The Escapade

The Escapade
Episode 21


__ADS_3

“Mereka semua gila! Bagaimana bisa aku bertahan pada pesta yang seperti itu?!” Heaven menggerutu.


Wira tidak dapat menahan dirinya lagi kemudian tertawa dengan keras hingga mereka yang sedang berada di pesta bisa mendengarkan dan diam-diam tersenyum dalam hati.


“Baguslah jika mereka menikmatinya,” kata Wira.


Heaven tidak mengatakan apa-apa lagi dan tersenyum, meski mereka agak aneh dan gila tetapi begitulah cara mereka menikmati pestanya. Pesta ini dibuat untuk mereka jadi tentu saja mereka harus menikmatinya.


Saat Wira dan Heaven kembali, semua orang sudah tidur di meja makan, Freya membuat beberapa tenda dari tumbuhan rambat untuk membuat mereka tetap hangat dan sisanya yang masih terjaga membereskan bekas kekacauan.


Malam berlalu dengan tenang dan mereka beristirahat dengan baik. Tetapi Wira tidak bisa tidur dan dia tampak gelisah.


Jantungnya berdebar kencang dan memikirkan semua kemungkinan yang akan mereka hadapi setelah keluar dari sini. Ke tujuh juru kunci formasi akan tetap di dunia kaca untuk mengurusi tempat ini, tetapi Feyang juga sebenarnya sama seperti Wira.


Dia adalah manusia dan Wira sudah menawarkan apakah dia akan ikut keluar dari dunia kaca, tetapi Feyang tampaknya tetap ingin di tempatnya dan tidak ingin diganggu kecuali untuk hal yang mendesak.


Tetapi semakin dia memikirkannya semakin dia tidak ingin pergi dan meninggalkan mereka. Wira akhirnya memutuskan untuk tidur setelah memutuskan sesuatu di pikirannya.


Itu ide yang gila tetapi tidak cukup untuk membuat seseorang seperti Wira menjadi kehilangan akal.


Besok paginya, ritual pembukaan formasi tujuh batu kembali dilakukan dengan lancar.


Wira merasakan debaran jantungnya saat kakinya menapak tanah dan keluar dari air terjun.


Dia gugup! Sekarang tidak ada lagi rantai yang mengikatnya dan dia akhirnya keluar dari tempatnya.


Heaven juga merasakan hal yang sama, dia menghirup dalam-dalam dan menghembuskannya dan ada senyum di bibirnya.


Akhirnya dia akan pulang!


Peduli apa tentang hukuman, dia sudah lama di sini jadi dia akan pulang ke rumah untuk memeriksa kelinci-kelincinya. Dan juga ayahnya, itu yang paling penting.


“Sudah siap?” tanya Heaven pada Wira. Dia tidak menjawab dan hanya mengangguk pelan.


Mereka berangkat setelah Wira memindahnya Dunia Kaca ke dalam lautan kesadaran miliknya. Itu mengorbankan banyak energi tetapi Wira tidak peduli, lagipula berapa banyak yang bisa dihabiskan untuk memindahkan satu buah dunia kecil? Itu tidak akan membuatnya mati.

__ADS_1


Sementara itu, di gerbang sebelah utara Akademi Atas Awan.


Tora kembali dengan terburu-buru ke ruang kerja atasannya. Dia mengetuk dengan pelan dan tidak berani membuka pintu tanpa izin.


“Tuan muda sudah kembali,” katanya melapor saat tidak ada sahutan dari dalam.


Pintu di depannya sontak terbuka dan Paul dengan cepat keluar dari sana.


“Benar? Di mana dia sekarang?” tanyanya tergesa-gesa.


Anaknya pulang? Dia sudah lama menunggu berita ini hingga hampir gila!


Tora mengangguk dan menjawab, “Saya melihatnya dari gerbang utara. Tuan muda membawa seseorang.”


Mata Paul bersinar seperti ada banyak bintang di sana, dia dengan cepat masuk kembali dan menutup pintu.


Tak lama kemudian dia keluar setelah berganti pakaian dan rambutnya juga sudah disisir dengan rapi. Dia juga menggunakan parfum yang sangat banyak hingga itu tercium sangat menyengat.


Tora tidak berani mengomentari tetapi tertawa dalam hati, seseorang seperti Paul ternyata memiliki hati yang lembut terhadap keluarganya.


Sekarang Paul sudah berdiri di depan gerbang utara, ada pancaran kebahagiaan dimatanya.


Dia dengan cepat menginstruksikan kepada bawahannya untuk menyambut Heaven dengan baik dan tidak boleh sampai membuatnya tidak senang. Jika itu terjadi mereka bisa melupakan untuk terus hidup.


Di sini lain,


Wira melihat gerbang setinggi gunung di depan mereka perlahan terbuka dan banyak orang yang berdiri di sana, penyambutan itu bahkan lebih meriah daripada kedatangan seorang kaisar! Orang lain akan berpikir itu berlebihan tetapi tidak dengan Paul.


“Selamat datang kembali, Tuan Muda!” sorak-sorai itu mulai bergemuruh seperti guntur dan ada taburan bunga di mana-mana.


Heaven menepuk dahinya sendiri sementara Wira tercengang. Ini pasti ulah ayahnya untuk membuat penyambutan seperti ini. Heaven tidak masalah jika hanya penyambutan biasa tetapi ini terlalu berlebihan!


Dia sengaja masuk melalui gerbang utara dan bukan gerbang utama untuk menghindari perhatian banyak orang dan sekarang semua itu tampaknya sia-sia.


Kerumunan itu semakin meneriaki namanya dan itu menyebabkan kegemparan di mana-mana!

__ADS_1


Bagaimana jika Master Kota mendengar ini dan menjadi marah? Apakah ayahnya ingin membunuhnya?!


Wira masih tercengang di tempatnya dan tidak percaya sama sekali, inikah yang Heaven sebut-sebut sebagai neraka dalam hidupnya? Ini memang agak keterlaluan, dan juga manis.


Terlihat seseorang dengan jubah merah marun setengah belari menuju mereka dengan wajah berseri.


“Hahaha! Akhirnya kau pulang,” kata Paul tanpa menyembunyikan kegembiraannya.


Heaven mundur beberapa langkah dan menutupi hidungnya saat Paul semakin dekat.


“Kau! Apa kau mandi dengar parfum?!” Heaven tidak tahan dan kepalanya menjadi pusing karena aroma parfum yang terlalu menyengat.


Paul tidak peduli dan hampir memeluknya saat dia berkata, “Apa yang salah? Ini tidak buruk kok!”


“Tidak-Tidak! Jangan berani mendekat jika bau itu masih ada!”


Heaven menolak dengan keras dan tidak peduli dengan wajah sedih Ayahnya. Kepura-puraan itu tidak akan membuatnya tertipu!


“Mandi atau setidaknya ganti bajumu, Ayah.” Tangannya mengibaskan udara di depan wajah.


“Aku baru pulang dan kau sudah ingin membuatku mati?” katanya lagi.


Wira tidak tau untuk berbuat apa, dia hanya menahan senyumnya sebisanya.


Paul menoleh padanya dan menyipitkan matanya saat dia bertanya, “Dan siapa ini?”


“Saya---”


“Pergi mandi sana!” Heaven mengusirnya dengan garang.


Paul ingin menolak tetapi Heaven segera memelototinya, jadi mau tidak mau dia dengan enggan pergi untuk mandi.


Semua anak buahnya tercengang, Heaven memelototi Paul dan bahkan mengusirnya? Mungkin dia adalah satu-satunya orang yang berani melakukan itu di seluruh daratan ini.


 

__ADS_1


__ADS_2