The Escapade

The Escapade
Episode 51


__ADS_3

“Tidak peduli seberapa hebatnya kamu, pada akhirnya tidak akan bisa mengalahkan kami berenam!” Vuro berteriak kencang dengan marah.


   “Benar, kau sendirian sekarang. Jadi menyerahlah dan biarkan kami yang akan mengurus pusaka itu. Oke?”


Satu per satu mulai bicara seakan mereka meremehkan Oberyn. Oberyn tidak bisa menahannya lebih lama lagi, dia menatap mereka semua dengan tajam seperti dua belati ada di matanua dengan dada yang mulai naik turun.


Mereka terlalu banyak omong kosong!


   “Berhenti menggonggong dan tunjukan kehebatan kalian!” Oberyn menggeram seperti seekor singa lapar yang ganas, dia tidak punya waktu untu omong kosong mereka!


Enam besar akademi menjadi berang ketika mereka mendengar bagaimana Oberyn berteriak. Menggonggo? Apakah Oberyn menganggap mereka semua adalah anjing?


Walaupun mereka anjing, mereka bukanlah anjing yang jinak! Mereka adalah predator sekarang dan Oberyn adalah mangsanya, beraninya dia mengejek mereka!


Kemarahan semakin naik hingga ke level tertinggi dan mereka sudah tidak bisa bermain-main lagi. Mereka berenam saling menatap sebentar kemudian menganggguk sebagai isyarat kemudian menatap Oberyn dengan garang.


   “Oberyn Chigo, terimalah kematianmu hari ini.”


Mereka berenam maju bersama lagi!


Tetapi kali ini dengan kekuatan penuh, mereka tidak lagi menahan diri seperti sebelumnya.


Ketika Oberyn melihat ada banyak niat membunuh yang jelas di mata mereka semua, dia tidak merasa takut sama sekali. sebaliknya, Dia malah tersenyum dengan seringaian yang menyeramkan seolah-olah dia telah menunggu momen ini sangat lama.


   “Bagus, mari akhiri semua drama konyol ini,” katanya pelan.


Kemudian dia menginjak tanah dengan keras dan terbang ke arah mereka semua. Ada suara krak yang tajam ketika tanah menajdi retak di bawah kakinya setiap kali Oberyn menginjaknya dengan kekuatannya.


Enam lainnya menjadi sangat terkejut melihat Oberyn yang datang seperti singa kelaparan ke arah mereka, tetapi sudah terlambat.


Oberyn menggunakan tinjunya lagi dan memukuli satu demi satu dari mereka dan membuat mereka semua terbang seperti meteor jatuh. Kali ini serangannya lebih kuat, lebih ganas, dan lebih mematikan daripada sebelumnya.


Mereka berenam jatuh ke tanah satu demi satu dengan bunyi gedebuk yang keras hingga ada banyak debu yang beterbangan. Setelah debu menghilang, enam orang itu terbaring di tanah dan memegangi dada mereka masing-masing.


Diego memuntahkan banyak darah dari mulutnya dan ada banyak gumpalan-gumpalan organ dalam yang telah hancur keluar bersama dengan darah kental.

__ADS_1


Mereka semua telah dihajar habis-habisan oleh Oberyn seorang diri!


Enam pasang mata menatap tidak percaya pada Oberyn yang sekarang berdiri tak jauh dari mereka dengan tatapan horor. Sejak kapan Oberyn menjadi begitu kuat?


   “Kau ... menyembunyikan kekuatanmu?” tanya Ringgo sambil terbatuk-batuk dengan parah. Sisanya tidak bisa bertanya sama sekali karena setiap mereka membuka mulut mereka hanya akan ada darah yang keluar bersama organ mereka yang telah menjadi bubur.


Oberyn berjalan perlahan-lahan ke arah Ringgo, dia kemudian berjongkok dan menepuk pelan wajah peringkat satu akademi itu sambil berkata, “Istirahatlah dengan baik, aku akan mengurus peringkat satu milikmu. Eum, tidak, maksutku milikku.”


Dia kemudian berbalik untuk menonton pertarungan kedua saudaranya dari bawah. Dia menghampiri Amber dan berdiri di sampingnya.


   “Kau tidak ikut bertarung?”


Amber menoleh pada Oberyn kemudian menggeleng, dia tidak tertarik dengan pertarungan semacam ini.


Oberyn mengernyitkan dahinya dengan bingung kemudian bertannya lagi, “Kenapa? Guru mu tidak marah jika dia tahu ini?”


   “Tentu saja marah, tapi untuk apa mempertaruhkan hidup dan bertarung mati-matian hanya demi sesuatu yang kau tidak suka,” kata Amber setelah menghela napas beberapa kali.


Oberyn mengangguk mengerti.


Perkataan Oberyn sontak membuat Amber menoleh padanya dengan terkejut, Riander yang masih bertarung di udara bersama Shinrain juga terkejut ketika mendengarnya.


Dia menjatuhkan pandangannya ke bawah untuk melihat Oberyn yang tersenyum penuh arti padanya.


   “Jangan lenga, Dasar bodoh!” ketika mendengar makian yang dilontarkan Shinrain padanya, Rian kembali sadar, tetapi sudah terlambat.


Kakak tertuanya ini telah berada di depannya dan mengayunkan tangannya dan memukulnya hingga dia jatuh ke tanah.


   “Ugh.” Riander meringis ketika dia berdiri dari tempatnya jatuh. Dia jatuh dengan keras sampai-sampai menimbulkan cekungan di tanah tempatnya jatuh.


   “Rian! Kau baik-baik saja?” Amber datang dengan panik ke arahnya, wajahnya dipenuhi dengan kecemasan yang dalam.


   “Tidak apa-apa,” kata Riander sambil membersihkan debu dari pakaiannya.


Saat itu Shinrain turun dan Oberyn juga menghampiri mereka. Ada senyum nakal di wajahnya ketika dia menatap Riander.

__ADS_1


   “Sungguh tidak apa-apa?”


Riander mengangguk sebagai jawaban saat Amber kembali bertanya dengan tidak percaya, ada banyak kekhawatiran di dalam nada suaranya.


   “Ekhem, baiklah. Obati dia dengan baik, aku dan penyihir galak akan bertarung untuk pertandingan final.”


Riander melotot, dia ingin sekali memukuli kakaknya ini dan memotongnya kecil-kecil kemudian membuangnya ke laut untuk memberi makan ikan.


Bagaimana bisa dia berkata dengan begitu frontal! Sementara Riander kesal setengah mati, pipi putih Amber telah memiliki semburat merah jambu di sana.


Amber merasa jantungnya akan meledak karena kegembiraan!


Dia menoleh untuk menatap Riander di sebelahnya, benarkan dia juga menyukainya? Apakah ini sungguhan dan bukan mimpi? Meskipun ini mimpi Amber merasa dia tidak ingin bagun lagi selamanya!


Dia menepuk pelan kedua pipinya dan mulai mencubiti dirinya sendiri untuk memastikan bahwa ini bukan mimpi.


   “Apa yang kau lakukan?”


Amber terkesiap ketika mendengar suara Riander, dia menjadi sangat gugup dan tidak tahu harus melakukan apa. Dia menjadi salah tingkah untuk beberapa saat dan hanya melemparkan senyum canggung di bibirnya.


Riander yang mengerti hanya bisa menggertakkan giginya sambil menoleh pada Oberyn yang kini sedang berdebat dengan Shinrain.


Pria gila itu benar-benar membuat Riander ingin menelannya hidup-hidup! Apa yang harus dia katakan sekarang? Dia juga bingung dan tidak tahu harus mengatakan apa, tetapi suara Amber segera terdengar.


   “Kau ... kau.” Amber menggigit bibirnya ketika dia ragu-ragu.


“Kau ... sunggu baik-baik saja?” tanyanya setelah beberapa kali tarikan napas. Suara Amber terdengar bergetar karena gugup!


Riander hanya menghela napasnya dan memijit pangkal hidungnya, segalanya akan menjadi rumit sekarang. Oberyn ini memang benar-benar brengsek!


   “Ayo duduk di sana.”


Riander baru saja melangkah dua kali tetapi Amber segera menarik ujung bajunya. Riander yang merasakan itu segera menoleh sambil mengernyit.


Amber menundukkan kepalanya ketika dia bertanya dengan gugup, “Apakah ... apakah yang dikatakan Oberyn itu benar?” dia bertanya dengan suara pelan sambil terus menunduk, tangan Amber masih memegangi ujung baju Riander.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2