The Escapade

The Escapade
Episode 43


__ADS_3

  


“Huff, sudah hilang,” kata Heaven dengan lega.


Wira mendongak ke arah Heaven ketika dia mendengar suaranya tetapi kemudian dia dengan cepat berkata, “Lihat sebelah kiri mu.”


Heaven yang mendengar itu pun menolehkan kepalanya ke samping kirinya, roh kecil itu sudah ada di sana tepat di sebelah Heaven.


   “Haa! Aduh.” Dia terkejut sampai tangannya terpeleset dan jatuh dari pohon.


Heaven meringis sambil memegangi kepalanya yang terbentur tanah sementara Paula tertawa terbahak-bahak melihat itu.


   “Sialan!” umpatnya sambil berdiri, tangannya masih memegangi kepalanya yang sakit.


Riander tidak memperdulikan apapun saat dia dengan cepat terbang untuk menangkap roh kecil itu tetapi lagi-lagi dia gagal karena asap kecil itu kembali menghilang.


Riander melompat lagi saat roh kecil itu menampakkan dirinya lagi tapi lagi-lagi dia menghilang.


Riander tidak peduli terhadap apapun dan terus melompat dari satu tempat ke tempat lain mengikuti ke mana roh kecil itu muncul.


   “Senior, tunggu!” Paula memanggilnya ketika mereka juga mengikuti pergerakan Riander, tetapi dia terlalu cepat hingga mereka hampir kehilangan jejak.


Riander terus bergerak melompat dari satu sisi ke sisi lain dan terus mengejar seolah dia tidak bisa mendengar atau merasakan apa-apa selain keberadaan roh kecil itu. Mereka juga tidak punya pilihan lain selain mengikuti senior mereka.


Mereka semua semakin masuk ke dalam hutan yang gelap dan udara semakin dingin.


Semakin mereka masuk mengikuti Riander semakin mereka merasa gelisah, kegelisahan tiba-tiba merasuki hati mereka seolah-olah ada banyak mata yang memperhatikan mereka.


   “Senior!”


Riander berhenti, Heaven dan yang lainnya juga ikut berhenti dan berdiri di belakangnya.


Rian berdiri di sana dan tidak bergerak atau bicara, dia seolah-olah menjadi patung. Tetapi ketika mereka melihat apa yang dilihat oleh senior itu, mereka juga merasa seolah mata mereka terpaku, jantung mereka berdegup sangat kencang dan mereka menjadi ngeri seketika.


Ada banyak roh-roh kecil di depan mereka, bukan hanya satu atau dua tetapi ada dua atau tiga ratus di sana. Mereka mengambang dan cahaya dari mereka menerangi tempat gelap itu.


   “Ada orang!” kata Liam dengan cepat sambil menunjuk ke tebing gelap di ujung hutan gelap itu.

__ADS_1


Seseorang terperangkap di dinding tebing dan separuh tubuhnya terkubur menjadi satu dengan tebing batu.


Pemandangan mengerikan itu membuat mereka semua bergidik bahkan Wira sedikit membulatkan matanya karena terkejut.


Riander berjalan perlahan di susul yang lainnya saat mereka semakin mendekati tebing batu.


Karena kurangnya pencahayaan mereka tidak bisa melihat secara jelas wajah itu, tetapi dilihat dari dekat, dia adalah seorang pria.


Banyak luka di tubuhnya juga ada banyak darah dimana-mana memenuhi separuh tubuhnya yang bisa terlihat.


   “Mereka ... roh kecil tadi yang menuntun kita kemari?” Paula bertanya ragu-ragu. Meski dia adalah gadis yang berani tapi kali ini tampaknya dia juga mulai merasa gelisah.


   “Kurasa begitu,” jawab Riander ketika dia mendongak untuk memperhatikan pria di atas sana.


Pria itu membuka matanya ketika telinganya menangkap suara yang terdengar sayup-sayup yang agak samar.


Matanya melihat banyak anak muda di bawahnya dan menatapnya dengan ngeri.


Dia menggerakkan bibirnya tetapi tidak ada suara yang keluar dari sana, bibirnya yang pucat dan kering dengan banyak kulit yang terkelupas karena dehidrasi.


Pria itu sangat lemah dan agak kurus, ada cekungan di bawah matanya serta rambutnya panjang dan sangat berantakan tertutup debu.


Dia mengusap tengkuknya perlahan dan mulai semakin merasa tidak nyaman, tetapi hawa dingin itu datang lagi dan ketika dia menoleh untuk mencari tau Heaven ada di belakangnya sambil meniup ke arah tengkuknya.


   “Dasar Brengsek!” Paula ingin memukulnya tetapi Heaven dengan cepat menghindar dan bersembunyi di belakang Wira sambil menjulurkan lidahnya.


Paula benar-benar kesal, mereka sedang dalam situasi yang aneh sekarang dan juga ada orang asing yang terkurung di tebing batu di depan mereka tetapi Heaven ini masih bisa bercanda dan bahkan mengejeknya.


Paula mengepalkan tinjunya dengan keras dan ingin sekali menghajar bajingan ini, tetapi dia lebih memilih untuk mengontrol emosinya agak tidak memperburuk situasi.


   “Ayo bantu bebaskan dia,” Perintah Riander saat dia berbalik untuk menatap mereka.


   “Serius? Bagaimana jika dia orang jahat atau ternyata siluman yang memang sengaja di kurung di sini karena hampir menghancurkan dunia?”


Bugh!


Paula tidak tahan lagi, dia memukul kepala Heaven dengan keras hingga anak itu terjatuh ke tanah.

__ADS_1


“Pikiranmu terlalu jauh!” cibir Paula dengan geraman rendah.


   “Apa? Aku kan hanya menebak saja!”


Heaven menutupi kepalanya dengan tangan ketika Paula terlihat ingin meninjunya lagi, tapi ternyata tinju itu tidak sampai.


Heaven hanya mendengar dengusan kasar ketika Paula menarik lagi tinjunya dan memalingkan wajahnya.


   “Kita bantu dia, mungkin dia tau di mana letak Bunga Syufu.”


   “Baiklah.”


Meski mereka ragu dan agak takut tapi apa yang dikatakan Rian benar, waktu terus berjalan dan sekarang tinggal dua hari lagi sebelum mereka harus kembali ke akademi. Masih ada dua tempat lagi setelah ini jadi mereka harus cepat sebelum harta berharga itu jatuh ke tangan orang lain.


Riander memutar tubuhnya dan kembali menaikan pandangannya ke atas. Pria tua di atas sana kembali tak sadarkan diri dengan kepala terkulai. Tangannya dirantai di kedua sisi dengan rantai besi yang sudah berkarat.


   “Ingat! Perlahan saja, jangan sampai membuatnya terluka,” teriak Riander ketika mereka sudah terbang di udara dan mulai mencoba membebaskan pria itu dari tebing.


   “Rantai ini kuat sekali,” ucap Bella ketika dia mencoba menghancurkan rantai besar yang mengikat tangan sebelah kiri pria itu.


Liam di seberangnya juga melakukan hal yang sama, tetapi rantai itu sangat keras dan mustahil untuk di hancurkan.


   “Sangat ... susah!” Liam masih berusahan mencoba melepaskan rantai yang menjerat tangan pria itu, napasnya mulai terengah-engah tapi tetap tidak berhasil sama sekali.


   “Heaven, apa yang kau lakukan?” tanya Rian mengernyit.


Heaven menoleh kemudian berkata, “Membantu membebaskannya,” ucapnya sementara tangannya terus menggali sedikit demi sedikit tanah yang mengubur separuh tubuh pria itu.


Riander menepuk dahinya kemudian mengatakan dengan suara yang terdengar frustrasi, “Jika begitu, kapan kita bisa mengeluarkannya?”


   “Dasar bodoh,” celetuk Paula yang kini membantu Bella melepaskan rantai.


Heaven menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil tersenyum lebar.


   “Baiklah, baiklah, tidak perlu terlalu serius,” kata Heaven saat dia menegakkan tubuhnya yang mengambang di udara.


Dia kemudian menoleh pada Wira dan ada senyum aneh di wajahnya. “Kita punya ahlinya di sini,” katanya saat melihat Wira.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2