semua tulang rusuknya patah karena serangan monster naga itu.
__ADS_1
Dia bahkan tidak memiliki kekuatan lagi untuk sekadar marah atau mengepalkan kedua tangannya. Semua tenaganya sudah habis sekarang.
Dia menoleh pada Riander yang berada sebelahnya dan melihat kondisinya yang tidak beda jauh dari dirinya.
Dia tertawa terbahak-bahak hingga batuk dan memuntahkan banyak darah dari mulutnya.
“Kau tampak sangat buruk,” katanya setelah batuknya berhenti.
“Jangan bercanda lagi!” kata Riander agak kesal saat dia memegangi dadanya yang sakit karena ekor monster purba itu.
Oberyn menatap Riander lama sebelum akhirnya berdiri dengan tertatih dibantu Liam.
“Kau tahu, adik ....”
Riander juga berdiri saat dia menatap kakaknya dan menunggunya menyelesaikan perkataannya.
Mata Oberyn terus menatap naga bersisik biru gelap itu yang terus berputar-putar mengelilingi daratan kecil di bawahnya.
“Ayo habisi dia.” Matanya seketika menjadi dingin saat dia menatap monster itu dan ada keganasan yang tidak bisa ditutupi di matanya.
“Baik, mari bagi dua hasilnya.”
Mereka bergerak!
Mereka seperti badai yang datang untuk menghancurkan!
“Haha, kau kalah cepat!” teriak Oberyn dengan antusias saat dia sudah melemparkan satu pukulannya ke kepala naga itu.
“Yang benar saja!” Rian berdecak kesal. Dia mencabut pedangnya dari sarungnya dan hawa dingin langsung terasa menusuk tulang mereka. Dia menyalurkan seluruh energinya pada pedang itu.
Saat pedangnya menyentuh kulit monster itu, dia langsung membeku. Oberyn tidak membiarkannya bergerak, dia dengan cepat mengatupkan kedua tangannya dan memukulnya dengan keras hingga naga yang telah dibekukan itu menjadi hancur berkeping-keping.
Mereka berdua saling menatap dengan napas yang memburu kemudian tertawa keras setelahnya. Inilah yang dinamakan kekuatan kerja sama.
Oberyn memegangi dadanya saat mereka mendarat di daratan kecil di tengah danau itu dan ada senyum puas di wajahnya yang penuh keringat.
“Maaf, Naganya hancur,” kata Riander ketika dia melihat tidak ada lagi yang tersisa dari monster itu.
__ADS_1
“Itu lebih baik daripada kita yang mati,” jawab Oberyn dengan napas yang masih tersengal-sengal. Dia jatuh terduduk bersamaan dengan memuntahkan banyak darah dan terus memegangi dadanya.
Dia sudah benar-benar kehabisan energi, dan rasa sakitnya semakin menjadi.
“Kau baik-baik saja, kak?” Riander menjadi cemas saat dia membantu membenarkan posisi duduk Oberyn.
Heaven dan yang lainnya sudah mendarat di daratan kecil itu. Paula, Liam dan Bella menjadi histeris saat mereka menghampiri kerang raksasa berwarna putih itu. Permukaanya yang halus telihat berkilau di bawah cahaya matahari.
Sementara mereka sibuk dengan kerangnya, Wira dan Heaven menghampiri kedua Senior yang duduk bersandar pada batu besar. Mereka terlihat sangat kelelahan saat mereka beristirahat sambil menutup mata.
“Haruskah kita memanggil bantuan?” tanya Paula yang tiba-tiba sudah ada di belakang Heaven.
Heaven meremas kepalan tangannya ke udara dengan wajah kesal.
“Sebaiknya kau menghentikan kebiasaanmu yang suka mengagetkan orang itu, sebelum kau akan celaka karenanya!” rutuk Heaven mencoba menahan emosinya karena terkejut.
Paula mencibir, “Kau saja yang payah. Lihat Wira, dia bahkan tidak terganggu sama sekali!”
Heaven benar-benar ingin memukulnya sekarang tetapi dia hanya bisa menggertakkan giginya dengan marah.
“Hehe, maaf,” katanya dengan senyum malu-malu saat dia memukul kepalanya sendiri dengan pelan.
“Tidak perlu memanggil bantuan,” kata Oberyn saat dia membuka sedikit matanya untuk melihat mereka.
“Hanya beberapa tulang yang patah,” katanya lagi dengan santai seolah-olah itu bukan apa-apa.
Oberyn menatap mereka dan mengejek saat dia berkata, “Berlatihlah dengan baik nanti dan jadilah kuat, membantu kalian tetap hidup tidaklah mudah.” Dia kembali terbatuk beberapa kali dengan napas yang agak sesak.
“Sepertinya kita benar-benar harus meminta bantuan,” kata Bella khawatir saat dia melihat kondisi senior yang satu itu.
“Tidak perlu.” Wira melangkah maju dan ada botol kecil di tangannya.
“Apa ini?” Oberyn menerimanya dan segera membukanya. Aroma pil yang kuat dengan cepat menyebar tertiup angin.
Riander dengan cepat menegakkan tubuhnya dengan raut wajah terkejut saat dia mencium aromanya. Dia dengan cepat mengambil satu butir dari tangan Oberyn dan membuat kakaknya itu kaget.
“Hey hati-hati!” seru Oberyn saat dia mengomeli Riander.
__ADS_1
Bersambung ...