The Escapade

The Escapade
Episode 13


__ADS_3

Sudah hampir dua bulan sejak masa hukuman Heaven di jatuhkan. Sisa waktu satu bulan lagi untuk mempersiapkan ujian kenaikan tingkat.


Setiap murid mempersiapkan diri mereka sendiri dengan baik, tidak ada yang peduli dengan hilangnya jejak Heaven di Lembah Dosa.


.Bahkan jika pada akhirnya Heaven mati atau tidak di temukan sama sekali bukanah itu adalah berkah kedamaian? itu sesuatu yang sudah sangat lama mereka nantikan!


Banyak yang mengutuki Si Bajingan Heaven bahkan beberapa dari mereka berdoa semoga dia tidak pernah kembali lagi. Tentu semua itu di lakukan secara diam-diam, jika Amor Paul mendengarnya itu hanya akan membuka pintu kematian mereka sendiri.


  Sementara itu


Ruang latihan keluarga Moa


Satu panah es itu tepat mengenai kepala lawan dan membuatnya pecah berkeping-keping.


Cairan merah beterbangan di udara dan beberapa mengenai pakaian Sandor.


“Ck, merepotkan!” tangannya mengelap beberapa cairan merah yang ada di wajahnya.


Semangka ke sepuluh yang di pasang di atas kepala pelayan laki-laki berhasil di hancurkan dengan sangat ganas.


Pelayan itu merasa kakinya lemas seolah-olah tulangnya telah menjadi jely dan tidak mampu menahan berat badannya sendiri. Dia jatuh ke tanah dan gemetar hebat.


Suara tepuk tangan itu mengalihkan pandangan Sandor.


“Bagus! Perkembanganmu sangat cepat,” kata Sin Moa bangga.


Sandor berjalan menuju graha kecil untuk beristirahat dan duduk di depan ayahnya.


“Riander sudah pulang,” kata Sin Moa.


  Sandor sedang minum saat ayahnya mengatakan itu dan terkejut, membuatnya menyemburkan air itu ke muka Sin Moa.


“Apa? Lalu bagaimana?” Sandor intens bertanya dan tidak repot-repot dengan muka ayahnya yang basah.



“Bagaimana kepalamu!” satu pukulan mengenai kepala Sandor dan membuatnya bengkak seketika. 



“Cepat ambilkan aku apapun! Keringkan wajahku sekarang dasar anak durhaka!”


 


  


Sementara itu,


   Paul duduk di sana, bau harum dari dupa yang di bakar sangat kental di ruangan itu. Ruangan milik kepala akademi.

__ADS_1


“Aku tidak bisa lagi, Paul. Kerugian bagi akademi sudah sangat besar dan ini sudah di luar kendaliku meski aku pemimpinnya.”


Paul tidak bersuara sedikitpun, nafasnya sangat ringan seolah-olah dia sangat tenang namun di dalam sebenarnya dia sangat kacau sekarang.


Hydra melanjutkan, “dan semua sumber daya sedang di fokuskan untuk ujian kenaikan tingkat bulan depan.”


Paul menghembuskan napasnya perlahan, matanya terpejam sebentar.


“Saya paham.” Katanya singkat.


Paul mengerti itu dengan baik. Tetapi bagaimana dengan puteranya? Apakah sudah saatnya dia menyerah?


Hydra sangat bisa melihat seberapa besar cinta Paul untuk anaknya, tapi untuk membantunya dia sudah tidak bisa lagi.


Apalagi dengan insiden kegagalan tim Riander, itu sudah cukup membuat banyak masalah dan kerugian yang sangat besar.


“Kalau begitu saya permisi.”


    Paul bangkit dari kursinya dan pergi.


Hydra menghela napas berat, kepalanya pusing. Kadang ia berpikir kapan dia akan terbebas dari tanggung jawab besar ini.


Paul sangat tidak berdaya hingga tidak memiliki tenaga lagi bahkan sekedar untuk minum. Dia merebahkan diri di ranjang putranya dan dengan sedih menatap langit-langit kamar.


Pikirannya kosong dan beberapa bulir air mata jatuh. Dia tidak pernah seperti ini sebelumnya, dia tidak pernah membiarkan putranya jauh darinya dan sekarang dia bahkan tidak tahu dimana keberadaan anaknya itu.


Itu membuatnya hampir gila dan ingin membunuh seseorang sekarang!


Heaven adalah lentera dalam hidupnya, anak itu membawa cahaya saat Paul sendiri adalah kegelapan bagi jiwanya.


Dia tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi, dia tidak akan membiarkan siapapun melukai putranya bahkan jika itu adalah para dewa sekalipun. 


Pada waktu yang bersamaan,


Shinrain Chigo dan Oberyn Chigo sedang panik. Adik ketiga mereka menghilang dari kamarnya dan tidak meninggalkan pesan apapun!


“Hey! Bagaimana jika ternyata Rian kabur?” Oberyn menelan ludah saat dia mengatakan ini.


Shinrain melotot menatapnya. “Untuk apa dia kabur? Dia tidak sepertimu yang berotak dangkal.”


“Hey siapa yang kau bilang berotak dangkal? Dasar wanita jahat!”


Dia tidak terganggu dengan Oberyn dan terus menyusuri seluruh area Akademi dengan teliti.


Mereka terbang dan berpencar, beberapa panjaga diutus untuk menyisir sekitar akademi namun hasilnya tetap nihil.


Riander tidak di temukan di manapun bahkan jejaknya pun tidak ada seolah dia hilang di telan bumi.


Pencarian terus berlanjut hingga keesokan harinya.

__ADS_1


“Apa ada petunjuk?”



“Lapor! Tidak ada petunjuk sama sekali ataupun jejak dari Tuan Muda Ketiga,” jawab salah satu orangnya.



“Dia pasti kabur! Sudah pasti!” teriaknya panik.


Tingkahnya semakin membuat Shinrain geram. Dia meninju dagu Oberyn dengan sangat keras hingga membuatnya terbang jauh dan menghilang dari pandangan.


Emosinya baru mereda setelah memberikan anak nakal itu pelajaran.


Itu sangat kejam hingga membuat pucat anak buahnya. Gadis ini sangat sadis!


“Apa yang kalian lihat? Kembali mencari!”



“Baik!”


Mereka segera pergi setelah mendengar perintah keras dari Shinrain Chigo, bagaimanapun mereka masih ingin terus hidup.


Oberyn tampak sangat buruk dengan banyak lebam di wajahnya. Dia mengunci rapat-rapat mulutnya dan tidak mengatakan apa-apa lagi.


Kakak tertuanya ini memang sangat pemarah, dan tenaganya juga di luar batas bagi seorang wanita.


“Tcih, seperti algojo.”


Shinrain meliriknya tajam, membuatnya memalingkan muka dengan cepat dan bersiul.


Mereka sedang berada di hutan di bukit belakang akademi, area pencarian sudah di perluas hingga ke desa di bawah gunung.


Meski kepala akademi bilang untuk tidak terlalu khawatir tetap saja mereka tidak bisa menahan diri untuk tetap diam di tempat saat adik bungsu mereka hilang.


Tiba-tiba terdengar ledakan.


Suara ledakan dari arah barat menarik perhatian mereka. Shinrain dan Oberyn dengan cepat melesat seperti meteor jatuh menuju arah sumber suara.


Mereka tetap terbang dan mengawasi dari atas saat mereka tidak bisa melihat apapun karena debu yang beterbangan.


Shinrain yang kesal segera mengerahkan energinya dan membuat debu-debu itu menghilang.


Sesuatu yang mengkilat bersinar terkena matahari pagi itu membuat mulut keduanya terbuka lebar.


Itu monster! Monster yang sangat besar.


Riander mengangkat pedangnya dan memotong kepala monster itu dengan sekali tebas. Pedangnya yang mengkilat berlumuran cairan kental berwarna biru.

__ADS_1


“Adik!”


__ADS_2